Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 06 Desember 2010

Suara gaduh memecah keheningan seketika. “ Ada apa, Ga?” tanyaku cemas saat Rangga datang menghadapku.“ Ibunya mendadak histeris. Manggil-manggil Awang, seperti kesurupan. Aku jadi kasihan. Oh ya, kamu ke dalam saja.”
Aku mengangguk. Kepanikan masih menyelimuti aku, Rangga dan mungkin semua.
“ Semoga bu Shinta bisa membantu menenangkan ibunya Awang.” Aku berharap.
Aku bungkukkan badan saat masuk ke rumah Awang. Banyak orang di sana. Aku hampiri Awang yang tertidur pulas. Wajah yang lelah dan dan kehilangan asa. Takkan kubiarkan air mataku jatuh dan mengganggu ketenangannya. Sebait doa terhatur untuknya. Rangga nampak sibuk menghadapi tamu yang datang. Aku duduk di ruang tengah. Kuusap air mata. Kuhempaskan pantatku ke sofa. “ Apa ini?” kulihat sesuatu yang menarik minatku untuk menyentuhnya, bahkan membacanya.
“ Awang Sahastya in the heaven.” terbaca tulisan itu saat kumulai membuka. Mataku ini ada-ada saja. Mau duduk saja penglihatannya tersangkut pada benda yang kumal di bawah lemari di depanku.
Ruang kepiluan, kala bulan bercadar awan :
Setandan bulan bercadar awan di akhir semasa putaran bulan
Tiada cerai daku dengan sembilu rindu
Hari nian terjamah waktu, hingga hatiku berjelaga dan menebal debu
Namun enggan sambutmu menyapaku
Tiada kasih dari engkau kala air mata jatuh di pipiku
Tega atau lupa?
Betapa Jahannamnya dunia ketika aku rindu tapi tak ada jawaban dari orang itu. Di mana sebenarnya ayah berada? Jangan lupa padaku ayah. Pulang dan peluklah aku. Kumohon pulanglah.
Ini diary Awang. Tidak sopankah aku? Ah, mungkin dengan ini aku bisa menyelami kemisteriusan seorang Awang yang belum terpecahkan olehku selama ini. Ya, walaupun dengan cara yang sedikit tidak sopan.
***
“ Berantem lagi?” tanyaku iseng. Lawan bicaraku hanya cengengesan sambil membuka botol minuman. Kantin hari ini cukup sepi. Mungkin banyak yang gak selera jajan di tempat nongkrongan preman sekolah. Istirahat ini aku sempatkan ngobrol dengan dia. Cukup ekstrim tapi strategis. Samping kantin ruang BK. Kalo kejadian buruk terjadi, aku bisa langsung lari.
Masih dengan gayanya yang cengengesan kayak anak jalanan yang gak kurusan, memandangku dengan senyum konyolnya.
“ Untuk hiburan saja..” jawabnya setelah minuman dingin itu terteguk dan tergelincir ke kerongkongannya.
“ Hobi yang monoton.” Aku menjelma konyol.
Hanya kibasan tangan di depan muka untuk menanggapi pernyataanku. “ Gak malu?” aku menyerang. Dia tertegun. Aku agak dag-dig-dug.
Dengan dahi berkerut,” Malu? Sama siapa? Bukankah ini hebat?”
“Aku mungkin?” aku mencoba.guyon “ Emang gak ngerasa ya kalo kamu jadi perhatian dengan sikap kamu itu?” aduh, celaka. “ Pasti tidak hanya aku yang cerewet kayak gini?”
“ Hanya kamu.” Dia langsung menanggapi. Sungguh respon yang kilat.
“ Berarti aku orangnya perhatian dong?” sympthom narsisku keluar. Kami berdua tertawa.
“ Kau seperti ibuku. Cerewet. Tidak pengertian. Membosankan, kejam…”
Aku menatap tersinggung. Akhirnya kepancing juga. Dari tadi aku menunggu ketidaksadarannya bercerita. “ E,,,,e,,,,e,,,,jangan sembarangan menyamakan orang ya!” aku pura-pura menangkis.
“ Bentar lagi aku merayakan sweet seventeenku. Tapi mungkin hanya mimpi. Ibuku melarang. Padahal ayahku setuju dengan permintaanku ini. Sayangya ayah tidak di sini.”
“ Gak puya uang kali, Wang?”
“ Basi tau gak?”
Awang, teman SMAku yang paling weird, strange. Dia lulusan pondok pesantren kenamaan di Solo. Dia fasih berbahasa Arab dan Inggris. Keren, tampan tapi terlihat cantik. Tidak sederhana, karena dari sepatunya, ikat pinggangnya, jaketnya, punya merek yang terkenal, mahal lagi. Tidak pandai bergaul tapi cerdas. Sering bolos, satu-satunya alasan yang membuat dia tidak mendapat rangking.
