Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 01 Desember 2010

HIMPUNAN PUTUSAN MAJLIS TARJIH

لاَاِله الاّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِهِ الحَوْلُ وَالقُوَّةُ. الحَمْدُللهِ المُبْدِئِ لِلعَوَالِمِ
وَالمُعِيْدِ الاَرْوَحَ اِلَى الأَجْسَامِ يَوْمَ القِيَامَةِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَاَفْضَلِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى أَلِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَقَدْ وَرَدَ
فِىالْحَدِيْثِ عَنْ عُمَرَ رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ
الله (صلعم) ذَاتَ يَومٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ
الشَّعَرِ لاَيُرَى عَلَيهِ اَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا اَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ اِلَى النَّبِىِّ
(صلعم) فَاَسْنَدَ رُآْبَتَيْهِ اِلَى رُآْبَتَيْهِ وَوَضَعَ آَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا
مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. قَالَ رَسُوْلُ الله (صلعم): الإِسْلاَمُ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّآَاةَ وَتَصُومَ
رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ اِنِ اسْتَطَعْتَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ
يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَاَخْبِرْنِى عَنِ الإِيْمَانِ. قَالَ: اَنْ تُؤْمِنَ بِا للهِ وَمَلاَئِكَتِهِ
وَآُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَومَ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
(الحديث رواه مسلم).
PENDAHULUAN
“Bismillahirrohmanirrohim”
( Dengan nama Allah, Maha Penyayang, Maha Pengasih)
Tiada tuhan selain Allah sendiri, tiada bersekutu dan dengan-Nyalah
adanya daya-kekuatan. Segala puji untuk Allah yang menciptakan semua ‘alam
dan yang mengembalikan ruh kepada jasadnya di hari Kiamat. Rahmat dan Salam
semoga terlimpah pada junjungan Nabi Muhammad s.a.w. penutup para Nabi dan
seutama-utamanya Utusan, serta pada sekalian keluarganya.
Tersebut dalam hadist, dari shahabat ‘Umar r.a: “ Saat kami duduk pada
suatu hari bersama-sama Rasulullah s.a.w. datanglah seorang laki-laki, putih
bersih pakaiannya hitam bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang
sedang bepergian dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya;
kemudian ia bersimpuh dihadapan Nabi dengan merapatkan kedua lututnya pada
kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha Nabi. Lalu
2
ia berkata: ”Hai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!”. Nabi
menjawab: ”Islam ialah engkau mempersaksikan: tiada Tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan sholat, membayar zakat, berpuasa
pada bulan Ramadhan dan pergi Haji bila kamu mampu melakukannya”. Kata
orang itu: ”Benar engkau”. Maka kami terheran, kenapa ia bertanya lalu ia
membenarkan. Orang itu bertanya lagi: terangkanlah padaku tentang Iman!” Nabi
menjawab: “Iman ialah bahwa engkau percaya akan Allah, malaikatnya, kitabkitab-
nya, Rasul-rasulnya, hari kemudian dan percaya akan takdir baik dan takdir
buruk”. Orang itu berkata :” Benar engkau!”.(Hadist riwayat Muslim).
اَمَّا بَعْدُ فَاِنَّ الفِرْقَةَ النَّاجِيَةَ ( 1) مِنَ السَّلَفِ اَجْمَعُوا عَلَى الإِعْتِقَادِ بِأَنَّ
العَالَمَ آُلَّهُ حَادِثٌ خَلَقَهُ اللهُ مِنَ العَدَمِ وَهُوَ اَىِ العَالَمُ) قَابِلٌ لِلفَنَاءِ ( 2) وَعَلَى
اّنَّ النَّظْرَ فِى الكَوْنِ لِمَعْرِفَةِ اللهِ وَاجِبٌ شَرْعًا ( 3) وَهَا نَحْنُ نَشْرَعُ فِى
بَيَانِ اُصُولِ العَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ.
Kemudian dari pada itu, maka kalangan ummat yang terdahulu, yakni
mereka yang terjamin keselamatannya (1), mereka telah sependapat atas
keyakinan bahwa seluruh ‘alam seluruhnya mengalami masa permulaan, dijadikan
oleh Allah dari ketidak-adaan dan mempunyai sifat akan punah (2). Mereka
berpendapat bahwa memperdalam pengetahuan tentang ‘alam untuk mendapat
pengertian tentang Allah, adalah wajib menurut ajaran Agama (3). Dan
demikianlah maka kita hendak mulai menerangkan pokok-pokok kepercayaan
yang benar.
الإِيْمَانُ بِا للهِ عَزَّ وَجَلَّ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا للهِ رَبِّنَا ( 4) وَهُوَ الْإِلَهُ الْحَقُّ الَّذِى خَلَقَ آُلَّ شّيْئٍ
وَهُوَ الواَجِبُ الوُجُوْدِ ( 5) وَ اْلأَوَّلُ بِلاَ بِدَايَةٍ وَاْلآخِرُ بِلاَ نِهَايَةٍ ( 6) ولاَ
( يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ ( 7) الاَحَدُ فِىأُلُوْهِيَّتِهِ وَصِفاَتِهِ وَ اَفْعَالِهِ ( 8
( اَلْحَىُّ القَيُّوْمُ ( 9)السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ( 10 ) وَهُوَ عَلَى آُلَِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ ( 11
إِنَّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ آُنْ فَيَكُوْنُ ( 12 ) وَهُوَ عَلِيْمٌ بِمَا يَفْعَلُوْنَ
3
( 13 ) اَلْمُتَّصِفُ بِالْكَلاَمِ وَآُلِّ آَمَالٍ. المُنَزَّهُ عَنْ آُلِّ نَقْصٍ وَمُحَالٍ ( 14 )
.( يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ. بَِيَدِهِ اْلأَمْرُ آُلُّهُ وَإِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ ( 15
4
IMAN KEPADA ALLAH YANG MAHA MULIA
Wajib kita percaya akan Allah Tuhan kita (4). Dialah Tuhan yang
sebenarnya, yang menciptakan segala sesuatu dan Dialah yang pasti adanya (5).
Dialah yang pertama tanpa permulaan dan yang akhir tanpa penghabisan (6).
Tiada sesuatu yang menyamai-Nya (7). Yang Esa tentang ketuhanan-Nya (8).
Yang hidup dan pasti ada dan mengadakan segala yang ada (9). Yang mendengar
dan yang melihat (10). Dan Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu (11).
Perihal-Nya apabila ia menghendaki sesuatu Ia firmankan: “Jadilah”! maka
jadilah sesuatu itu (12). Dan dia mengetahui segala sifat kesempurnaan. Yang suci
dari sifat mustahil dan segala kekurangan (14). Dialah yang menjadikan sesuatu
menurut kemauan dan kehendakNya. Segala sesuatu ada ditangan-Nya dan
kepada-Nya akan kembali (15).
تَنْبِيْهٌ
مَا آَلَّفَنَا اللهُ بِالْبَحْثِ فِى اْلاِعْتِقَادِ بِمَا لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ عُقُوْلُنَا ( 16 ) لأَنَّ عَقْلَ
الاِنْسَانِ لاَيَسْتَطِيعُ أَنْ يَصِلَ اِلَى مَعْرِفَةِ ذَاتِ اللهِ وَآَيْفِيَّةِ اِتِّصَافِهِ بِصِفَاتٍ
فَلاَ تَبْحَثْ عَنْهُ ( 17 ) وَلَيْسَ فِى وُجُوْدِهِ تَعَالَى شَكٌّ. أَفِى اللهِ شّكٌّ فَاطِرِ
( السَّمَوَاتِ وَالاَرْضِ ؟ (اِبْرَاهِيم: 10
PERHATIAN
Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai
oleh akal dalam hal kepercayaan (16). Sebab akal manusia tidak mungkin
mencapai pengertian tentang Dzat Allah dan hubungannya dengan sifat-sifat yang
ada pada-Nya. Maka janganlah engkau membicarakan hal itu (17). Tak ada
kesangsian tentang adanya. ”Adakah orang ragu tentang Allah yang menciptakan
langit dan bumi”? (Surat Ibrahim:10).
وَقَدْ سَدَّ القُرْآنُ عَلَى الْعُقُولِ بَابَ الْخَوضِ فِيْمَا لاَ تَبْلُغُهُ الْمَدَارِكُ بِقَوْلِهِ
تَعَالَى: لَيْسَ آَمِثْلِهِ شَيْئٌ. وَنَصَّ عَلَى اَنَّ قُوَّةَ الْعَقْلِ مَحْدُودَةٌ وَاَنَّهُ مُحِيْطٌ
بِالنَّاسِ فِى قَوْلِهِ: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِهِ عِلْمًا.
5
وَآَفَى بِالْمُؤمِنِيْنَ شُغْلاً أَنْ يَتَدَبَّرُوْا فِى مَخْلُوْقَاتِهِ لِيَسْتَدِلُّوْا عَلَى وُجُودِهِ
.( وَقُدْرَتِهِ وَحِكْمَتِهِ ( 18
Memang Al-Qur’an telah menutup pintu pemikiran dalam
membicarakan hal yang tak mungkin tercapai oleh akal dengan firman-Nya yang
berbunyi: ”Tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya”. (QS.Syura: 11). Diapun telah
menjelaskan bahwa kekuatan akal itu terbatas dan bahwa Dia meliputi semua
manusia, dalam firman-Nya: “Dia tahu segala yang ada dimuka dan dibelakang
mereka sedang pengetahuan mereka tak mungkin mendalami-Nya.” (Surat Thaha
ayat 110). Bagi orang mukmin cukuplah bila mereka memikirkan segala makhluk-
Nya, guna membuktikan ada-Nya, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.(18)
6
الإِيمَانُ بِالمَلَائَِكَةِ
يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى مَلاَئِكَةً اُوْلِى أََجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاَثَ
وَرُبَاعَ ( 19 ) وَأَنَّهُمْ عِبَادٌ مُكْرَمُوْنَ لاَ يَعْصُوْنَ اللهََ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا
يُؤْمَرُوْنَ ( 20 ) وَلاَ يَأْآُلُوْنَ وَلاَ يَشْرَبُوْنَ ( 21 ) وَلاَ يَتَزَوَّجُوْنَ وَلاَ يَنَامُوْنَ
22 ) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتَرُوْنَ ( 23 ) وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنهُم مَقَامٌ )
مَعْلُوْمٌ ( 24 ) فَمِنهُمْ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ( 25 ) وَمِنهُمْ سَفَرَةٌ ( 26 ) آَجِبْرِيْلَ
27 ) وَمِيْكَائِيْلَ ( 28 ) وَمِنهُمْ حَفَظَةٌ وَمِنهُمْ آَتَبَةٌ ( 29 ) وَلاَ يَجُوْزُ لَنَا أَنْ )
.( نَصِفَ مَلاَئِكَةَ إِلاَّ بِمَا وَرَدَ عَنِ الشَّرْعِ ( 31
IMAN KEPADA MALAIKAT
Kita wajib percaya, Allah itu mempunyai malaikat yang bersayap, ada
yang dua, ada yang tiga dan ada yang empat (19). Dan mereka adalah hamba
Allah yang dimuliakan yang tidak pernah menentang perintah-Nya dan mereka
senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan (20). Mereka tidak makan dan
tidak minum (21). Tidak menikah dan tidak tidur (22). Dan sepanjang masa tidak
putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan (23). Dan masing-masing dari mereka
mempunyai kedudukan atau tugas tertentu (24). Ada yang memikul Arsy tuhan
(25) ada yang menjadi utusan (26), seperti Jibril (27), dan Mikail (28) dan ada
yang mengamati serta mencatat (amal manusia) (29). Kita tidak boleh
menggambarkan tentang malaikat kecuali dengan apa yang diterangkan oleh
syara’ (30).
تَنْبِيْهٌ
لَمْ يُطَالِِبْنَا الله بِأَنْ نَعْلَمَ مَاهِيَّةَ مَلاَئِكَةِ بَلْ اَمَرَنَا الله بِالإِيْمَانِ بِوُجُوْدِهِمْ وَقَدْ
رَآهُمُ الأَنْبِيَاءُ فِى صُوْرَةٍ بَشَرِيَّةٍ وَغَيرِهَا ( 31 ) وَقَدْ تَوَاتَرَ خَبَرُ ذَالِكِ وَلاَ
يُمْكِنُنَا أَنْ نَصِفَ مَلاَئِكَةَ اِلاَّ بِمَا وَرَدَ عَنِ المَعْصُومِ صَلّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ
( بِنَقْلٍ صَحِيحٍ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ (مُدَثِّر: 31
PERHATIAN
Oleh Allah kita dituntut untuk mengetahui hakekat Malaikat, kita hanya
diperintahkan agar percaya akan adanya, adapun para Nabi, mereka pernah
melihatnya dalam rupa manusia ataupun lain-lainnya (31). Tentang hal ini
7
beritanya telah mutawattir (menyakinkan). Namun kita tidak boleh
menggambarkan tentang Malaikat, kecuali dengan dasar keterangan dari Nabi
s.a.w. yang sampai kepada kita dengan pemberitaan yang menyakinkan.” Dan
tiada seorangpun yang mengetahui hakekat tentara (Malaikat) Tuhannmu selain
Dia.” (Surat Mudatstsir:31)
الإِيمَانُ بِالكُتُبِ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اَنْزَلَ آُتُبًا عَلَى رَسُوْلِهِ لِإِصْلاَحِ
الْبَشَرِ فِى دِيْنِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ ( 32 ) مِنْهَا الزَّبُوْرُ لِدَاوُدَ ( 33 ) وَالتَّورَاةُ لِمُوسَى
34 ) وَالإِنْجِيلُ لِعِيسَى ( 35 ) وَالقُرْانُ لِمُحَمَّدٍ ( 36 ) خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ عَلَيْهِمُ )
الصَّلاَةُ وَالسَّلاّمُ ( 37 ) وَأَنَّ الْقُرْآنَ آَلاَمُ اللهِ وَآخِرُ الْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ وَاَنَّهُ
يَشْتَمِلُ عَلَى مَالَمْ يَشْتَمِلْ عَلَيهِ غَيْرُهُ مِنَ الشَّرَائِعِ وَمَكَارِمِ الأَخْلاَقِ
.( وَفَضَائِلِ الأَحْكَامِ ( 38
IMAN KEPADA KITAB
Kita wajib percaya bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab
kepada Rasul-rasulNya untuk memperbaiki manusia tentang urusan dunia dan
agama mereka (32). Di antara kitab-kitab itu, ialah Zabur kepada Nabi Dawud
(33), Taurat kepada Nabi Musa (34), Injil kepada Nabi ‘Isa (35) dan qur’an pada
Nabi Muhammad (36) yang menjadi penutup sekalian Nabi ‘alaihimus shalatu
was salam (37). Dan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah dan kitab terakhir
yang diturunkan, yang memuat apa yang tidak termuat pada lainnya, mengenai
syaria’t, budi luhur dan kesempurnan hukum (38).
8
تَنْبِيْهٌ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِىُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الْقُرْآنُ
وَمَا تَوَاتَرَ الْخَبَرُ عَنهُ تَوَاتُرًا صَحِيحًا مُسْتَوْفِيًا لِشُرُوْطِهِ وَإِنَّمَا يَجِبُ
الإِعْتِقَادُ عَلَى مَا هُوَ صَرِيْحٌ فِى ذَالِكَ فَقَطْ وَلاَ تَجُوْزُ الزِّيَادَةُ عَلَى مَاهُوَ
.( قَطْعِىٌّ بِظَنِّىٍّ لِقَوْلِهِ تَعَالَ: إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا (يُونُس: 36
وَشَرْطُ صِحَّةِ الإِعْتِقَادِ فِى ذَالِكَ أَنْ لاَ يَكُونُ فِيهِ شَيئٌ يَمَسُّ التَّنْزِيْهَ وَعُلُوَّ
الْمَقَامِ الْاِلهِىِّ عَنْ مُشَابَحَةِ الْمَخْلُوْقِينَ فَاِنْ وَرَدَ مَا يُوْهِمُ ظَاهِرُهُ ذَالِكَ فِى
الْمُتَوَاتِرِ وَجَبَ الإِعْرَاضُ عَنْهُ بِالتَّسْلِيْمِ لِلّهِ فِى العِلْمِ بِمَعْنَاهُ مَعَ الإِعْتِقَادِ
بِأَنَّ الظَّاهِرَ غَيْرُ المُرَادِ أََوْ بِتَأْوِيلٍ تَقُومُ عَلَيهِ القَرَائِنُ الْمَقْبُوْلَةُ.
PERHATIAN
Kita wajib percaya akan hal yang di bawa oleh Nabi s.a.w. yakni Al-
Qur’an dan berita dari Nabi s.a.w yang mutawattir dan memenuhi syaratsyaratnya.
Dan yang wajib kita percayai hanyalah yang tegas-tegas saja, dengan
tidak boleh menambah – nambah keterangan yang sudah tegas – tegas itu dengan
keterangan berdasarkan pertimbangan (perkiraan), karena firman Allah:
“Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai
kebenaran.” (Surat Yunus:36). Adapun syarat yang benar tentang kepercayaan,
dalam hal ini ialah jangan ada sesuatu yang mengurangi keangungan dan
keluhuran Tuhan, dengan mempersamakan-Nya dengan makhluk. Sehingga
andaikata terdapat kalimat-kalimat yang kesan pertama mengarah kepada arti
yang demikian, meskipun berdasarkan berita yang mutawattir (menyakinkan),
maka wajiblah orang mengabaikan makna yang tersurat dan menyerahkan tafsir
arti yang sebenarnya kepad Allah dengan kepercayaan bahwa yang terkesan
pertama pada pikiran bukanlah yang dimaksudkan, atau dengan takwil yang
berdasarkan alasan-alasan yang dapat diterima.
9
الإِيمَانُ بِالرُّسُلِ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنُ بِاَنَّ الله الحَكِيْمَ اَرْسَلَ رُسُلاً لِهِدَايَةِ النَّاسِ إِلَى
الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ
الرُّسُلِ ( 39 ) وَ الرُّسُلُ هُمْ بَشَرٌ مِثْلُنَا يَأْآُلُونَ وَيَشْرَبُونَ وَيَمْشُونَ فِى
الأَسْوَاقِ ( 40 ) اِصْطَفَاهُمْ الله لِرِسَالَتِهِ وَاخْتَصَّهُمْ بِالْوَحْىِ وَهُمْ صَادِقُونَ
( 41 ) أُمَنَاءُ ( 42 ) مُبَلِّغُونَ الرِّسَالَةَ ( 43 ) فُطَنَاءُ يَفْهَمُونَ وَ يُفْهِمُونَ ( 44 )
وَاَنَّهُمْ بَشَرٌ يَعْتَرِيْهِمْ مَايَعْتَرِى سَائِرُ الاَفْرَادِ مِمَّا لاَ يَمَسُّ آَرَامَتَهُمْ فِى
مَرَاتِبِهِمُ العاَلِيَةِ ( 45 ). وَمِنَ الرُّسُلِ الَّذِيْنَ وَرَدَتْ اَسْمَاءُ هُمْ فِى القُرْآنِ هُمْ
اَدَمُ, إِدْرِيْسُ, نُوْحٌ, هُوْدٌ, صَالِحٌ, إِبْرَاهِيمُ, اِسْمَاعِيْلُ, اِسْحَاقُ, يَعْقُوبُ,
يُوسُفُ, لُوطٌ, اَيُّوبُ, شُعَيْبٌ, مُوسَى, هَارُونُ, ذُوالكِفْلِ, دَاوُدَ, سُلَيمَانُ,
اِلْيَاسُ. اَلْيَسَعُ, يُونُسُ, زَآَرِيَّا, يَحْيَى, عِيسَى, مُحَمَّدٌ عَلَيهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
46 ) وَمِنهُمْ مَنْ لَمْ يَقْصُصْهُمُ الله عَلَيْنَا( 47 ) وَاِنَّ مِنْ اُمَّةٍ اِلاَّ خَلاَفِيْهَا )
.( نَذِيْرٌ. ( 48 ) وَقَدْ اَيَّدَهُمُ الله بِالآيَاتِ وَالمُعْجِزَاتِ البَاهِرَةِ ( 49
IMAN KEPADA RASUL
Kita wajib percaya bahwa Allah Yang Maha Bijaksana telah mengutus
para rasul untuk memberi petunjuk ummat manusia akan jalan yang lurus. Mereka
adalah pembawa berita gembira dan peringatan, agar bagi manusia tiada alasan
untuk membantah Allah setelah diutusnya para Rasul (39). Para rasul itu adalah
manusia seperti kita: makan, minum dan pergi ke pasar (40). Yang telah dipilih
oleh Allah, menjadi utusan-Nya dan mengistimewakan mereka dengan diberi
wahyu. Mereka adalah orang-orang yang jujur (41), terpercaya (42)
menyampaikan tugas mereka (43) dan cerdas, dapat memhami dan memahamkan
(44). Mereka adalah manusia yang mengalami yang biasa dialami oleh orang lain
selagi tidak mengurangi kehormatan mereka dalam martabat mereka yang luhur
(45). Diantara para Rasul yang tersebut nama mereka dalam qur’an adalah: Adam,
Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Luth, Ayyub,
Syu’aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa. Yunus, Zakariya,
Yahya, Isa dan Muhammad ‘alaihimus-shalatu wassalam (46).
Dan ada Rasul-rasul-Nya yang tidak diberitakan Allah kepada kita (47).
Tiada ummat yang terdahulu melainkan pernah kedatangan Nabi (48). Dan Allah
10
telah mengokohkan mereka dengan beberapa pembuktian dan segala macam
mu’jizat yang nyata (49).
تَنْبِيْهٌ
لَقَدْ ثَبَتَ بِاَنَّ مِمَّا تَتَنَا وَلُهُ القُدْرَةُ الاِلهِيَّةُ أَنْ تُصْدِرَ أُمُوْرًا خَارِقَةً لِلعَادَةِ
حَصَلَتْ لِاَنْبِيَاءِالله, تَأْيِيْدًا لِرِسَالَتِهِمْ وَاِعْجَازًا لِمُعَارِضِيْهِمْ وَاَيَةً عَلَى
( مُنْكِرِيْهِمْ مِثْلَ مَاوَرَدَ فِى القُرْآنِ مِنْ عَدَمِ اِحْرَاقِ النَّارِ لِاِبْرَاهِيْمَ ( 50
وَانْقِلاَبِ العَصَا ثُعْبَانًالِمُوسَى ( 51 ) وَاِحْيَاءِ المَوْتَى لِعِيْسَى( 52 ) واِنْزَالِ
القُرْاَنِ لِمُحَمَّدٍ ( 53 ) وَغَيرِ ذَالِكَ مِمَّا وَرَدَ فِى مَوَاضِعَ مُتَعَدِّدَةٍ وَآُلُّ مَاوَرَدَ
مِنْ ذَالِكَ فَهُوَ حَقٌّ يَجِبُ الإِيْمَانُ بِهِ.
PERHATIAN
Adalah suatu kebenaran, bahwa kekuasaan Allah dapat mengadakan halhal
yang menyimpang dari hukum kebiasaan yang pernah berlaku bagi para Nabi
untuk menguatkan penugasan dan menundukkan lawan-lawan mereka dan tanda
kebenaran mereka terhadap mereka yang mengingkari, misalnya apa yang tersebut
dalam Qur’an : api yang tak membakar Nabi Ibrahim (50), tongkat Nabi Musa
yang berubah menjadi ular (51), Nabi Isa yang dapat menghidupkan kembali
orang mati (52), dan diturunkannya al-Qur’an bagi Nabi Muhammad (53) ,dan
lain sebagainya yang tersebut dalam beberapa ayat, dan semua itu adalah hal yang
wajib diimani.
11
الإِيْمَانُ بِا لْيَوم الآخِرِ
يَجِبُ عَلَيْنَا اَنْ نُؤْمِنَ بِا لْيَوم الآخِرِ وَمَا اشْتَمَلَ عَلَيهِ مِنْ خَرَابِ هَذِهِ
العَوَالِمِ وَمَا اَخْبَرَ بِهِ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَتَوَاتَرَ مِنَ البَعْثِ
54 ) وَالنَّشْرِ ( 55 ) وَالحِسَابِ ( 56 ) وَالجَزَاءِ ( 67 ) فَيَقْضِى الله بَيْنَهُمْ )
فَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ خَالِدًا فِيْهَا وَلاَ يَخْرُجُ مِنْهَا وَهُمُ الكَافِرُوْنَ
وَالْمُشْرِآُوْنَ ( 58 ) وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ فِيْهَا ثُمَّ يَخْرُجُ مِنْهَا وَهُمُ الْمُؤْمِنُونَ
العَاصُوْنَ ( 59 ) وَمِنْهُمْ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَيَخْلَدُ وَهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ الصَّادِقُونَ
(60)
IMAN PADA HARI KEMUDIAN
Kita wajib percaya tentang adanya hari akhir dan segala yang terjadi di
dalamnya tentang kerusakan ‘alam ini’, serta percaya akan hal-hal yang
diberitakan oleh Rasulullah dengan riwayat mutawattir tentang kebangkitan dari
kubur (54), pengumpulan di Makhsyar (55), pemeriksaan (56) dan pembalasan
(57). Maka Allah memberi keputusan tentang perbuatan orang, lalu ada yang
masuk neraka selama-lamanya tidak keluar dari padanya, yaitu orang-orang kafir
dan orang-orang musyrik (58), dan ada yang masuk kemudian keluar dari neraka,
yaitu orang-orang mukmin yang berbuat dosa (59) dan ada yang masuk sorga dan
kekal, yaitu orang-orang mukmin yang benar-benarnya (60).
12
الاِيمَانُ بِالقَضَاءِ وَالقَدَرِ
يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِأَنَّ اللهَ خَلَقَ آُلَّ شَيئٍ ( 6) وَأَمَرَ وَنَهَى ( 62 ) وَآَانَ
أَمْرُاللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا ( 63 ) وَأَنَّ اللهَ قَدَّرَ آُلَّ شَيئٍ قَبْلَ خَلْقِ الْخَلْقِ يُصَرِّفُ
الكَائِنَاتِ عَلَى مُقْتَضَى عِلْمِهِ وَاخْتِيَارِهِ وَحِكْمَتِهِ وَإِرَادَتِهِ ( 64 ) وَالاَفْعَالُ
الصَّادِرَةُ عَنِ الْعِبَادِ آُلُّهَا بِقَضَاءِ اللهِ وَقَضَرِهِ ( 65 ) وَلَيْسَ لِلعِبَادِ اِلاَّ
الإِخْتِيَارِ.
فَالتَّقْدِيْرُ مِنَ اللهِ وَالكَسْبُ مِنَ الْعِبَادِ فَحَرَآَةُ الْعَبْدِ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا إِلَى
قُدْرَتِهِ تُسَمَّى آَسْبًا لَهُ ( 66 ) وَ بِاعْتِبَارِ نِسْبَتِهَا قُدْرَةِ اللهِ خَلْقًا ( 67 ) وَالْعِبَادُ
.( يَتَصَرَّفُ نَصِيْبَهُ مِمَّا اَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَيْهِ مِنَ الرِّزْقِ وَغَيْرِهِ ( 68
IMAN KEPADA QADLA DAN QADAR
Kita wajib percaya bahwa Allahlah yang telah menciptakan segala
sesuatu (61) dan dia telah menyuruh dan melarang (62). Dan perintah Allah
adalah kepastian yang telah ditentukan (63). Dan bahwasanya Allah telah
menentukan segala sesuatu sebelum Dia menciptakan segala kejadian dan
mengatur segala yang ada dengan pengetahuan, ketentuan, kebijaksanaan dan
kehendak-Nya (64). Adapun segala yang dilakukan manusia itu semuanya atas
Qadla’dan Qadar-Nya (65), sedangkan manusia sendiri hanya dapat berikhtiar.
Dengan demikian, maka segala ketentuan adalah dari Allah dan usaha
adalah bagian manusia. Perbuatan manusia ditilik dari segi kuasanya dinamakan
hasil usaha sendiri (66). Tetapi ditilik dari segi kekuasaan Allah, perbuatan
manusia itu adalah ciptaan Allah (67). Manusia hanya dapat mengolah bagian
yang Allah karuniakan padanya berupa rizki dan lain-lain (68).
خَاتِمَةٌ
هَذِِهِ هِىَ أُصُوْلُ الْعَقَائِدِ الصَّحِيْحَةِ وَرَدَبِهَا القُرْآنُ وَالسُّنَّةُ وَشَهِدَتْ بِهَا
الاَثَارُ المُتَوَاتِرَةُ. فَمَنِ اعْتَقَدَ جَمِيْعَ ذَالِكَ مُوْقِنًا بِهِ آَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ
وَالسُّنَّةِ وَفَارَقَ أَهْلَ الْبِدْعَةِ وَالضَّلاَلِ. فَنَسْأَلُ اللهَ آَمَالَ الْيَقِيْنِ وَالثَّبَاتَ فِى
الدِّيْنِ لَنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ, اِنَّهُ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
13
PENUTUP
Inilah pokok-pokok ‘aqidah yang benar terdapat dalam quran dan hadits
yang dikuatkan oleh pemberitaan-pemberitaan yang mutawattir. Maka barang
siapa percaya akan semua itu dengan kenyakinan yang teguh, masuklah ia kepada
golongan mereka yang memegang kebenaran dan tuntunan Nabi serta lepas dari
golongan ahli bid’ah dan kesesatan. Selanjutnya kita mohon kepada Allah
kenyakinan yang kuat dan keteguhan menjalankan agama-Nya. Kita berdo’a
untuk kita seluruh ummat Islam. Sesungguhnya Tuhanlah Yang Maha Penyayang.
Semoga Allah melimpahkan kemurahan kepada junjungan Nabi Muhammmad
s.a.w. penutup para Nabi dan Rasul serta kepada keluarga dan sahabatnya.
14
الاَدِلَّةُ
1) عَنْ اَبِى هُرَيرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم قَالَ: تَفَرَّقَتِ اليَهُودُ عَلَى اِهْدَى )
وَسَبْعِيْنَ أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَالِكَ وَتَفَرَّقَتْ اُمَّتِى عَلَى
ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً (رَوَاهُ التِّرْمِذِى وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ).
ALASAN (DALIL)
(1) Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
”Ummat Yahudi telah bercerai berai menjadi 71 atau 72 golongan; dan ummat
Nasranipun demikian pula. Dan ummatku akan bercerai berai menjadi 73
golongan.” (diriwayatkan oleh Turmudzi, dan mengatakan : “Hadits Hasan
Shalih)”.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بنُ عَمْرُو قَالَ رَسُولُ اللهِ صلعم: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى اُمَّتِى مَا أَتَى
عَلَى بَنِى اِسْرَائِيْلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ آَانَ مِنْهُمْ مَنْ اَتَى اُمَّهُ
عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِى اُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذَالِكَ. وَإِنَّ بَنِى إِِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى
اثْنَتَيْنِ سَبْعِيْنَ مِلَّةً تَفَرَّقَتْ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً آُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ
مِلَّةً وَاحِدَةً. قَالُوا: وَمَنْ هِىَ يَارَسُوْلَ الله؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيهِ وَاَصْحَابِى
(رَوَاهُ التِّرْمِذِى).
Dan dari Abdullah bin ‘Amr, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah datang kepada Bani Israil,
teladan ceripu dengan ceripu-ceripu sampai kalau ada orang yang menggagahi
ibunya dengan terang-terangan, pastilah diantara ummatku ada pula yang berbuat
demikian. Dan bahwasanya Bani Israil telah bercerai-berai menjadi 72 golongan
dan ummatku akan bercerai-berai menjadi 73 golongan; semuanya masuk neraka ,
kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya: ”Siapakah golongan yang satu itu
ya Rasululllah?. Jawab beliau: “Ialah mereka yang mengikuti jejakku dan jejak
sahabat-sahabatku”. (diriwayatkan oleh Turmudzi).
2) ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ آُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلَى آُلِّ )
( شَيْءٍ وَآِيْلٌ (الانعام: 102
15
(2) Itulah Allah, Tuhanmu sekalian, tidak ada tuhan yang wajib
disembah selain Allah, yang menciptakan segala sesuatu, maka hambakanlah
dirimu pada-Nya dan Dialah yang mengurusi segala sesuatu”. (An’am:102).
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ آُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ
( وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (القصص: 88
“Dan janganlah engkau memohon kepada Tuhan selain Allah, sebab
tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, segala sesuatu akan binasa
kecuali Dia yang menentukan hokum, dan kepada-Nya kamu dikembalikan”.
(Qashash: 88).
3) اَفَلَم يَنْظُرُوا إلَى السَّمَآءِ فَوْقَهُمْ آَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَالَهَا مِنْ )
فُرُوْجٍ. وَالاَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَالقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِى وَاَنْبَتْنَا فِيْهَامِنْ آُلِّ زَوْجٍ
بَهِيْجٍ. تَبْصِرَةً وَذِآْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيْبٍ. وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَآًا
فَاَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيْدِ. وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيْدٌ. رِزْقًا
.(11- لِلعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا آَذَالِكَ الخُرُوجُ. (ق: 6
(3) “Tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atasnya
bagaimanakah aku telah membangunnya dan menghiasinya dengan tiada retak.
Dan bumi telah kubentangkan dan kuletakkkan padanya gunung-gunung dan
kutumbuhkan padanya segala jenis berjodoh yang serasi; kesemuanya itu menjadi
ibarat dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang mau kembali (kepada Allah). Dan
Aku turunkan air dari langit yang banyak manfaatnya, dan kutumbuhkan beberapa
kebun dan biji-biji ketaman; begitu juga pohon kurma yang tingggi bermayang
yang tersusun menjadi rizki bagi segenap hamba; dengan demikian Aku hidupkan
tanah yang tandus (mati) dan sedemikianlah (hal) kebangkitan (dari kubur)”, (Qaf:
6-11).
أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ آَيْفَ خُلِقَتْ ( 17 ) وَإِلَى السَّمَاءِ آَيْفَ رُفِعَتْ ( 18
( ) وَإِلَى الْجِبَالِ آَيْفَ نُصِبَتْ ( 19 ) وَإِلَى الأَرْضِ آَيْفَ سُطِحَتْ ( 20
.(20- (الغاشية: 17
16
“Tidaklah mereka memperhatikan kepada unta, bagaimana ia dijadikan?,
kepada langit, bagaimana ia ditinggikan?, kepada gunung-gunung bagaimana ia
dibentangkan?” (Ghasyiyah: 17-20).
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ
( لاَ يُؤْمِنُونَ (يونس: 101
“ Katakanlah (hai Muhammad)! Perhatikanlah apa yang ada dibeberapa
langit dan bumi; tidaklah berguna beberapa bukti dan peringatan itu bagi golongan
yang tidak beriman”. (Yunus:101).
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآ يَاتٍ لأُولِي الأَ
( لْبَاب (ال عمران: 190
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya
malam dengan siang, sungguh menjadi bukti bagi orang-orang yang berakal.”
(Ali' Imran: 189).
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي
تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ
الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ آُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ
( الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآ يَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (البقرة: 164
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang
dan malam, adanya perahu (kapal) yang berlayar di laut membawa barang yang
berfaedah bagi manusia, air yang diturunkan Allah dari langit yang digunakan
untuk menyuburkan bumi sesudah mati dan membiakkan binatang-binatang serta
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar
menjadi tanda bukti bagi orang-orang yang berfikir".(Baqarah 164).
17
4) فَآمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ )
( (التّغابن: 8
(4) "Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasulnya serta cahaya
(Quran) yang telah aku turunkan. Dan Allah maha mengetahui akan
perbuatanmu". (Thaghabun:8).
5) فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَ لُ فَأَ نَّى تُصْرَفُونَ )
( (يونس: 32
(5) "Itulah Allah Tuhanmu yang hak tidak ada kebenaran di luar itu,
melainkan kesesatan, maka mengapakah kamu berpaling"? (Yunus:32).
6) هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الحديد: )
(3
(6) "Dialah yang Awal dan Yang akhir, yang Dhahir dan yang bathin
dan Dia mengetahui segala sesuatu."(Hadid:3).
- آُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِآْرَام (الرحمن: 26
(27
"Segala yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap Kekallah tuhanmu
yang maha agung dan maha mulia”. (Rahman : 26-27)
7) فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الأَنْعَامِ )
أَزْوَاجًا يَذْرَؤُآُمْ فِيهِ لَيْسَ آَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير (الشورى:
(11
(7) "Yang menciptakan langit dan bumi. Diapun menjadikan dari
jenismu berjodohan (berpasang-pasangan), begitu juga dari binatang ternak
(diciptakan) berpasangan, yang Dia perkembangkan diatas bumi. Tidak ada
18
sesuatupun yang menyamai-Nya dan Dialah maha mendengar dan maha melihat."
(Syura:11).
8) قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ آُفُوًا أَحَدٌ . )
.(4- (الاخلاص: 1
(8) "Katakanlah: Dialah Yang Maha Esa, Allahlah pusat permohonan,
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak sesuatu yang
menyamainya". (Ikhlas:1-4)
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأ نْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ
ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا آَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
( (النّمل: 60
"Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan telah
menurunkan air dari langit untukmu, lalu aku tumbuhkan dengan air itu beberapa
kebun yang indah serasi, yang kamu tidak dapat tumbuhkan pohon-pohonnya.
Adakah Tuhan lain disamping Allah? Memang mereka itu orang-orang yang
menyimpang" (Naml: 60).
.( 9) اللهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (البقرة: 255 )
(9) "Allah, yang tiada Tuhan yang wajib disembah selain Dia, yang
hidup dan berdiri sendiri…". (Baqarah:255).
( 10 ) وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير (الشورى: 11 )
(10) "Dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui".
(Syura:11).
( 11 ) تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى آُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (الملك: 1 )
(11) "Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia
maha kuasa atas segala sesuatu." (Mulk:1).
( 12 ) إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ آُنْ فَيَكُونُ (النحل: 40 )
19
(12) "Sesungguhnya firman-ku kepada sesuatu, apabila aku menghendaki
adanya, Aku hanya mengatakan : Jadilah, maka jadilah ia."(Nahl:40).
( 13 ) وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (البقرة: 29 )
(13) "Dan Dia itu Maha Mengetahui segala sesuatu". (Baqarah:29)
( وَسِعَ رَبُّنَا آُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (الإعراف: 89
"Pengetahuan Tuhan kami, meliputi segala sesuatu". (A'raf: 89).
( إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُون (النحل: 91
"Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".
(Nahl : 91).
( 14 ) فَسُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يَصِفُون (المؤمنون: 91 )
(14) "Maha suci Allah dari pada apa yang mereka sifati".(Mu'minun: 91)
( 15 ) وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ (القصص: 68 )
(15) "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia
pilih". (Qashah:68).
( لِلَّهِ الأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ (الروم: 4
“Bagi Allah-lah segala perkara, pada sebelum dan sesudahnya."(Rum:4).
.( 16 ) لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة : 286 )
(16) "Allah tidak membebani seseorang melainkan seimbang dengan
kekuatannya." (Baqarah: 286).
17 ) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ قَومًا تَفَكَّرُوْا فِى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ النَّبِىُّ ص م: )
تَفَكَّرُوْا فِى الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى اللهِ فَاِنَّكُمْ لَنْ تَقْدِرُوْا قَدْرَهُ.
وَعَنْهُ اَيْضًا بِلَفْظٍ آخَرَ: تَفَكَّرُوْا فِى الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى الْخَالِقِ فَاِنَّكُمْ لاَ
تَقْدِرُونَ قَدْرَهُ (رَوَاهُ اَبُوالشّيخِ).
(17) “Hadits dari Ibnu 'Abbas, bahwasanya orang banyak (sedang)
memikirkan keadaan Allah Yang Maha Mulia dan Agung, maka Nabi s.a.w.
bersabda: "Berfikirlah kamu sekalian tentang mahkluk Allah dan janganlah kamu
sekalian berfikir tentang dzat-Nya, karena kamu sekalian tidak akan mampu
menggapai-Nya". Dan dari Ibnu "Abbas juga dengan lain perkataan: "Berfikirlah
kamu sekalian tentang makhluk (ciptaan-Nya) dan janganlah kamu berfikir
20
tentang Khaliq (Allah), karena kamu sekalian tidak akan mampu menggapai-
Nya." (Diriwayatkan oleh Abu Syaikh).
وَمَا قَدَرُوْا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوْا مَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ
أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ
تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُونَ آَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا أَنْتُمْ وَلا ءَابَاؤُآُمْ قُلِ اللهُ ثُمَّ
( ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ (الانعام: 91
"Dan mereka tidak menghargai kepada Allah sebagaimana mestinya,
dikala mereka berkata : Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia."
Katakanlah: Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang di bawa oleh Musa
sebagai cahaya dan petunjuk bagi ummat manusia, yang kamu jadikan lembaranlembaran,
(sebagian) kamu memperlihatkan dan banyak diantara kamu yang
menyembunyikan, padahal telah diajarkan kepada kamu apa yang kamu dan
bapak-bapak kamu tidak ketahui. Katakanlah:"Allahlah (yang menurunkan-nya)
kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan."(An'am:91).
. 18 ) لِمَا تَقَدَّمَ فِى رَقْمِ- 17 )
(18) Sebagaimana yang terdapat dalam nomer 17 di atas.
19 ) الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي )
.( أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ (فاطر: 1
(19) "Segala Puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan
Malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap, ada yang dua, tiga dan ada yang
empat"(Fathir:1).
( 20 ) بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ. لا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُون ( 27 )
.(27- (الانبياء 26
(20) "Bahkan para Malaikat itu hamba yang di muliakan (terhormat)
yang tidak mendahului firman Allah, sedang mereka selalu mengerjakan perintah-
Nya."(Anbiya':26-27).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
( (التّحريم: 6
21
"Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya adalah para
Malaikat yang kasar, yang keras dan yang tidak pernah menentang perintah Allah,
dan mereka senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan." (Tahrim:6).
21 ) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوْا لاَ )
( تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوْطٍ (الهود: 70
(21) "Maka ketika Nabi Ibrahim melihat tangan malaikat tidak
menjamah hidangan, yang memandang aneh dan merasa takut, berkatalah para
Malaikat: Janganlah kamu Takut, sesungguhnya kami diutus untuk menghadapi
kaum Luth". (Hud:70).
( 22 ) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ (الانبياء: 20 )
"Sepanjang masa tiada putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan."
(Anbiya:20).
أَفَأَصْفَاآُمْ رَبُّكُمْ بِالْبَنِيْنَ وَاتَّخَذَ مِنَ الْمَلائِكَةِ إِنَاثًا إِنَّكُمْ لَتَقُوْلُوْنَ قَوْلًا عَظِيْمًا
( (الاسراء: 40
"Adakah Tuhanmu telah memilih kamu sekalian sebagai anak laki-laki
dan menjadikan anak perempuan kepada para Malaikat ?"Sesungguhnya kamu
telah mengatakan ucapan yang besar (dosanya). (isra': 40).
( 23 ) يُسَبِّحُوْنَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُوْنَ (الانبياء: 20 )
(23) "Sepanjang masa tiada putus-putusnya mereka mensucikan Tuhan."
(Anbiya':20)
( 24 ) وَمَا مِنَّا إِلاَّ لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ (الصّافّات: 164 )
(24) "Dan tidak ada daripada kami (Malaikat) melainkan mempunyai
kedudukan yang tertentu". (Shaffat:164).
( 25 ) وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ ( الحاقة: 17 )
(25) "Dan pada hari itu ada delapan Malaikat menjunjung 'Arsy
Tuhanmu di atas mereka." (Haqqah: 17).
26 ) فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ. مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ. بِأَيْدِي سَفَرَةٍ. آِرَامٍ بَرَرَةٍ )
.(15- (عبس: 13
22
(26) "Di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan, dijunjung dan
disucikan, di tangan para utusan (Malaikat) yang mulia lagi berbakti."(Abasa:13-
16).
27 ) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ اْلأَمِيْنُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (الشعراء: )
(194-193
(27) "Al-Qur’an dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril), kepada hatimu
agar kamu menjadi golongan orang yang menyampaikan peringatan".
(Syu'ara:193-194)
28 ) مَنْ آَانَ عَدُ  وا لِلَّهِ وَمَلاَ ئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ )
( لِلْكَافِرِيْنَ (البقرة: 98
(28) "Barang siapa memusuhi Allah, Malaikat-malaikat-Nya, utusanutusan-
Nya serta Jibril dan Mikail, maka Allah akan memusuhi orang-orang
kafir". (Baqarah:98).
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ....وَاَمَّا هَذِهِ الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ وَأَنَا جِبْرِيْلُ وَهَذَا
.( مِكَائِيلَ.... (رَوَاهُ البُخَارِى). (رِيَاضُ الصَّالِحِيْنَ صَفْحَة 507
“Hadist dari samurah bin Jundub: "Adapun rumah ini adalah rumahnya
para syuhada’ dan aku adalah Jibril dan ini Adalah Mikail"……dan seterusnya.
(diriwayatkan oleh bukhari, tersebut dalam kitab Riyadlus Shalihin, Halaman
507).
29 ) وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِيْنَ. آِرَامًا آَاتِبِيْنَ. يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ (الانفطار: )
(12-10
(29) "Sungguh di atasmu itu ada pengawas (Malaikat) yang mulia yang
selalu mencatat, mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan (Infithar:10-12).
30 ) وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ آُلُّ أُوْلَئِكَ )
.( آَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً. ( الاسراء: 36
(30) "Jangan engkau mengikuti apa-apa yang tidak kamu ketahui,
sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu kesemuanya akan
ditanyai."(Isra':36).
23
31 ) عَنْ عُمَرَ رَضِىَاللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ ص )
م ذَاتَ يَوْمٍ اِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدٌ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدٌ سُوَادِ الشَّعَرِ
لاَيُرَى عَلَيهِ اَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا اَحَدٌ. حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِىِّ ص م
فَاَسْنَدَ رُآْبَتَيْهِ وَوَضَعَ آَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَامُحَمَّدُ اَخْبِرنِى عَنِ
الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ص م: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَأََنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّآَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ
الْبَيْتَ إِنِ استَطَعْتَ إِلَيهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. الحَدِيثَ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).
(31) “Dari Umar r.a. berkata : "Pada saat kami duduk pada suatu hari
bersama Rasulullah s.a.w. datanglah seorang laki-laki putih bersih pakaiannya,
hitam bersih rambutnya, tak terkesan padanya tanda orang yang sedang bepergian
dan tiada seorang pun diantara kami yang mengenalnya, kemudian bersimpuh
dihadapan Nabi dengan merapatkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi dan
meletakkan kedua telapak tanganya pada paha Nabi. Lalu ia berkata: "Hai
Muhammad terangkanlah kepadaku tentang Islam", Nabi menjawab "Islam ialah
engkau mempersaksikan, tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan
Allah, mengerjakan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan dan pergi haji
bila engkau mampu melakukannya". Kata orang itu: "Benar engkau….dan
seterusnya. (diriwayatkan oleh Muslim).
عَنْ جَابِرِبْنِ عَبْدِاللهِ الاَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ
الوَحْىِ فَقَالَ فِى حَدِيْثِهِ: بَيْنَا أَنَا أَمْشِى إِذْ سَمِعْتُ صَوتًا مِنَ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ
رَأْسِى فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِى جَاءَنِى بِحِرَاءَ جَالِسٌ عَلَى آُرْسِىٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ
وَالاَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُوْنِى. فَاَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا
الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنْذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ. وَحَمِىَ
الوَحْىَ وَتَتَابَعَ (البخارى).
“Dari Jabir bin Abdullah Anshari, dan dia menceritakan tentang periode
wahyu, katanya: "sewaktu aku (Nabi) sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar
suara dari langit, maka aku mengangkatkan kepalaku. Tiba-tiba tampak Malaikat
yang pernah datang di gua Hira' dahulu duduk diatas kursi diantara langit dan
bumi, maka takutlah aku dan kembali pulang, sesampai di rumah aku berkata:
"Selimutilah aku, selimutilah aku". Lalu Allah menurunkan ayat: Hai orang yang
berselimut, bangunlah dan berilah peringatan. Agungkanlah tuhanmu,
24
bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa "Kemudian lancarlah
dan beruntun turunannya wahyu." (diriwayatkan oleh Bukhari).
وَآَمَا فَسَّرَهُ الشَّوآَانِىُّ فِى تَفْسِيْرِهِ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ
(14- سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (النّجم: 13
Dan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Syaukani dalam tafsirnya
mengenai firman Allah swt.: "Dan sesungguhnya Nabi telah melihat Malaikat
Jibril pada kesempatan lain di sidratul Muntahaha". (Najm:13-14).
32 ) لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُوْمَ )
.( النَّاسُ بِالْقِسْطِ. (الحديد: 25
(32) "Sungguh Kami telah Mengutus Utusan-utusan-Ku dengan
membawa bukti dan beserta mereka itu aku berikan Kitab dan Neraca (timbangan)
agar orang-orang menegakkan keadilan".(Hadid:25).
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
.(202- النَّارِ. أُوْلَئِكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِمَّا آَسَبُوْا (البقرة: 200
"Maka ada sebagian orang yang berdo'a : Ya Tuhanku, berilah hamba
(kebaikan) di dunia ini maka ia tidak mendapat bahagian di akhirat. Dan diantara
mereka ada yang berdo'a: Ya Tuhan berilah hamba kebaikan di dunia dan di
Akhirat dan jauhkanlah hamba dari api neraka. Mereka itulah yang mendapat
bagian dari apa yang telah mereka lakukan".(Baqarah: 200-202).
( 33 ) وَءَاتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (النّساء: 163 )
(33) "Dan aku telah memberikan kitab Zabur kepada Nabi
Dawud."(Nisa':136).
34 ) وَاَخْرَجَ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمُ وَأَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرِ عَنِ )
البَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِىُّ ص م بِيَهُودِىٍّ مُحَمَّمًا مَجْلُوْدًا فَدَاعَاهُمْ
فَقَالَ: اَهَكَذَا تَجِدُوْنَ حَدَّ الزَّانِى فِى آِتَابِكُمْ ؟ قَالُوا: نَعَم. فَدَعَا رَجُلاً مِنْ
عُلَمَائِهِمْ فَقَالَ: اُنْشِدُكَ بِاللهِ الَّذِى أَنْزَلَ التَّوْرَاةَ عَلَى مُوْسَى اَهَكَذَا تَجِدُوْنَ
حَدَّ الزَّانِى فِى آِتَابِكُمْ ؟ قَالَ: أَللَّهُمَّ لاَ. وَلَوْلاَ أَنَّكَ نَشَدْتَنِى بِهَذَا لَمْ أُخْبِرْكَ.
نَجِدُ حَدَّ الزَّانِى فِى آِتَابِنَا الرَّجْمَ. الحديث.
(34) “Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnul Jarir, dan
Ibnul Mundzir dari Bara bin ‘Azib berkata: ”Nabi telah lewat di dekat seorang
25
Yahudi yang berlumuran darah karena hukum dera, maka Nabi memanggil orangorang
Yahudi dan bertanya: “Beginilah hukuman orang berzina di dalam
kitabmu?” Mereka menjawab: Ya. Maka Nabi memanggil seorang dari ‘ulama
mereka dan bertanya: Atas nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat
kepada Nabi Musa, beginikah hukuman orang Zina di dalam kitabmu?. Ia
menjawab: Oh tidak, dan seandainya tuan tidak mendesak atas nama Allah
kepadaku, niscaya tak kukatakan kepada tuan, di dalam kitab kami, hukuman
orang zina itu ranjam”……………..dan seterusnya.
35 ) وَقَفَّيْنَا عَلَى ءَاثَارِهِمْ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ )
.( التَّوْرَاةِ وَءَاتَيْنَاهُ اْلإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ (المائدة: 46
(35) “Dan sesudah mereka itu Aku susulkan Isa bin Maryam untuk
membenarkan kitab Taurat yang ada sebelumnya. Dan ia Ku-beri kitab Injil berisi
petunjuk dan cahaya…..” (Maidah: 46).
.( 36 ) اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ القُرْآنَ تَنْزِيْلاً. (الدّهر: 23 )
(36) “Sungguh aku telah menurunkan Qur’an, dengan sebenar-benarnya
kepadamu (Muhammad)”. (dahr: 23).
37 ) مَا آَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُوْلَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ )
.( (الاحزاب: 40
(37) “Muhammad itu tidak menjadi ayah dari seorang laki-laki
diantaramu, akan tetapi ia adalah utusan Allah dan penghabisan (penutup)
sekalian Nabi.”(Ahzab:40).
( 38 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم: 4 )
(38) “Karena firman Allah Ta’ala:”Dan engkau (Muhammad) memang
benar-benar berbudi luhur”. (Qalam:4).
وَلِحَدِيْثِ عَائِشَةَ آَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَاَبُو دَاوُدَ).
“Dan karena Hadits ‘Aisyah r.a. bahwa akhlaq Nabi itu adalah Qur’an”.
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud).
39 ) وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ )
.(165- وَآَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيْمًا. رُسُلاً مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ. (النّساء: 164
26
(39) “Dan (Kami telah mengutus) beberapa Rasul yang telah
Kuceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak Ku-ceritakan kepadamu. Dan
Allah telah berbicara benar-benar kepada Nabi Musa. (Mereka Kami utus ) selaku
Rasul-Rasul yang memberi kabar gembira dan kabar yang menakutkan …..”.(Annisa’:
164-165)
40 ) وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْآُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِي )
.( اْلأَسْوَاقِ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً. (الفرقان: 20
(40) “Dan tidaklah Aku mengutus beberapa utusan sebelummu, kecuali
mereka itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Aku jadikan
cobaan sebagianmu kepada yang lain.”(Al-Furqan: 20).
41 ) وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ اْلأَحْزَابَ قَالُوْا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ )
.( وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ (الاحزاب: 22
(41) “Dan ketika orang-orang mukmin melihat lawan-lawan bersekutu,
mereka berkata: Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan utusan-Nya dan benarbenar
(tidak dusta)-lah Allah dan utusan-Nya itu.”(Ahzab:22).
( وَاذْآُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ آَانَ صِدِّيقًا نَبِيا (مريم: 41
“Perhatikanlah akan Nabi ibrahim dalam kitab, sesungguhnya ia benar
dan menjadi Nabi.” (Maryam:41).
وَاذْآُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ آَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَآَانَ رَسُولاً نَبِيا
( (مريم: 54
“Perhatikanlah akan Isma’il dalam kitab, sesungguhnya ia benar janjinya
dan ia adalah utusan dan Nabi.” (Maryam 54).
( وَاذْآُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ آَانَ صِدِّيقًا نَبِيا (مريم: 56
“Perhatikanlah akan Idris di dalam kitab, sesungguhnya ia adalah benar
dan menjadi Nabi”. (Maryam:56).
( 42 ) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍ (التّكوير: 24 )
(42) “Dan tidaklah ia (Muhammad) menyembunyikan berita ghaib”. (At-
Takwir:24).
27
43 ) الَّذِينَ يُبَلِّغُوْنَ رِسَالاَتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلاَ يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلاَّ اللَّهَ )
( وَآَفَى بِاللَّهِ حَسِيْبًا (الاحزاب: 39
(43) “Mereka yang telah menyampaikan risalah-risalah Allah dan takut
kepada-Nya, serta tidak ada sesuatu yang ditakuti kecuali Allah, dan cukuplah
Allah yang menghitung”. (Ahzab:39).
لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالاَتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى آُلَّ شَيْءٍ
( عَدَدًا (الجنّ: 28
“Supaya ia mengetahui, bahwa mereka telah menyampaikan risalahrisalah
tuhan mereka, dan pengetahuan-Nya meliputi apa yang ada di antara
mereka dan menghitung bilangan segala sesuatu.”(Jin:28).
( 44 ) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (القيامة: 19 )
(44) “Kemudian atas tanggung jawab-Ku penjelasan Qur’an
itu”.(Qiyamah:19)
45 ) قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ آَانَ )
يَرْجُوْا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (الكهف:
(110
(45) “Katakanlah (olehmu Muhammad): Bahwasaya aku hanyalah
manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwasanya Tuhan kamu
sekalian hanyalah Tuhan yang Esa. Maka barang siapa yang ada mengharap
bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah beramal shaleh dan janganlah
menyekutukan sesuatupun dalam berbakti kepada Tuhan-Nya”. (Kahfi:110).
46 ) إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ آَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوْحٍ وَالنَّبِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى )
إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ وَاْلأَسْبَاطِ وَعِيْسَى وَأَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ
( وَهَارُوْنَ وَسُلَيْمَانَ وَءَاتَيْنَا دَاوُدَ زَبُوْرًا (النّساء: 163
Sungguh telah Aku memberi wahyu kepadamu (Muhammad)
sebagaimana yang telah Ku-berikan kepada Nabi Nuh dan Nabi-nabi sesudahnya,
begitu juga Aku telah memberikan wahyu-wahyu kepada Nabi-Nabi: Ibrahim,
Ishaq, Yaqub, serta turunannya, serta Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan
kepada dawud Kuberikan kitab Zabur”. (Nisa’:163).
28
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلاً لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَآَلَّمَ اللَّهُ
( مُوْسَى تَكْلِيمًا (النّساء: 164
“Dan (Kami telah mengutus) beberapa Rasul yang telah kuceritakan
kepadamu dari yang sebelumnya dan ada pula beberapa Rasul yang tidak Kuceritakan
kepadamu. Dan Allah benar-benar berbicara kepada Nabi Musa.”
(Nisa’:164).
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا ءَاتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ
( حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ (الانعام: 83
“Dan itulah Hujjah (pembuktian)-Ku yang Ku-berikan kepada Nabi
Ibrahim untuk mengalahkan kaumnya, Aku mengangkat beberapa derajat orang
yang Aku kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu maha bijaksana lagi maha
mengetahui”.(An’am: 84).
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ آُلا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ
دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسَى وَهَارُوْنَ وَآَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ
( (الانعام: 84
“Dan Aku telah karuniakan kepada Ibrahim (keturunan) yaitu Nabi Ishaq
dan Ya’qub, masing-masing Ku-berikan petunjuk kepada Nabi Nuh dan diantara
keturunanya yakni Nabi Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun.
Demikian juga Aku menganugerahi orang-orang yang berbuat baik.”(An’am: 85).
( وَزَآَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيْسَى وَإِلْيَاسَ آُلٌّ مِنَ الصَّالِحِيْنَ (الانعام: 85
Dan Nabi Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas; kesemuanya dari orang-orang
yang sahalih.”(An’am:86).
وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَآُلا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِيْنَ (الانعام:
(86
“Dan Nabi Isma’il, Ilyasa’, Yunus dan Luth; dan kesemuanya telah Kuberikan
dari semua orang.”(An’am:87).
( وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ آُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ (الانبياء: 85
“Dan Nabi Ismail, Idris dan Dzulkifli; kesemuanya dari orang-orang
yang sabar”. (Anbiya’: 84).
.( وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا (هود: 84
29
“Dan kepada penduduk Madyan Aku telah mengutus saudara mereka
yaitu Nabi Syu’aib. (Hud:84).
( وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا (هود: 61
“Dan kepada kaum Tsamud Aku telah mengutus saudara mereka yaitu
Nabi Shalih.” ( Hud: 61).
( وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا (هود: 50
“Dan kepad kaum ‘Ad. Aku telah mengutus saudara mereka yaitu Nabi
Hud.” (Hud: 50).
( وَاذْآُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيْسَ إِنَّهُ آَانَ صِدِّيْقًا نَبِيا (مريم: 56
“Perhatikanlah Nabi Idris dalam kitab, sesungguhnya ia benar lagi
menjadi Nabi”. ( Maryam:56).
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوْحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيْمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِيْنَ
( (ال عمران: 33
“Sungguh Allah telah memilih Nabi Adam, Nuh, dan keturunan Nabi
Ibrahim, keturunan Imran (melebihi) semua orang.” (Ali Imran: 33).
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ (الفَتح:
(29
“Muhammad adalah Utusan Allah dan orang-orang yang mengikutinya,
sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan kasih sayang diantara sesama
mereka…….”. (Fath:29).
47 ) لِمَا تَقَدَّمَ فِى رَقْمِ )
(47) “Sebagaimana yang tersebut pada nomer 39 di atas.
48 ) إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلاَّ خَلاَ فِيْهَا نَذِيْرٌ )
( (فاطر: 24
(48) “Sungguh Aku telah mengutus engkau ( Muhammad) dengan
membawa kebenaran untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Dan
tidak ada sesuatu ummat yang dahulu, kecuali ada seorang (Nabi) yang memberi
peringatan.” (Fathir:24)
49 ) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آَانَتْ تَأْتِيْهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوْا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ )
( شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المؤمن: 22
30
(49) “Yang demikian itu karena mereka telah kedatangan para utusan
yang membawa tanda bukti, kemudian mereka kafir, maka Allah menimpakan
siksanya.” (Mukmin:22).
( 50 ) قُلْنَا يَانَارُ آُوْنِي بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ (الانبياء: 69 )
(50) “Aku berkata: Hai api! Jadilah dingin dan selamatkanlah Ibrahim“.
(Anbiya’: 69).
( 51 ) فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِيْنٌ (الاعراف: 107 )
(51) “Kemudian Nabi Musa melemparkan tongkatnya, seketika menjadi
ular yang nyata.” (A’raf:107).
52 ) وَرَسُوْلاً إِلَى بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ )
لَكُمْ مِنَ الطِّيْنِ آَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ
اْلأَآْمَهَ وَاْلأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْآُلُوْنَ وَمَا
تَدَّخِرُوْنَ فِي بُيُوْتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ آُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ (ال عمران:
(49
(52) “Dan sebagai utusan kepada Bani Israil ( berkata): Sungguh aku
telah datang kepadamu dengan membawa bukti dari tuhanmu, bahwasanya aku
membuat untukmu seperti burung dari tanah lalu aku tiup, maka akan jadilah
burung atas idzin Allah. Aku menyembuhkan orang buta dan orang yang
berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; begitu
juga aku memberitakan kepadamu akan apa yang kamu makan dan apa yang
kamu simpan di dalam rumah-rumahmu. Yang demikian itu adalah menjadi bukti
bagimu, kalau kamu beriman”.(Ali Imran:49).
53 ) قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لاَ )
( يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ آَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا (الاسراء: 88
(53) “ Katakanlah : Kalaupun manusia dan jin berkumpul untuk
mengadakan seperti Quran ini, tentulah tidak akan mampu mengadakannya
meskipun sebagian menolong sebagian yang lain”. (Isra’:88).
( 54 ) زَعَمَ الَّذِيْنَ آَفَرُوْا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوْا (التغابن: 7 )
(54) “Orang-orang kafir beranggapan bahwa mereka tidak akan
dibangkitkan.” ( Taghabun: 7).
31
وَنُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَإِذَا هُمْ مِنَ اْلأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ. قَالُوْا يَاوَيْلَنَا مَنْ
بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ. إِنْ آَانَتْ إِلاَّ
(53- صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ (يس: 51
“Dan setelah sangkakala di tiup mereka keluar dari kubur bergegas ke
Tuhan mereka. Mereka berkata: celakalah kami, siapakah kami yang
membangkitakan kami dari tempat tidur kami (kubur)? Inilah yang telah
dijanjikan oleh Yang Maha Pemurah, dan benarlah Rasul-rasul. Tidak adalah
tiupan itu kecuali hanya sekali, maka tiba-tibalah mereka semua dihadapan-Ku”.
(Yasin:51-53).
( ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُوْنَ (المؤمنون: 16
“Kemudian kamu semua dibangkitkan kelak pada hari kiamat”.
(Mukminun: 16).
55 ) هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ ذَلُوْلاً فَامْشُوْا فِي مَنَاآِبِهَا وَآُلُوْا مِنْ )
( رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ(الملك: 15
(55) “Dia (Allah) itulah yang telah menjadikan bumi mudah (digarap)
oleh kamu, maka jelajahilah pelosok-pelosoknya dan makanlah dari rizki-Nya.
Dan kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (Mulk: 15
56 ) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ (ابْرَاهيم: )
.(41
(56) “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua ayah-bundaku dan orangorang
mukmin pada hari berlakunya pengadilan( Hari Qiyamat).” (Ibrahim:41).
وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ آُلِّ مُتَكَبِّرٍ لاَ يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ
( (المؤمن: 27
“Dan berkata Nabi Musa: sesungguhnya aku mohon perlindungan
kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang takabbur (sombong) yang
tidak percaya pada Hari hisab” (Qiyamat). (Mu’min 27).
57 ) الْيَوْمَ تُجْزَى آُلُّ نَفْسٍ بِمَا آَسَبَتْ لاَ ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيْعُ )
( الْحِسَابِ (المؤمن: 17
32
(57) “Pada Hari ini (Qiyamat) dibalaslah tiap-tiap orang atas segala
perbuatannya, pada hari itu tidak ada kezhaliman. Sesungguhnya Allah itu sangat
cepat penghisabannya”.(Mu’min:17).
58 ) إِنَّ الَّذِينَ آَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِآِيْنَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ )
( فِيْهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (البيّنة: 6
(58) “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang
musyrik itu, di dalam neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah
sejahat-jahat makhluk.”( Bayyinah:6).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله ص م: إِذَا صَارَ أَهْلُ
الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِئَ بِالْمَوْتِ حَتَّ يَجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ
وَالنَّارِ فَيُذْبَحُ ثُمَّ يُنَادِى مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ وَيَا أَهْلَ النَّارِ
خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ. فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى
حُزْنِهِمْ. (أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَاللَّفْظُ لَهُمَا وَالتِّرْمِذِىُّ بِمَعْنَاهُ) تَيْسِيْرُ الوُصُوْلِ
جُزْءُ: 4 ص 121 طبعة 1346 , الفَصْلُ الخَامِسُ فِى ذِآْرِ الشَّفَاعَةِ مِنْ
آِتَابِ الْقِيَامَةِ).
Hadist dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “ Apabila
penghuni Syurga itu telah menuju ke Syurga dan penghuni Neraka menuju ke
Neraka, maka (diperagakan) ”kematian” dibawa di antara Syurga dan Neraka, lalu
disembelih, kemudian diserukan (Malaikat); Hai penghuni Syurga, kekallah kamu
dan tidak akan mati. Maka bertambah gembiralah penghuni Syurga dan bertambah
sedihlah penghuni Neraka”. (Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, begitu juga
dengan Tirmidzi dengan lafal yang sama maknanya). Tersebut dalam Kitab
Taisirul-Wushul, Juz IV, halaman 21, cetakan tahun 1346 H, fasal 5 tentang
Dzikir –Syafa’ah dari bab Qiyamat.
59 ) عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِىِّ رَضِىَ الله عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ ص م قَالَ اِذَا دَخَلَ )
أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ يَقُوْلُ اللهُ: مَنْ آَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ
مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَاَخْرِجُوْهُ لِيَخْرُجُوْنَ. (رواه البخارى).
(59) “Dari Abi Sa’id al Khudri r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. telah
bersabda: Apabila ahli syurga itu telah masuk Neraka,” maka Allah berfirman:
Barang siapa di dalam hatinya ada iman sekalipun sebesar biji sawi, keluarkanlah
ia (dari Neraka), lalu mereka keluar…..”.( Diriwayatkan oleh Bukhari ).
33
60 ) إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُوْنَ )
.( فِي سَبِيْلِ اللهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ (التّوبة: 111
(60) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, jiwa dan
harta benda mereka dengan syurga; mereka berperang pada jalan Allah, lalu ada
yang membunuh dan ada yang terbunuh….” (Taubah11).
يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُقِيْمٌ. خَالِدِيْنَ
(22- فِيْهَا أَبَدًا (التّوبة: 21
“Tuhan menggembirakan mereka dengan rahmat, keridhaan dan syurga
mereka memperoleh kesenangan yang tetap, mereka kekal di dalamnya selamalamanya.”
( TAubah : 21-22)
61 ) ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ خَالِقُ آُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوْهُ وَهُوَ عَلَى آُلِّ )
( شَيْءٍ وَآِيْلٌ (الانعام: 102
(61) “Itulah dia Allah kamu sekalian, tidak ada tuhan berhak disembah
selain Allah, yang menciptakan segala sesuatu.”(An’am:102).
62 ) إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ )
( الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَآَّرُوْنَ (النحل: 90
(62) “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebaikan dan
memberi kepada sanak kerabat, serta melarang kekejian, kemunkaran dan
kedurhakan. Allah menasehatkan kepadamu, agar kamu selalu ingat”. (Nahl:90).
63 ) مَا آَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيْمَا فَرَضَ اللهُ لَهُ سُنَّةَ اللهِ فِي الَّذِيْنَ )
( خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَآَانَ أَمْرُ اللهِ قَدَرًا مَقْدُوْرًا (الاحزاب: 38
(63) “Sama sekali tiada rasa sempit bagi Nabi terhadap apa yang
ditentukan oleh Allah, demikianlah sunnah Allah (hukum qudrat iradat Allah)
terhadap orang-orang sebelumnya. Dan hukum Allah itu adalah ketentuan yang
pasti.”(Ahzab:38).
64 ) مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي آِتَابٍ مِنْ )
( قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيْرٌ (الحديد: 22
(64) “Tidaklah ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak ada
musibah yang menimpa dirimu, kecuali tertulis di dalam kitab, sebelum Aku
menciptakan. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Hadid:22).
.( اِنَّا آُلَّ شَيئٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (القمر: 49
34
“Sungguh segala sesuatu itu Aku jadikan dengan ketentuan (ukuran)”.
(Qamar:49).
( 65 ) وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ (الصَّافَّات: 96 )
(65) “Allah yang telah menjadikan kamu dan apa yang telah kamu
kerjakan”.(Shaffat: 96).
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا آَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَتَعَالَى عَمَّا
( يُشْرِآُوْنَ (القصص: 68
“Dan Allah itu yang menjadikan apa yang Ia kehendaki dan apa yang ia
pilih. Tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan maha luhur dari apa
yang mereka sekutukan. (Qashaah : 68).
( 66 ) وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (البلد: 10 )
(66) “Dan kami telah menunjukkan manusia dengan dua jalan.”(Balad:
10).
( فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا (الشمس: 8
“Lalu mengilhamkan kepadanya kejahatannya dan kebaikannya”.
(Syams:8).
67 ) لِمَا تَقَدَّمَ فِى رَقْمِ 65 )
(67) “Sebagaimana tersebut pada nomer 65.
68 ) يَاأَيُّهَا النَّاسُ آُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ )
( الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ (البقرة: 168
(68) “Hai semua manusia, makanlah apa yang ada di bumi ini, yang halal
lagi yang baik; dan jangan kamu mengikuti langkah syetan. “Sesungguhnya
syetan itu musuhmu yang paling nyata”. (Baqarah:168)
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا آُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاآُمْ وَاشْكُرُوْا لِلَّهِ إِنْ آُنْتُمْ إِيَّاهُ
( تَعْبُدُوْنَ (البقرة: 172
“Hai orang-orang yang beriman makanlah kamu dari rizki yang baik
yang telah kuberikan kepadamu dan bersyukurlah kamu kepada Allah, bila benarbenar
kamu berbakti kepada-Nya”. (Baqarah:172).
فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَلاَ لاً طَيِّبًا وَاشْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ إِنْ آُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
( (النّحل: 114
35
“Maka makanlah kamu apa yang telah diberikan oleh Allah. Yang halal
lagi baik dan bersyukurlah atas segala ni’mat Allah, bila kamu benar-benar hanya
berbakti kepadanya.”(Nahl:114).
36
KITAB THAHARAH
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى
الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ آُنْتُمْ جُنُبًا
فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ آُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ
لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ
وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَآُمْ
( وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَآُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (المائدة: 6
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan
sholat, basuhlah (cucilah) mukamu, tanganmu sampai ke siku, usaplah kepalamu
dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki. Dan jika kamu berjunub maka
bersuci (mandi) lah. Dan jika kamu sakit atau bepergian atau salah seorang
diantara kamu buang air (buang hajat) atau kamu sentuh wanita (bersetubuh), dan
tidak kamu dapati air maka bertayammumlah kamu dengan debu yang bersih
maka usaplah mukamu dan tanganmu dengan debu itu”. Allah tidak
menginginkan kesempitan kepadamu, tetapi hendak mensucikan kamu dan
menyempurnakan ni’matnya kepadamu, supaya kamu bersyukur”. ( Qs. Maidah
ayat 6).
( اِذَا تَوَضَأْتَ فَقُلْ: بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحيْم)ِ ( 1) مُخْلِصًا نِيَّتَكَ لِلّهِ.( 2
وَاغْسِلْ آَفَّيْكَ ثّلاَثًا ( 3) وَاسْتَنَّ باِلاَرَاكِ اَوْ نَحْوِهِ ( 4) ثُمَّ تَمَضْمَضْ
وَاسْتَنْشِقْ مِنْ آَفٍّ وَاحِدٍ وَاسْتَنْثِرْ تَفْعَلُ ذَالِكَ ثَلاَثًا ( 5) وَبَالِغْ فِيْهِمَا مَالَمْ
تَكُنْ صَائِمًا ( 6) ثُمَّ اغْسِلْ وَجْهَكَ ثَلاَثًا بِمَسِّ المَاءَقَيْنِ ( 8) وَاِطَالَةِ غَسْلِهِ
9) مَعَ الدّلْكِ ( 10 ) وَتَخَلَّل لِحْيَتَكَ ( 11 ) ثُمَّ اغْسِلْ يَدَيْكَ مَعَ المِرْفَقَيْنِ )
بِالدَّلْكِ ثَلاَثًا ( 12 ) وَخَلِّلِ الاَصَابِعَ ( 13 ) مَعَ اِطَالَةِ غَسْلِهَمَا ( 14 ) وَابْدَأْ
( بِالْيُمْنَى ( 15 ) ثُمَّ امْسَحْ بِرَأْسِكَ ( 16 ) اَوْ بِنَاصِيَتِكِ وَعَلَى العِمَامَةِ ( 17
بِاِمْرَارِ اليَدَيْنِ مِنْ مُقَدَّمِهِ اِلَى القَفَا وَرَدِّهِمَا اِلَيْهِ ( 18 ) ثُمَّ امْسَحِ الاُذُنَيْنِ
ظَاهِرَهُمَا بِالاِبْهَامَيْنِ وَبَاطِنَهُمَا بِالسَّبَّابَتَيْنِ ( 19 ) ثُمَّ اغْسِلْ رِجْلَيْكَ مَعَ
الكَعْبَيْنِ بِالدَّلْكِ ثَلاَثًا ( 20 ) وَخَلِّلِ الاَصَابِعَ مَعَ اِطَالَةِ غَسْلِهِمَا ( 21 ) وَابْدَأْ
بِاليُمْنَى ( 22 ) وَتَعَهَّدْ غَسْلَهُمَا ( 23 ) ثُمَّ قُلْ: أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ الاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ
.( شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ( 24
37
Apabila kamu hendak berwudhu, maka bacalah:
“Bismillahirrahmanirrahim”. (1) dengan mengikhlaskan niatnya karena Tuhan
Allah (2) dan basuhlah telapak tanganmu tiga kali (3) gosoklah gigimu dengan
Kayu arok atau sesamanya. (4) kemudian berkumurlah dan isaplah air dari
telapak tangan sebelah dan berkumurlah; kamu kerjakan yang demikian 3 kali (5)
sempurnakanlah dalam berkumur dan mengisap air itu, apabila kamu sedang tidak
berpuasa (6); kemudian basuhlah mukamu tiga kali (7) dengan mengusap dua
sudut matamu (8) dan lebihkanlah membasuhnya (9) dengan digosok (10)dan
selai-selailah jenggotmu (11); kemudian basuhlah (kedua) tanganmu dan kedua
sikumu dengan digosok tiga kali (12) dan selai-selailah jari-jarimu (13), dengan
melebihkan membasuh kedua tanganmu mulai tangan kanan (15); lalu usaplah
ubunmu dan atas surbanmu (16); dengan menjalankan kedua telapak tangan (17)
dari ujung muka kepala sehingga tengkuk dan di kembalikan lagi pada permulaan
(18); kemudian usaplah kedua telingamu sebelah luarnya dengan dua ibu jari dan
sebelah dalamnya dengan telunjuk (19) lalu basuhlah kedua kakimu beserta kedua
mata kaki dengan digosok tiga kali (20) dan selai-selailah jari-jari kakimu dengan
melebihkan membasuh keduanya (21) dan mulailah dengan yang kanan (22) dan
sempurnakanlah membasuh kedua kaki itu (23) kemudian ucapkan “Asyhadu allaila-
ha-ilallah wahdahu-la-syari-kalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuwa
rasu-luh (24)”.
38
مَسْحُ الخُفَّيْنِ
( وَامْسَحْ اَعْلا الخُفَّيْهِ اَوْ نَحْوِهِمَا بَدَلَ غَسْلِ الرِّجْلَيْنِ فِى الوُضُوءِ ( 25
ثَلاَثًا فِى السَّفَرِ وَيَومًا وَلَيْلَةً فِى الاِقَامَةِ, مَالَمْ تَخْلَعْهُمُا وَآَانَ لُبْسُهُمَا عَلَى
( طُهْرٍ ( 26
MENGUSAP KEDUA KHUF (SEPATU)
Dan usaplah kedua khuf atau semisalnya sebagai pengganti membasuh
(mencuci) kedua kaki dalam wudlu (25), untuk tiga hari dalam perjalanan dan satu
hari dalam waktu tidak bepergian, selama tidak membuka keduanya, sedang
waktu memakainya di waktu suci (belum batal wudlu-nya)(26).
الحَدَثُ
نْ 􀑧 يئٌ مِ 􀑧 كَ شَ 􀑧 رُجْ مِنْ 􀑧 الَمْ يَخْ 􀑧 اهِ رٌ. مَ 􀑧 وَبَعْدَ اَنْ تَوَضَّأَ بِالكَيْفِيَّةِ المُتَقَدِّمَةِ فَأَنْتَ طَ
مْ 􀑧 كَ ( 29 ) وَلَ 􀑧 سَّ فَرْجَ 􀑧 مْ تَمَ 􀑧 رْأَةَ ( 28 ) وَلَ 􀑧 اَحَدِ السَّبِيْلَيْنِ ( 27 ) وَلَمْ تُلاَمِسِ المَ
( تَنَمْ مُضْطَجِعًا نَومًا ثَقِيْلاً ( 30
HADATS
Setelah kamu berwudlu dengan cara-cara yang tersebut diatas, maka kamu
dalam keadaan suci, selagi belum ada sesuatu yang keluar dari salah satu dua jalan
(27) dan selama kamu tidak menyentuh wanita (setubuh) (28) dan tidak
menyentuh kemaluan (29) dan tidak tidur yang nyeyak dengan miring (30).
39
الغُسْلُ
انَيْنِ ( 32 ) اَو اَرَدْتَ 􀑧􀑧􀑧 اءِ الخِتَ 􀑧􀑧􀑧 ىِّ ( 31 ) اَوِالْتِقَ 􀑧􀑧􀑧 رُوجِ المَنِ 􀑧􀑧􀑧 تَ بِخُ 􀑧􀑧􀑧 اِذَا اَجْنَبْ
( اسِ ( 35 􀑧􀑧 يْضِ ( 34 ) اَوِ النِّفَ 􀑧􀑧 نَ الحَ 􀑧􀑧 تِ مِ 􀑧􀑧 وْرَالجُمُعَةِ ( 33 ) اَوْ نَقَيْ 􀑧􀑧 حُضُ
كَ 􀑧 فَلْتَغْتَسِلْ وَابْدَأْ بِالغُسْلِ يَدَيْكَ ( 36 ) مُخْلِصًا نِيَّتَكَ لله ( 37 ) ثُمَّ اغْسِلْ فَرْجَ
دَّمَ 􀑧 ا تَقَ 􀑧 أْ آَمَ 􀑧 مَّ تَوَضَّ 􀑧 ا ( 38 ) ثُ 􀑧 ومُ مَقَامَهَ 􀑧 بِشِمَالِكَ وَادْلُكْهَا فِى الاَرْضِ اَوْ مَا يَقُ
( بِ ( 39 􀑧 نَ الطِّيْ 􀑧 يْئٍ مِ 􀑧 عَرِ بِشَ 􀑧 ولِ الشَّ 􀑧 ى اُصُ 􀑧 ابِعَكَ فِ 􀑧 لْ اَصَ 􀑧 ثُمَّ خُذِ المَاءَ وَاَدْخِ
كَ 􀑧 ى رَأْسِ 􀑧 اءَ عَلَ 􀑧 رِغِ المَ 􀑧 مَّ اَفْ 􀑧 انِ ( 41 ) ثُ 􀑧 بَعْدَ نَقْضَمِِه ( 40 ) وَابْدَأْ بِالشِّقِّ الاَيْمَ
دِيْمِ 􀑧 دَّلْكِ ( 43 ) بِتَقْ 􀑧 عَ ال 􀑧 دِكَ ( 42 ) مَ 􀑧 ائِرِ جَسَ 􀑧 ى سَ 􀑧 اءَ عَلَ 􀑧 ضِ المَ 􀑧 مَّ اَفِ 􀑧 ا, ثُ 􀑧 ثَلاَثً
.( اليُمْنَى عَلَى اليُسْرَى ( 44 ) وَلاَ تُسْرِفْ فِى اسْتِعْمَالِ المَاءَ ( 45
MANDI
Apabila kamu berjinabat karena mengeluarkan mani (31) atau
bertemunya kedua persunatan (32) atau kamu hendak menghadiri shalat Jum’ah
(33) atau kamu baru selesai dari Haid (34) atau Nifas (35), maka hendaklah kamu
mandi dan mulailah dengan membasuh (mencuci) kedua tanganmu (36) dengan
ikhlas niatmu karena Allah (37) lalu basuhlah (cucilah) kemaluanmu dengan
tangan kirimu dan gosoklah tanganmu dengan tanah atau apa yang menjadi
gantinya (38) lalu berwudlulah seperti yang diatas; kemudian ambillah air dan
masukkanlah jari-jarimu pada pangkal rambut dengan sedikit wangi-wangian (39),
sesudah dilepaskan rambut-nya (40). Dan mulalilah dengan yang kanan (41), lalu
tuangkan air ke atas kepalamu tiga kali, lalu ratakanlah atas badanmu semuanya
(42), serta di gosok (43), kemudian basuhlah (cucilah) kedua kakimu dengan
mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri (44), dan jangan berlebih-lebihan
dalam menggunakan air (45).
40
التَّيَمُّمُ
وَاِذَا تَعَذَّرْتَ مِنِ اسْتِعْمَالِ المَاءِ لِمَرَضٍ أَوْخَوْفِ ضَرَرٍ ( 46 ) اَوْ آُنْتَ فِى
.( سَفَرٍ فَلَمْ تَجِدِ المَاءَ فَتَيَمَّمْ صَعِيْدًا طَيِّبًا بَدَلَ الوُضُوءِ وَالغُسْلِ ( 47
فَاضْرِبْ بِيَدَيْكَ الاَرْضَ وَانْفُخْهُمَا ( 48 ) مُخْلِصًا نِيَّتَكَ للهِ ( 49 ) وَقُلْ بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ( 50 ) ثَمَّ امْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ وَآَفَّيْكَ ( 51 ) وَمَتَى
( اَمْكَنَكَ اسْتِعْمَالُ المَاءِ فَلْتَتَطَهَّرْبِهِ ( 52
TAYAMMUM
Dan jika kamu berhalangan menggunakan air atau sakit atau khawatir
mendapat madlarat (46), atau kamu di dalam bepergian, kemudian tidak mendapat
air, maka tayammumlah dengan debu yang baik, untuk mengganti wudlu dan
mandi (47), maka letakkanlah kedua tanganmu ke tanah kemudian tiuplah
keduanya (48) dengan ikhlas niatmu karena Allah (49) dan bacalah
:Bismillahirrahmanirrahim (50) kemudian usaplah kedua tanganmu pada
mukamu dan kedua telapak tanganmu (51). Dan apabila kamu dapat
menggunakan air maka bersucilah dengan air itu (52).
اِزَالَةُ النَّجَاسَةِ
وَمَتَى اَصَابَتِ النَّجَاسَةُ بَعْضَ بَدَنِكَ اَوْ ثِيَابِكَ اَوْ مُصَلاَّكَ فَاغْسِلْهُ عَنْهَا
(بِالحَتِّ وَالقَرْصِ مِنْ دَمِ الحَيْض)ِ ( 53 ) حَتَّى تُزِيْلَ اَوْصَافَهَا مِنْ لَوْنٍ
وَرِيْحٍ وَطَعْمٍ بِالمَاءِ الطَّهُورِ ( 54 ) وَيُعْفَى بَقَاءُ اَثَرِهَا مِنْ اَحَدِ اَوْصَافِهَا
55 ) وَانْضَحْ بَوْلَ الغُلاَمِ مَالَمْ يَطْعَمْ ( 56 ) وَاغْسِلْ مِنْ لُعَابِ آَلْبٍ سَبْعَ )
.( مَرَّاتٍ اِحْدَى هُنَّ بِالتَّرَابِ الطَّاهِرِ ( 57
MENGHILANGKAN NAJIS
Apabila sebagian dari badanmu, pakaianmu dan tempatmu sholat terkena
najis hendaklah dibasuh (dengan menggosok dan menghilangkannya kalau itu
darah haid) (53), sehingga hilanglah sifat-sifatnya, bau dan rasanya, dengan air
yang suci (54), dan tidak mengapa tertinggal bekas salah satu sifat najis tadi (55).
Dan untuk menghilangkan najis kencing anak laki-laki yang belum makan41
makanan, percikkan dengan air sampai basah (56). Dan apa yang terkena oleh liur
anjing cucilah tujuh kali, salah satunya dengan debu yang bersih (57).
الاِسْتِنْجَاءُ
وَاسْتَنْجِ بِالمَاءِ ( 58 ) اَوْ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ ( 59 ) اَوْ نَحْوِهَا غَيْرِ عَظْمٍ اَوْ
.( رَجِيْعٍ ( 60
ISTINJA’
Hendakalah beristinja’ dengan air (58) atau dengan tiga batu (59) atau
lainnya., yang bukan tulang atau kotoran (60).
42
الاَدِلَّةُ
1) لِخَبَرِ النَّسَائِى بِاسْنَادٍ جَيِّدٍ: تَوَضَّؤُا بِاسْمِ اللهِ. قَالَ الحَافِظُ ابْنُ حَجَرٍ )
فِى تَخْرِيْجِ اَحَادِيْثِ الاَذْآَارِ: هَذَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ. قَالَ النَّوَوِىُّ بَعْدَ
اِيْرَادِ الحَدِيْثِ عَنْ اَنَسٍ بِطُولِهِ: وَاِسْنَادُهُ جَيِّدٌ. وَلِحَدِيْثِ: آُلُّ اَمْرٍ ذِىْ بَالٍ
لاَيُبْدَأُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَقْطَعُ. رَوَاهُ عَبْدُ القَادِرِ الرُّهَاوِى عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ.
ALASAN (DALIL)
(1) Karena hadits dan Nasa’i dengan sanad yang baik : “Wudlu-lah kamu
dengan membaca “Bismillah!”. Ibnu Hadjar menyatakan dalam kitab “Takhrij
Ahadits al-Adzkar”, bahwa hadits ini hasan shahih, Imam Nawawi setelah
membawakan hadits dari Anas seluruhnya, menyatakan bahwa hadits itu sanadnya
baik. Dan menurut hadits: “segala perkara yang berguna, yang tidak di mulai
dengan Bismillahirrahmanirrahim itu tidak sempurna.” (Diriwayatkan oleh Abdul-
Kadir Arruhawi dari Abu Hurairah ).
2) لِحَدِيْثِ: اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. ( 3) لِحَدِيْثِ حُمْرَانَ: اِنَّ عُثْمَانَ دَعَا )
بِوَضُوءٍ فَغَسَلَ آَفَّيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ
غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنَى اِلَى المِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ
اليُسْرَى مِثْلَ ذَالِكَ ثُمَّ مَسَحَ بَرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اليُمْنَى اِلَى الكَعْبَيْنِ
ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَالِكَ. ثُمَّ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّىاللهُ
عَلَيهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.( 4) لِحَدِيْثِ: لَولاَ اَنْ
اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى لَاَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ آُلِّ وُضُوءٍ. اَخْرَجَهُ مَالِكٌ وَاَحْمَدُ
وَالنَّسَائِى وَصَحَّه.ُ وَ لِحَدِيْثٍ رَوَاهُ البُخَارِىُّ فِى تَارِيْخِهِ وَالطَّبَرَانِىُّ عَنْ
اَبِى خَيْرَةَ الصُّبَاحِىِّ رَضِىَاللهُ عَنْهُ: آُنْتُ فِى وَفْدِ عَبْدِ القَيْسِ الَّذِيْنَ وَفَدُوا
عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَمَرَ لَنَا بِاَرَاكٍ فَقَالَ: امْتَاآُوا
بِهَذَا.( 5) لِحَدِيْثِ حُمْرَانَ المُتَقَدِّمِ آنِفًا, وَلِحَدِيْثِ عَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ فِى
صِفَةِ الوُضُوءِ: ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا. اَخْرَجَهُ اَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِى.
وَلِحَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدٍ فِى صِفَةِ الوُضُوءِ, ثُمَّ اَدْخَلَ يَدَهُ فَمَضْمَضَ
وَاسْتَنْشَقَ مِنْ آَفٍّ وَاحِدٍ يَفْعَلُ ذَالِكَ ثَلاَثًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِحَدِيْثِ اَبِى
43
هُرَيْرَةَ: اَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَضْمَضةِ وَالاِسْتِنْشَاقِ.
رَوَاهُ الدَّارُ قُطْنِىِّ.
(2) Karena hadits: “sesuangguhnya pekerjaan itu disertai dengan niyatnya.
(3) Karena hadits dari Humran: “Sungguh ‘Utsman telah minta air wudlu, maka
dicucinya kedua telapak tanganya tiga kali, lalu berkumur dan mengisap air dan
menyemburkan, kemudian membasuhnya tiga kali, lalu membasuh tangannya
yang kanan sampai sikunya tiga kali dan yang kiri seperti demikian itu pula,
kemudian mengusap kepalanya lalau membasuh kakinya yang kanan sampai
kepada dua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti itu pula. Lalu berkata : ”Aku
melihat Rasulullah s.a.w. wudlu seperti wudlu ini. ”(Diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim). (4) Karena hadits: ” Kalau aku tidak khawatir akan menyusahkan
ummatku, niscaya aku perintahkan kepada mereka bersiwak (menggosok gigi)
pada tiap wudlu”. (Diriwayatkan oleh Malik, ahmad dan Nasa’i serta
dishahihkannya). Dan karena hadits yang diriwayatkan oleh bukhari dalam
tarikhnya dan Thabrani dari Abu Khairah Shubahi r.a.” Dahulu saya termasuk
utusan Abdul Qais yang menghadap Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh
mengambilkan kayu Arok, lalu bersabda:” bersiwaklah dengan ini”. (5) Karena
hadits Humran tersebut nomor 3. Dan menurut hadits dari ‘Ali r.a dalam sifatnya
wudlu:” kemudian berkumur dan menyemburkannya tiga kali”. (diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Nasa’i).
Dan karena hadits dari Abdullah bin Zaid dalam sifatnya wudlu:
"Kemudian memasukkan tangannya, maka berkumur dan mengisap air dari
telapak tangan sebelah: beliau mengerjakan demikian tiga kali".(Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim). Dan menurut hadits Abu Hurairah: "Rasulullah
memerintahkan berkumur dan mengisap air". (Diriwayatkan oleh Daraquthni).
6) لِحَدِيْثِ لَقِيْطِ بْنِ صَبُرَةَ: اَسْبِغِ الوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الاَصَابِعِ وَبَالِغْ فِى )
الاِسْتِنْشَاقِ اِلاَّ اَنْ تَكُونَ صَائِمًا. اَخْرَجَهُ الاَرْبَعَةُ وَصَحَّهُ اَبُو هُزَيْمَةَ. وَفِى
رِوَايَةِ الدَّوْلاَبِى صَحَّحَ ابْنُ القَطَّانِ اِسْنَادَهَا: اِذَا تَوَضَّأْتَ فَاَبْلِغْ فِى
الْمَضْمَضَةِ وَ الاِسْتِنْشَاقِ مَالَمْ تَكُنْ صَائِمًا ( 7) لِلأَيَةِ المّذْآُورَةِ فِى
المُقَدِّمَةِ (فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ) وَلِحَدِيْثِ حُمْرَانَ المُتَقَدِّمِ فِى- 3-(ثُمَّ غَسَلَ
وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ).
44
(6) Karena hadits Laqith bin Shaburah: "Sempurnakanlah wudlu,
selai-selailah di antara jari-jari dan sempurnakanlah dalam mengisap air, kecuali
kamu sedang berpuasa.”, (Diriwayatkan oleh Imam Empat: Abu Dawud, Nasai,
Tirmidzi dan Ibnu Majah) dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah). Dan dalam
riwayat Daulabi, yang dishahihkan oleh Ibnu Qaththan dalam isnad-nya: "Apabila
kamu wudlu, maka sempurnakanlah dalam berkumur dan mengisap air, kecuali
kalau kamu berpuasa.(7) Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan: basuhlah
(cucilah) mukamu: dan hadits Humran tersebut no.3. Kemudian membasuh
mukanya tiga kali.
8) وَلِحَدِيْثِ اَبُو دَاوُدَ بِاِسْنَادٍ جَيِّدٍ عَنْ اَبِى اُمَامَةَ: آَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى )
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ المَاقَيْنِ فِى الوُضُوءِ ( 9) لِمَا ثَبَتَ مِنْ حَدِيْثِ اَبِى
هُرَيْرَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ اَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَنْتُمُ الغُرُّ الْمُحَجَّلُونَ يَومَ
القِيَامَةِ مِنْ اِسْبَاغِ الوُضُوءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ فَاليُطِلْ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيْلَهُ.
10 ) لِحَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ اَنَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )
تَوَضَّأَ فَجَعَلَ يَقُولُ هَكَذَا, يَدْلُكُ. رَوَاهُ اَحْمَدُ. ( 11 ) لِحَدِيْثِ
عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ اَنَّ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَانَ يَتَخَلَّلُ لْحِيَتَهُ فِى
الوُضُوءِ. اَخْرَجَهُ التِّرْمِذِى وَصَحَّحَهُ خُزَيْمَةَ وَالدَّارُ قُطْنِى وَالحَاآِمُ.
(8) Menurut hadits Abu Dawud dengan isnad yang baik, dari Abi
Umamah: "Rasulullah s.a.w. mengusap dua sudut mata dalam wudlu".(9) Menurut
hadits Abu Hurairah pada riwayat Muslim, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kamu sekalian bersinar: muka, kaki dan tanganmu di hari kernudian. Sebab
menyempurnakan wudlu, maka siapa yang mampu diantaramu supaya melebihkan
sinarnya”. (10) Karena hadits Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, bahwa Rasulullah
s.a.w. wudlu, maka beliau mengerjakan demikian, yakni “menggosok".
(Diriwayatkan oleh Ahmad). (11) Karena, hadits 'Utsman bin 'Affan, bahwa
Rasulullah s.a.w. mensela-selai janggutnya dalam wudlu. (Diriwayatkan oleh
Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Daraquthni dan Hakim).
12 ) لِلآيَةِ السَّابِقَةِ (وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى المَرَافِقِ), وَلِحَدِيْثِ حُمْرَانَ المُتَقَدِّمِ فِى- )
-3 (ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنَى اِلَى المِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَالِكَ).
وَلِحَدِيْثِ عَبْدِالله بْنِ زَيْدِبْنِ عَاصِمٍ آنِفًا. وَحَدِيْثِهِ اَيْضًا قَالَ: اِنَّ النَّبِىُّ صَلَّى
45
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُتِىَ بِثُلُثَىْ مُدٍّ فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ اَخْرَجَهُ اَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ
اِبْنُ خُزَيْمَةَ.
(12) Karena ayat dalam pendahuluan: Dan tanganmu sampai ke siku.
Dan hadits Humran himpunan putusan majlis tarjih no. 3 Lalu membasuh
tangannya yang kanan sampai sikunya tiga kali, dan yang kiri seperti itu
pula. Dan karena hadits dari Abdullah bin Zaid bin 'Ashim tersebut no. 10 dan
haditsnya juga bahwa Nabi s.a.w. diberi air dua pertiga mud (±1,5 liter) lalu
menggosok dua lengannya. (Diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu
Khuzaimah).
( 13 ) لِحَدِيْثِ لَقِيْطِ بْنِ صَبُرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 6-(وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ) ( 14 )
وَلِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيْرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 9- (فَلْيُطِلْ غُرَّتَهُ وَتَحْجِيْلَهُ) ( 15 ) لِمَا
وُرِىَ عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: آَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ
( التَّيَامُنَ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ آُلِّهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. ( 16
لِلآيَةِ (وَامْسَحُوا بِرُؤُسِكُمْ) وَلِحَدِيْثِ حُمْرَانَ المُتَقَدِّمِ فِى- 3-(ثُمَّ مَسَحَ
بِرَأْسِهِ). ( 17 ) وَلِحَدِيْثِ المُغِيْرَةِ عِنْدَ مُسْلِمٍ وَاَبِى دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِىِّ اَنَّهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَعَلَى الْعِمَامَةِِ.
(13) Karena hadits Laqith tersebut no. 6: Sela-selailah di antara jarijari.
(14) Menurut hadits Abu Hurairah tersebut nomor 9: supaya melebihkan
sinar muka, tangan dan kaki. (15) Menurut yang diriwayatkan oleh 'Aisyah,
telah berkata: bahwa Rasulullah s.a.w. suka mendahulukan kanannya, dalam
memakai sandalnya, bersisirnya, bersucinya dan dalam segala. hal-nya.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). (16) Karena ayat: dan usaplah
kepalamu, dan hadits Humran tersebut nomor 3: kemudian mengusap
kepalanya. (17) Menurut hadits Mughirah pada riwayat Muslim Abu Dawud dan
Tirmidzi, bahwa Nabi s.a.w.berwudlu lalu mengusap ubun-ubun dan atas
surbannya.
18 ) لِحَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ فِى صِفَةِ الوُضُوءِ قَالَ: وَبَدَأَ )
بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا اِلَى قَفَاهُ ثُمَّ رَدَّهُمَا اِلَى المَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ.
مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
(18) Karena hadits Abdullah bin Zaid bin 'Ashim dalam sifat wudlu, ia
berkata: "Dan memulai dengan permulaan kepalanya sehingga menjalankan kedua
46
tangannya sampai pada tengkuknya, kemudian mengembalikanya pada tempat
memulainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhad dan Muslim).
19 ) لِحَدِيْثِ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ فِى صِفَةِ الوُضُوءِ قَالَ:ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ )
اَدْخَلَ اِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَتَيْنِ فِى اُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِاِبْهَامَيْهِ عَلَى ظَاهِرِ اُذُنَيهِ.
اَخْرَجَهُ اَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِى وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.
20 ) لِلآيَةِ (وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الكَعْبَيْنِ ) وَلِحَدِيْثِ حُمْرَانَ المُتَقَدِّمِ فِى- 3- ثُمَّ )
غَسَلَ رِجْلَهُ اليُمْنَى اِلَى الكَعْبَيْنِ ثُمَّ اليُسْرَى مِثْلَ ذَالِكَ). وَحَدِيْثِ عَبْدِاللهِ
- المُتَقَدِّمِ فِى- 10 -(يَدْلُكُ) ( 21 ) لِحَدِيْثِ لَقِيْطِ بْنِ صَبُرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 6
(وَخَلَّلَ بَيْنَ الاَصَابِعِ). وَحَدِيْثِ اَبِى هُرَيْرَةَ فِى- 9-(فَليُطِلْ غُرَّتَهُ
وَتَحْجِيْلَهُ).
(19) Menurut hadits Abdullah bin Umar tentang sifatnya wudlu ia
berkata: "Lalu, mengusap kepalanya dan memasukkan kedua telunjuknya pada
kedua telinganya dan mengusapkan kedua ibu jari pada kedua telinga yang luar,
serta kedua telunjuk mengusapkan pada kedua telinga yang luar serta kedua
telunjuk mengusapkan pada kedua telinga yang sebelah dalam". (Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan Nasai, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
(20) Karena melihat ayat: dan cucilah kakimu sampai kedua mata kaki.
Dan hadits Humran tersebut no. 3: lalu mencuci kakinya yang kanan sampai
kedua mata kaki tiga kali dan yang kiri seperti demikian itu pula. Dan hadist
Abdullah tersebut no. 10: menggosok. (21) Menurut hadits laqith bin Saburah
tersebut no.6 : sela-selailah di antara jari-jari. Dan hadits Abu Hurairah nomor 9:
(supaya melebihkan sinar muka, tangan dan kakinya).
22 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 - (آَانَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ). ( 23 ) لِحَدِيْثِ )
عُمَرَبْنِ الخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ اّنَّ رَجُلاً جَاءَ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَقَدْ تَوَضَّأَ وَتَرَكَ عَلَى قَدَمَيْهِ مِثْلَ مَوْضِعِ الظُّفْرِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ فَاَحْسِنِ الوُضُوءَ. قَالَ: فَرَجَعَ فَتَوَضَّاَ فَصَلَّى
اَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَاَبُو دَاوُدَ. وَلِحَدِيْثِ: وَيْلٌ لَلاَعْقَابِ مِنَ النَّارِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
عَنِ ابْنِ عَمْرٍ وَابْنِ العَاصِ.
(22) Karena. hadits 'Aisyah r.a: tersebut nomor 15: Rasulullah s.a.w.
suka mendahulukan kanannya. (23) Menurut Hadits 'Umar bin Khathab r.a.:
“Sungguh telah datang seorang kepada Nabi s.a.w. ia telah berwudlu tetapi telah
47
meninggalkan sebagian kecil telapak kakinya selebar kuku: maka bersabda
Rasulullah s.a.w.: kembali dan perbaikilah wudlumu." Berkata 'Umar. "Orang itu
lalu kembali berwudlu lalu shalat, " (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud)
Dan karena hadits: "Neraka Wail itu bagi orang yang tidak sempurna mencuci
tumitnya." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Amer bin 'Ash).
24 ) لِمَا رَوَى عُمَرُبْنُ الخَطَّابِ رَضِىَاللهُ عَنْهُ قَالَ اَنَّهُ قَالَ آنِفًا: مَا مِنْكُمْ )
مِنْ اَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الوُضُوءَ ثُمَّ يَقُوْلُ: لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ, اِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ اَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ
مِنْ اَيِّهَا شَاءَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَ اَحْمَدُ وَ اَبُو دَاوُدَ.
(24) Menurut hadits dari ‘Umar bin Khathab r.a. bahwa dia telah
berkata: Nabi s.a.w. tadi bersabda: "Tidak ada seorang dari kamu yang berwudlu
dengan sempurna lalu mengucapkan: Asyhadu alla- ila-ha illa-Ilahu-wa-asyhadu
anna- Muhammadan 'abduhu-wa rasu-luh" melainkan akan dibukakanlah baginya
pintu Syurga yang delapan, yang dapat dimasuki dari mana yang ia hendaki".
(Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Dawud).
25 ) لمِاَ رَوَى المُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ رَضِىَ الُله عَنْهُ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ )
وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الخُفَّيْنِ فَقُلْتُ: يَارَسُولُ اللهِ نَسِيتَ؟ فَقَالَ: بَلْ اَنْتَ نَسِيتَ
بِهَذَا اَمَرَنِى رَبِّى. رَوَاهُ اَبُو دَاوُدَ. وَلِحَدِيْثِ عَلِىٍّ عِنْد اَبِى دَاوُدَ وَ الدَّارُ
قُطْنِى قَالَ: لَوْ آَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ اَسْفَلُ الخَفِّ اَولَّى بِالمَسْحِ مِنْ اَعْلاَهُ
لَقَدْ رَاَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيهِ.
وَلِحَدِيْثِ بِلاَلٍ قَالَ: رَاَيْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى
المُوقَيْنِ وَالخِمَارِ. رَوَاهُ اَحْمَدُ. وَلِاَبِى دَاوُدَ: آَانَ يَخْرُجُ يَقْضِى حَاجَتَهُ
فَاَتَيتُهُ بِالمَاءِ فَيَتَوَضَّأْ وَ يَمْسَحُ عَلَى عِمَامَتِهِ وَمُوقَيْهِ. وَلِسَعِيدِ بْنِ مَنْصُورٍ
فِى سُنَنِهِ عَنْ بَلاَلٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
اِمْسَحُوْا عَلَى النَّصِيفِ وَالمُوقِ. وَعَنِ المُغِيْرَةِ بْنُ شُعْبَةَ: اَنَّ رَسُولَ الله
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الجَورَبَيْنِ وَالنَّعْلَيْنِ. رَوَاهُ الْخَمْسَةِ
وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِى.
(25) Menurut yang diriwayatkan oleh Mughirah bin Syu'bah r.a. bahwa
sesungguhnya Nabi s.a.w. mengusap atas kedua Khuf, maka saya berkata: "Hai
Rasulullah apakah tuan 1upa?" Beliau menjawab: "Bahkan kamu yang lupa:
dengan ini aku telah diperintahkan oleh Tuhanku". (Diriwayatkan oleh Abu
48
Dawud). Dan karena hadits 'Ali pada riwayat Abu Dawud dan Daruquthni, ia
berkata: "Jika agama itu mengikuti pendapat orang, niscaya yang sebelah bawah
khuf itu lebih hak diusap dari pada atasnya. Sungguh aku telah melihat Rasulullah
s. a. w. mengusap khuf yang bagian atas." Dan karena hadits Bilal: "Aku melihat
Rasulullah s.a.w. mengusap kedua, khufnya, dan tutup kepalanya". (Diriwayatkan
oleh Ahmad). Dan karena hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: "Adalah
Nabi s.a.w. keluar melepaskan hajatnya, maka aku datang dengan membawa air,
beliau Ialu berwudlu dan mengusap sorban dan kedua khufnya." Dan karena
hadits dari Sa'id bin Mansur dalam Sunanya dari Bilal: "Aku mendengar
Rasulullah s.a.w. bersabda: "Usaplah pada ikat kepalamu dan atas khufmu". Dan
dari Mughirah bin Syu'bah, bahwa Rasulullah s.a.w. berwudlu dan mengusap atas
kedua kaos kaki dan kedua sandalnya. (Diriwayatkan oleh Imam Lima: Abu
Dawud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Tirmidzi).
26 ) لِحَدِيثِ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ: اَمَرَنَا (يَعْنِى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ )
وَسَلَّمَ) اَنْ نَمْسَحَ عَلَى الخُفَّيْنِ اِذَا نَحْنُ اَدْخَلْنَا هُمَا عَلَى طُهْرٍ, ثَلاَثًا اِذَا
سَافَرْنَا, وَيَومًا وَلَيلَةً اِذَا اَقَمْنَا, وَلاَنَخْلَعُهُمَا مِنْ غَائِطٍ وَلاَ بَولٍ وَلاَ نَومٍ وَلاَ
نَخْلَعُهُمَا اِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ. رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ خُزَيمَةَ. وَقَالَ الخَطَّابِىُّ: هُوَ
صَحِيحُ الاِسْنَادِ.
(26) Menurut hadits Shafwan bin 'Assal berkata: "Nabi s.a.w.
memerintah kami supaya mengusap atas kedua khuf, kalau kami memakai
keduanya diwaktu suci, tiga hari jika kami bepergian dan satu hari satu malam
jika tidak bepergian. Dan kami tidak perlu membuka keduanya karena buang air
besar atau kecil dan karena tidur. Dan supaya kami tidak membuka keduanya
kecuali karena janabah." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Khuzaimah.
Berkata Khaththabi: "Ini hadits shahih isnadnya)".
27 ) للآيَةِ السَّابِقَةِ فِى المُقَدِّمَةِ (اَو جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الغَائِطِ). وَلِحَدِيْثِ )
صَفْوَانَ المُتَقَدِّمِ فِى- 26 - وَلِمَا ثَبَتَ فِى الصَّحِيْحَيْنِ وَغَيرِهِمَا عَنْ اَبِى
هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَيَقْبَلُ الله صَلاَةَ اَحَدِآُمْ
اِذَا اَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأََ وَقَدْ فَسَّرَهُ اَبُو هُرَيْرَةَ, لَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ: مَالْحَدَثُ؟
قَالَ: فُسَاءٌ اَو ضُرَاطٌ. وَلِحَدِيثٍ: إِذَا آَانَ اَحَدُآُمْ فِى المَسْجِدِ فَوَجَدَ رِيحًا
بَينَ الْيَتَيْهِ فَلاَ يَخْرُجْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوةً اَوْ يَجِدَ رِيحًا. اَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَاَبُو
49
دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىُّ. وَلِحَدِيثِ عَلِىٍّ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ: آُنتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَآُنْتُ
اَسْتَحْيِى اَنْ اَسْأَلَ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَاَمَرْتُ الْمِقْدَادَبْنِ
الاَسْوَدَ رَضِىَ الله عَنْهُ فَسَاَلَهُ فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَآَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ.
(27) Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan : atau salah satu
dari kamu datang dari kamar kecil. Dan hadist Safwan tersebut No 26 dan pula
karena apa yang telah ditetapkan dalam Bukhari, muslim dan lainnya dari Abu
Khurairah, telah berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: “Alllah tidak menerima
shalat salah seorang dari kamu sekalian, jika ia berhadats kecuali ia berwudlu”.
Dan Abu Khurairah telah menerangkan kepada orang yang telah bertanya
kepadanya:” Apakah Hadats itu?” Jawabnya: “ Ialah kentut yang berbunyi atau
yang tidak berbunyi”. Dan menurut hadits:” apabila salah seorang dari kamu ada
dalam masjid maka ia merasa ada angin diantara pantatnya, maka jangan keluar
sehingga mendengar suara atau mendapat bau (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu
Dawud dan Tirmidzi). Dan menurut hadits Ali pada Bukhari dan Muslim : “Aku
adalah orang yang sering mengeluarkan Madzi, maka aku malu menanyakan pada
Rasulullah s.a.w. karena putrinya menjadi istriku, maka aku menyuruh Miqdad
bin Aswad supaya menanyakannya”. Maka bersabda Nabi s.a.w. “ Hendaklah ia
mencuci kemaluannya dan berwudlu".
28 ) لِلآيَةِ (اَوْ لمَسْتُمُ النِّسَاءَ) بِتَفْسِيْرِ بْنِ عَبَّاسٍ, مِنْ اَنَ اللَّمْسَ مَعْنَاهُ )
الْجِمَاعُ, آَمَا هُوَ الصَّحِيحُ المُخْتَارُ. وَلِحَدِيثِ النَّسَائِىِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ اِنْ
آَانَ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُصَلِّى وَ اِنِّى لَمُعْتَرِضَةٌ بَينَ يَدَيهِ
اِعْتِرَاضَ الجَنَازَةِ, حَتَّى اِذَا اَرَادَ اَنْ يُوتِرَ مَسَّنِى بِرِجْلِهِ (وَاِسْنَادُهُ
صَحِيحٌ). وَلِحَدِيْثِ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيلَةً
مِنَ الْفِرَاشِ فَالتَمَسْتُهُ فَوَضَعْتُ يَدَىَّ عَلَى بَاطِنِ قَدَمَيهِ (الحَدِيثُ). رَوَاهُ
مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِىُّ وَصَحَّحَهُ.
(28) Menurut arti ayat dalam pendahuluan: atau kamu sentuh wanita,
dengan tafsirnya Ibnu Abbas, bahwa menyentuh itu artinya bersetubuh, menurut
pendapat yang terpilih oleh ahli bahasa. Dan karena hadits Nasa’i dari Aisyah r.a.,
berkata: "Sungguh Rasulullah s.a.w. bershalat dan aku berbaring di mukanya
melintang seperti mayat, sehingga ketika beliau akan witir, beliau menyentuh aku
dengan kakinya". (Isnadnya shahih). Dan karena hadits 'Aisyah r.a. yang berkata:
50
"Aku kehilangan Rasulullah s.a.w. pada suatu malam dari tempat tidur, maka aku
mencari dan memegang/meletakkan kedua tanganku pada telapak kakinya"....
seterusnya hadits. (Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dan dishahihkan olehnya).
29 ) لِحَدِيْثِ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا: اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ )
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَسَّ ذَآَرَهُ فَلاَ يُصَلِّ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. اَخْرَجَهُ الاَرْبَعَةُ.
وَلِحَدِيْثِ طَلْقٍ بْنِ عَلِىٍّ: مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ. اَخْرَجَهُ الطَّبْرَنِى
وَصَحَّحَهُ. وَلِحَدِيْثِ عَمْرِ وَابْنِ شُعَيبٍ عَنْ اَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اَيُّمَا رَجُلٍ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ. اَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ
فَرْجَهَا فَلْيَتَوَضَّأْ. رَوَاهُ اَحْمَدُ. وَلِحَدِيْثِ أَبِى هُرَيرَةَ: اِذَا اَفْضَى اَحَدُآُمْ بِيَدِهِ
اِلَى فَرْجِهِ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ وَلاَ سَتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيهِ الوُضُوءُ. اَخْرَجَهُ
ابْنُ حِبَّانَ فِى صَحِيحِهِ وَصَحَّحَهُ الحَاآِمُ وَابْنُ عَبْدُ البَرِّ. ( 30 ) لِحَدِيْثِ
عَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:قَالَ رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العَينَانِ
وِآَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ اَخْرَجَهُ اَبُو دَاوُدَ. وَحَدِيْثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ اَنَّهُ رَاَى رَسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ وَهُوَ سَاجِدٌ حَتَّى غَطَّ
وَنَفَخَ ثُمَّ قَامَ يُصَلِّى فَقُلْتُ يَا رَسُولَ الله اِنَّكَّ نِمْتَ قَالَ: اِنَّ الوُضُوءَ لاَ يَجِبُ
اِلاَّ عَلَى مَنْ نَامَ مُضْطَجِعًا فَاِنَّهُ اِذَااضْطَجَعَ اسْتَرْخَتْ مَفَاصِلُهُ. اَخْرَجَهُ
اَصْحَابُ السُّنَنِ.