***
Segelas teh hangat pun datang. “ Diminum ya Kan,” Rangga tampak mengamati apa yang aku pegang. “Itu?”
Aku perlihatkan halaman isinya.
“ Darimana kamu temukan itu?” Rangga memegang diary itu. “ Yang kutahu, seminggu sebelum kejadian itu dia kayak orang bingung, gusar. Seperti mencari sesuatu. Mungkin dia mencari ini. Dia kan suka nulis. Awang termasuk anak yang telat berbicara. Kata ayahnya kalo mau minta sesuatu tulis di kertas, lalu kasihkan ke ayahnya.”
Aku tambah empati.
“ Aku tinggal dulu ya,,,” Rangga pamit.
“ Rangga!” aku cepat menghentikan langkahnya.” Kamu tahu, apa yang paling diinginkan Awang?”
Rangga menoleh. “ Keutuhan.” Dia pasang wajah penyesalan. Aku menggigit bibir. Rangga berlalu. Kembali menemui para tamu yang datang. Mayoritas berbusana gelap. Hitam lebih mendominasi. Aku kembali menenggelamkan diri dengan bacaanku. Aku tak biasa tahlilan. Mendoakan saja sudah cukup. Hidangan yang tersaji tidak ada minat bagiku untuk menikmati. Ini suasana duka tak patut untuk bersuka cita.
Di sudut sepi, saat malam tak berbulan :
Pernahkah kau merasakan
Sesuatu lebih tawar dari air hujan
Lebih hampa dari angkasa luar?
Padahal itu sesuatu yang paling kau sukai
Itu pun bukan karena bosan
Kehilangan. Itu jawabannya. Ayah tak kunjung datang. Aku benci seperti ini. Aku sendiri. Ibu tak mau mengakui aku sebagai anaknya lagi. Aku ingin berontak, rumah tak lagi sebagai tempat kembali. Mengapa aku harus jadi anak ibuku? Mengapa aku tidak mati saja dari aku bayi. Mengapa ibuku harus membesarkanku tapi tidak pernah ada kasih sayang untukku?
***
“ Coba telepon sekarang, saya pengen dengar apa penjelasan dari dia.” Bu Shinta, wali kelasku menyuruh Dika, temenku untuk nelpon Awang. Sudah seminggu dia tidak masuk sekolah.
“ Sebenarnya, apa masalahnya? Siapa yang ngumpetin tasnya Awang?”
“Udah kita ganti bu. Kita semua yang ngumpetin tasnya dia.”
“ Kok bisa?” wali kelasku heran.
“ Ya, main- main sajalah bu,”
“ Bu, udah nyambung. Hallo?”
Seketika suasana sepi. Semua pengen mendengarkan suara temen kami.
“ Kamu kenapa, Wang kok gak masuk sekolah? Masih marah sama kita-kita?”
“ Ow, gak kok. Kita kangen sama kamu. Emang kamu gak kangen sama kita-kita? Kanaya kangen tuh…”
Tut…tut…tut… saluran terputus. Aneh. “ Pulsamu habis ya Dik?” semua penghuni kelas protes.
“ Gimana katanya?” bu Shinta gak sabar.
“ Gak apa-apa bu, katanya. Dia masih main PS di rumah.
“ Ya sudah, nanti saya ke sana. Nah, untuk semua saja. Ini buah dari guyonan. Saya pernah bilang, kalo guyon itu jangan terlalu. Lihat, ini akibatnya.”
“ Tapi, menurut saya itu hanya alasan dia saja bu. Dari kelas satu dia emang sering bolos.” Celetuk Gaza.
“ Iya, bu.” Tambah semua.
“ Tapi kalian sebagai teman itu mbok bujuk. Sebulan lagi kita akan UN. Apa gak eman-eman? Saya mau cerita sedikit, ya. Dulu, saya juga punya temen seperti Awang. Sering bolos. Kalo di rumah, suka bentak-bentak ibunya, sering berantem. Preman sekolah lah pokoknya. Kemarin waktu saya ketemu, dia jadi tukang becak. Saya hampir tidak mengenali. Terus, ngobrol-ngobrol. Ternyata dia punya anak yang sama bandelnya dengan dia. Katanya anaknya suka bolos. Minta dibeliin motor. Kalo gak dibeliin gak mau sekolah. Nangis dia, waktu cerita tentang anaknya. Nyesel, katanya, dulu sering bolos, bohongi orang tuanya, minta dibeliin ini itu. Ada juga temen saya yang perempuan. Waktu sekolah dulu, jadi primadona. Tapi tergolong siswa yang suka bolos. Dulu saya sering diejek. Gendutlah, hitamlah. Malah kalo saya gak ngasih contekan, bisa-bisa ada yang hilang. Kaos olahraga saya pernah di cantelkan di tiang bendera. Tapi, sekarang malah terbalik. Sekarang ada yang jualan nasi megono, jualan kelapa di pinggir jalan. Malah saya yang dulu culun, kuper gundut, hitam, pake kaca mata, malah jadi istri polisi. Itu jauh dari pikiran saya. Bisa dibayangkan, mana ada polisi yang mau sama orang yang hitam dan gendut?”