(29) Karena hadits Busrah binti, Shafwan r.a. bahwa Nabi s.a.w.
bersabda: "Barang siapa menyentuh kemaluannya, maka jangan shalat sebelum
berwudlu. (Diriwayatkan oleh Ampat Imam). Dan karena hadits Thalq bin 'Ali:
"Barang siapa menyentuh kemaluanya, maka berwudlulah". (Diriwayatkan oleh
Thabrani dan dishahihkannya). Dan karena hadits 'Amr bin Syu‘aib, dari ayahnya,
dari kakeknya, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Siapa saja orang laki-laki yang
menyentuh kemaluannya maka berwudlulah dan siapa saja orang perempuan yang
menyentuh kemaluannya, maka berwudlulah". (Diriwayatkan oleh Ahmad). Dan
karena hadits Abu Hurairah; "Apabila seorang dari kamu sekalian memegang
kemaluannya dengan tidak pakai tutup (alas), maka wajiblah berwudlu".
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya dan dishahihkan o1eh Hakim
dan Ibnu 'Abdil-Bar). (30) Karena hadits 'Ali r.a. bersabda Rasulullah s.a.w.:
51
"Kedua mata itu bagaikan tali dubur. Maka siapa telah tidur, berwudlulah".1)
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud). Dan karena hadits Ibnu 'Abbas r. a. bahwa ia
melihat Rasulullah s.a.w. tidur sedang beliau bersujud sehingga mendekur,
kemudian berdiri shalat., Maka aku berkata:"Hai Rasulullah, sesungguhnya
engkau telah tertidur". Maka beliau bersabda: "Sesungguhnya wudlu itu tidak
wajib (tidak batal) melainkan bagi orang yang tidur berbaring: karena jika
berbaring lemaslah sendi-sendinya". (Diriwayatkan oleh Imam-lmam yang
mempunyai kitab sunnah)2)
31 ) لِلآيَةِ (وَاِنْ آُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا) وَلِحَدِيْثِ اِنَّمَا لمَاءُ مِنَ المَاءِ. رَوَاهُ )
مُسْلِمٌ عَنْ اَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِى. وَلِمَا رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَةْ وَالتِّرمِذِىُّ عَنْ
عَلِىٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: آُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَسَاَلَتْ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ: فِى المّذِىِّ الوُضُوءُ وَفِى المَنِىِّ الغُسْلُ. وَلِحَدِيْثِ اُمُّ سَلَمَةَ عِنْدَ
البُخَارِىِّ وَمُسْلِمٍ قَالَتْ: يَا رَسُولَ الله اِنَّ الله لاَيَسْتَحْيِى مِنَ الحَقِّ فَهَلْ عَلَى
المَرْاَةِ الغُسْلُ اِذَا احْتَلَمَتْ؟ قَالَ: نَعَمْ اِذَا رَاَتِ المَاءَ.
(31) Karena ayat yang tersebut dalam pendahuluan: dan jika kamu
junub, maka bersuci mandi)-lah kamu. Dan hadits: "Sesungguhnya air itu dari
air." (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Sa'id Khudri). Dan hadits dari Ali r.a.
berkata: "Adalah aku seorang yang sering mengeluarkan madzi, maka aku
bertanya kepada Nabi s.a.w. maka jawabnya:”Keluar madzi harus wudlu, dan
keluar mani harus mandi". (Diriwayatkan oleh Ahmad, lbnu Majah dan Tirmidzi).
Dan hadits Ummi Salamah tersebut dalam Bukhari dan Muslim, berkata: "Hai
Rasulullah s.a.w., sesungguhnya Allah tidak malu (sungkan) dari suatu kebenaran,
apakah wajib mandi bagi wanita kalau bermimpi?". Beliau menjawab: "Ya, kalau
melihat, cairan”.
32 ) لِحَدِيْثِ: اِذَا جَلَسَ بَينَ شُعَبِهَاالاَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيهِ )
الغَسْلُ. اَخْرَجَهُ البُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا مِنْ حَدِيثِ اَبِى هُرَيْرَةَ
(32) Menurut hadits: "Apabila seorang bersetubuh, maka wajiblah
mandi”. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan lain-lainnya dari Abu
Hurairah).
1 Sebab orang yang tidur tidak merasa apabila mengeluarkan kentut.
2 Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Madjah, Daruqudhni dan Darimi.
52
33 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ عِنْدَ مُسْلِمٍ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا )
اَرَادَ اَحَدُآُمْ اَنْ يَأْتِيَ الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ.
(33) Karena hadits Ibnu 'Umar pada riwayat Muslim, Rasulullah
s.a.w.bersabda: "Apabila salah seorang dari kamu sekalian akan menghadiri shalat
Jum’ah, maka hendaklah mandi".
35-34 ) لِمَا دَلَّ عَلَى وُجُوبِهِمَا نَصُّ القُرْأَنِ (وَلاَ تَقْرَبُو هُنَّ حَتَّى )
يَطْهُرْنَ, فَاِذَا تَطَهَّرْنَ......). وَلِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِىَالله عَنْهَا قَالَتْ: اِنَّ
فَاطِمَةَ بِنْتَ اَبِى حُبَيْشٍ آَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَاَلَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ: ذَالِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالحَيْضَةِ فَاِذَا اَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ.
وَاِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِى فَصَلِّى. رَوَاهُ البُخَارِىُّ.
(34-35) Yang menunjukkan wajib mandi dalam keduanya, ialah nas dari
Quran, surat Baqarah ayat 222: Dan janganlah kamu mendekati Isteri (yang
sedang haid) sehigga bersuci, dan apabila sudah bersuci (mandi)….. Dan hadist
dari 'Aisyah r.a. bahwa Fathimah binti Abi Hubaisy istihadlah, lalu menanyakan
kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda: "Itulah darah penyakit, bukan haidl
maka kalau kamu berhaidl maka tinggalkanlah shalat dan kalau sudah selesai
maka mandilah, lalu shalatlah.” (Diriwayatkan oleh Bukhari).
36 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَانَ اِذَااغْتَسَلَ مِنَ )
الجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيهِ ثُمَّ يَفْرِغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْتَسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ
يَتَوَضَّأُ وُضُوئَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ المَاءَ وَيُدْخِلَ اَصَابِعَهُ فِى اُصُولِ الشَّعْرِ
حَتَّى اِذَا رَاَى اَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ اَفَاضَ عَلَى
سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيهِ. اَخْرَجَه البُخَارِىُّ وَ مُسْلِمٌ.
(36) Karena hadits 'Aisyah r.a.bahwa Nabi saw. itu apabila mandi karena
junub, ia mulai membasuh kedua tangannya, kemudian menuangkan dengan
kanannya pada kirinya, lalu mencuci kemaluannya, lalu berwudlu sebagaimana
beliau wudlu untuk shalat; kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jarinya
di pangkal rambutnya sehingga apabila ia merasa bahwa sudah merata, ia
siramkan air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badannya;
kemudian membasuh kedua kakinya. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
53
37 ) وَلِحَدِيْثِ: اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ المُتَقَدِّمِ. ( 38 ) لِحَدِيْثِ مَيْمُونَةَ عِنْدَ )
الشَّيْخَيْنِ ثُمَّ اَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا الاَرْضَ. وَفِى
رِوَايَةٍ فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ.
(37) Karena hadits: “Sesungguhnya semua pekerjaan itu dengan niyat,
tercantum pada No 2 diatas. (38) Karena menurut hadits Maimunah pada Bukhari
dan Muslim: "Kemudian menuangkan air pada kemaluannya dan membasuhnya
dengan tangan kirinya, lalu digosokkan tangannya pada tanah". Dan dalam
riwayat lain: “maka ia mengusap tangannya dengan tanah
39 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ آَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَااغْتَسَلَ مِنَ )
الجَنَابَةِ دَعَا بِشَيْئٍ نَحْوَ الحِلاَبِ فَأَخَذَ بِكَفِّهِ بَدَاَ بِشِقِّ رَأْسِهِ الاَيْمَنِ ثُمَّ
الاَيْسَرِ. ثُمَّ اَخَذَ بِكَفَّيْهِ فَقَالَ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ. اَخْرَجَه الشَّيْخَانِ. وَعَنْ
عَائِشَةَ اَنَّ اَسْمَاءَ سَاَلَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ المَحِيْضِ
فَقَالَ: تَأْخُذُ اِحْدَا آُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ تَصُبُّ
عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيهَا
المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فُرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتُطَهِّرُبِهَا. الحَدِيْث. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
(39) Lihat hadits 'Aisyah r.a.: jika Nabi s.a.w. mandi karena janabah,
beliau minta suatu wadah, (seperti ember) lalu mengambil air dengan telapak tangannya
dan memulai dari sisi kepalanya yang sebelah kanan lalu yang sebelah
kiri, lalu mengambil air dengan kedua telapak tangannya, maka ia, membasuh
kepalanya dengan keduanya.(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Dan dari hadist 'Aisyah r.a "Sesungguhnya Asma menanyakan kepada
Nabi s.a.w. tentang mandinya orang haidl, maka bersabda s.a.w.: "Ambillah
seorang dari kamu sekalian air dan daun bidara, lalu mandilah dengan sebaikbaiknya,
lalu curahkan air lagi dari atas kepalanya dan gosok dengan
sebaik-baiknya, sehingga sampai ke dasar kepalanya, lalu curahkan air lagi dari
atasnya, kemudian ambil sepotong kapas (kain yang diberi minyak kesturi), lalu
usaplah dengan kain itu…….seterusnya hadits. (Diriwayatkan oleh Muslim).
40 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا وَآَانَتْ )
حَائِضًا: اُنْقُضِى شَعَرَكِ وَاغْتَسِلِى. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِاِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
54
(40) Karena hadits 'Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya
padahal dia sedang haidl: "Lepaskanlah rambutmu dan mandilah.”(Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dengan isnad atau rangkaian yang shahih).
.- 41 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ فِى التَّيَامُنِ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
42 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 36 -(حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ )
اَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ).
(41) Lihatlah hadits ‘ Aisyah r.a. tersebut nomor 15, yang menerangkan
tentang mendahulukan yang kanan.
(42) Menurut hadits ‘Aisyah r.a tersebut nomor 36: menyiram. untuk
kepalanya tiga tuangan, lalu menyiramkan air pada semua badannya.
43 ) لِاِفَادَةِ عِبَارَةِ الْآ يَةِ بِالتَّطَهُّرِ الَّتِى تَزِيْدُ عَلَى مُسَمَّى الغُسْلِ. )
44 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 36 - (ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ) وَحَدِيْثِهَا فِى )
التَّيَامُنِ.
45 )لِمَارَوَى اَنَسٍ: آَانَ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ اِلَى )
خَمْسَةِ اَمْدَادٍ, وَيَتَوَضَّاُ بِالمُدِّ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
(43) Karena arti kata "tathahhur" dalam surat Maidah ayat 6,
menegaskan arti lebih dari pada mandi biasa, ialah dengan "gosokan".
(44) Lihatlah hadits 'Aisyah r.a tersebut nomor 36: (kemudian
membasuh kedua kakinya), dan haditsnya tentang mendahulukan bagian kanan.
(45) Dan haditsnya tentang mendahulukan yang kanan. Menurut hadits
yang diriwayatkan oleh Anas:” Adalah Nabi s.a.w. mandi dengan satu sha’ sampai
lima mud dan wudlu dengan satu mud3 ( Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
46 ) لِحَدِيْثِ عَمْرُو بْنِ العَاصِ اَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ فِى غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ )
قَالَ: اِحْتَلَمْتُ فِى لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيْدَةِ البَرْدِ فَاَشْفَقْتُ اِنِ اغْتَسَلْتُ اَنْ اَهْلَكَ
فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِاَصْحَابِى صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَآَرُوا ذَالِكَ لَهُ. فَقَالَ: يَاعَمْرُو! صَلَّيْتَ بِاَصْحَابِكَ
وَاَنْتَ جُنُبٌ؟ فَقُلْتُ: ذَآَرْتُ قَولَ الله تَعَالَى وَلاَ تَقْتُلُوا اَنْفُسَكُمْ اِنَّ اللهَ آَانَ
3 Satu Sha’ + 3 liter satu mud +3/4 litar
55
بِكُمْ رَحِيْمًا فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَّلَّيتُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ
يَقُلْ شَيئًا. رَوَاهُ اَحْمَدُ وَاَبَو دَاوُدَ وَالدَّارُ قَطْنِى.
(36) Menurut hadits ‘Amr bin Ash bahwa sesungguhnya ia diutus ke
medan perang Dza-tussalasil, ia berkata: "Aku mimpi (mengeluarkan air mani)
pada suatu malam yang amat dingin, maka aku takut jika aku mandi akan
berbahaya, lalu aku tayammum; kemudian aku shalat Shubuh bersama
shahabat-shahabatku. Tatkala kami datang pada Nabi s.a.w. mereka menceritakan
hal itu, kepadanya; maka beliau bersabda padanya: "Hai 'Amr, engkau shalat
bersama sahahabat-sahabatmu sedang engkau junub?" Maka aku menyahut: "Saya
ingat akan firman Tuhan Allah s.w.t.: dan janganlah kamu membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah itu maha belas kasih kepadamu, maka aku bertayammum dan
lalu shalat". Maka tertawalah Rasulullah s.a.w., dan tidak bersabda apa-apa
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Daruqutni)
47 ) لِلاَيَةِ السَّابِقَةِ فِى المُقَدِّمَةِ (فَلَمْ تَجِدُا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيْدًا طَيِّبًا). )
وَلِحَدِيْثِ جَابِرٍ قَالَ: خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَاَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى
رَأْسِهِ ثُّمَّ احْتَلَمَ فَسَاَلَ اَصْحَابَهُ: هَلْ تَجِدُوْنَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ ؟ فَقَلُوْا:
مَ نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَاَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى المَاءِ. فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ. فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى
رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُخْبِرَ بِذَالِكَ فَقَالَ: قَتَلُوهُ قَتَلُهُمُ اللهُ اَلاَ سَاَلُوا
اِذَا لَمْ يَعْلَمُوا؟ فَاِنَّّمَا شِفَاءُ العَيِّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا آَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ. رَوَاهُ اَبُو
دَاوُدَ وَالدَّارُ القُطْنِى.
(37) Menurut ayat tersebut dalam pendahuluan: (sedang kamu tidak
mendapatkan air, maka bertayammumlah kamu dengan debu yang suci). Dan
menurut hadits Jabir ia berkata: "Kami sedang dalam bepergian (musafir) lalu
seorang dari kami terkena batu sehingga melukai kepalanya; kemudian ia
bermimpi (mengeluarkan air mani), maka ia bertanya kepada teman-temannya:
Apakah kamu berpendapat bahwa aku mendapat kemudahan bertayammum?.
Dijawab oleh mereka: "Kami tidak berpendapat bahwa kamu mendapat
kemudahan, sedang kamu kuasa memakai air". Maka mandilah ia lalu meninggal
dunia. Tatkala kami datang kepada Nabi s.a.w., kami khabarkan yang demikian
itu, maka Nabi s.a.w. bersabda: ”mereka membunuh dia, mereka dikutuk oleh
Allah". Mengapa mereka tidak bertanya sedang mereka tidak mengerti? Obat
56
untuk kebodohan adalah bertanya. Sesungguhnya cukup baginya bertayammum".
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Daraquthni).
48 ) لِحَدِيْثِ عَمَّارٍ قَالَ: اَجْنَبْتُ فَلَمْ اُصِبِ المَاءَ فَتَمَعَّكْتُ فِى الصَّعِيْدِ )
وَصَلَّيْتُ فَذَآَرْتُ ذَالِكَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنَّمَا آَانَ يَكْفِيْكَ
هَكَذَا: وَضَرَبَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْاَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا ثُمَّ
مَسَحَ وَجْهَهُ وَآَفَّيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
(48) Menurut hadits 'Ammar r.a. berkata: "Aku Pernah berjanabat dan
tidak mendapatkan air, kemudian aku berguling-guling di tanah dan shalat. Maka
aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda:
“Sesungguhn-ya cukup bagimu begini : lalu beliau meletakkan kedua tangannya
di tanah dan meniupnya, kemudian mengusap muka dan kedua telapak
tangannya”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
49 ) لِعُمُومِ حَدِيثِ اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ. )
(49) Karena keumuman hadits: Sesungguhya semua pekerjaan itu
dengan niyat
50 ) لِحَدِيْثِ آُلُّ اَمْرٍ ذِى بَالٍ. )
(50) Karena menurut hadits: Segala perkara yang berguna…….yang
tercantum pada nomor 1.
51 ) لِحَدِيْثِ عَمَّارٍآنِفًا (ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ). )
(51) Menurut hadits ‘Ammar tersebut nomor 48: kemudian mengusap
mukanya.
52 ) لِمَفْهُومِ الاَيَةِ السَّابِقَةِ (فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً). )
(52) Karena mengingat arti ayat yang tersebut di dalam pendahuluan:
sedang kamu tidak mendapat air.
53 ) لِحَدِيْثِ اَسْمَاءَ بِنْتِ اَبِى بَكْرٍ قَالَتْ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ اِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ )
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: اِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الحَيْضَةِ آَيْفَ تَصْنَعُ؟ فَقَالَ:
تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّى فِيهِ. اَخْرَجَهُ السِّتَّةُ.
(53) Dengan alasan hadits Asma' puteri Abu Bakar r.a. berkata: "Datang
kepada Nabi s.a.w. seorang wanita, lalu berkata: seorang dari kami pakaiannya
terkena darah haidl, bagaimana seharusnya dilakukan? Maka bersabda Nabi
57
s.a.w.: "Supaya dia 'menghilangkan dan mencuci pakaian itu dengan air,
kemudian disiramnya lalu dipakai shalat." (Diriwayatkan oleh Imam Enam Ahli
hadist)
54 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: وَيُنَزِّلُ عَلَيكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَآُمْ بِهِ. )
( (الأَنْفَال: 11
(54) Karena firman Tuhan Allah dalam Al Quran surat Anfal ayat 11:
"Dan Tuhan menurunkan air dari langit kepada kamu, agar membersihkan kamu
dengannya.”
55 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ خُولَةَ بِنْتَ يَسَارٍ قَالَتْ: يَارَسُولُ الله ! لَيْسَ )
لِى إِلاَّ ثَوْبٌ وَحِدٌ وَأَنَا أَحِيْضُ فِيْهِ. قَلَ: فَإِذَ طَهُرْتِ فَاغْسِلِى مَوْضِعَ الدَّمِ ثُمَّ
صَلِّى فِيْهِ. قَلَتْ: يَارَسُولُ الله ! اِنْ لَمْ يَخْرُجْ اَثَرُهُ ؟ قَالَ: يَكْفِيْكِ الْمَاءُ وَلاَ
يَضُرُّكِ أَثَرُهُ. رَوَاهُ اَحْمَدُ وَاَبُودَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىُّ.
(55) Karena hadits Abu Hurairah, bahwa Khaulah binti Yasar telah
berkata: "Hai Rasulullah, saya tidak mempunyai pakaian kecuali selembar yang
kupakai sedangkan saya berhaidl". maka Jawab Nabi s.a.w.: "Jika kamu telah bersih
(dari haidl), maka cucilah tempat yang kena darah, lalu shalatlah dengan
pakaian itu. Kemudian Khaulah bertanya lagi: "'Hai Rasulullah, bagaimana jika
bekas darah tadi tidak hilang? Jawab Nabi saw.: "Cukup bagi kamu dengan
memakai air, dan tidak mengapa (tidak masalah) dengan bekas darah tadi.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).
56 ) لِحَدِيْثِ اُمِّ قَيسٍ بِنْتِ مُحْصَنٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا: اَنَّهَا اَتَتْ بِاِبْنٍ لَهَا )
صَغِيْرٍ لَمْ يَأْآُلِ الطَّعَامَ اِلَى رَسُولِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاَجْلَسَهُ فِى
حِجْرِهِ فَبَالَ عَلَىثَوبِهِ فَدَاعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ. رَوَاهُ الجَمَاعَةُ.
(56) Karena hadits Ummu Qais binti Muhshan r.a.: "bahwa ia bersama
anaknya laki-laki yang masih kecil dan belum pernah makan makanan, telah
datang kepada Rasulullah s.a.w. Lalu Nabi Mendudukkan anak tadi diatas
pangkuannya: tiba-tiba anak itu kencing pada pakaian beliau: kemudian beliau
meminta Air, lalu dipercikkan dan tidak dicucinya. (Diriwayatkan oleh Jama'ah
Ahli hadits)4.
4 Bukhari, Muslim, ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah.
58
57 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيْرَةَ: طَهُورُ اِنَاءِ اَحَدِآُمْ اِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ )
سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلاَ هُنَّ اَوْ اُخْرَاهُنَّ بِالتُّرَابِ.
(57) Karena menurut hadits, Abu Hurairah: "Sucinya bejana salah
seorang dari kamu sekalian, apabila digunakan minum (dijilat) oleh anjing, supaya
dicuci tujuh kali, permulaannya dengan debu, (Diriwayatkan oleh Muslim dan
Ahmad). Dan Tirmidzi meriwayatkannya dengan tambahan: "Permulaannya atau
pengbabisannya dengan debu”.
58 ) لِحَدِيْثِ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ آَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ )
وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الخَلاَءَ. فَاَحْمِلُ اَنَا وَغُلاَمٌ نَحْوِى اِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً
فَيَسْتَنْجِى بِالمَاءِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
(58) Karena menurut hadits Anas r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. masuk
ke jamban, maka aku bersama anak yang sebaya dengan aku membawa tempat air
dan tongkat, maka beliau beristinja' dengan air". (Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim).
59 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِذَا ذَهَبَ اَحَدُآُمْ )
اِلَى الغَائِطِ فَلْيَسْتَنْطِبْ بِثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ فَاِنَّهَا تُجْزِئُ عَنْهُ. رَوَاهُ اَحْمَدُ
وَالنَّسَائِى وَغَيرُهُمَا. لِحَدِيْثِ سَلْمَانِ قَالَ: لَقَدْ نًَهَانَا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ نَسْتَقْبِلَ القِبْلَةَ بِغَائِطٍ اَوْ بَولٍ اَوْ اَنْ نَسْتَنْجِىَ بِاليَمِينِ اَوْ اَنْ
نَسْتَنْجِىَ بِاَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَة اَحْجَارٍ اَوْ اَنْ نَسْتَنْجِىَ بِرَجِيْعٍ اَوْ بِعَظْمٍ. رَوَاهُ
مُسْلِمٌ.
(59) Karena hadits 'Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda: "Apabila
salah seorang dari kamu sekalian pergi ke jamban, maka bersucilah dengan tiga
batu. Sesungguhnya tiga batu itu telah mencukupi". (Diriwayatkan oleh Ahmad,
Nasai dan lainnya). Dan karena hadits Salman, berkata: "Rasulullah s.a.w.
melarang kami menghadapkan qiblat waktu buang air (besar atau kecil) atau
istinja’ dengan batu yang kurang dari tiga butir, atau istinja’dengan kotoran atau
dengan tulang". (Diriwayatkan oleh Muslim)
60 ) لِحَدِيْثِ المُتَقَدَّمِ آنِفًا (فِى 59 ) وَحَدِيْثِ سَلْمَانِ قَالَ: اَمَرَنَا يَعْنِى النَّبِىُّ )
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ لاَ تَكْتَفِى بِدُوْنِ ثَلاَثَةِ اَحْجَارٍ لَيْسَ فِيْهَا رَجِيْعٌ وَ لاَ
عَظْمٌ (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَه وَ مُسْلِمٌ). وَلَو اَنَّهُ اَرَادَ الحَجَرَ وَمَا آَانَ
نَحْوَهُ فِى الاِنْقَاءِ لَمْ يَكُنْ لاِسْتِثْنَاءِ (العَظْمِ وَالرََوْثِ مَعْنًى).
59
(60) Menurut hadits yang tersebut No 59; dan mengingat hadits Salman,
katanya: "Kami diperintah oleh Rasulullah s.a.w. agar jangan mencukupkan batu
yang kurang dari tiga buah, tidak termasuk kotoran dan tulang. (Riwayat Ahmad
dan Ibnu Majah dan Muslim). Sebab andaikan Nabi s.a.w. dalam sabdanya
mengenai batu-batu itu, tidak dimaksudkan memasukkan benda-benda lainnya
pula yang sama dapat membersihkan, maka dalam membedakan "tulang dan
kotoran" tidak ada artinya.
60
KITAB SHALAT
مقدّمة
PENDAHULUAN
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحيْمِ
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْآُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ
فَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلَاةَ آَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ آِتَابًا مَوْقُوتًا (سُورَةُ
( النٍّسَاءِ: 103
Bismillahirrahmanirrahim
(Dengan nama Allah, Maha Pemurah Maha Pengasih)
"Apabila kamu telah selesai shalat, maka ingatlah kepada Allah, sewaktu
berdiri, duduk dan berbaring. Kemudian kalau sudah amat tenteram, maka
kerjakanlah shalat itu (sebagaimana biasa), sesungguhnya shalat itu diwajibkan
kepada orang-orang yang mukmin, dengan tertentu waktunya."(QS. An-Nisa:103)
قُلْ إِنْ آُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
( غَفُورٌ رَحِيمٌ (سُورَةُ ال عمران: 31
"Berkatalah (hai Muhammad): Bila kamu cinta kepada Allah, maka
ikutilah aku, pasti Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan
Allah itu yang Maha Pengampun dan Yang Maha Pengasih." (QS. Ali Imran:30)
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله رَضِىَ اللهِ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُولِ الله
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ نَسْمَعُ دَوِىَّ صَوتِهِ وَلاَ نَفْقَهُ
مَايَقُولُ حَتَّى دَنَا فَاِذَا هُوَ يَسْاَلُ عَنِ الاِسْلاَمِ: فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى اليَوْمِ وَاللَّيلَةِ: فَقَالَ: هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ:
لاَ, اِلاَّ اَنْ تَطَوَّعَ. (الحَدِيْثَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Hadis dari Thalhah bin 'Ubaidillah bahwa ada seorang laki-laki penduduk
Najed yang kusut rambut kepalanya, datang kepada Rasulullah saw. yang kami
dengar dengungan suaranya, tetapi tidak memahami apa yang dikatakannya
sehingga setelah dekat rupanya ia menanyakan tentang Islam; maka sabda
Rasulullah saw. :"Shalat lima waktu dalam sehari semalam." Kata orang
tadi:"Adakah lagi kewajibanku selain itu? Jawab Nabi saw. :"Tidak, kecuali bila
61
kamu hendak bertathawwu' (shalat sunnat). (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim).
عَنْ مَالِكِ بْنِ الحُوَيْرِثِ رَضِىَ اللهِ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلُّوا آَمَا رَأَيْتُمُونِى اُصَلِّى. (رَوَاهُ البُخَارِى)
Hadits dari Malik bin Huwairits ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku melakukan shalat".
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari).
آَيْفِيَّةُ الصَّلاَةِ المَكْتُوبَةِ
دَيكَ 􀑧 ا يَ 􀑧 كَ للهِ ( 2) رَافِعً 􀑧 ا نِيَّتَ 􀑧 اِذَا قُمْتَ اِلَى الصَّلاَةِ فَقُلْ: اللهُ اّآْبَرُ ( 1) مُخْلِصً
( حَذْوَ مَنْكِبَيْكَ مُحَاذِيًا بِاِبْهَامَيْكَ اُذُنَيْكَ ( 3
CARA SHALAT WAJIB
Bila kamu hendak menjalankan shalat, maka bacalah: "Allahu Akbar" (1)
dengan ikhlas niyatmu karena Allah (2) seraya mengangkat kedua belah tanganmu
sejurus bahumu, mensejajarkan ibu jarimu pada daun telingamu (3)
رَأْ 􀑧 مَّ اقْ 􀑧 دْرَكَ ( 4) ثُ 􀑧 ى صَ 􀑧 رَى عَلَ 􀑧 كَ اليُسْ 􀑧 رِ آَفِّ 􀑧 ى ظَهْ 􀑧 ثُمَّ ضَعْ يَدَكَ اليُمْنَى عَلَ
يْنَ 􀑧 دْتَ بَ 􀑧 ا بَاعَ 􀑧 اىَ آَمَ 􀑧 يْنَ خَطَايَ 􀑧 دْبَيْنِى وَبَ 􀑧 مَّ بَاعِ 􀑧 وَ: اللَهُ 􀑧 احِ وَهُ 􀑧 اءَ الاِفْتِتَ 􀑧 دُعَ
نَ 􀑧 يَضُ مِ 􀑧 وبُ الاَبْ 􀑧 ى الثَّ 􀑧 ا يُنَقِّ 􀑧 ا آَمَ 􀑧 المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ. اللَهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الخَطَايَ
ىَ 􀑧 تُ وَجْهِ 􀑧 رَدِ ( 5) اَوْ وَجَّهْ 􀑧 ثَّلْجِ وَالبَ 􀑧 اءِ وَال 􀑧 الدَّنَسِ. اللَهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالمَ
رَآِيْن , اِنَّ 􀑧 نَ المُشْ 􀑧 ا مِ 􀑧 ا اَنَ 􀑧 لِمًا وَمَ 􀑧 ا مُسْ 􀑧 مَوَاتِ وَ الاَرْضَ حَنِيفً 􀑧 رَ السَّ 􀑧 ذِى فَطَ 􀑧 لِلَّ
ذَالِكَ 􀑧 هُ وَبِ 􀑧 رِيْكَ لَ 􀑧 الَمِيْنَ, لاَشَ 􀑧 اتِى للهِ رَبِّ العَ 􀑧 اىَ وَمَمَ 􀑧 كِى وَمَحْيَ 􀑧 لاَتِى وَنُسُ 􀑧 صَ
هَ اِلاَّ 􀑧 كُ لاَ اِلَ 􀑧 تَ المَلِ 􀑧 مَّ اَنْ 􀑧 لِمِيْ نَ) اللَهُ 􀑧 اُمِرْتُ وَاَنَا اَوَّلُ المُسْلِمِيْنَ (وَاَنَا مِنَ المُسْ
وبِى 􀑧 اغْفِرْلِى ذُنُ 􀑧 ذَنْبِى فَ 􀑧 اَنْتَ, اَنْتَ رَبِّى وَاَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بَ
نِهَا 􀑧 دِى لِاَحْسَ 􀑧 لاَقِ لاَيَهْ 􀑧 نِ الاَخْ 􀑧 دِنِى لِاَحْسَ 􀑧 تَ وَاهْ 􀑧 جَمِيْعًا لاَيَغْفِرُ الذَُنُوبَ اِلاَّ اَنْ
دَيكَ 􀑧 ى يَ 􀑧 اِلاَّ اَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا اِلاَّ اَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيكَ وَالخَيْرُ آُلُّهُ فِ
كَ 􀑧 وبُ اِلَي 􀑧 تَغْفِرُكَ وَاَتَ 􀑧 تَ اَسْ 􀑧 وَالشَّرُّ لَيْسَ اِلَيْكَ, اَنَ بِكَ وَاِلَيكَ, تَبَارَآْتَ وَتَعَالَيْ
(6)
Lalu letakkanlah tangan kananmu pada punggung telapak tangan kirimu di atas
dadamu (4) lalu bacalah do'a iftitah:"Alla-humma ba-'id baini-wa baina khatha-yaya
kama-ba-'adta bainal masyriqi wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal
62
khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil
khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal barad." (5) atau: "Wajjahtu wajhiya lilladzifatharas
sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa ma- ana minal musyriki-n.
Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti lillahi-hi rabbil 'a-lami-n. Lasyari-
kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul muslimi-n (wa ana minal
muslimi-n." Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta, anta rabbi- wa ana
'abduka, dlalamtu nafsi- wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunu-bi- jami-'an. Layagh
firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi la-yahdil liahsanihailla-
anta. Washrif 'anni- sayyiaha- la-yashrifu 'anni- sayyiaha- illa- anta. Labbaika
wa sa'daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa ilaika. Ana bika wa
ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita astaghfiruka wa atu-bu ilaika."(6)
ثُمَّ اسْتَعِذْ قَائِلاً: اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ( 7) ثُمَّ اقْرَإِ البَسْمَلَةَ ( 8) ثُمَّ
رْآنِ 􀑧 نَ القُ 􀑧 ورَةًَ مِ 􀑧 رَأْ سُ 􀑧 مَّ اقْ 􀑧 ينَ" ( 10 ) ثُ 􀑧 دَهَا: "آمِ 􀑧 لْ بَعْ 􀑧 ةَ ( 9) وَقُ 􀑧 رَإِ الفَاتِحَ 􀑧 اقْ
( 11 ) بِتَدَبُّرٍ وَتَرْتِيْلٍ ( 12 )
Lalu berdo'a mohon perlindungan dengan membaca: "A'u-dzu billa-hi
minasy syaitha-nir raji-m" (7) dan membaca: "Bismilla-hirrahmani-nirrahi-m" (8)
lalu bacalah surat al-Fatihah (9) dan berdo'alah sesudah itu :a-mi-n" (10)
Kemudian bacalah salah satu surat daripada al-Qur'an (11) dengan diperhatikan
artinya dan dengan perlahan-lahan (12)
( عْ ( 14 􀑧 مَّ ارْآَ 􀑧 رَامِ ( 13 ) ثُ 􀑧 رَةِ الاِحْ 􀑧 ى تَكْبِي 􀑧 ا فِ 􀑧 لَ مَارَفَعْتَهُمَ 􀑧 دَ يْكَ مِثْ 􀑧 عْ يَ 􀑧 ثُمَّ ارْفَ
تَ 􀑧 ا ئِلاً وَاَنْ 􀑧 دَ يْكَ ( 16 ) قَ 􀑧 مُكَبِّرًا ( 15 ) مُسَوِّيًا ظُهْرَكَ وَعُنُقَكَ آخِذًا رُآْبَتَيْكَ بِيَ
نَ 􀑧 ئٍ مِ 􀑧 ى " ( 17 ) اَوِادْعُ بِشَ 􀑧 رَاآِعٌ "سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِ
كَ 􀑧 عْ رَأْسَ 􀑧 مَّ ارْفَ 􀑧 لَّمَ ( 18 ) ثُ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 لَّى اللهُ عَلَيْ 􀑧 ىِّ صَ 􀑧 نِ النَّبِ 􀑧 وَارِدَةِ عَ 􀑧 ةِ ال 􀑧 الاَدْعِيَّ
ائِلاً: 􀑧 رَامِ قَ 􀑧 رَةِ الاِحْ 􀑧 ى تَكْبِي 􀑧 ا فِ 􀑧 ا رَفَعْتَهُمَ 􀑧 لَ مَ 􀑧 دَيكَ مِثْ 􀑧 ا يَ 􀑧 دَالِ ( 19 ) رَافِعً 􀑧 لِلاِعْتِ
( "سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ" فَاِذَانْتَصَبْتَ قَائِمًا فَقُلْ: "رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ" ( 20
Kemudian angkatah kedua belah tanganmu seperti dalam takbir permulaan
(13) lalu ruku'lah (14) dengan bertakbir (15) seraya melempangkan (meratakan)
punggungmu dengan lehermu, memegang kedua lututmu dengan dua belah
tanganmu (16) , sementara itu berdo'a: "Subha-nakalla-humma rabbana- wa
63
bihamdikalla-hummaghfirli." (17), atau berdo'alah dengan salah satu do'a dari
Nabi saw. (18) Kemudian angkatlah kepala untuk i'tidal (19) dengan mengangkat
kedua belah tanganmu seperti dalam takbiratul ihram dan berdo'alah: "Sami'allahu
liman haidah" dan bila sudah lurus berdiri berdo'alah: "Rabbana- wa lakalhamd"
(20).
ى الاَرْضِ 􀑧 ثُمَّ اسْجُدْ ( 21 ) مُكَبِّرًا ( 22 ) وَضَعْ رُآْبَتَيْكَ وَاَطْرَافَ قَدَمَيْكَ عَلَ
ةَ 􀑧 كَ القِبْلَ 􀑧 ابِعِ رِجْلَي 􀑧 رَافَ اَصَ 􀑧 تَقْبِلاً اَطْ 􀑧 كَ ( 23 ) مُسْ 􀑧 كَ وَاَنْفَ 􀑧 مَّ جَبْهَتَ 􀑧 دَيْكَ ثُ 􀑧 مَّ يَ 􀑧 ثُ
بْحَانَكَ 􀑧 اجِدٌ "سُ 􀑧 تَ سَ 􀑧 مُجَافِيًا يَدَيكَ عَنْ جَنْبَيْكَ رَافِعًا مِرْفَقَيْكَ ( 24 ) قَائِلاً وَاَنْ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى" ( 25 ) اَوِ ادْعُ بِشَئٍ مِنَ الاَدْعِيَةِ الوَارِدَةِ
ا 􀑧 ئِنَّ جَالِسً 􀑧 رًا وَاطْمَ 􀑧 كَ مُكَبِّ 􀑧 عْ رَأْسَ 􀑧 مَّ ارْفَ 􀑧 كَ ( 36 ) ثُ 􀑧 ى ذَلِ 􀑧 لعم فِ 􀑧 ىِّ ص 􀑧 نِ النَّبِ 􀑧 عَ
مَّ 􀑧 ى " ( 27 ) ثُ 􀑧 دِنِى وَارْزُقْنِ 􀑧 ى وَاهْ 􀑧 ى وَاجْبُرْنِ 􀑧 ى وَارْحَمْنِ 􀑧 مَّ اغْفِرْلِ 􀑧 ائِلاً: اللَّهُ 􀑧 قَ
( اسْجُدُ مُكَبِّرًا لِلسَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ مُعْتَمِدًا عَلَى الاَرْضِ ( 29
Lalu sujudlah (21) dengan bertakbir (22) letakkanlah kedua lututmu dan
jari kakimu di atas tanah, lalu kedua tanganmu, kemudian dahi dan hidungmu (23)
dengan menghadapkan ujung jari kakimu ke arah Qiblat serta merenggangkan
tanganmu daripada kedua lambungmu dengan mengangkat sikumu (24). Dalam
bersujud itu hendaklah kamu berdo'a: "Subha-nakalla-humma rabbana- wa
bihamdikalla-hummaghfirli." (25) atau berdo'alah dengan salah satu do'a daripada
Nabi saw. (26). Lalu angkatlah kepalamu dengan bertakbir dan duduklah tenang
dengan berdo'a: "Alla-hum maghfirli- warhamni- wajburni- wahdini- warzuqni-"
(27). Lalu sujudlah kedua kalinya dengan bertakbir dan membaca "tasbih" seperti
dalam sujud yang pertama. Kemudian angkatlah kepalamu dengan bertakbir (28)
dan duduklah sebentar, lalu berdirilah untuk raka'at yang kedua dengan
menekankan (tangan) pada tanah (29)
رَاُ 􀑧 وَافْعَلْ فِى الرَّآْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلْتَ فِى رَآْعَةِ الاُولَى غَيْرَ اَ نَّكَ لاَ تَقْ
كَ 􀑧 ى رِجْلِ 􀑧 اجْلِسْ عَلَ 􀑧 جْدَتَيْنِ فَ 􀑧 نَ السَّ 􀑧 كَ مِ 􀑧 دَ فَرَاغِ 􀑧 احِ ( 30 ) وَبَعْ 􀑧 اءَ الاِفْتِتَ 􀑧 دُعَ
ورَةَ 􀑧 رَى مَنْشُ 􀑧 كَ اليُسْ 􀑧 ى رُآْبَتَيْ 􀑧 دَ يْكَ عَلَ 􀑧 عْ يَ 􀑧 ى وَضَ 􀑧 بْ اليُمْنَ 􀑧 رَى وَانْصِ 􀑧 اليُسْ
يرُ 􀑧 طَى تُشِ 􀑧 ذَلِكَ الوُسْ 􀑧 رَ وَآَ 􀑧 رَ وَالبِنْصِ 􀑧 ى الخِنْصِ 􀑧 نَ اليُمْنَ 􀑧 بِضُ مِ 􀑧 ابِعِ وَتَقْ 􀑧 الاَصَ
رِ 􀑧 ى غَي 􀑧 وسُ فِ 􀑧 ذَا الجُلُ 􀑧 طَى ( 31 ) وَهَ 􀑧 ى الوُسْ 􀑧 امَ عَلَ 􀑧 عُ الاِبْهَ 􀑧 بِّحَةِ وَتَضَ 􀑧 بِالمُسَ
64
ى 􀑧 بَ اليُمْنَ 􀑧 رَى وَتَنْصِ 􀑧 كَ اليُسْ 􀑧 رَآْعَةِ الاَخِيرَةِ. وَاَمَّا فِيْهَا فَكَيْفِيَّتُهُ اَنْ تُقَدِّمَ رِجْلَ
لاَةُ 􀑧 اتُ للهِ وَالصَّ 􀑧 وَ "التَّحِيَّ 􀑧 هُّدَ وَهُ 􀑧 رَاِ التَّشَ 􀑧 دَتِكَ ( 32 ) ) وَاقْ 􀑧 ى مَقْعَ 􀑧 دَ عَلَ 􀑧 وَتَقْعُ
ا 􀑧 لاَمُ عَلَيْنَ 􀑧 هُ. السَّ 􀑧 ةُ الله وَبَرَآَاتُ 􀑧 ىُّ رَحْمَ 􀑧 ا النّبِ 􀑧 كَ اَيُّهَ 􀑧 لاَمُ عَلَيْ 􀑧 اتُ. السّ 􀑧 وَالطَّيِّبَ
دُهُ 􀑧 دًا عَبْ 􀑧 هَدُ اَنَّ مُحَمَّ 􀑧 وَعَلَى عَبَادِ الله ال  صالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَ اَشْ
( وَرَسُولُهُ" ( 33
Dan kerjakanlah dalam rakaat yang kedua ini sebagaimana dalam raka'at
yang pertama, hanya tidak membaca do'a iftitah (30). Setelah selesai dari sujud
kedua kalinya, maka duduklah di atas kaki kirimu dan tumpukkan kaki kananmu
serta letakkanlah kedua tanganmu di atas kedua lututmu. Julurkanlah jari-jari
tangan kirimu, sedang tangan kananmu menggenggam jari kelingking, jari manis
dan jari tengah serta mengacungkan jari telunjukmu dan sentuhkan ibu jari pada
jari tengah (31). Duduk ini bukan dalam raka'at akhir. Adapun duduk dalam
raka'at akhir maka caranya memajukan kaki kiri, sedang kaki kanan bertumpu dan
dudukmu bertumpukan pantatmu (32) Dan bacalah tasyahud begini "attahiyya-tu
lilla-h washshalawa-tu waththayyiba-t, assala-mu 'alaika ayyuhan Nabiyyu wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh. Assala-mu 'alaina wa 'ala- 'iba-dilla-hish sha-lihin.
Asyahadu alla- ila-ha illalla-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa rasuluh
(33)
ثُمَّ تُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ صلعم قَائِلاً: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ,
دٍ وَ آلِ 􀑧 ى مُحَمَّ 􀑧 ارِكْ عَلَ 􀑧 رَاهِيمَ. وَبَ 􀑧 ى آلِ اِبْ 􀑧 رَاهِيمَ وَ عَلَ 􀑧 ى اِبْ 􀑧 لَّيْتَ عَلَ 􀑧 ا صَ 􀑧 آَمَ
مَّ 􀑧 دٌ".( 34 ) ثُ 􀑧 دٌ مَجِي 􀑧 كَ حَمِي 􀑧 مُحَمَّدٍ آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ آلِ اِبْرَاهِيمَ. اِنَّ
( ادْعُ رَبَّكَ بِمَا تَشَاءُ بِاَقْصَرَ مِمَّا تَدْعُوْ بِهِ فِى التَّشَهُّدِ الاَخِيْرِ ( 35
Lalu bacalah shalawat pada Nabi saw.: "Alla-humma shalli 'ala-
Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad, kama- shallaita 'ala- Ibrahi-m wa a-li Ibrahim,
wa ba-rik 'ala- Muhammad wa a-li Muhammad, kama- ba-rakta 'ala- Ibrahim
wa a-li Ibra-him, innaka hami-dum maji-d.(34) Kemudian berdo'alah kepada
Tuhanmu, sekehendak hatimu yang lebih pendek daripada do'a dalam tasyahhud
akhir (35)
65
دَيْكَ 􀑧 ا يَ 􀑧 رًا رَافِعً 􀑧 ثُمَّ قُمْ للِرَّآْعَةِ الثَّالِثَةِ اِنْ آَانَتِ الصَّلاَةُ رُبَاعِيَّةً اَوْ ثُلاَثِيَّةً مُكَبِّ
يْنِ 􀑧 ى الاُ وْلَ 􀑧 36 ) وَافْعَلْ فِى رَآْعَتَينِ الاُخْرَيَينِ اَوْ رَآْعَةِ الثَّالِثَةِ آَمَا فَعَلْتَ فِ )
هُّدَ 􀑧 رَةِ التَّشَ 􀑧 غَيرَ اَ نَّكَ لاَ تَقْرَاُ اِلاَّ الفَاتِحَةَِ فَقَطْ ( 37 ) وَاقْرَاْ بَعْدَ الرَّآْعَةِ الاَخِيْ
ذَابِ 􀑧 نْ عَ 􀑧 كَ مِ 􀑧 ى اَعُوذُبِ 􀑧 مَّ اِنِّ 􀑧 ائِ لاً: اللََّهُ 􀑧 تَعِذْ قَ 􀑧 مَّ ادْعُ وَاسْ 􀑧 وَالصَّلاَةَ عَلَى النَّبِىِّ ثُ
يحِ 􀑧 ةِ المَسِ 􀑧 رِّ فِتْنَ 􀑧 نْ شَ 􀑧 اتِ وَمِ 􀑧 ا وَالمَمَ 􀑧 جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَ
دُّكَ 􀑧 رَى خَ 􀑧 ى يُ 􀑧 ى حَتَّ 􀑧 ى الاُولَ 􀑧 ا فِ 􀑧 مَالاً مُلْتَفِتً 􀑧 ا وَشِ 􀑧 لِّمْ يَمِيْنً 􀑧 مَّ سَ 􀑧 دَّجَّالِ" ( 38 ) ثُ 􀑧 ال
يْكُمْ 􀑧 لاَمُ عَلَ 􀑧 ائِلاً: السَّ 􀑧 رُ ( 39 ) قَ 􀑧 دُّكَ الاَيْسَ 􀑧 رَى خَ 􀑧 ى يُ 􀑧 ةِ حَتَّ 􀑧 ى الثَّانِيَ 􀑧 نُ وَفِ 􀑧 الاَيْمَ
( وَرَحْمَةُ الله وَبَرَآَاتُهُ" ( 40
Kemudian berdirilah untuk raka'at yang ketiga kalau shalatmu itu tiga atau
empat raka'at, dengan bertakbir mengangkat tanganmu (36) dan kerjakanlah
dalam dua raka'at yang akhir atau yang ketiga, seperti dalam dua raka'at yang
pertama, hanya kamu cukup membaca Fatihah saja (37). Dan sesudah raka'at yang
akhir, bacalah tasyahhud serta shalawat kepada Nabi saw., lalu hendaklah berdo'a
mohon perlindungan dengan membaca:
"Alla-humma inni- a'udzu bika min 'adza-bi jahannama wa min 'adza-bil qabri wa
min fitnatil mahya- wal mama-ti wa min syarri fitnatil masi-hid dajja-l (38)
Kemudian bersalamlah dengan berpaling ke kanan dan ke kiri, yang pertama
sampai terlihat pipi kananmu dan yang kedua sampai terlihat pipi kirimu oleh
orang yang dibelakangmu (39) sambil membaca: "Assalamu'alaikum wa
rahmatulla-hi wa baraka-tuh."(40)
دَ 􀑧 لعم بَعْ 􀑧 ىِّ ص 􀑧 ى النَّبِ 􀑧 لاَةِ عَلَ 􀑧 دَ الصَّ 􀑧 تِعَاذَةُ بَعْ 􀑧 ةً فَالاِسْ 􀑧 لاَةُ ثُنَائِيَّ 􀑧 تِ الصَّ 􀑧 فَاِنْ آَانَ
( الرَّآْعَةِ الثَّانِيَةِ ثُمَّ سَلِّمْ آَمَا تَقَدَّمَ ( 41
Jika shalatmu dua raka'at, maka letak do'a isti'adzah (a'udzubilla-h) setelah
nembaca "shalawat kepada Nabi", sesudah raka'at yang kedua, lalu bersalamlah
sebagai yang tersebut (41).
.( مُلاَحَظَةٌ: وَلاَ فَرْقَ بَينَ الرَّجُلِ وَالمَرْاَةِ فِى هَذِهِ الكَيْفِيَّةِ ( 44
Perhatian: Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam cara melakukan
shalat sebagai yang tersebut di atas (44)
66
ALASAN (DALIL)
1) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىِِّ بِاِسْنَادٍ صَحِيحٍ: مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الوُضُوءُ )
وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيْرُ وَتَحْلِيْلُهَا التَّسْلِيمُ. وَحَدِيْثُ ابْنِ مَاجَه وَصَحَّحَهُ ابْنِ
خُزَيْمَةَ وَابْنِ حِبَّانَ مِنْ حَدِيْثِ حُمَيْدِ السَّاعِدِىِّ قَالَ: آَانَ رَسُولُ الله صلعم
اِذَا قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ: "اللهُ اَآْبَرُ". وَلِحَدِيْثِ:
اّضَا قُمْتُ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ. الحَدِيْثُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(1) Menurut hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi:
"Kunci (pembuka) shalat itu wudlu, permulaannya takbir dan penghabisannya
salam". Dan hadis shahih dari Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Ibnu
Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadis Abi Humaid Sa'idi bahwa Rasulullah,
jika shalat ia menghadap ke Qiblat dan mengangkat kedua belah tangannya
dengan membaca "Allahu Akbar". Dan menurut hadis:"Bila kamu
menjalankan shalat, takbirlah …" seterusnya hadis (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
.( 2) قَوْلِهِ تَعَالَى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (البيّنة: 5 )
وَلِحَدِيْثِ: اِنَّمَا الاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. الحَدِيْثِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(2) Menilik firman Allah:"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya
menyembah kepada Allah dengan ikhlas kepadaNya daam menjalankan
Agama". (al-Bayyinah:6). Dan menurut hadis:"Sesungguhnya (shahnya) amal
itu tergantung kepada niyat." (Diriwayatkan oeh al-Bukhari dan Muslim)
3) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ النَّبِىِّ صلعم آَانَ يَرْفَعُ يَدَيهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ )
اِذَا افْتَتَحَ ال  صلاَةَ وَاِذَا آَبَّرَ لِلرُّآُوعِ وَاِذَا رَفَعَ رَاْسَهُ مِنَ الرُّآُوعِ رَفَعَهُمَا
آَذَالِكَ وَقَالَ "سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ" وَآَانَ لاَ يَفْعَلُ ذَالِكَ فِى
السُّجُودِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَ فِى صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ مَالِكِ ابْنِ الحُوَيرِثِ اَنَّ
رَسُولُ الله صلعم آَانَ اِذَا آَبَّرَ رَفَعَ يَدَيهِ حَتَّى يُحَاذِىَ بِهِمَا اُذُنَيْهِ وَاِذَا رَفَعَ
رَاْسَهُ مِنَ الرُّآُوعِ فَقَالَ: (سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) فَعَلَ مِثْلَ ذَالِكَ,-وَفِى رِوَايَةِ
اُخْرَىعَنْ وَائِلٍ عِنْدَ اَبِى دَاوُدَ بِلَفْظِ: حَتَّى آَانَتَا حِيَالَ مَنْكِبَيهِ وَحَاذَ بِاِبْهَامَيهِ
( اُذُنَهُ (قَالَهُ فِى الفَتْحِ ج 2ص 150
67
(3) Menurut hadis Ibnu Umar bahwa Nab saw. Mengangkat kedua tangannya
selurus ahunya bila ia memulai shalat, bila takbir hendak ruku' dan bila
mengangkat kepalanya dari ruku' ia mengangkat kedua tangannya juga dengan
mengucapkan "Sami'alla-hu liman hamidah rabbana- wa lakalhamd". Dan
tidak menjalankan demikian itu dalam (hendak) sujud". (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim). Tersebut dalam shahih Muslim dari Malik bin
Huwarits, bahwa Rasulullah saw. apabila takbir ia mengangkat kedua
tangannya sampai sejajar pada telinganya, begitu juga bila hendak ruku', dan
bila mengangkat kepalanya dari ruku' lalu mengucapkan:"Sami'alla-hu liman
hamidah", ia mengerjakan dsemiian juga. Dan dalam hadis riwayat Abu
Dawud dari Wail dengan kalimat:" sehingga kedua tangannya itu selempang
dengan bahunya serta ibu jarinya sejajar dengan telinganya".(Tersebut dalam
kitab Tah juz II halaman 150)
ى 􀑧 دَهُ اليُمْنَ 􀑧 عَ يَ 􀑧 لعم وَوَضَ 􀑧 ولُ الله ص 􀑧 عَ رَسُ 􀑧 لَّيتُ مَ 􀑧 ا لَ: صَ 􀑧 4) لِحَدِيْثِ وَائِلٍ قَ )
ى 􀑧 حِيحِ هِ. وَ فِ 􀑧 ى صَ 􀑧 ةَ فِ 􀑧 نُ خُزَيمَ 􀑧 دْرِ هِ. رَوَاهُ ابْ 􀑧 ى صَ 􀑧 رَى عَلَ 􀑧 دَهِ اليُسْ 􀑧 ى يَ 􀑧 عَلَ
هِ 􀑧 رِ آَفِّ 􀑧 ى ظَهْ 􀑧 ى عَلَ 􀑧 حَدِيْثِ وَائِلٍ عِنْدَ اَبِى دَاوُدَ وَالنَّسائِىِّ: ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَ
ى 􀑧 لُهُ فِ 􀑧 رُهُ وَاَصْ 􀑧 ةَ وَغَيْ 􀑧 نُ خُزَيمَ 􀑧 حَّحَهُ اِبْ 􀑧 اعِ دِ, وَصَ 􀑧 غِ وَالسَّ 􀑧 رَى, وَالرُّسْ 􀑧 اليُسْ
ارِىِّ 􀑧 ى البُخَ 􀑧 تْحِ (ج 2ص 152 ). وَفِ 􀑧 ى الفَ 􀑧 هُ فِ 􀑧 ادَةِ قَالَ 􀑧 صَحِيحِ مُسْلِمٍ بِدُونِ الزِّيَ
ى 􀑧 دَهُ اليُمْنَ 􀑧 لُ يَ 􀑧 عَ الرَّجُ 􀑧 ؤْمَرُونَ اَنْ يَضَ 􀑧 عَنْ سَهْلِ ابْنُ سَعْدٍ قَالَ: آَانَ النَّاسُ يُ
عَلَى ذِرَاعِهِ.
(4) Menilik hadis shahih dari Wail yang berkata:"Saya shalat bersama Rasulullah
saw. dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di atas
dadanya". (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishahihkannya). Dan
hadis dari Wail juga menurut riwayat Abu Dawud dan an-Nasa'I "Lalu beliau
meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kirinya, serta
pergelangan dan lengannya". (Hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan
lainnya, sedang asalnya dalam shahih Muslim, dengan tidak ada tambahannya,
sebagaimana yang tersebut dalam kitab Fath juz II halaman 152). Dan tersebut
dalam al-Bukhari dari Sahl bin Sa'ad yang berkata:"Bahwa orang-orang
diperintah supaya meletakkan tangan kanannya pada lengannya."
5) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض فِى ذَالِكَ (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). )
68
(5) Menurut hadis Abu Hurairah tentang bacaan itu (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
6) لِحَدِيْثِ عَلِىٍّ رض فِى ذَالِكَ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى صَحِيحِهِ). )
(6) Mengambil dari hadis "Ali ra. tentang bacaan itu. (Diriwayatkan oleh Muslim
dalam Shahihnya).
7) لِقَولِهِ تَعَالَى: " فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )
(النّحل: 98 ) وَلِمَا رَوَى اَبُو سَعِيدٍ الخُدْرِىِّ رض اَنَّ النَّبِىِّ صلعم آَانَ
يَقُولُ ذَالِكَ اَى "اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ" (قَالَ لَهُ فِى المُهَذَّبِ). وَ
قَالَ ابْنُ المُنْذِرِ: جَاءَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَنَّهُ آَانَ يَقُولُ قَبْلَ القِرَاءَةِ " اَعُوذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ" (آَمَا وَرَدَ فِى نَيْلِ الاَوْطَارِ فِى الجُزْءِ الثَّانِى).
(7) Menilik bunyi al-Qur'an surat an- Nahl ayat 98:"Apabila kamu akan membaca
al-Qur'an hendaklah kamu mohon perlindungan kepada Allah dari Syetan
yang terkutuk". (berdo'a: "A'u-dz billa-hi minasy Syaitha-nir raji-m"). Dan
menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Nabi saw.
adalah membaca ta'awwudz itu (sebagai yang tersebut dalam kitab
Muhadzdzab). Ibnul Mundzir berkata: Bahwa diceritakan dari Nabi saw.
bahwa sebelum membaca al-Qur'an beliau berdo'a:"A'u-dzu billa-hi minasy
Syaitha-nir raji-m". (Tersebut dalam kitabNailul Authar juz II).
8) وَلِحَدِيْثِ نُعَيْمٍ لِلجُمْرِ قَالَ: صَلَّيْتُ وَرَاءَ اَبِى هُرَيرَةَ رض فَقَرَأَ " بِسْمِ )
الله الرَّحْمَنِ الرَّحيْمِ" ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ القُرْآنِ حَتَّى بَلَغَ "وَلاَ الضّآلِّينَ" فَقَالَ:
آمِينَ, وَقَالَ النَّاسُ " آمِينَ". وَيَقُولُ آُلَّمَا سَجَدَ "اللهُ اَآْبَرُ" وَاِذَا قَامَ مِنَ
الجُلُوسِفِى الاِثْنَتَيْنِ قَالَ: "اللهُ اَآْبَرُ" وَيَقُولُ اِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِى نَفْسَى بِيَدِهِ اِنِّى
لَاَسْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللهِ صلعم. (رَوَاه النَّسائِىُّ وَابْنُ خُزَيمَةَ وَالسِّرَاجُ
وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ, قَالَ فِى الفَتْحِ (ج 2ص 181 ) وَهُوَ اَصَحُّ حَدِيْثٍ وَرَدَ
فِى ذَالِكَ). لِحَدِيْثِ عُبَادَةَ بْنُ الصَّامِتِ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ:
لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بَفَاتِحَةِ الكِتَابِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
(8) Mengingat hadis dari Nu'aim al-Mujmir, katanya: "Saya shalat di belakang
Abu Hurairah ra. maka ia membaca "Bismilla-hirrahma-nirrahi-m" lalu
membaca induk al-Qur'an (surat al-Fatihah) sehingga tatkala sampai pada "wa
ladldla-lli-n" beliau membaca "a-mi-n" dan orang-orangpun sama membaca
69
"a-mi-n". Begitu juga tiap-tiap hendak sujud, mengucapkan:"Alla-hu Akbar"
dan bila berdiri dari duduk dalam raka'at kedua beliau mengucapkan: "Alla-hu
Akbar". Setelah bersalam beliau berkata:"Demi Yang menguasai diriku,
sungguh shalatku yang mengerupai dengan shalatnya Rasulullah saw."(HR
oleh an-Nasa'I, Ibnu Khuzaimah, Siraj, Ibnu Hibban dan lainnya; tersebut
dalam kitab al-Fath Juz II halaman 181, dengan katanya bahwa inilah hadis
yang paling shah, tentang hal yang disebut).
9)لِحَدِيْثِ عُبَادَةَ بْنُ الصَّامِتِ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ: لاَصَلاَةَ )
لِمَنْ لاَ يَقْرَأُ بَفَاتِحَةِ الكِتَابِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَلِحَدِيْثِ عُبَادَةَ قَالَ: صَلَّى
رَسُولِ اللهِ صلعم الصُّبْحُ فَثَقُلَتْ عَلَيهِ القِرَاءَةَ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنِّى
اَرَاآُمْ تَقْرَؤُنَوَرَاءَ اِمَامِكُمْ. قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ, قَالَ: لاَتَفْعَلُ
اِلاَّ بِاُمِّ القُرْآنِ. (رَوَاهُ اَحْمَدُ وَالدَّارُ قُطْنِىُّ وَالبَيحَقِىِّ).وَلِمَا رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ
مِنْ حَدِيْثِ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ صلعم: اَتَقْرَؤْنَ فِى صَلاَتِكُمْ
خَلْفَ الاِمَامُ يَقْرَأُ فَلاَ تَفْعَلُوا وَلْيَقْرَأْ اَحَدُآُمْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ فِى نَفْسِهِ.
(9) Mengingat hadis 'Ubadah bin as-Shamit bahwa Rasululllah saw. bersabda:
"Tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca permulaan Kitab (al-
Fatihah)". (Driwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Ada lagi hadis 'Ubadah
bahwa Rasulullah saw. shalat shubuh maka merasa terganggu oleh
pembacaan ma'mum. Setelah selesai beliau bersabda: "Aku melihat kamu
sama membaca di belakang imammu? " Kata 'Ubadah, bahwa kita semua
menjawab: "Ya Rasulullah, demi Allah benar begitu!" Maka sabda Nabi:
"Janganlah kamu mengerjakan demikian, kecuali bacaan Fatihah."
(Diriwayatkan oleh Ahmad, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi). Dan mengingat
hadis anas, katanya bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Apakah kamu sekalian
membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam sedang
membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah masing-masing kamu
membaca Fatihah sekedar didengar olehnya sendiri". (Diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban)
10 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض اَنَّ النَّبِىَّ صلعم قَالَ: اِذَا امَّنَ الاِمَامُ فَاَمِّنُوا )
فَاِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ تَأْمِيْنَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَعَنْهُ اَيْضًا
70
اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم قَالَ: اِذَا قَالَ اَحَدُآُمْ آمِيْنَ فَوَاقَفَ اِحْدَاهُمَا الاُخْرَى
غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَفِى رِوَايَةِ مُسْلِمٍ: اِذَا قَالَ اَحَدُآُمْ فِى
صَلاَتِهِ.
(10) Mengingat hadis Abu Huraerah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: "Apabila
imam membaca "A-mi-n" maka kamu hendaklah pula membaca "A-mi-n"
karena sungguh barang siapa yang bacaan "a-mi-n" nya bersamaan "A-mi-n"
Malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu". Dan hadis dari Abu
Huraerah juga, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Apabila salah seorang
diantaramu membaca "A-mi-n" sedang Malaikat di langitpun membaca "Ami-
n" pula, dan bersamaan keduanya, maka diampunilah ia dari dosanya
yang sudah-sudah." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan dalam
hadis riwayat Muslim ada tambahannya: "Apabila salah seorang diantaramu
membaca dalam shalatnya)."
11 ) حَدِيْثِ ابْنِ قَتَادَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ يَقْرَأُ فِى الظُّهْرِ فِى الاُولَيَينِ )
بِأُمِّ الكِتَابِ وَسُورَتَينِ وَفِى الرَّآْعَتَينِ الاُخْرَيَينِ بِأُمِّ الكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ
وَيُطَوِّلُ فِى الرَّآْعَةِ الاُولَى مَالاَ يُطِيلُ فِى الرَّآْعَةِ الثَّانِيَةِ وَهَكَذَا فِى الصُّبْحِ
(مُتَّفَقٌ عَلَيهِ)
(11) Menilik hadis Abu Qatadah bahwa Nabi saw. dalam shalat Dluhur pada
rakaat kedua permualaan (rakaat ke1 dan ke 2, membaca induk Kitab
(Fatihah) dan dua surat, serta pada dua rakaat lainnya (rakaat ke 3 dan ke 4)
membaca Fatihah saja, dan beliau memperdengarkan kepada kami akan
bacaan ayat itu, dan pada rakaat ke 1 diperpanjang tidak seperti dalam rakaat
ke 2; demikian juga dalam shalat ashar dan shubuh. (Diriwayatkan oleh al-
Bukhari dan Muslim)
12 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (محمّد: )
( 24 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا (المزمّل: 4
71
(12) Karena firman Allah swt. "Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an,
ataukah pada hati mereka ada tutupnya?" (Muhammad 24). Dan firmannya:
Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (Muzammil 5)
.- 13 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ العُمَرَ المُتَقَدَّمِ فِى – 3 )
(13) Karena hadis Ibnu Umar tersebut nomor 3 di atas
14 ) لِقَولِهِ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْآَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ )
.( وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(الحجّ: 77
(14) Karena firman Allah: "Hai orang-orang mu'min, hendaklah kamu ruku',
sujud dan sembahlah Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan, agar kamu
berbahagia."(Hajj 77)
وَلِخَبَرِ أَبِيْ هُرَيَةَ رض النّبِىَّ صلعم الَ: اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ
مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ ثُمَّ ارْآَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاآِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى
تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَالِكَ فِى صَلاَتِكَ آُلِّهَا. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
Dan menurut hadis dari Abu Huraerah ra. bahwa Nabi saw.
bersabda:"Apabila kamu menjalankan shalat bertakbirlah, lalu membaca
sekedar dari al-Qur'an, lalu ruku' sehingga tenang, (tuma'ninah), terus berdiri
sampai lurus, kemudian sujud sehingga tenang, kemudian duduklah sampai
tenang, lalu sujud lagi sehingga tenang pula; kemudian lakukanlah seperti
itu dalam semua shalatmu." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
15 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض قَالَ: آَانَ رَسُولِ اللهِ اِى وَاللهِ صلعم اِذَا )
قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرْ حِينَ يَقُومُ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْآَعُ ثُمَّ يَقُولُ."سَمِعَ اللهُ لِمَنْ
حَمِدَهُ" حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرُّآُوعِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمًا "رَبَّنَا وَلَكَ
الحَمْدُ" ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِى جَالِسًا ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ
يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرْ حِينَ يَرْفَعُ ثُمَّ يَفْعَلْ ذَالِكَ فِى الصَّلاَةَِ آُلِّهَا يُكَبِّرْ حِينَ يَقُوْمُ
مِنَ الثِّنْتَينِ بَعْدَ الجُلُوسِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
(15) Karena hadis Abu Huraerah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw. kalau
shalat ia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika ruku, lalu membaca
"sami'alla-hu liman hamidah" ketika mengangkat punggungnya (bangun)
dari ruku, lalu membaca selagi beliau berdiri:"Rabbana- walakal hamd", lalu
72
takbir tatkala hendak sujud, lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala
(duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala
(duduk antara dua sujud), lalu bertakbir tatkala hendak berdiri; kemudian
melakukan itu dalam smua shalatnya serta bertakbir tatkala berdiri dari
rakaat yang kedua sesudah duduk. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan
Muslim)
-16 لِحَدِيْثِ اَبِى حَمِيدِ السَّاعِدِىِّ رض قَالَ: اَنَا آُنْتُ اَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ
رَسُولِ اللهِ صلعم رَاَيْتُهُ اِذَا آَبَّرَ جَعَلَ يَدَيهِ حَذْوَ مَنْكِبَيهِ وَاِذَا رَآَعَ اَمْكَنَ
يَدَيَهِ مِنْ رُآْبَتَيهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَاِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ آُلُّ
فَقَارٍ مَكَانَهُ فَاِذَا سَجَدَ وِصَعَ يَدَيهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَاوِاسْتَعْبَلَ
بِاَطْرَافِ اَصَابِعِ رِجْلَيْهِ القِبْلَةَ فَلِذَا جَلَسَ فِى الرَّآْعَتَينِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ
اليُسْرَى وَنَصَبَ الاُخْرَى. وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ. (رَوَاهُ البُخَارِىُّ فِى
صَحِيحِهِ).
(16) Karena hadis dari Abu Humid Sa'idi ra. yang berkata: "Saya lebih cermat
(hafal) dari padamu tentang shalat Rasulullah saw. Kulihat apabila beliau
bertakbir, mengangkat kedua tangannya sejurus dengan bahunya dan apabila
ruku' meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan
punggungnya, lalu apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak sehingga
luruslah tiap tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud,
ia letakkan kedua teapak tangannya pada tanah dengan tidak meletakkan
lengan dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung-ujung jari
kakinya dihadapkan ke arah Qiblat. Kemudian apabila duduk pada raka'at
yang kedua ia duduk di atas kaki kirinya dan menumpukkan kaki yang
kanan. Kemudian apabila duduk pada raka'at yang terakhir ia majukan kaki
kirinya dan menumpukkan kaki kanannya serta duduk bertumpu pada
pantatnya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhrai daam kitab Shahihnya)
17 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: آَانَ رَسُولِ اللهِ صلعم يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ )
وَسُجُودِهِ "سُبْحَانَكَ". الحديث. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
73
(17) Menilik hadits Sayyidatina 'Aisyah ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw.
dalam ruku' dan sujudnya beliau mengucapkan; subha-nakalla-humma
rabbana- wa bihamdikalla-hummagh firli- …. Seterusnya hadits.
(Muttafaqun 'Alaih atau diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
18 ) لِحَدِيْثِ خُذََيْفَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىُّ صلعم فَكَانَ يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ )
"سُبْحَانَكَ رَبِّىَ العَظِيمِ" وَفِى سُجُودِهِ " سُبْحَانَكَ رَبِّىَ الاَعْلَى" (الحديث
رواه الخمسة وصحّحه التّرمذى). وَحَدِيْثِ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ
صلعم آَانَ يَقُولُ فِى رُآُوعِهِ وَسُجُودِهِ "سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ
وَالرُّوحِ". (رواه أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَ اَبُو دَاوُدَ وَ النَّسائِىُّ-آِلاَهُمَا فِى نَيلِ
الاَوطَارِ الجُزْءُ الثَّانِى مِنْهُ).
(18) Menurut hadis Hudzaifah, katanya: "Aku bershalat bersama Nabi saw.,
maka dalam ruku'nya beliau membaca: "Subha-na rabbiyal adhim" dan
dalam sujudnya beliau membaca "Subha-na Rabbiyal a'la." … seterusnya
hadits. (Diriwayatkan oleh lima ahli hadits dan dishahihkan oleh at-
Tirmidzi). Dan ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad , Muslim,
Abu Dawud dan an-Nasa'I dari 'Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. dalam
ruku' dan sujudnya membaca; "Subbu-hun quddu-sun rabbul Mala-ikati war
ru-h". (Kedua hadits ini tersebut dalam kitab Nailul Authar juz 2)
- 19 ) لِخَبَرِ اِذَ...المُتَقَدَّمِ فِى- 14 )
(19) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut no. 14 di atas
- 20 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(20) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut nomor 15 di atas.
- 20 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(21) Menurut ayat dan hadits dalam dalil nomor 14.
- 22 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 15 )
(22) Lihat hadits Abu Hurairah tersebut nomor 15 di atas.
رْتُ اَنْ 􀑧 لعم : (اُمِ 􀑧 ولِ اللهِ ص 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 ا لَ: قَ 􀑧 اسٍ رض قَ 􀑧 نِ عَبَّ 􀑧 رِ ابْ 􀑧 23 ) لِخَبَ )
دَينِ 􀑧 هِ-وَاليَ 􀑧 ى اَنْفِ 􀑧 دِهِ اِلَ 􀑧 ارَ بِيَ 􀑧 ةِ-وَاَشَ 􀑧 ى الجَبْهَ 􀑧 مٍ عَلَ 􀑧 بْعَةِ اَعْظُ 􀑧 ى سَ 􀑧 جُدَ عَلَ 􀑧 اَسْ
ا لَ: 􀑧 رٍ قَ 􀑧 نِ حُجْ 􀑧 لِ بْ 􀑧 دِيْثِ وَائِ 􀑧 هِ). حَ 􀑧 قٌ عَلَي 􀑧 دَ مَينِ. (مُتَّفَ 􀑧 رَافِ القَ 􀑧 وَالرُّآْبَتَينِ وَاَطْ
ضَ 􀑧 هِ وَ اِذَا نَهَ 􀑧 لَ يَدَي 􀑧 هِ قَبْ 􀑧 عَ رُآْبَتَي 􀑧 جَدَ وَوَضَ 􀑧 لعم اِذَا سَ 􀑧 ولِ اللهِ ص 􀑧 تُ رَسُ 􀑧 رَاَي
74
ا رِ- 􀑧 لِ الاَوطَ 􀑧 ى نَي 􀑧 ا فِ 􀑧 دُ آَمَ 􀑧 ة اَلاَّ أَحْمَ 􀑧 هِ. رواه لخمس 􀑧 لَ رُآْبَتَي 􀑧 هِ قَبْ 􀑧 عَ يَدَي 􀑧 رَفَ
وَحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صلعم: اِذَا اَحَدُآُمْ فَلاَ يَبْرُكْ
آَمَا يَبْرُكُ البَعِيرُ يَضَعُ يَدَيهِ قَبْلَ رُآْبَتَيهِ. (قَالَهُ فِى تَيْسِيرِ الوُصُولِ)
(23) Menurut hadits dari Ibnu 'Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah saw.
bersabda: "Aku diperintah supaya bersujud di atas tujuh tulang: dahi –
seraya menunjuk pada hidungnya – di atas dua belah tangan, kedua lutut dan
di atas kedua ujung kaki." (Muttafaq 'Alaih). Ada lagi hadits dari Wail bin
Hajur, katanya: "Aku melihat Rasulullah saw. bila bersujud meletakkan
kedua lutut sebelum kedua tangannya dan kalau berdiri mengangkat kedua
tangannya sebelum kedua lututnya". (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali
Ahmad, sebagaimana yang tersebut dalam kitab Nailul Authar).
Dan menurut hadits dari Abu Hurairah ra. yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: "Kalau salah seorang daripadamu bersujud, maka
janganlah berdekam sebagaimana unta berdekam, ialah meletakkan
tangannya sebelum lututnya". (Tersebut dalam kitab Taisirul Wushul)
24 ) لِحَدِيْثِ اَبِى حُمَيدِ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 -وَ لِحَدِيْثِ عَبْدِالله بْنُ مَالِكِ بْنِ )
بُحَينَةَ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ اِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَينَ يَدَيهِ حَتَّى يَبْدُ وَبَيَاضُ
اِبْطَيهِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ). وَفِى صَحِيحِ مُسِلِمٍ اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم آَانَ اِذَا
سَجَدَ فَرَّجَ يَدَيهِ عَنْ اِبْطَيهِ حَتَّى اِنِّى لَاَرَى بَيَاضَ اِبْطَيهِ. وَفِيهِ اَيضًا عَنِ
البَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صلعم: اِذَا سَجَدَتْ فَضَعْ آَفَّيكَ
وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.
(24) Lihatlah hadits Abi Humaid tersebut nomor 16. Dan mengingat hadits dari
Abdullah bin Malik bin Buhainah, bahwa Nabi saw. jika shalat
merenggangkan antara kedua tangannya sehingga kelihatan putih ketiaknya.
(Muttafaq 'Alaih atau diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam
shahih Muslim, bahwa Rasulullah saw. jika bersujud merenggangkan kedua
tangannya dari ketiaknya, sehingga kulihat putih ketiaknya.Dan hadits dari
al-Barra' bin 'Azib dalam shahih Muslim juga, bahwa Rasulullah saw.
bersabda: "Bila kamu bersujud, letakkanlah kedua belah telapak tanganmu
dan angkatlah kedua sikumu".
75
- 25 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 17 )
(25) Lihatlah hadits 'Aisyah tersebut nomor 17 di atas.
- 26 ) لِحَدِيْثَى حُذََيفَةَ وَ عَائِشَةَ المُتَقَدَّمَينِ فِى- 18 )
(26) Menilik hadits udzaifah dan 'Aisyah ra. tersebut nomor 18 di atas.
27 ) لِمَا رُوِىَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ النَّبِىَّ صلعم آَانَ يَقُولَ بَينَ السَّجْدَتَينِ: )
"اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدَنِى وَارْزُقْنِى" (رَوَاهُ التِّرمِذِىُّ
آَمَا فِى نَيلِ الاَوْطَارِ).
(27) Mengingat hadits yang diriwayatkan oleh at-tirmidzi dari Ibnu 'Abbas ra.
bahwa Nabi saw. di antara kedua sujud mengucapkan; "Alla-hummagh firliwarhamni-
wajburni- wahdini- war zuqni-". (Tersebut dalam kitab Nailul
Authar).
28 ) لِحَدِيْثِ اَبِىهُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 14 -لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ فِى- 17 -لِلحَدِيْثِ )
- المُتَقَدَّمَينِ فِى- 18
(28) Periksalah hadits Abu hurairah tersebut nomor 14, hadits 'Aisyah ra. tersebut
nomor 17 dan kedua hadits tersebut nomor 18 di atas.
29 ) لِحَدِيْثِ مَالِكِبْنِ الحُوَيرِثِ رض اَنَّهُ رَوَى النَّبِىَّ صلعم يُصَلِّى فَاِذَا )
آَانَ فِى وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَاعِدًا. (رَوَاهُ البُخَارِىُّ
فِى صَحَيْحِهِ). وَفِى لَفْظٍ لَهُ: فَاِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ
وَاعْتَمَدَ عَلَى الاَرْضِ ثُمَّ قَامَ.
(29) Menilik hadits dari Malik bin Huwairits mengatakan bahwa ia mengetaui
Nabi saw. shalat; maka apabila beliau berada dalam raka'at gasal (ganjil,
Jawa) dari shalatnya, beliau sebelum berdiri, duduk dahulu sehingga lurus
duduknya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam shahihnya).
Ada lain hadits oleh al-Bukhari juga, apabila beliau mengangkat kepalanya
dari sujud yang kedua , duduk dan menekan kepada tanah, lalu berdiri.
30 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّم فِى- 14 -وَلَهُ فِى صَحَيحِ مُسْلِمٍ: آَانَ )
رَسُولِ اللهِ صلعم اِذَا نَهَضَمِنَ الرَّآْعَةِ الثُّانِيَةِ اسْتَفْتَحَ القِرَاءَةَ بِالحَمْدِ للهِ
رَبِّ العَالَمِينَ وَلَمْ يَسْكُتْ.
(30) Periksalah hadits Abu hurairah tersebut nomor 14. Dan tersebut dalam
Shahih Muslim dari Abu Hurairah juga bahwa jikalau Rasulullah saw.
76
berdiri dari raka'at kedua, beliau tidak diam, melainkan memulai bacaan
dengan: "Alhamdulillahi rabbil 'a-lami-n".
31 ) لِحَدِيْثِ اَبِى حُمَيدٍ السَّاعِدِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 -وَلِمَا فِى صَحِيحِ مُسْلِمٍ )
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ رَسُولِ اللهِ صلعم آَانَ اِذَا قَعَدَ فِى التَّشَهُّدِ وَضَعَ
يَدَهُ اليُسْرَى عَلَى رُآْبَتِهِ اليُمْنَى وَعَقَدَ ثَلاَثًا وَخَمْسِينَ وَاَشَارَ بِاَصْبُعِهِ
السَّبَّابَةِ. وَفِيْهِ اَيْضًا عَنِ الزُّبَيرِ رض: آَانَ رَسُولِ اللهِ صلعم اِذَا قَعَدَ يَدْعُو
وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ اليُمْنَى وَيَدَهُ اليُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ اليُسْرَى
وَاَشَارَ بِاَصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ وَوَضَعَ اِبْهَامَهُ عَلَى اَصْبُعِهِ الوُسْطَى وَيَلْقَمُ آَفُّهُ
اليُسْرَى رُآْبَتَهُ.
(31) Lihat hadits Abu Humaid Sa'idi tersebut nomor 16 di atas. Dan yang tersebut
dalam shahih Muslim dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah, jika duduk
dalam tasyahhud, meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan tangan
kanan di atas lutut kanannya serta menggenggamkannya seperti membuat
isyarat "lima puluh tiga" dengan mengacunkan jari telunjuknya. Dalam
shahih Muslim pula dari Zubair ra. bahwa Rasulullah saw. kalau duduk
berdo'a meletakkan tangan kanannya di atas paha – kanannya dan tangan
kirinya di atas paha kiri, serta mengacungkan jari telunjuknya, dan telapak
tangan kirinya menggenggam lututnya.
- 32 ) لِمَا فِى حَدِيْثِ اَبِى حُمَيدٍ السَّاعِدِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 16 )
(32) Periksalah hadits Humaid Sa'idi dalam dalil nomor 16 di atas.
33 ) لِمَا رُوِىَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رض قَالَ: آُنَّا اِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ )
رَسُولِ اللهِ صلعم قُلْنَا:"السَّلاَمُ عَلَى جِبْرِيْلَ وَمِيكَائِيلاَ, السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ
وَفُلاَنٍ" فَلْتَفَتْ اِلَيْنَا رَسُولِ اللهِ صلعم فَقَالَ: اِنَّ الله هُوَ السَّلاَمُ فَاِذَا صَلَّى
اَحَدُآُمْ فَلْيَقُلْ "التَّحِيَّاتُ للهوَالصَّلوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ " الحديث, (مُتَّفَقٌ عَلَيهِ).
وَلِاِبْنِ خُزَيمَةَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنِ الاَسْوَادِ عَنْ عَبْدِ الله عَلَّمَنِى رَسُولِ اللهِ
صلعم التَّشَهُّدَ فِى وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِى آخِرِهَا. قَالَهُ فِى الفَتْحِ
(الجزء 2ص 200 ) وَفِىالاُمِّ (ج 1ص 102 ) عَنْ آَعْبَينِ عُجْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ
صلعم اَنَّهُ آَانَ يَقُولُ فِى الصَّلاَة: " اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ
مُحَمَّدٍ, آَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ
اَلِ مُحَمَّدٍ آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ اَلِ اِبْرَاهِيمَ. اِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ".وَفِى
الفَتْحِ (ج 2ص 218 ) فَعِنْدَ سَعِيْدِبْنِ مَنْصُورٍ وَاَبِى بَكْرِبْنِ اَبِى شَيْبَةَ بِاِسْنَادٍ
77
صَحِيْحٍ اِلَى اَبِى الاَحْوَاصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ الله: يَتَشَهَّدُ الرَّجُلُ فِى الصَّلاَةِ ثُمَّ
يُصّلِّى عَلَى النَّبِىِّ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بَعْدُ.
(33) Karena hadits dari Abdullah bin Mas'ud ra. bahwa tatkala kita shalat di
belakang Rasulullah saw. kita sama membaca: "Assala-mu 'ala- Jibri-la wa
Mi-ka-ila Assala-mu 'ala- fula-n wa fula-n", maka berpalinglah Rasulullah
saw. kepada kita lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Yang Maha
Selamat, maka apabila salah seorang daripadamu shalat, hendaklah berdo'a:
"At-Tahiyya-tu lilla-h was shalawa-tu wath thayyiba-t"… dan seterusnya
hadits.(Muttafaq 'Alaih). Dalam kitab Fath (Juz II halaman 200) dari Aswad
dan Abdullah pua dengan riwayat lain oleh Ibnu Khuzaimah, bahwa
Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku "tasyahhud" dalam
pertengahan dan penghabisan shalat.
34 ) وَفِى الاُمِّ (ج 1ص 102 ) عَنْ آَعْبَينِ عُجْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَنَّهُ )
آَانَ يَقُولُ فِى الصَّلاَة: " اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ, آَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اَلِ مُحَمَّدٍ
آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْرَاهِيمَ وَ اَلِ اِبْرَاهِيمَ. اِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ".وَفِى الفَتْحِ
(ج 2ص 218 ) فَعِنْدَ سَعِيْدِبْنِ مَنْصُورٍ وَاَبِى بَكْرِبْنِ اَبِى شَيْبَةَ بِاِسْنَادٍ
صَحِيْحٍ اِلَى اَبِى الاَحْوَاصِ قَالَ: قَالَ عَبْدُ الله: يَتَشَهَّدُ الرَّجُلُ فِى الصَّلاَةِ ثُمَّ
يُصّلِّى عَلَى النَّبِىِّ ثُمَّ يَدْعُو لِنَفْسِهِ بَعْدُ.
(34) Dan dalam kitab Um (Juz I halaman 102) dari Ka'b bin 'Ujrah, bahwa Nabi
saw. membaca shalawat: "Alla-humma shalli 'ala- Muhammad wa 'ala- a-li
Muhammad kama- shallaita 'ala Ibra-him wa a-li Ibra-him wa ba-rik 'ala
Muhammad wa 'ala- a-li Muhammad kama- ba-rakta 'ala- Ibra-him wa 'alaa-
li Ibra-him innaka hami-dum maji-d". Dan dalam kitab Fath (Juz II
halaman 218); maka pada Sa'id bin Mansur dan Abu Bakar bin Abi Syaibah
dengan sanad (rangkaian) shahih sampai kepada Abu Ahwash berkata:
Berkata 'Abdullah: "Supaya orang itu dalam shalatnya membaca tasyahhud,
lalu membaca shalawat kepada Nabi saw. kemudian berdo'a untuk dirinya
sendiri".
35 ) لِمَا وَرَدَ فِى نَيلِ الاَوْطَارِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: اِنَّ مُحَمَّدًا صلعم )
قَالَ: اِنَّ مُحَمَّدًا صلعم قَالَ: اِذَا وَقَعَدْتُمْ فِى آُلِّ رَآْعَتَيْنِ فَقُولُوا "التَّحِيَّاتُ للهِ
78
وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَآَاتُهُ. السَّلاَمُ
عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِالله الصَّالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسَولَهُ" ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ اَحَدُآُمْ مِنَ الدُّعَاءِ اَعْجَبَهُ اِلَيهِ فَلْيَدْعُ بِهِ رَبُّهُ عَزَّ
وَجَلَّ. (رِوَاهُ اَحْمَدُ وَالنَّسَائِى). وَفِى تَيْسِيرِ الوُصُولِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ
رض قَالَ: آَانَ رَسُولُ الله صلعم اِذَا جَلَسَ فِى رَآْعَتَينِ الاُلَيَينِ آَاَنَّهُ عَلَى
الرَّضْفِ حَتَّ يَقُومَ.
(35) Menilik yang tersebut dalam kitab Nailul Authar, dari Ibnu Mas'ud ra.
katanya, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: "Bila kamu duduk dalam
tiap-tiap dua raka'at, bacalah: At-Tahiyya-tu lilla-h, washshalawa-tu wath
thayyiba-t, assala-mu'alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatulla-hi wa barakatuh,
assala-mu 'alaina wa 'ala 'iba-dilla-hish sha-lihi-n, Asyhadu alla- ila-ha
illala-h wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu- wa Rasu-luh", lalu pilihlah
do'a yang disukai dan berdo'alah dengan itu kepada Tuhannya.
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasai). Dan dalam kitab Taisirul Wushul
dari Ibnu Mas'ud ra. bahwa Rasulullah saw. jika duduk dalam dua raka'at
yang pertama seolah-olah ia duduk di atas batu yang panas , hingga segera
berdiri.
36 ) لِمَا وَرَدَ البُخَارِىُّ فِى صَحِيحِهِ عِنْ نَافِعٍ اَنَّ ابْنَ عُمَرَ رض آَانَ اِذَا )
دَخَلَ فِى الصَّلاَةِ آَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا رَآَعَ وَرَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا قَالَ: "سَمِعَ الله
لِمَنْ حَمِدَهُ" رَفَعَ يَدَيهِ وَاِذَا قَامَ مِنَ الرَّآَعتَيْنِ رَفَعَ يَدَيهِ. " رَفَعَ ذَالِكَ ابْنَ
عُمَرَ رض عَنِ النّبِىِّ صلعم وَاِذَا قَامَ فِى الرَّآَعتَيْنِ آَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيهِ لَهُ
( شَوَاهِدُ قَالَهُ فِى الفَتْحِ (الجزء الثّانى منه ص 151
(36) Dalam shahih al-Bukhari dari Nafi' bahwa Ibnu Umar kalau shalat bertakbir
serta mengangkat kedua tangannya, kalau ruku' mengangkat kedua
tangannya, apabila membaca "sami'alla-hu liman hamidah" mengangkat
kedua tangannya dan jika berdiri dari raka'at yang kedua mengangkat kedua
tangannya. (Hadits ini marfu'/ disambungkan oleh Ibnu Umar kepada Nabi
saw.).
Dan dalam riwayat Abu Dawud yang dishahihkan oleh al-Bukhari
perantaraan Muhrib bin Datstsar dari Ibnu Umar juga, bahwa Nabi saw.
79
apabila berdiri dari raka'at yang kedua bertakbir dan mengangkat kedua
tangannya. (Dan hadits ini dikuatkan oleh hadits lain sebagaimana yang
diterangkan dalam kitab Fath Juz II halaman 151)
37 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ )
(37) Lihatlah hadits Abu Hurairah yang tersebut pada nomor 14, dan dalam
shahih Muslim dari Abu Hurairah yang tersebut pada no. 30 dan hadits Abu
Qatadah yang tersebut pada no.11 di atas.
38 ) لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صلعم: اِذَا تَشَهَّدَ اَحَدُآُمْ )
فَلْيَسْتَعِذْ بِالله مِنْ اَرْبَعٍ يَقُولُ "اللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوذُبِكَ". الحديث. (رواه مسلم
فى صحيحه). وَفِيهِ اَيْضًا بِلَفْظِ: اِذَا فَرَغَ اَحَدُآُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ
بِاللهِ مِنْ اَرْبَعٍ. (الحديث)
(38) Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah
saw. bersabda: "Apabila salah seorang daripadamu bertasyahhud, hendaklah
minta perlindungan kepada allah dari empat perkara, dengan berdo'a: "Allahumma
inni- a'udzu bika …dan seterusnya hadits. Demikian pula dalam
riwayat lain, dengan kalimat: "Kalau selesai bertasyahhud akhir, hendaklah
meminta perlindungan dari empar perkara"… seterusnya hadits.
39 ) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِىِّ المُتَقَدَّمِ فِى- 1-وَلِحَدِيثِ سَعْدٍ قَالَ: آُنْتُ )
اَرَى رَسُولِ اللهِ صلعم يُسَلِّمُ عَنِ يَمِينِهِ وَعَنِ يَسَارِهِ حَتَّى اَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ.
(رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى صَحِيحِهِ).
(39) Periksalah dalil yang tersebut nomor 1. Dan hadits dari Sa'd: "Saya melihat
Rasulullah saw. bersalam kea rah kanan dan ke arah kirinya, sampai kulihat
putih pipinya". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya).
40 ) لِحَدِيْثِ اَبِى دَاوُدَ بِاِسْنَادٍ صَحِيْحٍ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ )
النَّبِىِّ صلعم فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ "السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ".
وَعَنْ شِمَالِه " السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ "(قَالَهُ فِى بُلُوغِ
المَرَامِ).
(40) Menurut hadits Abu Dawud dengan sanad shahih dari Wail bin Hujur,
katanya: "Aku shalat bersama–sama Rasulullah saw. maka beliau bersalam
ke kanannya dengan membaca: "Assala-mu 'alaikum wa rahmatullahi wa
80
baraka-tuh dan bersalam ke kirinya dengan membaca: "Assala-mu 'alaikum
wa rahmatulla-hi wa baraka-tuh". (Tersebut dalam kitab Bulughul Maram)
-41 لِحَدِيْثِ اَبِى هُرَيرَةَ المُتَقَدَّمِ فِى- 1-وَ لِحَدِيْثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ المُتَقَدَّم
(41) Periksalah dalil nomor 38 nomor 1 dan hadis Wail bin Hujur, nomor 40
tersebut di atas.
-42 لِعَدَمِ وُرُودِ الحَدِيثِ فِى ذَالِكَ نَعَمْ قَدْ رُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ صلعم اَمْرُهُ
بِضَمِّ المَرْأَةِ بَعْضِهَا اِلَى بَعْضٍ فِى الصَّلاَةِ آَمَا فِى مَخْرَجِ اَبِى دَاوُدَ عَنْ
زَيْدِبْنِ اَبِى حَبِيْبٍ. اِلاَّ اَنَّ هَذَا الحَدِيثَ مُرْسَلٌ. (قَالَهُ فِى سُبُلِ السَّلاَمِ الجُزْءِ
الاَوَّلِ).
(42) Sebab tidak ada hadits tentang hal ini (perbedaan pria dan wanita dalam
bershalat). Benar telah diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau menyuruh
wanita supaya merapatkan setengah anggotanya kepada lainnya dalam
shalat, sebagai hadits Abu Dawud dari Zaid bin Abi Habib, hanya sahaja
hadits ini mursal (sebagaimana yang tersebut dalam kitab Subulus salam juz
pertama)
81
ARTI UCAPAN, DO'A DAN BACAAN
Yang dimuat dalam kitab Shalat ini
Takbir
اللهُ اّآْبَرُ
Alla-hu Akbar
Allah Maha Agung
Do'a Iftitah
مَّ 􀑧 رِ بِ. اللَهُ 􀑧 رِقِ وَالمَغْ 􀑧 يْنَ المَشْ 􀑧 دْتَ بَ 􀑧 ا بَاعَ 􀑧 اىَ آَمَ 􀑧 يْنَ خَطَايَ 􀑧 اللَهُمَّ بَاعِدْبَيْنِى وَبَ
لْ 􀑧 مَّ اغْسِ 􀑧 دَّنَ سِ. اللَهُ 􀑧 نَ ال 􀑧 يَضُ مِ 􀑧 وبُ الاَبْ 􀑧 ى الثَّ 􀑧 ا يُنَقِّ 􀑧 ا آَمَ 􀑧 نَ الخَطَايَ 􀑧 ى مِ 􀑧 نَقِّنِ
خَطَايَاىَ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ
"Alla-humma ba-'id baini-wa baina khatha-ya-ya kama-ba-'adta bainal mayriqi
wal maghrib. Alla-humma naqqini- minal khatha-ya- kama-yunaqqats tsaubul
abyadlu minad danas. Alla-hummaghsil khatha-ya-ya bilma-i wats tsalji wal
barad".
Artinya: Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahanku, sebagaimana
Kau telah jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahanku sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah,
cucilah segala kesalahanku dengan air, salju dan air hujan beku
Atau:
نَ 􀑧 ا مِ 􀑧 ا اَنَ 􀑧 لِمًا وَمَ 􀑧 ا مُسْ 􀑧 مَوَاتِ وَ الاَرْضَ حَنِيفً 􀑧 رَ السَّ 􀑧 ذِى فَطَ 􀑧 ىَ لِلَّ 􀑧 وَجَّهْتُ وَجْهِ
الَمِيْ نَ, 􀑧􀑧 اتِى للهِ رَبِّ العَ 􀑧􀑧 اىَ وَمَمَ 􀑧􀑧 كِى وَمَحْيَ 􀑧􀑧 لاَتِى وَنُسُ 􀑧􀑧 رَآِيْن, اِنَّ صَ 􀑧􀑧 المُشْ
مَّ 􀑧 لِمِيْ نَ) اللَهُ 􀑧 نَ المُسْ 􀑧 ا مِ 􀑧 لِمِيْنَ (وَاَنَ 􀑧 ا اَوَّلُ المُسْ 􀑧 رْتُ وَاَنَ 􀑧 ذَالِكَ اُمِ 􀑧 لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِ
تُ 􀑧 ى وَاعْتَرَفْ 􀑧 تُ نَفْسِ 􀑧 دُكَ ظَلَمْ 􀑧 ا عَبْ 􀑧 ى وَاَنَ 􀑧 تَ رَبِّ 􀑧 تَ, اَنْ 􀑧 اَنْتَ المَلِكُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْ
نِ 􀑧 دِنِى لِاَحْسَ 􀑧 تَ وَاهْ 􀑧 ذَُنُوبَ اِلاَّ اَنْ 􀑧 رُ ال 􀑧 ا لاَيَغْفِ 􀑧 وبِى جَمِيْعً 􀑧 اغْفِرْلِى ذُنُ 􀑧 ذَنْبِى فَ 􀑧 بَ
كَ 􀑧 تَ لَبَّيْ 􀑧 يِّئَهَا اِلاَّ اَنْ 􀑧 ى سَ 􀑧 رِفْ عَنِّ 􀑧 تَ وَاصْ 􀑧 نِهَا اِلاَّ اَنْ 􀑧 دِى لِاَحْسَ 􀑧 لاَقِ لاَيَهْ 􀑧 الاَخْ
تَ 􀑧 كَ, تَبَارَآْ 􀑧 كَ وَاِلَي 􀑧 كَ, اَنَ بِ 􀑧 يْسَ اِلَيْ 􀑧 رُّ لَ 􀑧 دَيكَ وَالشَّ 􀑧 وَسَعْدَيكَ وَالخَيْرُ آُلُّهُ فِى يَ
وَتَعَالَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتَوبُ اِلَيكَ
Wajjahtu wajhiya lilladzi- fatharas sama-wa-ti wal ardla hani-fan musliman wa
ma- ana minal musyriki-n. Inna shala-ti wa nusuki- wa mahya-ya wa mama-ti
lillahi-hi rabbil 'a-lami-n. La-syari-kalahu- wa bidza-lika umirtu wa ana awwalul
82
muslimi-n (wa ana minal muslimi-n." Alla-humma antal maliku la-ila-ha illa-anta,
anta rabbi- wa ana 'abduka, dlalamtu nafsi- wa'taraftu bidzambi- fagh firli- dzunubi-
jami-'an. La- yagh firudz dzunu-ba illa- anta, wah dini-liahsanil akhla-qi layahdil
liahsaniha-illa- anta. Washrif 'anni- sayyiaha- la-yashrifu 'anni- sayyiahailla-
anta. Labbaika wa sa'daika wal khairu kulluhu- fi-yadaika, wasysyarru laisa
ilaika. Ana bika wa ilaika. Taba-rakta wa ta'a-laita astaghfiruka wa atu-bu ilaika.
Arttinya: Aku hadapkan wajahku, kehadapan yang Maha Menjadikan semua
langit dan bumi, dengan tulus hati dan menyerah diri dan aku bukanlah golongan
orang-orang musyrik. Sungguh shalatku, ibadahku, hidup dan matiku ada
kepunyaan Tuhan yang menguasai semua alam, yag tidak bersyarikat dan
bandingannya, maka dengan demikian aku diperintah dan aku menjadi orang
yang mula-mula berserah diri (daripada orang-orang berserah diri). Ya Allah,
Engkaulah raja, yang tidak ada yang disembah melainkan Engkau. Engkaulah
Tuhanku dan aku inilah hambaMu, aku telah berbuat aniaya pada diriku dan
mengakui dosaku. Maka ampunilah dosa-dosaku semua, yang mana tidak ada
yang mengampuni dosa, selain Engkau. Dan berilah petunjukMu padaku, budi
pekerti yang bagus, yang mana tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada
bagusnya budi pekerti selain Engkau. Dan jauhkan daripadaku kelakuan yang
jahat, yan g mana tidak ada yang dapat menjauhkannya kecuali Engkau. Aku
junjung dan aku turutlah perintah Engkau; sedang semua kebaikan itu ada pada
tangan Engkau, dan kejahatan iotu tidak kepada Engkau. Aku dengan Engkau dan
kembali kepada Engkau. Engkaulah yang Maha Memberkati dan Maha Mulia, aku
mohon ampun dan bertobat pada Engkau.
Ta'awwudz
" اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Basmalah
بسم الله الرحمن الرحيم
Fatihah
83
الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم مالك يوم الدين اياك نعبد
واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين انعمت عليهم غير
المغضوب عليهم ولا الضآلّين
Ta'min
آمين
Tasbih dalam ruku'
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللهُمَّ اغْفِرْلِىْ
Atau
سُبْحَانَكَ رَبِّىَ العَظِيمِ
Atau
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
Tasbih dalam I'tidal
سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ
Atau
نْ 􀑧 ئْتَ مِ 􀑧 لْءَ مَاشِ 􀑧 لْءَ اْلاَرْضِ وَمِ 􀑧 موَاتِ وَمِ 􀑧 لْءَ السَ 􀑧 دُ مِ 􀑧 كَ الْحَمْ 􀑧 ا لَ 􀑧 مََ رَبَّنَ 􀑧 اللهُ
شَيْءٍ بَعْدُ
Atau
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا آَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَآًا فِيْهِ
Tasbih dalam sujud
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللهُمَّ اغْفِرْلِىْ
Atau
سُبْحَانَكَ رَبِّىَ الأَعْلَى
Atau
سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ المَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ
Do'a waktu duduk antara dua sujud
84
اللَّهُمَّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَاجْبُرْنِى وَاهْدَنِى وَارْزُقْنِى
Bacaan Tasyahhud
التَّحِيَّاتُ للهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ الله
وَبَرَآَاتُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِالله الصَّالِحِينَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسَولَهُ
Do'a Shalawat kepada Nabi
ى 􀑧 رَاهِيمَ وَ عَلَ 􀑧 ى اِبْ 􀑧 لَّيْتَ عَلَ 􀑧 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ, آَمَا صَ
رَاهِيمَ وَ اَلِ 􀑧 اَلِ اِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اَلِ مُحَمَّدٍ آَمَا بَارَآْتَ عَلَى اِبْ
اِبْرَاهِيمَ. اِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Do'a setelah tasyahhud awwal
اغْفِرْلِى 􀑧 تَ فَ 􀑧 ذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْ 􀑧 رُ ال 􀑧 رًا وَلاَ يَغْفِ 􀑧 ا آَثِيْ 􀑧 ى ظُلْمً 􀑧 تُ نَفْسِ 􀑧 ى ظَلَمْ 􀑧 مَّ اِنِّ 􀑧 اللهُ
مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِى اِنَّكَ اَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Do'a setelah tasyahhud akhir
ا 􀑧 ةِ اْلمَحْيَ 􀑧 نْ فِتْنَ 􀑧 رِ وَ مِ 􀑧 ذَابِ اْلقَبْ 􀑧 نْ عَ 􀑧 نَّمَ وَمِ 􀑧 ذَابِ جَهَ 􀑧 اللهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَ
وَاْلمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
Salam
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَآَاتُهُ
85
آِتَابُ الْجَنَائِزِ
KITAB JANAZAH
مُقَدِّمَةٌ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
لِمُونَ 􀑧 تُمْ مُسْ 􀑧 وتُنَّ إِلاَّ وَأَنْ 􀑧 ا تَمُ 􀑧 هِ وَلَ 􀑧 قَّ تُقَاتِ 􀑧 هَ حَ 􀑧 وا اللَّ 􀑧 وا اتَّقُ 􀑧 ذِينَ ءَامَنُ 􀑧 ا الَّ 􀑧 يَاأَيُّهَ
( ( آلِ عِمْرَانَ: 102
و نَ 􀑧 وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُ
( (آلِ عِمْرَانَ: 157
PENDAHULUAN
Dengan menyebut nama Allah, Maha Penyayang Maha Pengasih
Hai orang-orang yang beriman, takutlah(berbaktilah) kamu kepada Allah, dengan
sebenar-benar takut(bakti) kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati,
kecuali kamu berada dalam Islam. (QS. Ali Imran:102)
Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan
Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka
kumpulkan. (QS. Ali Imran:157)
آَيْفِيَّةُ التَّجْهِيْزِ
هُ 􀑧 نْ ظَنَّ 􀑧 رَ فَلْيُحْسِ 􀑧 وْدُوْهُ( 2) وَإِذَا اخْتُضِ 􀑧 بِرْ ( 1) وَلْتَعُ 􀑧 دُآُمْ فَلْيَصْ 􀑧 رِضَ أَحَ 􀑧 إِذَا مَ
وْهُ 􀑧 هَ إِلاَّ اللهُ"( 5) وَوَجِّهُ 􀑧 وْهُ "لاَ إِل 􀑧 رًا( 4) وَلَقِّنُ 􀑧 رَكَ خَيْ 􀑧 وْصِ إِنْ تَ 􀑧 اللهِ( 3) وَلْيُ 􀑧 بِ
وْبٍ 􀑧 وْهُ بِثَ 􀑧 هُ( 8) وَغَطُّ 􀑧 وْا لَ 􀑧 هِ( 7) وَادْعُ 􀑧 وْا عَيْنَيْ 􀑧 اتَ فَغَمِّضُ 􀑧 مَّ إِذَا مَ 􀑧 الْقِبْلَةَ( 6). ثُ
وْهُ 􀑧 زُوْهُ( 11 ) وَانْعُ 􀑧 ا نَ( 10 ) فَجَهِّ 􀑧 هِ إِنْ آَ 􀑧 اءِ دَيْنِ 􀑧 ادِرُوْا بِقَضَ 􀑧 مَّ بَ 􀑧 نٍ( 9). ثُ 􀑧 حََسَ
( لأَهْلِهِ وَإِخْوَانِهِ الْمُسْلِمِيْنَ( 12
CARA PERSEDIAAN
Bilamana seorang dari kamu sakit, maka hendaklah sabar(1) dan hendaklah ia
kamu jenguk(2). Dan bila ia hampir sampai kepada ajalnya, maka hendaklah ia
bersangka baik kepada Allah(3) dan berwasiatlah kalau ia meninggalkan barang
86
milik(4). Hendaklah ia kamu talqinkan (tuntun baca) orang yang akan meninggala
"LAA ILAAHA ILLA LLAH"(5) dan hadapkan ia ke arah qiblat(6). Kemudian
bilamana ia meninggal, maka pejamkanlah matanya(7) dan doakanlah baginya(8)
serta selubungilah ia dengan kain yang baik(9). Kemudian lunasilah hutangnya
dengan segera, kalau ia berhutang(10). Lalu segeralah pemeliharaannya(11) dan
kabarkanlah kepada kerabat dan teman-temannya kaum muslimin(12).
آَيْفِيَّةُ غُسْلِ الْمَيِّتِ
( وْءِ( 13 􀑧 عِ الْوُضُ 􀑧 امِنِ وَمَوَاضِ 􀑧 دَؤُوْا بِالْمَيَ 􀑧 تِ فَابْ 􀑧 لَ الْمَيِّ 􀑧 مْ غُسْ 􀑧 إِذَا أَرَدْتُ
وْا 􀑧 دْرٍ وَاجْعَلُ 􀑧 اءٍ وَسِ 􀑧 كَ بِمَ 􀑧 نْ ذَلِ 􀑧 رَ مِ 􀑧 ا أَوْ أَآْثَ 􀑧 ا أَوْ خَمْسً 􀑧 وَاغْسِلُوْا وِتْرًا ثَلاَثً
ةَ 􀑧 رْأَةِ ثَلاَثَ 􀑧 عْرَ الْمَ 􀑧 فَرُوْا شَ 􀑧 فِي الْغَسْلَةِ اْلأَخِيْرَةِ آَافُوْرًا أَوْ شَيْئًا مِنْهُ، وَاضْ
لَ وَ 􀑧 لُ الرَّجُ 􀑧 لْ الرَّجُ 􀑧 فَ ةٍ( 15 ) وَلْيَغْسِ 􀑧 وِ مِنْشَ 􀑧 وْهُ بِنَحْ 􀑧 مَّ جَفِّفُ 􀑧 رُوْنٍ( 14 ) ثُ 􀑧 قُ
.( لأَحَدِ الزَّوْجَيْنِ أَنْ يَغْسِلَ اْلآخَرَ( 16 ) وَاآْتُمُوْا عَيْبَهُ( 17
CARA MEMANDIKAN MAYAT
Kalau kamu hendak memandikan mayat maka mulailah dari anggota kanannya
serta anggota wudlu(13) dan mandikanlah dengan bilangan gasal, tiga atau lima
kali atau lebih dari itu, dengan air dan daun bidara, serta pada kali yang terakhir
taruhlah kapur barus meskipun sedikit, dan jalinlah rambut mayat perempuan tiga
pintal(14), lalu keringkanlah dengan handuk misalnya(15). Hendaklah mayat pria
dimandikan oleh orang pria, dan dibenarkan bagi salah seorang dari suami-istri
memandikan lainnya(16). Dan tutupilah kalau ada cela tubuhnya(17).
تَكْفِيْنُ الْمَيِّتِ
عِ 􀑧􀑧 اتِرَةٍ لِجَمِيْ 􀑧􀑧 يْ ضٍ( 19 ) سَ 􀑧􀑧 ابٍ بِ 􀑧􀑧 ي ثِيَ 􀑧􀑧 نً ا( 18 ) فِ 􀑧􀑧 ا حَسَ 􀑧􀑧 تَ آَفَنً 􀑧􀑧 وْا الْمَيِّ 􀑧􀑧 وَآَفِّنُ
رِمِ 􀑧 تَ الْمُحْ 􀑧 بَدَنِهِ( 20 ) وَإِذَا أَجْمَرْتُمُوْهُ فَأَجْمِرُوْهُ ثَلاَثًا( 21 ) وَحَنِّطُوْهُ إِلاَّ الْمَيِّ
لَ 􀑧 وْا الرَّجُ 􀑧 بٍ( 22 ) وَآَفِّنُ 􀑧 وْهُ بِطِيْ 􀑧 وْهُ وَلاَ تَمَسُّ 􀑧 هُ وُلاَ تُحَنِّطُ 􀑧 رُوا رَأْسَ 􀑧 لاَ تُخَمِّ 􀑧 فَ
مَّ 􀑧 ةِ ثُ 􀑧 مَّ الْمِلْحَفَ 􀑧 ارِ ثُ 􀑧 مَّ الْخِمَ 􀑧 دِّرْعِ ثُ 􀑧 مَّ ال 􀑧 ا ثُ 􀑧 رْأَةُ بِالْحِقَ 􀑧 وَا بٍ( 23 ) وَالْمَ 􀑧 ةَ أَثْ 􀑧 ثَلاَثَ
.( الثَّوْبِ( 24 ) وَلاَ تُغَالُوْا فِي الْكَفَنِ( 25
87
CARA MENGAFAN MAYAT
Kafan-(bungkus)-lah mayat itu dengan baik-baik(18) dalam kain putih(19) yang
menutup seluruh tubuhnya(20). Dan bila kamu hendak mengukupnya, maka
ukuplah ia tiga kali(21), lulutlah ia dengan bau-bauan yang harum (cendana),
kecuali mayat yang sedang berihram, maka janganlah kamu tudungi kepalanya,
jangan kamu lulut badannya dan jangan pula kamu kenakan harum-haruman(22).
Kafanilah mayat pria dalam tiga helai kain(23) dan mayat wanita dengan kain
basahan, baju kurung, kudung-selubung lalu kain(24). Jangan berlebih-lebihan
dalam hal kafan(25).
آَيْفِيَّةُ الصَّلاَةِ عَلَى الْمَيِّتِ
ةٍ 􀑧 ثُمَّ صَلُّوْا عَلَى الْمَيِّتِ بَعْدَ آَمَالِ طَهَارَتِهِ وَآَفَنِهِ بِشُرُوْطِ الصَّلاَةِ ( 26 ) بِنِيَّ
يِّ 􀑧 ى النَبِ 􀑧 لُّوْا عَلَ 􀑧 ةَ وَصَ 􀑧 رَؤُوْا الْفَاتِحَ 􀑧 مَّ اقْ 􀑧 رُوْا ثُ 􀑧 هِ ا للهِ( 27 ) وَآَبِّ 􀑧 ةٍ لِوَجْ 􀑧 خَالِصَ
مَّ 􀑧 وْا ثُ 􀑧 رُوْا ادْعُ 􀑧 مَّ آَبِّ 􀑧 دُّعَاءَ ثُ 􀑧 هُ ال 􀑧 وْا لَ 􀑧 مَّ أَخْلِصُ 􀑧 صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ آَبِّرُوْا ثُ
وِ: " 􀑧 دُّعَاءُ بِنَحْ 􀑧 وْنُ ال 􀑧 رَةٍ، وَيَكُ 􀑧 لِّ تَكْبِيْ 􀑧 دَ آُ 􀑧 دِيَكُمْ عِنْ 􀑧 يْنَ أَيْ 􀑧 آَبِّرُوْا ثُمَّ ادْعُوْا رَافِعِ
هُ 􀑧 عْ مُ دْخَلَ 􀑧 هُ وَوَسِّ 􀑧 رِمْ نُزُلَ 􀑧 هُ وَأَآْ 􀑧 فُ عَنْ 􀑧 هِ وَاعْ 􀑧 هُ وَعَافِ 􀑧 هُ وَارْحَمْ 􀑧 رْ لَ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 اللَّهُ
دَّنَسِ 􀑧 نْ ال 􀑧 أَبْيَضُ مِ 􀑧 وْبُ الْ 􀑧 ى الثَّ 􀑧 ا يُنَقَّ 􀑧 وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْجٍ وَنَقِّهِ مِن الْخَطَايَا آَمَ
هِ 􀑧 نْ زَوْجِ 􀑧 رًا مِ 􀑧 ا خَيْ 􀑧 هِ وَزَوْجً 􀑧 وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِ
ا 􀑧 اهِدِنَا وَغَائِبِنَ 􀑧 ا وَشَ 􀑧 ا وَمَيِّتِنَ 􀑧 رْ لِحَيِّنَ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 هُ" أَوْ " اللَّهُ 􀑧 رِ وَعَذَابَ 􀑧 ةَ الْقَبْ 􀑧 هِ فِتْنَ 􀑧 وَقِ
وَصَغِيرِنَا وَآَبِيرِنَا وَذَآَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلامِ
لَّى 􀑧 وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيمَانِ" أَوْ غَيْرِهِمَا مِمَّا وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَ
لِّمُوْا 􀑧 اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ولِلطِّفْلِ: " اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَ فَرَطًا وَأَجْرًا" ثُمَّ سَ
هِ 􀑧 لُّوا عَلَيْ 􀑧 جِ دِ( 29 ). وَصَ 􀑧 ي الْمَسْ 􀑧 آَتَسْلِيْمِ الصَّلاَةِ( 28 ) وَلَنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْهِ فِ
طِ 􀑧 ذَّآَرِ وَوَسَ 􀑧 دَ رَأْسِ ال 􀑧 امُ عِنْ 􀑧 يَقُمِ اْلإِمَ 􀑧 فُوْفٍ( 30 )، وَلْ 􀑧 ةِ صُ 􀑧 ى ثَلاَثَ 􀑧 ةً عَلَ 􀑧 جَمَاعَ
عَ 􀑧 ى تَرْتَفِ 􀑧 ةً حَتَّ 􀑧 مْسُ بَازِغَ 􀑧 عُ الشَّ 􀑧 يْنَ تَطْلُ 􀑧 هِ حِ 􀑧 لُّوْا عَلَيْ 􀑧 رْأَةِ( 31 )، وَلاَ تُصَ 􀑧 الْمَ
( وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرِةِ وَحِيْنَ تَضِيْفُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ( 32
CARA MENSHALATKAN MAYAT
Sesudah sempurna dimandikan dan dikafan, maka sembahyangkanlah mayat itu
dengan syarat-syarat shalat(26) dengan niyat yang ikhlas karena Allah(27) dan
takbir-lah lalu bacalah Fatihah dan shalawat atas Nabi saw lalu takbir, lalu
88
berdo'alah dengan ikhlas bagi mayat, maka takbirlah dengan berdo'a, lalu
takbirlah kemudian do'a dengan mengangkat tangan pada tiap kali takbir. Do'a itu
umpamanya: Allahummaghfirlahu- warhamhu- wa'a- fi-hi wa'fu 'anhu, wa akrim
nuzulahu- wa wassi' madkhalahu- waghsilhu bima-in wa tsaljin, wa naqqihiminal
khatha-ya- kama- yunaqqats tsaubul abyadlu minad danas, wa abdilhu daran
khairan min da-rihi- wa ahlan khairan min ahlihi- wa zaujan khairan min
zaujihi- wa qihi- fitnatal qabri wa'adza-bah. Atau: Alla-hummaghfir lihayyinawa
mayyitina- wa sya-hidina- wa gha-ibina- wa shaghi-rina- wa kabi-rina wa
dzakarina- wa untsa-na- Alla-humma man ahyaitahu- minna- fa ahyihi- 'alal Islam,
wa man tawaffaitahu- minna- fa tawaffahu- 'alal i-ma-n. Atau lain-lain do'a
yang berasal dari Nabi saw. Dan do'a bagi anak-anak: Alla-hummaj 'alhu lanasalafan
wa farathan wa ajran. Lalu bersalamlah seperti salam shalat(28).
Dan bolehlah kita menshalatkannya di dalam masjid (29). Shalatkan ia,
berjama'ah tiga baris (30). Dan hendaklah imam berdiri pada arah kepala mayat
pria dan arah tengah(lambung) mayat wanita(31).
Janganlah menshalatkan pada waktu terbit matahari kecuali sesudah naik,
pada waktu tengah-tengah hari dan pada waktu hampir terbenam matahari kecuali
sesudah terbenam (2).
89
آَيْفِيَّةُ الدَّفْنِ
يِّعُوْهَا 􀑧 رِعِيْ نَ( 33 ) وَشَ 􀑧 رَةِ مُسْ 􀑧 ثُمَّ احْمِلُوْا الْجَنَازَةَ بَعْدَ الصَّلاَةِ عَلَيْهِ إِلَى الْمَقْبَ
( يِيْ عِ( 35 􀑧 مَاشِيْنَ حَوْلَهَا قَرِيْبِيْنَ مِنْهَا صَامِتِيْنَ( 34 )، وَلاَتَخْرُجِ النِّسَاءُ لِلتَّشْ
مْ أَوْ 􀑧 ى تَخْلُفَكُ 􀑧 وْا حَتَّ 􀑧 ازَةَ فَقُوْمُ 􀑧 تُمُ الْجَنَ 􀑧 عَ( 26 ) وَإِذَا رَأَيْ 􀑧 وَلاَتَجْلِسُوْا حَتَّى تُوْضَ
.( قٍ( 38 􀑧 نٍ عَمِيْ 􀑧 رٍ حَسَ 􀑧 يْ حَفْ 􀑧 ا فِ 􀑧 وْدِيٍّ( 37 )، وَادْفِنُوْهَ 􀑧 ازَةَ يَهُ 􀑧 وْ جَنَ 􀑧 عَ وَلَ 􀑧 تُوْضَ
رَةِ 􀑧􀑧 يْ مَقْبَ 􀑧􀑧 بً ا( 39 ) فِ 􀑧􀑧 بِنَ نَصْ 􀑧􀑧 ا اللَّ 􀑧􀑧 بُوْا عَلَيْهَ 􀑧􀑧 دًا وَانْصِ 􀑧􀑧 ا لَحْ 􀑧􀑧 دُوْا لَهَ 􀑧􀑧 وَأَلْحِ
عِهِ 􀑧 دَ وَضْ 􀑧 وْا عِنْ 􀑧 رِ( 31 ) وَقُوْلُ 􀑧 يِ الْقَبْ 􀑧 لِ رِجْلَ 􀑧 نْ قِبَ 􀑧 الْمُسْلِمِيْنَ( 40 ) وَأَدْخِلُوْهَا مِ
رِ 􀑧 ى قَبْ 􀑧 تُرُوْا عَلَ 􀑧 هِ "( 42 ). وَاسْ 􀑧 ولِ اللَّ 􀑧 ةِ رَسُ 􀑧 ى مِلَّ 􀑧 هِ وَعَلَ 􀑧 مِ اللَّ 􀑧 رِهِ: "بِسْ 􀑧 يْ قَبْ 􀑧 فِ
( هُ( 44 􀑧 ارِفْ لَيْلَتَ 􀑧 مْ يُقَ 􀑧 نْ لَ 􀑧 ا مَ 􀑧 ي قَبْرِهَ 􀑧 زِلْ فِ 􀑧 ا( 43 ) وَلْيَنْ 􀑧 يْنَ دَفْنِهَ 􀑧 ى حِ 􀑧 اْلأُنْثَ
ةً 􀑧 مْسُ بَازِغَ 􀑧 عُ الشَّ 􀑧 وَضَعُوْهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ( 45 ). وَلاَتَقْبُرُوْا مَوْتَاآُمْ حِيْنَ تَطْلُ
رُبَ 􀑧 ى تَغْ 􀑧 رُوْبِ حَتَّ 􀑧 يْفُ لِلْغُ 􀑧 حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ وَحِيْنَ تَضِ
وْا 􀑧 ا ءً( 48 ) وَعَلِّمُ 􀑧 هِ بِنَ 􀑧 وْا عَلَيْ 􀑧 46 ) وَلاَ تَرْفَعُوْا زِيَادَةً عَلَى شِبْرٍ( 47 ) وَلاَتَبْنُ )
،( ا( 50 􀑧 هِ ثَلاَثً 􀑧 عَلَيْهِ بِنَحْوِ حَجَرٍ عِنْدَ رَأْسِهِ( 49 ). وَاحْثُوْا عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِ
،( ةِ( 51 􀑧􀑧 تَقْبِلِي الْقِبْلَ 􀑧􀑧 وْا مُسْ 􀑧􀑧 دُ فَاجْلِسُ 􀑧􀑧 دْ بَعْ 􀑧􀑧 مْ يُلْحَ 􀑧􀑧 رِ وَلَ 􀑧􀑧 ى الْقَبْ 􀑧􀑧 تُمْ إِلَ 􀑧􀑧 وَإِذَا انْتَهَيْ
رَغْتُمْ 􀑧 وَلاَتَجْلِسُوْا عَلَى قَبْرٍ( 52 )وَلاَتَمْشُوْا بَيْنَ الْقُبُوْرِ بِسِبْتِيَّتَيْنِ( 53 )، فَإِذَا فَ
.( مِنْ دَفْنِهِ فَادْعُوْا وَاسْتَغْفِرُوْا لَهُ وَاسْأَلُوْا لَهُ التَّثْبِيْتَ( 54
CARA MENGUBUR MAYAT
Sesudah dishalatkan, bawalah janazah itu ke pekuburan dengan cepatcepat
(33) dan iringilah ia dengan berjalan di sekelilingnya, dekat padanya,
dengan diam(34). Dan janganlah orang wanita pergi mengiringinya (35). Dan
janganlah kamu duduk sehingga janazah itu diletakkan(36).
Dan apabila kamu melihat janazah, meskipun janazah Yahudi, maka
berdirilah sehingga melalui kamu atau diletakkan (37).
Dan kuburlah mayat itu dalam lubang yang baik dan dalam (38). Buatlah
baginya galian lahat serta pasanglah di atasnya batu-bata mentah(39) dalam
kuburan kaum muslimin(40). Masukanlah mayat itu dari arah kaki kubur(41) dan
bacalah ketika meletakkannya dalam kubur: "Bismilla-hi wa 'ala- millati Rasulilla-
h"(42). Serta tutuplah atas kubur mayat wanita waktu dikuburnya(43), dan
90
turunlah ke dalam kuburnya orang yang tak bersetubuh pada tadi malamnya (44).
Dan letakkanlah mayat itu menghadap qiblat (45).
Janganlah kamu menguburkan mayat pada waktu matahari terbit kecuali
sesudah naik, pada waktu tengah-tengah hari(matahari di arah atas kepala) dan
pada waktu hampir terbenam kecuali sesudah terbenam(46), serta janganlah
meninggikan kubur lebih dari sejengkal (47) serta janganlah kamu buat tembok di
atasnya(48) tetapi buatlah tanda di atasnya dengan batu umpanyanya, pada arah
kepalanya (49). Dan taburilah dengan tanah dari arah kepala tiga kali (50). Dan
kalau kamu tiba di kuburan sedang kubur belum selesai digali maka duduklah
menghadap qiblat (51). Dudukmu jangan di atas kuburan (52) dan janganlah kamu
berjalan di antara kuburan dengan alas kaki (53). Bila sudah selesai menguburkan
maka do'akanlah, mintakan ampun dan ketetapan hati bagi mayat (54).
التَّعْزِيَةُ
ي 􀑧 ي فِ 􀑧 مَّ أْ جِرْنِ 􀑧 ونَ اللَّهُ 􀑧 وَإِذَا أَصَابَتْكُمْ مُصِيْبَةٌ فَقُوْلُوْا: " إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُ
ى 􀑧 وْهُمْ عَلَ 􀑧 تِ وَحَثُّ 􀑧 مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا"( 55 ). وَعَزُّوْا أَهْلَ الْمَيِّ
قُّوْا 􀑧 دُوْدَ وَتَشُ 􀑧 رِبُوْا الْخُ 􀑧 تِ( 57 ) وَلاَتَضْ 􀑧 ى الْمَيِّ 􀑧 وْا عَلَ 􀑧 بْرِ( 56 ) وَلاَتَنُوْحُ 􀑧 الصَّ
.( هِ( 59 􀑧 اءِ عَلَيْ 􀑧 أْسَ بِالْبُكَ 􀑧 ةِ( 58 )، وَلاَ بَ 􀑧 دَعْوَى الْجَاهِلِيَّ 􀑧 دْعُوْا بِ 􀑧 وْبَ وَتَ 􀑧 الْجُيُ
وَاصْنَعُوْا لِآالْمَيِّتِ طَعَامًا( 60 ) وَلاَ تَجْتَمِعُوْا إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ بَعْدَ دَفْنِهِ حَيْثُ
.( يَصْنَعُوْنَ لَكُمْ الطَّعَامَ( 61
HAL MELAWAT
Bilamana kamu mendapat malapetaka maka berdo'alah: "Inna- lilla-hi wa
inna- ilaihi ra-ji'u-n. Alla-humma ajirni- fi- mushi-bati- wakhluf li- khairan
minha"(55). Lawatlah ahli mayat dan anjurilah bersabar (54). Janganlah kamu
meratapi mayat (57) dan pula menampar pipi, merobek pakaian dan meratap
ratapan jahiliyah (58), tetapi tidak mengapa menangisinya (59). Buatkanlah
makanan bagi kerabat mayat (60) dan janganlah kamu berkumpul di tempat
91
keluarga janazah sesudah dikuburnya di mana mereka membuat makanan bagi
kamu (61).
زِيَارَةُ الْقُبُوْرِ
هِ اللهُ 􀑧 أْذَنْ بِ 􀑧 الَمْ يَ 􀑧 دَهَا مَ 􀑧 وْا عِنْ 􀑧 رَةَ( 62 ) وَلاَ تَفْعَلُ 􀑧 ذْآُرُوْا اْلآخِ 􀑧 وْرَ لِتَ 􀑧 زُوْرُوْا الْقُبُ
رَةَ 􀑧 تُمُ الْمَقْبَ 􀑧 إِذَا أَتَيْ 􀑧 ى اللهِ ( 63 ). فَ 􀑧 هِ إِلِ 􀑧 لِ بِ 􀑧 تَ وَالتَّوَسُّ 􀑧 دُعَاءِآُمُ الْمَيِّ 􀑧 وْلُهُ آَ 􀑧 وَرَسُ
ونَ 􀑧 مْ لاَحِقُ 􀑧 اءَ اللهُ بِكُ 􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧 ؤْمِنِينَ وَإِنَّ 􀑧 وْمٍ مُ 􀑧 يْكُمْ دَارَ قَ 􀑧 لاَمُ عَلَ 􀑧 وْا: " السَّ 􀑧 فَقُوْلُ
مَّ 􀑧 ةَ( 65 ) ثُ 􀑧 تَقْبِلُوْا الْقِبْلَ 􀑧 دَهُ مْ" ( 64 )، وَاسْ 􀑧 ا بَعْ 􀑧 اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلاَ تَفْتِنَّ
ارَةَ 􀑧 ادْعُوْا اللهَ وَاسْتَغْفِرُوْا لَهُمْ وَاسْأَلُوْا لَهُمُ الْعَافِيَةَ( 66 ) وَلاَ تُكْثِرِ الْمَرْأَةُ زِيَ
.( الْقُبُوْرِ( 67
ZIARAH KUBUR
Ziarahlah ke kubur, agar kamu ingat akan akhirat(62) dan janganlah
mengerjakan disitu sesuatu yang tiada diizinkan oleh dan Rasul-Nya, seperti
meminta-minta kepada mayat dan membuatnya perantaraan hubungan kepada
Allah(63).
Bila kamu sekalian datang ke kuburan maka ucapkanlah: "Assala-mu
'alaikum da-ra qaumin mukmini-na wa inna- insya- Alla-hu bikum la-hiqu-n.
Alla-humma la- tahrimna- ajrahum wala- taftinna- ba'dahum" (64); kemudian
menghadaplah qiblat (65) lalu berdo'a kepada Allah, memintakan ampun dan
'afiyat bagi mereka(66). Jangan orang perempuan sering berziarah ke kubur(67).
92
الأَدِلَّةُ
ALASAN (DALIL)
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 لَّى اللهُ عَلَيْ 􀑧 يَّ صَ 􀑧 هُ أَ نَّ النَّبِ 􀑧 يَ اللهُ عَنْ 􀑧 1) لِحَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِ )
وْمِ 􀑧 هِ آَيَ 􀑧 نْ ذُنُوبِ 􀑧 رَجَ مِ 􀑧 قَالَ: مَنْ مَرِضَ فَصَبَرَ وَرَضِيَ بِهَا عَنِ اللهِ خَ
.( وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي) (السِّرَاجُ الْمُنِيْرُ ج 3 ص 358
Menilik hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi s.a.w bersabda: "Barang siapa
sakit satu malam, maka ia sabar dan pasrah kepada Allah, terlepaslah ia
dari dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya".
(Diriwayatkan oleh Tirmidzi tersebut dalam kitab Siarajul Munir juz III
halaman: 358).
هِ 􀑧 لَّى اللهُ عَلَيْ 􀑧 وْل اللهِ صَ 􀑧 هُ أَنَّ رَسُ 􀑧 يَ اللهُ عَنْ 􀑧 رَةَ رَضِ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 2) لِحَ )
ادَةُ 􀑧 لاَمِ وَعِيَ 􀑧 سٌ: رَدُّ السَّ 􀑧 لِمِ خَمْ 􀑧 ى الْمُسْ 􀑧 لِمِ عَلَ 􀑧 قُّ الْمُسْ 􀑧 ا لَ: حَ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 وَسَ
اطِ سِ. 􀑧􀑧 مِيتُ الْعَ 􀑧􀑧 دَّعْوَةِ وَتَشْ 􀑧􀑧 ةُ ال 􀑧􀑧 ائِزِ وَإِجَابَ 􀑧􀑧 اعُ الْجَنَ 􀑧􀑧 رِيضِ وَاتِّبَ 􀑧􀑧 الْمَ
الْحَدِيْثَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Mengingat hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: "Hak
orang muslim, atas orang muslim ada lima: 1. Menjawab salam, 2.
Mengunjungi orang sakit, 3. Mengiring janazah, 4. Mendatangi undangan
dan 5. Mendo'akan orang bersin … " seterusnya hadits. (HR. al-Bhukhari
dan Muslim).
لَ 􀑧 ولُ قَبْ 􀑧 لَّمَ يَقُ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 وْل اللهِ صَ 􀑧 3) لِحَدِيْثِ جَابِرٍ: سَمِعْتُ رَسُ )
لِمٌ ). 􀑧 مَوْتِهِ لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُآُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّه.ِ (أَخْرَجَهُ مُسْ
ي 􀑧 وَ فِ 􀑧 ابٍّ وَهُ 􀑧 ى شَ 􀑧 لَ عَلَ 􀑧 لَّمَ دَخَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 وَلِحَدِيْثِ أَنَسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
هَ 􀑧 و اللَّ 􀑧 ي أَرْجُ 􀑧 هِ أَنِّ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 ا رَسُ 􀑧 هِ يَ 􀑧 الَ وَاللَّ 􀑧 الْمَوْتِ فَقَالَ آَيْفَ تَجِدُكَ؟ قَ
وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي. فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ
ا 􀑧 هُ مِمَّ 􀑧 و وَأَمَّنَ 􀑧 ا يَرْجُ 􀑧 هُ مَ 􀑧 اهُ اللَّ 􀑧 وْطِنِ إِ لاَّ أَعْطَ 􀑧 ذَا الْمَ 􀑧 لِ هَ 􀑧 ي مِثْ 􀑧 دٍ فِ 􀑧 عَبْ
يَخَافُ. (أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِي).
93
Menilik hadits Jabir, bahwa ia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda
sebelum wafatnya: "Janganlah seorang dari kamu semua mati, kecuali
berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah" . (HR. Muslim).
Dan menilik hadits Anas bahwa Nabi s.a.w masuk kepada seorang
pemuda yang hamper pada ajalnya, maka belia bersabda: bagaimana
perasaanmu? Jawabnya: "Aku berharap kepada Allah dan khawatir akan
dosa-dosaku". Maka beliau saw. Bersabda: Kalau berkumpul kedua sifat
itu dalam hati seorang hamba pada peristiwa seperti ini tentulah Allah
memberikan apa yang diharapkan dan melindunginya dari apa yang
ditakutkan". (HR. at-Tirmidzi).
رًا 􀑧 رَكَ خَيْ 􀑧 وْتُ إِنْ تَ 􀑧 دَآُمُ الْمَ 􀑧 رَ أَحَ 􀑧 يْكُمْ إِذَا حَضَ 􀑧 بَ عَلَ 􀑧 الى: آُتِ 􀑧 هِ تع 􀑧 4) لِقَوْلِ )
.( الْوَصِيَّةُ (البقرة: 180
Mengingat firman Allah Ta'ala: "diwajibkan kamu, bilamana seorang dari
kamu keadatangan mati, kalau meninggalkan harta benda(harta warisan)
supaya berwashiyatlah". (QS. Al-Baqarah: 180).
5) لِحَدِيْثِ أَبِي سَعِيدٍ عَنِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَقِّنُوا مَوْتَاآُمْ )
ى 􀑧 "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ". (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلاَّ الْبُخَارِيُّ). أَمَّا قِرَاءَةُ يس عَلَ
الْمُحْتَضَرِ فَلَيْسَ لَهَا أَصْلٌ ثَابِتٌ.
Karena hadits Abu Sa'id dari pada Nabi s.a.w. bahwa beliau bersabda:
"Talqinkanlah mayatmu(orang yang akan meninggal) dengan mengucap: "
La- ila-ha illa- lla-h".. (HR. Jama'ah kecuali al-Bhukhari).
Bacaan Surat Yasin pada orang yang hampir mati itu tiada ada dalilnya
yang shahih.
94
رُوْرٍ 􀑧 نَ مَعْ 􀑧 رَاءَ بْ 􀑧 ادَةَ أَنَّ اْلبَ 􀑧 ي قَتَ 􀑧 نْ أَبِ 􀑧 ي عَ 􀑧 اآِمُ وَاْلبَيْهَقِ 􀑧 ا رَوَى اْلحَ 􀑧 6) لِمَ )
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 أَوْصَى أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى اْلقِبْلَةِ، فَقَالَ رَسُوْل اللهِ صَ
أَصَابَ الْفِطْرَةَ.
Menilik hadits Abu Qatadah, bahwa Bara' bin Ma'rur yang berwashiyat
supaya dihadapkan ke qiblat: maka sabda sabda Nabi s.a.w: "Ia
mencocoki fithrah". (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).
7) و( 8) لِحَدِيْثِ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )
رُّوحَ إِذَا 􀑧 الَ إِنَّ ال 􀑧 مَّ قَ 􀑧 هُ. ثُ 􀑧 رُهُ فَأَغْمَضَ 􀑧 قَّ بَصَ 􀑧 دْ شُ 􀑧 لَمَةَ وَقَ 􀑧 ي سَ 􀑧 ى أَبِ 􀑧 عَلَ
ى 􀑧 دْعُوا عَلَ 􀑧 ا لَ: لاَ تَ 􀑧 هِ فَقَ 􀑧 نْ أَهْلِ 􀑧 اسٌ مِ 􀑧 جَّ نَ 􀑧 رُ. فَضَ 􀑧 هُ الْبَصَ 􀑧 بِضَ تَبِعَ 􀑧 قُ
الَ: 􀑧 مَّ قَ 􀑧 و نَ. ثُ 􀑧 ا تَقُولُ 􀑧 ى مَ 􀑧 ؤَمِّنُ عَلَ 􀑧 ةَ تُ 􀑧 إِنَّ الْمَلاَئِكَ 􀑧 رٍ، فَ 􀑧 كُمْ إِلاَّ بِخَيْ 􀑧 أَنْفُسِ
ي 􀑧 هُ فِ 􀑧 حْ لَ 􀑧 دِيِّينَ وَافْسَ 􀑧 ي الْمَهْ 􀑧 هُ فِ 􀑧 "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَ
قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ". (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).
Mengingat hadits Umi Salamah katanya: Rasulullah s.a.w datang kepada
Abi Salamah (di waktu sampai pada ajalnya) padahal matanya celik, maka
beliau memejamkannya". Kemudian Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya
ruh itu kalau dipecatkan, diikuti oleh mata". Maka bergemuruhlah orangorang
dari ahlinya, maka beliau bersabda: "Janganlah mendo'akan atas
dirimu kecuali kebaikan, karena sesungguhnya Malaikat itu mengamini
atas apa yang kamu katakana". Kemudian sabdanya: Ya Allah, ampunilah
Abu Salamah, junjunglah derajatnya setinggi derajat orang-orang yang
shalih, lapangkan dan beri gantinya pada sepeninggalnya" . (HR. Muslim).
.- 8) آَمَا فِيْ الْحَدِيْثِ فِيْ الرَّقْمِ - 7 )
Sebagaimana hadits pada nomor -7-.
وُفِّيَ 􀑧 ينَ تُ 􀑧 لَّمَ حِ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 ةَ أَنَّ رَسُ 􀑧 دِيْثِ عَائِشَ 􀑧 9) لِحَ )
سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
95
Menilik hadits 'Aisyah r.a bahwa ketika wafat Rasulullah saw. beliau
dirahap dengan kain hibarah(sejenis kain Yaman yang bercorak). (HR. al-
Bhukhari dan Muslim).
سُ 􀑧 الَ: نَفْ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يِّ صَ 􀑧 نِ النَّبَ 􀑧 رَةَ عَ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 10 ) لِحَ )
انَ 􀑧 نُ حِبَّ 􀑧 دُ وَابْ 􀑧 هُ. ( رَوَاهُ أَحْمَ 􀑧 ى عَنْ 􀑧 ى يُقْضَ 􀑧 هِ حَتَّ 􀑧 ةٌ بِدَيْنِ 􀑧 ؤْمِنِ مُعَلَّقَ 􀑧 الْمُ
وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ).
Mengingat hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi s.a.w bersabda: "Nyawa
orang mukmin itu bergantung dengan hutangnya sehingga
dilunasinya".(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi dengan
mengatakan: Hadits Hasan)
ا 􀑧 ةٌ يَ 􀑧 ا لَ: ثَلاَثَ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 يٍّ أَنَّ رَسُ 􀑧 دِيْثِ عَلِ 􀑧 11 ) لِحَ )
مُ إِذَا 􀑧 رَتْ وَاْلأَيِّ 􀑧 ازَةُ إِذَا حَضَ 􀑧 تْ وَالْجَنَ 􀑧 لاَةُ إِذَا أَتَ 􀑧 ؤَخَّرْنَ الصَّ 􀑧 يُّ لاَ يُ 􀑧 عَلِ
نُ 􀑧 ذِيُّ وَابْ 􀑧 ا التِّرْمِ 􀑧 اهُ أَيْضً 􀑧 رَجَ بِمَعْنَ 􀑧 دُ وَأَخْ 􀑧 هُ أَحْمَ 􀑧 ؤً ا. (أَخْرَجَ 􀑧 وَجَدَتْ آُفُ
مَاجَهَ وَالْحَاآِمُ وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمْ).
Karena hadits 'Ali, Rasulullah s.a.w bersabda: "Tiga perkara hai 'Ali, tidak
boleh dipertangguhkan, yaitu shalat bila datang waktunya, janazah bila
telah terang matinya dan wanita tidak bersuami bila telah menemukan
jodohnya ". (HR. Ahmad dan yang sepadan artinya dengan hadits itu
diriwayatkan oleh at-Tirmadzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan Ibnu Hibban dll
).
يَ 􀑧 حَابِ هِ رَضِ 􀑧 12 ) لِمَا رَوَاهُ الشَّيْخَانِ: أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى لأَصْ )
ي 􀑧 نَ أَبِ 􀑧 ر بْ 􀑧 اللهُ عَنْهُ النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ. وَأَنَّهُ نَعَى جَعْفَ
ا 􀑧 طَالِبٍ وَزَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَ عَبْدَ اللهِ بْنَ رَوَاحَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. وَلِمَ
مُّ 􀑧 انَ يَقُ 􀑧 ا نٍ آَ 􀑧 ي إِنْسَ 􀑧 الَ فِ 􀑧 لَّ مَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هُ صَ 􀑧 رَوَى اْلبُخَارِي أَنَّ
ا 􀑧 ةٍ: مَ 􀑧 ي رِوَايَ 􀑧 هِ؟ وَفِ 􀑧 الْمَسْجِدَ فَمَاتَ فَدُفِنَ لَيْلاً. أَفَلاَ آُنْتُمْ آذَنْتُمُوْنِيْ بِ
مَنَعَكُمْ أَنْ تُعْلِمُونِي؟ الْحَدِيْثَ.
96
Menilik hadits riwayat Bhukhari dan Muslim, bahwa Nabi s.a.w
memberitakan kematian Raja Najasyi kepada sahabat-sahabat r.a pada hari
mangkatnya. Dan beliau memberitakan kematian Ja'far bin Abu Thalib,
Zaid bin Haritsah dan 'Abdullah bin Rawahah r.a.".
Begitu juga yang diriwayatkan oleh Bhukhari bahwa beliau saw. bersabda
tentang orang yang menyapu masjid yang meninggal di kubur pada malam
itu: "Tidak sudikah kamu memberitakannya padaku'? dan ada riwayat lain,
Nabi saw bersabda: "Mengapa kamu tidak memberitakan padaku" …
(seterusnya hadits).
ي 􀑧 لَّمَ فِ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 13 ) لِحَدِيْثِ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: قَ )
غَسْلِ ابْنَتِهِ: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا (رَوَاهُ اْلبُخَارِي
و مُسْلِمٌ)
Menilik hadits Ummu 'Athiyah, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda katika
anak perempuan beliau dimandikan: "Mulailah dengan anggota kanannya
dan anggota wudlunya". (HR. al-Bhukhari dan Muslim).
14 ) لِحَدِيْثِ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )
كَ إِنْ 􀑧 حِينَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَآْثَرَ مِنْ ذَلِ
نْ 􀑧 يْئًا مِ 􀑧 افُورًا أَوْ شَ 􀑧 رَةِ آَ 􀑧 ي اْلآخِ 􀑧 نَ فِ 􀑧 دْرٍ وَاجْعَلْ 􀑧 اءٍ وَسِ 􀑧 كَ بِمَ 􀑧 تُنَّ ذَلِ 􀑧 رَأَيْ
ا لَ: 􀑧 وَهُ فَقَ 􀑧 ا حِقْ 􀑧 اهُ فَأَعْطَانَ 􀑧 ا آذَنَّ 􀑧 ا فَرَغْنَ 􀑧 آذِنَّنِي فَلَمَّ 􀑧 رَغْتُنَّ فَ 􀑧 إِذَا فَ 􀑧 افُورٍ فَ 􀑧 آَ
ارِي 􀑧 ظٍ لِلبُخَ 􀑧 ي لَفْ 􀑧 ةُ). وَفِ 􀑧 ي إِزَارَ هُ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَ 􀑧 اهُ تَعْنِ 􀑧 عِرْنَهَا إِيَّ 􀑧 أَشْ
كِ 􀑧 نْ ذَلِ 􀑧 رَ مِ 􀑧 بْعًا أَوْ أَآْثَ 􀑧 ا أَوْ سَ 􀑧 رًا خَمْسً 􀑧 ومُسْلِمٍ وأَبِي دَاود: اغْسِلْنَهَا وِتْ
إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ. فَضَفَرْنَا شَعْرَهَا ثَلاَثَةَ قَرُوْنٍ.
Mengingat hadits Ummu 'Athiyah, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda
katika kematian anak perempuan: " Mandikanlah ia tiga atau lima kali
atau lebih dari pada itu, menurut pendapatmu, dengan air dan daun bidara,
dan pada akhirnya taruhlah kapur barus atau sedikit kapur barus. Maka
bilamana sudah selesai beritahukanlah kepadaku". Maka ketika kami telah
97
selesai, kami memberitahukannya kepada beliau. Maka beliau memberi
kepada kami kainnya seraya sabdanya: "Kenakanlah ini, yakni kainnya".
(HR. Jama'ah Ahli Hadits). Dan menurut hadits Bukhari, Muslim dan Abu
Dawud: " Mandikanlah dalam jumlah gasal, tiga atau lima atau tujuh kali
atau lebih dari pada itu menurut pendapatmu". Lalu kami menjalin
rambutnya tiga jalinan.
ي 􀑧 لَّمَ فِ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 تْ: أُدْرِجَ رَسُ 􀑧 15 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ قَالَ )
امِ 􀑧 دِيْثِ هِشَ 􀑧 لِ مٌ). وَ لِحَ 􀑧 ديث (رَوَاهُ مُسْ 􀑧 هُ. الح 􀑧 حُلَّةٍ يَمَنِيَّةٍ ثُمَّ نُزِعَتْ عَنْ
فَ 􀑧 رَ ةٍ جُفِّ 􀑧 رْ دٍ حِبَ 􀑧 يْ بُ 􀑧 فَّ فِ 􀑧 لَّ مَ لُ 􀑧 بْنِ عُرْوَةَ أَنَّ النَّبَيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَ
فِيْهِ ثُمَّ نُزِعَتْ عَنْهُ. (رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَاقِ).
Menilik hadits 'Aisyah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w diselubungi dengan
kain Yaman untuk mengeringkan, lalu dilepaskan … dan seterusnya
hadits. (HR. Muslim).
Dan Menilik hadits Hisyam bin 'Urwah bahwa Nabi s.a.w diselubungi
dengan kain hibarah untuk dikeringkan, kemudian dilepaskan. (HR.
'Abdur Razaq).
يَ اللهُ 􀑧 ةَ رَضِ 􀑧 ا: أَنَّ فَاطِمَ 􀑧 يَ اللهُ عَنْهَ 􀑧 يْسٍ رَضِ 􀑧 تِ عَمِ 􀑧 16 ) لِحَدِيْثِ أَسْمَاءَ بِنْ )
دَّارَقُطْنِيُّ). 􀑧 لاَ مُ. (رَوَاهُ ال 􀑧 هِ السَّ 􀑧 يُّ عَلَيْ 􀑧 لَهَا عَلِ 􀑧 تْ أَنْ يَغْسِ 􀑧 ا أَوْصَ 􀑧 عَنْهَ
وَلِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِي مِنْ أَّن أَبَا بَكْرٍ أَوْصَى امْرَأَتَهُ أََسْمَاءَ بِنْتَ عَمِيْسٍ
رْهُ 􀑧 مْ يُنْكِ 􀑧 عْفِهَا وَلَ 􀑧 وْفٍ لِضَ 􀑧 نِ عَ 􀑧 رَّحْمَنِ بْ 􀑧 دِ ال 􀑧 تَعَانَتْ بِعَبْ 􀑧 لَهُ وَاسْ 􀑧 أَنْ تَغْسِ
أَحَدٌ. وَلِحَدِيْثِ عَائِشَةَ أَنَّهَا تَقُوْلُ: لَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ الأَمْرِ مَا اسْتَدْبَرْتُ
دُ 􀑧 مَا غَسَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ نِسَاءِهِ. (رَوَاهُ أَحْمَ
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 نْ قَوْلِ 􀑧 حَّ مِ 􀑧 وَ أَبُوْ دَاوُدَ وَ ابْنُ مَاجَهَ وَصَحَّحَهُ). وَلِمَا ص
كِ 􀑧 لَّيْتُ عَلَيْ 􀑧 لْتُكِ وَصَ 􀑧 يْ لَغَسَ 􀑧 عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَائِشَةَ: مَا ضَرَّكِ لَوْ مُتِّ قَبْلِ
وَدَفَنْتُكِ. (رَوَاهُ الَّنَسَائِي وَابْنُ حِبَّانَ وَصَحَّحَهُ).
Menilik hadits dari Asma' binti 'Amis r.a bahwa Fathimah berwashiyat
supaya ia dimandikan oleh 'Ali r.a. (HR. Daraquthni).
98
Dan menilik hadits Baihaqi bahwa Abu Bakar berpesan pada istrinya,
Asma' binti 'Amis supaya memandikannya, kemudian ia (Asma') minta
pertolongan kepada 'Abdur Rahman bin 'Auf, karena usianya telah tua
serta tiada yang menyangkal tindakannya.
Dan mengingat hadits 'Aisyah r.a bahwa ia berkata: "Seumpama aku dapat
mengulangi barang yang telah lampau, pastilah yang memandikan
Rasulullah saw itu hanya istri-istrinya". (HR. Ahmad, Abu Dawud dan
Ibnu Majah dan dishahihkan olehnya).
Dan mengingat riwayat yang shahih dari sabda Rasulullah saw kepada
'Aisyah r.a.: Apa halangannya seumpama 'kau mati sebelumku, akulah
yang memandikan 'kau, menshalatkan 'kau dan mengubur 'kau". ( HR. an-
Nasa'I dan Ibnu Hibban serta menshahihkannya).
لَّمَ أَنَّ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 و لِ اللَّ 􀑧 17 ) لِحَدِيْثِ أبي رَافِعٍ أَسْلَمَ مَوْلَى رَسُ )
هِ، 􀑧 تَمَ عَلَيْ 􀑧 اً فَكَ 􀑧 لَ مَيِّت 􀑧 نْ غَسَ 􀑧 الَ: مَ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
رْطِ 􀑧 ى شَ 􀑧 حِيْحٌ عَلَ 􀑧 الَ: صَ 􀑧 اآِمُ وَقَ 􀑧 رَّةً. (رَوَاهُ الْحَ 􀑧 يْنَ مَ 􀑧 غَفَرَ اللهُ لَهُ أَرْبَعِ
.( مُسْلِمٍ) (رِيَاضُ الصَّالِحِيْنَ ص: 210
Karena hadits Abu Rafi' Aslam pelayan Rasulullah saw, bahwa Rasulullah
saw bersabda: " Barang siapa memandikan mayat, lalu merahasiakan cacat
tubuhnya, maka Allah memberi ampun baginya empat puluh kali". (HR.
Hakim dengan katanya shahih menurut syarat Muslim, tersebut dalam
kitab Riyadlush shalihin halaman:210).
لَّمَ إِذَا 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 ا لَ: قَ 􀑧 ادَةَ قَ 􀑧 18 ) لِحَدِيْثِ أَبِي قَتَ )
ذِي). 􀑧 هَ وَ التِّرْمِ 􀑧 نُ مَاجَ 􀑧 هُ.( رَوَاهُ ابْ 􀑧 نْ آَفَنَ 􀑧 اهُ فَلْيُحْسِ 􀑧 دُآُمْ أَخَ 􀑧 يَ أَحَ 􀑧 وَلِ
اهُ 􀑧 دُآُمْ أَخَ 􀑧 نَ أَحَ 􀑧 ال: إِذَا آَفَّ 􀑧 لَّمَ ق 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 ابِرَ صَ 􀑧 دِيْثِ جَ 􀑧 وَلِحَ
فَلْيُحْسِنْ آَفَنَهُ .( رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ).
Menurut hadits Abu Qotadah bahwa Rasulullah saw bersabda: " Bilamana
seorang dari kamu mengurusi (janazah) saudaranya, maka hendaklah
99
memperbaiki kafannya(mengafani dengan baik-baik)". (HR. Ibnu Majah
dan at-Tirmidzi).
Dan menilik hadits Jabir bahwa Nabi saw bersabda: "Apabila seorang dari
kamu mengafani saudaranya, maka hendaklah baik-baik mengafani". (HR.
Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
نْ 􀑧 وا مِ 􀑧 ال : اِلْبَسُ 􀑧 لَّ مَ ق 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 19 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ عَبَّاسٍ أن النبي صَلَّى اللَّ )
اآُ مْ. (رَوَاهُ 􀑧 ا مَوْتَ 􀑧 وا فِيهَ 􀑧 ابِكُمْ وَآَفِّنُ 􀑧 رِ ثِيَ 􀑧 نْ خَيْ 􀑧 ا مِ 􀑧 يْضَ فَإِنَّهَ 􀑧 ابِكُمْ الْبِ 􀑧 ثِيَ
الْخَمْسَةُ إِلاَّ الَّنَسَائِي وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِي).
Menilik hadits Ibnu 'Abbas bahwa Nabi saw bersabda: " Pakailah
pakaianmu yang putih, karena itu sebagus-bagusnya pakaianmu dan
kafanilah mayat-mayatmu dengan kain yang putih". (HR. Lima kecuali
an-Nasa'i dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi).
مْ 􀑧 دٍ فَلَ 􀑧 وْمَ أُحُ 􀑧 لَ يَ 􀑧 رٍ قُتِ 􀑧 نَ عُمَيْ 􀑧 عَبَ بْ 􀑧 نِ ا لأَرَتِّ: أَنَّ مُصْ 􀑧 ابِ بْ 􀑧 20 ) لِحَدِيْثِ خَبَّ )
ا 􀑧 لاَهُ وَإِذَا غَطيْنَ 􀑧 دَتْ رِجْ 􀑧 هُ بَ 􀑧 ا رَأْسَ 􀑧 ا بِهَ 􀑧 ا إِذَا غَطيْنَ 􀑧 يَتْرُكْ إِلاَّ نَمِرَةٌ. فَكُنَّ
ي 􀑧 لَّمَ نُغَطِّ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 رِجْلَيْهِ بَدَا رَأْسُهُ. فَأَمَرَنَا رَسُ
ةُ إِلاَّ 􀑧 رَ . (رَوَاهُ الْجَمَاعَ 􀑧 بِهَا رَأْسَهُ ونجعل عَلَى رِجْلَيْهِ شَيْئًا مِنَ اْلإِذْخِ
ابْنُ مَاجَهَ).
Menurut hadits Khabbab bin al-Aratti bahwa Mush'ab bin 'Umair pada
hari perang Uhud, sedang ia tidak meninggalkan sesuatu kecuali sehelai
kain loreng, maka kalau kami peruntukan menutup kepalanya tampaklah
ke dua kakinya, dan kalau kami menutup kakinya tampaklah kepalanya.
Lalu Rasulullah saw menyuruh supaya menutupkan pada kepalanya dan
supaya kakinya kami tutupi daun idzkhir. (HR. Jama'ah ahli hadits kecuali
Ibnu Majah).
100
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 ا لَ: قَ 􀑧 ي قَ 􀑧 دِ وَالْبَيْهَقِ 􀑧 21 ) لِحَدِيْثِ جَابِرٍ عِنْدَ أَحْمَ )
اآِمُ 􀑧􀑧 ا. (رَوَاهُ الْحَ 􀑧􀑧 أَجْمِرُوهُ ثَ لاَثً 􀑧􀑧 تَ فَ 􀑧􀑧 رْتُمْ الْمَيِّ 􀑧􀑧 لَّ مَ: إِذَا أَجْمَ 􀑧􀑧 هِ وَسَ 􀑧􀑧 عَلَيْ
وَصَحَّحَهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ).
Menilik hadits Jabir riwayat Ahmad dan Baihaqi, bahwa Rasulullah saw
bersabda: " Bilamana kamu hendak mengukup mayat, maka ukuplah tiga
kali ". (HR. Hakim dan dishahihkannya menurut syarat Muslim).
تْ هُ 􀑧 ذي وَقَصَ 􀑧 رِمِ ال 􀑧 دِيْثِ الْمُحْ 􀑧 ي حَ 􀑧 لَّ مَ فِ 􀑧 22 ) لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَ )
نَاقَتُهُ: لاَ تُحَنِّطُوهُ وَلاَ تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا.
لَّ مَ: 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 الَ صَ 􀑧 ا سٍ). وَقَ 􀑧 نِ عَبَّ 􀑧 نِ ابْ 􀑧 ةُ عَ 􀑧 (رَوَاهُ الْجَمَاعَ
دْرٍ 􀑧 اءٍ وَسِ 􀑧 لُوهُ بِمَ 􀑧 ا وَاغْسِ 􀑧 اغْسِلُوا الْمُحْرِمَ فِي ثَوْبَيْهِ اللَّذَيْنِ أَحْرَمَ فِيهِمَ
ثُ 􀑧 هُ يُبْعَ 􀑧 هُ فَإِنَّ 􀑧 رُوا رَأْسَ 􀑧 بٍ وَ لاَ تُخَمِّ 􀑧 وهُ بِطِي 􀑧 وَآَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ وَلاَ تَمَسُّ
ي 􀑧 ارِي فِ 􀑧 ا رَوَى الْبُخَ 􀑧 ائِي). ولِمَ 􀑧 ا. (رَوَاهُ والَّنَسَ 􀑧 ةِ مُحْرِمً 􀑧 وْمَ الْقِيَامَ 􀑧 يَ
ا 􀑧 ا ابْنً 􀑧 هُ عَنْهُمَ 􀑧 يَ اللَّ 􀑧 رَ رَضِ 􀑧 نُ عُمَ 􀑧 نَّطَ ابْ 􀑧 هِ: ج 1 ص 144 : وَحَ 􀑧 آِتَابِ
نْ 􀑧 هِ عَ 􀑧 نْ أَبِيْ 􀑧 يٍّ عَ 􀑧 نْ عَلِ 􀑧 دٍ عَ 􀑧 نَدِ زَيْ 􀑧 ي مُسْ 􀑧 ا رُوِيَ فِ 􀑧 دٍ. ولِم 􀑧 نِ زَيْ 􀑧 لِسَعِيْدِ بْ
وْلِ 􀑧 جَدِّهِ قال: آَانَ عِنْدَ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ مِسْكٌ فَضْلٌ مِنْ حَنُوْطِ رَسُ
ا 􀑧 هُ أَيْضً 􀑧 هِ. (وَ أَخْرَجَ 􀑧 نَّطَ بِ 􀑧 الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَوْصَى أَنْ يُحَ
يْرِ ج 2ص 􀑧 رَّوْضُ النَّضِ 􀑧 وَ هُ) (ال 􀑧 لٍ نَحْ 􀑧 ي وَائِ 􀑧 ى أَبِ 􀑧 نَدِهِ إِلَ 􀑧 ي بِسَ 􀑧 الْبَيْهَقِ
.(376
Karena hadits Nabi saw. ketika ada orang berihram meninggal karena
terjatuh dari untanya, bersabda: "Janganlah kamu lulut ia dengan cendana
dan jangan pula kamu tudungi kepalanya, sesungguhnya Allah akan
membangkitkannya kelak di hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyah".
(HR. Jama'ah ahli hadits dari Ibnu 'Abbad). Dan sabda Beliau saw.:
"Mandikanlah orang ihram dalam kedua pakainnya yang dipakai
berihram, dan mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafanilah ia
dengan ke dua pakaiannya serta jangan kamu kenakannya harum-haruman
dan jangan pula kamu tudungi kepalanya, sebab ia kelak di hari qiyamat
akan dibangkitkan dalam keadaan berihram". (HR. an-Nasa'i).
101
Dan menilik riwayat Bukhari dalam kitabnya juz I halaman 144, bahwa
Ibnu Umar melulutkan cendana pada anak Sa'id bin Zaid. Dan menilik
pula riwayat dalam musnad Zaid dari 'Ali dari bapaknya dari kakeknya,
bahwa ada pada 'Ali r.a kasturi sisa dari bahan luluhan Rasulullah saw dan
ia berpesan agar supaya diluluti dengan kasturi itu. Begitu pula baihaqi
meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Wail seperti itu. (Tersebut
dalam kitab Raudlun-Nadlir juz II halaman 376).
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 نَ رَسُ 􀑧 تْ: آُفِّ 􀑧 ا قَالَ 􀑧 يَ اللهُ عَنْهَ 􀑧 23 ) لِحَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِ )
ا 􀑧 يْسَ فِيهَ 􀑧 فٍ لَ 􀑧 نْ آُرْسُ 􀑧 حُولِيَّةٍ مِ 􀑧 يضٍ سَ 􀑧 وَابٍ بِ 􀑧 ةِ أَثْ 􀑧 عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلاَثَ
قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Mengingat hadits 'Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. dikafani dalam tiga
pakaian putih bersih yang terbuat dari kapas, tanpa baju kurung dan
serban. (HR. Bukhari dan Muslim).
تَ 􀑧 24 ) لِحَدِيْثِ لَيْلَى بِنْتِ قَانِفٍ الثَّقَفِيَّةِ قَالَتْ: آُنْتُ فِيمَنْ غَسَلَ أُمَّ آُلْثُومٍ بِنْ )
ا 􀑧 ا أَعْطَانَ 􀑧 انَ أَوَّلُ مَ 􀑧 ا فَكَ 􀑧 دَ وَفَاتِهَ 􀑧 رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْ
مَّ 􀑧 ارَ ثُ 􀑧 مَّ الْخِمَ 􀑧 دِّرْعَ ثُ 􀑧 مَّ ال 􀑧 اءَ ثُ 􀑧 لَّمَ الْحِقَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 رَسُولُ اللَّ
هِ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 تْ: وَرَسُ 􀑧 رِ، قَالَ 􀑧 الْمِلْحَفَةَ ثُمَّ أُدْرِجَتْ بَعْدَ ذلك فِي الثَّوْبِ اْلأُخَ
ا. 􀑧 ا ثَوْبً 􀑧 ا ثَوْبً 􀑧 ا يُنَا وِلُنَاهَ 􀑧 هُ آَفَنُهَ 􀑧 ابِ وَمَعَ 􀑧 دَ الْبَ 􀑧 لَّمَ عِنْ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ أَبُوْ دَاوُدَ).
Menurut hadits Laila binti Qanif Tsaqafiyah, katanya: "Aku turut
memandikan Ummi Kultsum binti Rasulullah saw waktu wafatnya, maka
adalah mula-mula barang yang diberikan kepadaku oleh Rasulullah saw
ialah kain, lalu baju kurung, lalu kudung, lalu selubung; kemudian
sesudah itu dimasukkan dalam pakain yang lain". Kata Laila selanjutnya:
Selama itu Rasulullah di tengah pintu membawa kafannya dan
menerimakannya kepada kami satu persatu. (HR. Ahmad dan Abu
Dawud).
102
ي 􀑧 الَوْا فِ 􀑧 ا: لاَ تَغَ 􀑧 يٍّ مَرْفُوْعً 􀑧 نْ عَلِ 􀑧 نٍ عَ 􀑧 نَدٍ حَسَ 􀑧 وْ دَاوُدَ بِسَ 􀑧 ا رَوَاهُ أَبُ 􀑧 25 ) لِمَ )
الْكَفَنِ فَإِنَّهُ يُسْلَبُ سَرِيعًا.
Menilik riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan dari 'Ali sampai Nabi
saw.: "Jangan kamu berlebih-lebihan dalam perkara kafan, karena
sesungguhnya ia akan segera rusak.
ولِ 􀑧 26 ) لِحَدِيْثِ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ تُوُفِّيَ بِخَيْبَرَ وَأَنَّهُ ذُآِرَ لِرَسُ )
دِيْثَ. 􀑧 احِبِكُمْ. الْحَ 􀑧 ى صَ 􀑧 لُّوا عَلَ 􀑧 الَ: صَ 􀑧 لَّمَ فَقَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 اللَّ
هُ 􀑧 يَ اللهُ عَنْ 􀑧 رة رَضِ 􀑧 ي هري 􀑧 (رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلاَّ التِّرْمِذِي). وَلِحَدِيْثِ أَبِ
ى 􀑧 ازَةَ حَتَّ 􀑧 هِدَ الْجَنَ 􀑧 نْ شَ 􀑧 قال: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَ
لَ 􀑧 انِ قِي 􀑧 هُ قِيرَاطَ 􀑧 دْفَنَ فَلَ 􀑧 ى يُ 􀑧 هِدَهَا حَتَّ 􀑧 نْ شَ 􀑧 يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَ
دُخُوْلِهَا 􀑧 وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ). وَلِ
فِي مُسَمَّى الصَّلاَةِ شَرْعًا.
Mengingat hadits Jabir, bahwa ada seorang muslim wafat di Khaibar dan
dikabarkan kepada Rasulullah saw., maka sabda Beliau: "Shalatkanlah
temanmu itu … seterusnya hadits. (HR. Lima Ahli Hadits selain
Tirmidzi).
Dan menurut hadits Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa melawat janazah sehingga dishalatkan, maka akan
mendapat pahala satu qirath, dan barang siapa melawatnya sehingga
dikubur maka akan mendapat pahala dua qirath". Orang bertanya:
"Apakah dua qirath itu"? Sahud Beliau: "Sebagai dua bukit yang besar".
(HR. Bukhari dan Muslim).
27 ) لِحَدِيْثِ إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ و مُسْلِمٌ). )
Karena hadits: "Sesungguhnya 'amal itu harus dengan niat". (HR. Bukhari
dan Muslim).
هُ 􀑧 28 ) لِمَا رَوَى إسْمَاعِيلُ الْقَاضِي فِي آِتَابِ الصَّلاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّ )
ى 􀑧 لاَةِ عَلَ 􀑧 ي الصَّ 􀑧 نَّةَ فِ 􀑧 الَ : " إنَّ السُّ 􀑧 هُ قَ 􀑧 ةَ أَنَّ 􀑧 ي أُمَامَ 􀑧 عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَبِ
هِ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 الْجَنَازَةِ أَنْ يَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَيُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ صَ
103
لِّمَ 􀑧 مَّ يُسَ 􀑧 رَّةً ثُ 􀑧 وَسَلَّمَ ثُمَّ يُخْلِصَ الدُّعَاءَ لِلْمَيِّتِ حَتَّى يَفْرُغَ وَلَا يَقْرَأُ إلاَّ مَ
هُ 􀑧 افِظُ : وَرِجَالُ 􀑧 الَ الْحَ 􀑧 ى ، قَ 􀑧 ي الْمُنْتَقَ 􀑧 ارُودِ فِ 􀑧 نُ الْجَ 􀑧 هُ ابْ 􀑧 " . (وَأَخْرَجَ
.( ارِ:ج 4ص 103 􀑧􀑧 لُ اْلأَوْطَ 􀑧􀑧 حِيحَيْ نِ). (نَيْ 􀑧􀑧 ي الصَّ 􀑧􀑧 مْ فِ 􀑧􀑧 رَّجٌ لَهُ 􀑧􀑧 مُخَ
ا 􀑧 ا أَرْبَعً 􀑧 ولِحديث عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى: أّنَّهُ مَاتَتْ ابْنَةٌ لَهُ فَكَبَّرَ عَلَيْهَ
ولُ 􀑧 ثُمَّ قَامَ بَعْدَ الرَّابِعَةِ قَدْرَ مَا بَيْنَ التَّكْبِيرَتَيْنِ يَدْعُو ثُمَّ قَالَ: آَانَ رَسُ
دُ وَ 􀑧 ذَ ا (رَوَاهُ أَحْمَ 􀑧 ازَةِ هَكَ 􀑧 ي الْجِنَ 􀑧 نَعُ فِ 􀑧 لَّمَ يَصْ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
ابْنُ مَاجَهَ بمعنًى). ولِما أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِي عَنْ ابْنِ عُمَرَ: قَالَ الْحَافِظُ
هُ 􀑧 دَيْنِ أَنَّ 􀑧 عِ الْيَ 􀑧 زْءِ رَفْ 􀑧 ي جُ 􀑧 لَهُ فِ 􀑧 ارِي وَ وَصَّ 􀑧 هُ البُخَ 􀑧 حِيْحٍ وَعَلَّقَ 􀑧 نَدٍ صَ 􀑧 بِسَ
ا رِ:ج 4ص 􀑧 لُ اْلأَوْطَ 􀑧 ازَ ةِ. (نَيْ 􀑧 رَاتِ الْجَنَ 􀑧 آَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي جَمِيْعِ تَكْبِيْ
دُّعَاءِ 􀑧 ي ال 􀑧 كٍ فِ 􀑧 104 ). وَ لِحَدِيْثِ و مُسْلِمٌ والَّنَسَائِي عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِ
رَ ةَ: 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 نْ أَبِ 􀑧 ذِي عَ 􀑧 دُ وَالتِّرْمِ 􀑧 هُ ... ". وَأَحْمَ 􀑧 رْ لَ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 اْلأَوَّلِ: اللَّهُ
مَّ لاَ 􀑧 هَ): " اللَّهُ 􀑧 نُ مَاجَ 􀑧 وْ دَاوُدَ وَابْ 􀑧 ا ....". وَزَادَ أَبُ 􀑧 رْ لِحَيِّنَ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 "اللَّهُ
ي 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ". ولِمَا رَوَى الْبَيْهَقِي مِنْ حَ
مَّ 􀑧 لِ: " اللَّهُ 􀑧 اءِ الطِّفْ 􀑧 ي دُعَ 􀑧 يْنِ فِ 􀑧 نِ الْحُسَ 􀑧 هِ عَ 􀑧 ي جَامِعِ 􀑧 فْيَانَ فِ 􀑧 هُرَيْرَةَ وَسُ
اجْعَلْهُ لَنَا فَرَطًا وَسَلَفًا وَأَجْرًا".
Mengingat hadits Ismail qadli dalam kitab "As-Shalat 'alan-Nabi" dari
Abu Umamah bahwa ia berkata: "Sesungguhnya menurut sunnah dalam
menshalatkan janazah ialah membaca al-Fatihah dan membaca shalawat
atas Nabi saw lalu dengan ikhlas mendo'akan kepada mayat sampai
selesai, dan membaca hanya sekali kemudian salam. (Diriwayat kan Ibnu
Jarub dalam kitab "Al-Muntaqa", yang dikatakan oleh Hafidh, bahwa
mereka yang membawakan hadits itu tersebut dalam kitab Bukhari
Muslim). (Nailul Authar juz IV muka 103).
Dan menilik hadits 'Abdullah bin Aufa, bahw aia kematian anak
perempuan, maka ia membaca takbir untuknya empat kali, lalu
mendo'akannya sehabis takbir yang ke emapat, yang panjangnya sekedar
antara dua takbir, kemudian katanya: "Demikianlah Rasulullah saw.
lakukan dalam shalat janazah. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah menurut
artinya saja).
104
Dan menilik hadits Baihaqi dari Ibnu Umar: kata Alhafidh: sanadnya
shahih; dan oleh Bukhari di mu'allaqkan dan pada bagian yang
menerangkan "mengangkat tangan" sanadnya disebut muttashil
(bersambung) bahwasanya beliau saw. mengangkat ke dua tangannya
dalam semua takbir shalat janazah. (Tersebut dalam kitab Nailul Authar
juz IV muka 104).
Dan menilik hadits Muslim dan Nasa'i dari 'Auf bin Malik dalam do'a
yang pertama: "Alla-hummaghfir lahu …" seterusnya. Begitu juga hadits
Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairah di dalam do'a yang ke dua: " Allahummaghfir
lihayyina- … dan seterusnya. Dan Abu Dawud dan Ibnu
Majah menambah: " Alla-humma la- tahrimna- ajrahu- wa la- tudlil lanaba'dahu-".
Dan mengingat riwayat Baihaqi dari hadits Abu Hurairah dan
Sufyan dalam dalam kitab "Jami'nya dari Husain", dalam mendo'akan bagi
anak-anak: " Alla-hummaj 'alhu lana- salafan wa farathan wa ajran.
تْ 􀑧 اصٍ قَالَ 􀑧 ي وَقَّ 􀑧 نُ أَبِ 􀑧 عْدُ بْ 􀑧 وُفِّيَ سَ 􀑧 ا تُ 􀑧 ا لَمَّ 􀑧 ةَ أنَّهَ 􀑧 نْ عَائِشَ 􀑧 ا رُوِيَ عَ 􀑧 29 ) لِمَ )
تْ: 􀑧 ا، فَقَالَ 􀑧 كَ عَلَيْهَ 􀑧 أَنْكَرُوا ذَلِ 􀑧 هِ، فَ 􀑧 لِّيَ عَلَيْ 􀑧 ادْخُلُوا بِهِ الْمَسْجِدَ حَتَّى أُصَ
اءَ 􀑧 يْ بَيْضَ 􀑧 وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ابْنَ
لَّى 􀑧 ا صَ 􀑧 ةٍ: وَمَ 􀑧 ي رِوَايَ 􀑧 لِم). وَفِ 􀑧 هِ. (رَوَاه مُسْ 􀑧 هَيْلٍ وَأَخِي 􀑧 جِدِ سُ 􀑧 ي الْمَسْ 􀑧 فِ
ي 􀑧 اءَ إِلاَّ فِ 􀑧 نِ بَيْضَ 􀑧 هَيْلِ ابْ 􀑧 ى سُ 􀑧 لَّمَ عَلَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 رَسُولُ اللَّ
جِ دِ. 􀑧 ي الْمَسْ 􀑧 رَ فِ 􀑧 ى عُمَ 􀑧 جَوْفِ الْمَسْجِدِ. وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: صُلِّيَ عَلَ
(رَوَاهُمَا سَعِيْدُ وَرَوَى الثَّانِي مَالِكٌ).
Menilik hadits dari 'Aisyah r.a. bahwa ia berkata sewaktu kematian Sa'ad
bin Abi Waqqash: "Bawa masuklah ia ke masjid agar aku dapat
menshalatkannya". Ada beberapa orang yang menegur tentang hal itu.
Maka kata 'Aisyah ra.: "Demi Allah, sungguh Rasulullah saw
menshalatkan kedua anak Baidla', ialah Suhail dan saudaranya di dalam
masjid". (HR. Muslim).
Dan dalam riwayat lain, bahwa Rasulullah saw. telah menshalatkan Suhail
bin Baidla' justru malah di tengah masjid. Dan dari Ibnu Umar katanya:
105
"Umar dishalatkan di dalam masjid". (Keduanya diriwayatkan oleh Sa'id,
dan Malik hanya meriwayatkan yang kedua).
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 30 ) لِحَدِيْثِ مَالِكِ بْنِ هُبَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّ )
ونَ أَنْ 􀑧 لِمِينَ يَبْلُغُ 􀑧 نْ الْمُسْ 􀑧 ةٌ مِ 􀑧 هِ أُمَّ 􀑧 لِّي عَلَيْ 􀑧 وتُ فَيُصَ 􀑧 ؤْمِنٍ يَمُ 􀑧 نْ مُ 􀑧 ا مِ 􀑧 مَ
رَّى إِذَا 􀑧 رَةَ يَتَحَ 􀑧 نُ هُبَيْ 􀑧 يَكُونُوا ثَلاثَةَ صُفُوفٍ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ. فَكَانَ مَالِكُ بْ
ةُ إِلاَّ 􀑧􀑧 فُو فٍ. (رَوَاهُ الْخَمْسَ 􀑧􀑧 ةَ صُ 􀑧􀑧 مْ ثَلاثَ 􀑧􀑧 ازَةٍ أَنْ يَجْعَلَهُ 􀑧􀑧 لُ جَنَ 􀑧􀑧 لَّ أَهْ 􀑧􀑧 قَ
النَّسَائِي). ولِمَا رُويَ عَن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
هِ 􀑧 ى جَنَازَتِ 􀑧 ومُ عَلَ 􀑧 اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُ
هِ (رَوَاهُ 􀑧 هُ فِي 􀑧 فَّعَهُمْ اللَّ 􀑧 يْئًا إِلاَّ شَ 􀑧 هِ شَ 􀑧 رِآُونَ بِاللَّ 􀑧 لاً لاَ يُشْ 􀑧 ونَ رَجُ 􀑧 أَرْبَعُ
أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ).
Menurut hadits Malik bin Huhairah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Orang mukmin yang mati lalu dishalatkan oleh segolongan kaum
muslimin sampai jadi tiga shaf, tetntulah diberi ampun". Maka kalau
sedikit bilangan orang yang menshalatkan janazah, Malik bin Hubairah
berusaha menjadikan mereka itu tiga shaf. (HR. Lima Ahli Hadits selain
Nasa'i).
Dan mengingat pula riwayat Ibnu 'Abbas bahwa Rasulullah saw.
bersabda: "Orang Islam yang mati kemudian janazahnya dishalatkan oleh
empatpuluh orang yang tidak musyrik, tentulah Allah mengabulkan do'a
mereka untunya". (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
ى 􀑧 لَّى عَلَ 􀑧 كٍ صَ 􀑧 نَ مَالِ 􀑧 سَ بْ 􀑧 هِدْتُ أَنَ 􀑧 ا لَ: شَ 􀑧 ا طُ قَ 􀑧 بٍ الْحَنَّ 􀑧 31 ) لِحَدِيْثِ أَبِي غَالِ )
لَّى 􀑧 رَأَةٍ فَصَ 􀑧 ازَةِ امْ 􀑧 يَ بِجِنَ 􀑧 عَ أُتِ 􀑧 ا رُفِ 􀑧 هِ فَلَمَّ 􀑧 دَ رَأْسِ 􀑧 امَ عِنْ 􀑧 لٍ فَقَ 􀑧 ازَةِ رَجُ 􀑧 جِنَ
عَلَيْهَا فَقَامَ وَسَطَهَا وَفِينَا الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ الْعَدَوِيُّ. فَلَمَّا رَأَى اخْتِلافَ
هِ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 قِيَامِهِ عَلَى الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ قَالَ: يَا أَبَا حَمْزَةَ! هَكَذَا آَانَ رَسُ
ثُ 􀑧 صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ الرَّجُلِ حَيْثُ قُمْتَ وَمِنْ الْمَرْأَةِ حَيْ
وْ 􀑧 ذِي وَرَوَاه أَبُ 􀑧 هَ وَالتِّرْمِ 􀑧 نُ مَاجَ 􀑧 دُ وَ ابْ 􀑧 مْ. (رواه أَحْمَ 􀑧 الَ: نَعَ 􀑧 تَ؟ قَ 􀑧 قُمْ
دَاوُدَ بِزِيَادَةِ ذِآْرِ عَدَدِ التَّكْبِيْرِ).
106
Menilik hadits Abu Ghalib Hannath, katanya: "Aku menyaksikan Anas
bin Malik menshalatkan janazah seorang seorang pria, ia berdiri pada arah
kepalanya. Setelah diangkatnya didatangkan janazah seorang wanita lalu
ia menshalatkannya, maka ia berdiri pada arah lambungnya. Pada hal di
antara kita ada Al-'Ala' bin Ziyad 'Alawi. Maka setelah melihat perbedaan
berdirinya pada janazah pria dan janazah wanita, menanyakan: "Hai Abu
Hamzah adakah demikian Rasulullah saw. berdiri pada orang pria di
tempat kamu berdiri dan pada orang wanita di tempat kamu berdiri? ".
Jawabnya: "Ya". (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi; sedang riwayat
Abu Dawud dengan tambahan menyebutkan bilangan takbir).
لَّى 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 ا رَسُ 􀑧 اعَاتٍ نَهَانَ 􀑧 ةُ سَ 􀑧 32 ) لِحَدِيْثِ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ قَالَ: ثَلاَثَ )
عُ 􀑧 ينَ تَطْلُ 􀑧 ا، حِ 􀑧 رَ مَوْتَانَ 􀑧 يهِنَّ وَ أَنْ نَقْبُ 􀑧 لِّيَ فِ 􀑧 لَّ مَ أَنْ نُصَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 اللَّ
يْفُ 􀑧 ينَ تَضِ 􀑧 الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ وَحِ
لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلاَّ الْبُخَارِيُّ).
Menurut hadits 'Uqbah bin 'Amir, katanya: "Tiga waktu Rasulullah saw.
mencegah kami menshalatkan mengubur dan mengubur mayat kami: 1.
waktu terbit matahari sehingga naik, 2. waktu matahari di tengah-tengah
dan 3. waktu hampir terbenam sehingga benar-benar terbenam". (HR.
Jama'ah kecuali Bukhari).
ا لَ: 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 رَةَ: أَنَّ رَسُ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 33 ) لِحَ )
رِ وَإِنْ 􀑧 ى الْخَيْ 􀑧 ا إِلَ 􀑧 الِحَةً قَرَّبْتُمُوهَ 􀑧 تْ صَ 􀑧 إِنْ آَانَ 􀑧 ازَةِ فَ 􀑧 رِعُوا بِالْجَنَ 􀑧 أَسْ
آَانَتْ غَيْرَ ذَلِكَ آَانَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ).
Menurut hadits Abu Huarairah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Percepatkanlah janazah. Kalau janazah itu baik kamu telah
mendekatkannya (menyegerakan) kepada yang baik, dan kalau ia tidak
demikian, maka kamu akan melepaskan yang jelek itu dari bahumu".
(HR. Jama'ah).
107
ازَةِ 􀑧 وْلَ جَنَ 􀑧 34 ) لِمَا ثَبَتَ فِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ الصَّحَابَةَ يَمْشُوْنَ حَ )
ابْنِ الدَّحْدَاحِ. وَلِمَا أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَ أَبُوْ دَاوُدَ والَّنَسَائِي و التِّرْمِذِي وَ
نْ 􀑧 ارِيّ مِ 􀑧 رْطِ الْبُخَ 􀑧 ى شَ 􀑧 الَ عَلَ 􀑧 اآِمُ وَقَ 􀑧 ا وَالْحَ 􀑧 انَ أَيْضً 􀑧 نُ حِبَّ 􀑧 حَّحَهُ ابْ 􀑧 صَ
فَ 􀑧 بُ خَلْ 􀑧 ال : الرَّاآِ 􀑧 لَّ مَ ق 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 حَدِيْثِ الْمُغِيْرَةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
ي 􀑧 الْجَنَازَةِ وَالْمَاشِي أَمَامَهَا قَرِيبًا منها عَنْ يَمِينِهَا وَ عَنْ يَسَارِهَا. وَفِ
لَفْظِ لأَحْمَدَ وَ والَّنَسَائِي و التِّرْمِذِي: الرَّاآِبُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ وَالْمَاشِي
هِ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يَّ صَ 􀑧 حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا. وَلِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى النَّبِ
رَ ةَ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 ةُ). وَلِحَ 􀑧 ازَ ةِ. (رَوَاهُ الْخَمْسَ 􀑧 امَ الْجَنَ 􀑧 وَسَلَّمَ يَمْشُوْنَ أَمَ
دَ 􀑧 لا ثٍ : عِنْ 􀑧 دَ ثَ 􀑧 مْتَ عِنْ 􀑧 المتقدم في - 26 - وَلِحَدِيْثِ: إِنَّ الله يُحِبُّ الصُّ
نْ 􀑧 ي عَ 􀑧 ازَةِ. (رَوَاهُ الطَّبْرِانِ 􀑧 دَ الْجَنَ 􀑧 فِ وَعِنْ 􀑧 دَ الزَّحْ 􀑧 رْآنِ وَعِنْ 􀑧 لاوَةِ الْقُ 􀑧 تِ
زَيْدِ ابْنِ أَرْقَمَ).
Menilik yang tersebut dalam Shahih Muslim dan lainnya, bahwa para
sahabat berjalan sekeliling janazah Ibnu Dahdah.
Dan menilik pula riwayat dari Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Tirmidzi dan
Ibnu Hibban. Tirmidzi dan Ibnu Hibban menshahihkannya dan Hakim
menshahihkannya juga serta mengatakan: Menurut syarat Bukhari yaitu
hadits Mughirah, bahwasanya Nabi saw. bersabda: "Orang yang
berkendaraan itu di belakang janazah, dan yang berjalan kaki di depannya,
dekat dari padanya dari arah kanan kirinya".
Dan menurut bunyi riwayat Ahmad, Nasa'i dan Tirmidzi; "Orang yang
berkendaraan itu di belakang janazah dan yang bejalan kaki di mana yang
dikehendakinya".
Dan menurut hadits Ibnu 'Umar, bahwa ia melihat Nabi saw. serta Abu
Bakar dan ' Umar berjalan di muka janazah. (HR. Lima Ahli Hadits).
Lagi menilik hadits: "Sesungguhnya Allah itu menyukai ketenangan pada
tiga waktu: waktu pembacaan Al-Qur'an, waktu perang dan waktu ada
janazah". ( HR. Thabrani dari Zaid bin Arqam).
108
ا. 􀑧 زَمْ عَلَيْنَ 􀑧 مْ يُعْ 􀑧 ائِزِ وَلَ 􀑧 اعِ الْجَنَ 􀑧 نْ اتِّبَ 􀑧 ا عَ 􀑧 تْ: نُهِينَ 􀑧 ةَ قَالَ 􀑧 35 ) لِحَدِيْثِ أُمِّ عَطِيَّ )
هِ أَنَّ 􀑧 ي وَفِيْ 􀑧 دَ الطَّبْرَانِ 􀑧 ا عِنْ 􀑧 دِيْثِهَا أَيْضً 􀑧 لِمٌ). وَلِحَ 􀑧 ارِيُّ وَمُسْ 􀑧 (رَوَاهُ الْبُخَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَاهُنَّا أَنْ يَخْرُجْنَ فِي جَنَازَةٍ.
Menilik hadits Ummi 'Athiyah katanya: "Kami (wanita) dilarang
mengikuti janazah meskipun larangan itu tidak diperkeras". (HR. Bukhari
dan Muslim).
Dan mengingat haditsnya pula dalam riwayat Thabrani, bahwa Nabi saw.
melarang mereka (wanita) keluar mengantarkan janazah.
لَّ مَ: إِذَا 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 36 ) لِحَدِيْثِ أبي سعيد قال: قال رَسُولَ اللَّ )
رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُوْمُوْا لَهَا فَمَنِ اتَّبَعَهَا فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى تُوْضَعَ. (رَوَاهُ
الْجَمَاعَةُ إِلاَّ ابْنُ مَاجَهَ).
Karena hadits Abu Sa'id bahwa Rasulullah saw bersabda: "Bilamana
kamu melihat janazah maka berdirilah, dan barang siapa mengiringkannya
maka jangan sampai duduk sehingga janazah diletakkan". (HR. Jama'ah
kecuali Ibnu Majah).
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يِّ صَ 􀑧 نْ النَّبِ 􀑧 ةَ عَ 􀑧 دِيْثِ رَبِيْعَ 􀑧 37 ) لِحَدِيْثِ أَبِي سَعِيْدٍ آنفا - 36 - وَلِحَ )
عَ. 􀑧 مْ أَوْ تُوضَ 􀑧 ى تَخْلُفَكُ 􀑧 وا حَتَّ 􀑧 ازَةَ فَقُومُ 􀑧 تُمْ الْجَنَ 􀑧 الَ إِذَا رَأَيْ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 عَلَيْهِ وَسَ
(رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ). وَلِحَدِيْثِ سَهْلِ ابْنِ حُنَيْفٍ وَقَيْسِ ابْنِ سَعْدٍ قَالَ: إِنَّ
هُ: 􀑧 لَ لَ 􀑧 امَ، فَقِيْ 􀑧 ازَةٌ فَقَ 􀑧 هِ جَنَ 􀑧 رَّتْ بِ 􀑧 لَّ مَ م 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 رَسُولَ اللَّهِ صَ
ارِيّ و 􀑧 نَ الْبُخَ 􀑧 رٌ مِ 􀑧 ا؟ (مُخْتَصَ 􀑧 تْ نَفْسً 􀑧 ا لَ: أَلَيْسَ 􀑧 إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُوْدِيٍّ. فَقَ
مُسْلِمٍ).
Mengingat hadits Abu Sa'id tersebut nomor 36 di atas.
Dan mengingat hadits Rabi'ah dari Nabi saw. sabdanya: "Bilamana kamu
melihat janazah maka berdirilah sehingga melewati kamu atau
diletakkannya". (HR. Jama'ah).
109
Dan lagi hadits Sahl bin Hunaif dan Qais bin Sa'ad, katanya bahwa
Rasulullah saw dilalui janazah, maka beliau berdiri. Maka dikatakan
kepada beliau, bahwa itu janazah orang Yahudi. Sahut Beliau: "Bukankah
ia itu manusia juga?". (Ringkasan dari hadits yang diriwayatkan Bukhari
dan Muslim).
38 ) لِحَدِيْثِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ )
دِي دٌ. 􀑧 انٍ شَ 􀑧 لِّ إِنْسَ 􀑧 ا لِكُ 􀑧 رُ عَلَيْنَ 􀑧 هِ الْحَفْ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 ا رَسُ 􀑧 وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقُلْنَا: يَ
نُو ا. 􀑧 وا وَأَحْسِ 􀑧 رُوا وَأَعْمِقُ 􀑧 لَّمَ احْفِ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
(الْحَدِيْثَ). (رَوَاهُ النَّسَائِي وَالتِّرْمِذِي بِنَحْوِهِ وَصَحَّحَهُ).
Menurut hadits Hisyam bin 'Amir, katanya: Kami mengadu kepada
Rasulullah saw. pada hari Uhud, Kami berkata: " Ya Rasulallah, membuat
liang kubur untuk tiap-tiap orang itu berat bagi kami". Maka sabda
Rasulullah saw.: "Galilah, perdalamkanlah dan kerjakanlah dengan baik ...
dan seterusnya hadits. (HR. an-Nasa'I dan at-Tirmidzi meriwayatkan
hadits yang serupa itu dan dishahihkannya).
يَّ 􀑧 بُوا عَلَ 􀑧 دًا وَانْصِ 􀑧 39 ) لِحَدِيْثِ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: الْحَدُوْا لِي لَحْ )
لَّمَ. (رَوَاهُ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولِ اللَّ 􀑧 نِعَ بِرَسُ 􀑧 ا صُ 􀑧 بًا آَمَ 􀑧 بِنَ نَصْ 􀑧 اللَّ
أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ).
Menilik hadits 'Amir bin Sa'ad katanya: "Buatlah bagiku liang lahat dan
pasanglah di atas kuburku batu bata sebagaimana yang yang diperbuat
pada Rasulullah saw. (HR. Ahmad dan Muslim).
40 ) لِوُقُوْعِ ذَلِكَ فِي الْقُرُوْنِ الثَلاَثَةِ. )
Karena hal ini telah berlaku selama tiga abad.
110
هِ 􀑧 دُ اللَّ 􀑧 هِ عَبْ 􀑧 لِّيَ عَلَيْ 􀑧 41 