“ Tapi sekarang kok gak gendut bu? Cantik kok bu.” Dika memuji.
“ Wallahu a’lam. Yang namanya hidup itu kita takkan pernah tahu,ya kan. Yang penting kuncinya satu. Selalu berbuat sesuatu yang tidak bertentangan dengan jalan Tuhan. Apa yang kita lakukan hari ini akan menimpa kita juga kelak di kemudian hari, ibaratnya kita akan menuai apa yang kita tanam. Bos ayah saya, waktu itu berjanji di depan jenazah ayah saya akan membiayai biaya kuliah saya. Tapi nyatanya tidak sepeser uang pun saya terima. Lalu apa yang terjadi? Saat saya wisuda, pabriknya bangkrut. Penyakit-penyakit mulai menyerang. Sampai sekarang belum sembuh. Malah sudah gak punya apa-apa lagi untuk berobat. Nah, kalian itu harus selalu mengkaji semua yang sudah kalian alami. Susah, senang ambil hikmahnya. Ada dari kalian yang setiap harinya hidupnya berwarna? Gak membosankan? Itu PR kalian.”
Sepulang sekolah di rumah Awang. . . .
“ Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak malu setiap hari didatangi temen-temen kamu?” tanyaku.
“ Kalian gak les?” dia mengalihkan pembicaraan.
“ Kita kesini untuk kamu. Kamu kenapa gak berangkat sekolah? Ya Allah, bentar lagi tuh UN, Wang, sebulan lagi. Senin ada Try Out kamu berangkat ya? Apa masalahmu?”
“ Gak ada apa-apa.” Sambil cengengesan.
“ Bohong. Kalo gak apa-apa kenapa gak berangkat? Kamu akan nyesel, Wang, pasti.”
“Ibuku aja gak peduli, kalian peduli amat!”
“ Itu tandanya kita sayang sama kamu. Jadi ini semua karena itu. Ingat, Wang, ayah kamu di Arab bekerja untuk kamu. Kamu gak kasihan? Tunjukkan bakti dan syukur kamu dong!”
“ Mereka udah gak menganggapku anak. Ayah kawin lagi.”
“ Oh, kamu lakuin ini untuk menunjukkan kalo orang tuamu salah. Kamu benci sama mereka. Tidak, kamu tidak benci, kamu rindu, ya kamu rindu. Hanya saja kamu tidak bisa mengungkapkannya. “
“ Gak, udahlah. Pulang saja kalian!” usir Awang.
“ Kami siap membantu, Wang. Coba sebut saja. Kamu pengen apa? Atau punya masalah apa?” tawar Manda.
“ Kamu gak malu sama pacar kamu mungkin. Atau kamu pasti punya seseorang yang kamu sayangi, kan. Apa kamu gak malu untuk nyatain perasaan kamu sedangkan kamu kayak gini?” lanjut Manda.
“ Alah, persetan! Udahlah kalian pulang saja.”
“ Tidak Wang, kita gak akan pulang. Kamu janji dulu, hari Senin kamu berangkat.”
“ Ya, ya, ya, aku berangkat, aku berangkat.”
“ Oke, hape kamu aku ambil. Kamu bisa mendapatkannya stelah UN nanti. Sebulan lagi dengan syarat kamu ikut UN. Kalo kamu gak masuk, suatu hari jangan nyapa aku, kalo kita ketemu di jalan, karena kamu sudah tidak diakui sebagai teman. Jangan minta bantuanku! Permisi.” Pamit kami dengan nggondok.
***
Jahannam yang menjelma dunia, kala aku jengah dengan hidup :
Duniaku adalah neraka. Rumahku adalah keraknya. Hanya satu yang kuinginkan, meneguk segarnya air yang mengalir di bawah surga.
Aku pernah paham makna cinta saat aku kehilangannya
Aku pernah tahu makna bahagia saat aku menghapus kasedihanku.
Bagaimana aku paham makna hidup? Haruskah aku mati dulu, mengakhiri waktuku tanpa virus, bakteri penyakit dan tanpa menunggu panggilan Tuhan untuk bisa aku memaknai berharganya hidup?
Ibu itu monster. Dia tidak pernah bersahabat denganku. Aku berbuat baik atau tidak, sama-sama berarti aib baginya. Aku harus sekalem dan semanis Rangga, sepupuku. Harus diam di rumah, tidak boleh main gitar, melukis, merokok. Ini kolot. Tujuh belas tahun yang payah. Akulah mahluk Tuhan yang diprogram jadi robot oleh sesama makhluk Tuhan. Aku bertahan hidup hanya untuk tidak ingin membuat orang tuaku menyesal. Ayah kawin lagi. Mengapa aku harus tidak tahu? Mengapa itu harus dirahasiakan? Sekarang aku tidak bisa lagi membedakan antara benci dan rindu.

Di kamar yang pengap, kala angin surga nyasar menerpaku :
Mendadak surgaku sesahaja sang cendekia
Sekejap dahagaku enyah
Kala seringai senyummu terhatur untukku.
Tuhan, cahaya masih kau berikan padaku. Walaupun aku telah hitam. Aku sudah bisa merasakan ketertarikan. Walaupun di depannya aku hanya benda mati. Tak mengapa.
“Orang aneh kayak dia bisa jatuh cinta juga. Pantesan, dia terkesan pendiem.. Komunikasinya lewat diary sih…sungguh pemilihan lawan interaksi yang bodoh. Ini sama saja meredam rasa sakit, tanpa mengobatinya. Kangen sama orang, suka sama orang laporannya sama diary.” Aku mengejek sambil membuka halaman berikut. Kali ini aku tersinggung. Tertulis namaku dengan jelas di sana. Masuk juga namaku sebagai daftar teman-temannya. Waduh, ada tulisan diakui segala.
Kanaya Aurora. Gadis blasteran Jawa Amerika. Sering memanggilku Mr Weird dan aku memanggilnya Miss Wordmonger. Gadis tomboy yang mencoba terjun dalam suasana religi dengan masuk ke sekolah berbau agamis dan meninggalkan liberalis. Tidak masuk ke JIL ( Jaringan Islam Liberal). Alasannya, tidak sesuai dengan pelajaran di sekolah dan didikan orang tuanya. Agama itu menurutnya ketika rasio tidak bertentangan dengan wahyu. Tidak sami’na waatho’na pada budaya setempat. Mencoba hidup tidak dengan suasana yang siap saji.
Berhubung malu, kubalik halaman berikutnya.
Kerajaan surga, ketika aku jatuh cinta :
Roman rasa tertuang dalam barisan aksara
Tegak tersambung antara konsonan dan vokal
Berhembus angin selatan yang menyejukkan
Terasa ringan jemari ini menuliskan
Sebuah rasa yang selama ini hanya tersirat lewat mata
Sebuah getar yang mengguncang dada
Menghimpit udara mengalir ke kepala
Itulah sketsa ketika aku jatuh cinta.
***
“ Pengumuman. Berita duka. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang kehadirat Allah, teman kita bernama Awang Sahastya. Umur tujuh belas tahun. Meninggal pada hari Sabtu, tanggal 27 Februari 2010.” Rangga mengumumkan dengan sesegukan. Usai mengumumkan, dia langsung keluar. Sementara ruang kelas seketika gaduh suara keheranan, tak percaya dan penyesalan.
“ Rangga, tunggu.” Aku memanggil.” Sebenarnya apa yang terjadi?”
“ Dia over dosis. Selama ini dia mengkonsumsi ekstasi. Betapa bodohnya aku yang gak peka? Aku lalai menjaga sepupuku sendiri…”
“ Ini bukan salah kamu. Bu Shinta sudah tahu? Lebih baik sekarang kita ke sana.”
Rangga mengangguk. Kami sekelas izin melayat Awang. Kelas sepi. Sebelumnya kita dinasehati wali kelas dulu. Kita semua disuruh memaafkan semua kesalahan Awang dan merelakannya juga mendoakannya.
***
Aku masih meneteskan air mata. Aku mengenal Awang hanya lewat diarynya. Itu pun saat dia sudah tiada.
“ Kanaya, ayo, Awang akan ditutup kafan. Kita lebih baik melihatnya untuk yang terakhir kalinya.” Rangga mengajakku.
Aku pun beranjak. Aku, teman-teman, orang-orang berlomba melihat Awang. Kulihat ibunya pingsan dan menangis histeris. Sedangkan ayahnya tertunduk lesu. Tak sepatah kata pun keluar, hanya tetesan air mata yang bisa menerjemahkan kebisuannya.
Tak lama keranda Awang berjalan menuju peristirahatan yang abadi. Ku lihat petala langit yang terselimuti nimbus. Mendung, kuharap itu bukan suasana hati Awang detik ini. Aksara cinta itu masih tersusun oleh doa-doa kami untuk Awang. Tersambung antara keikhlasan dan rasa sayang. Semoga bisa terbaca olehNya.
(by dwi nuraini)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar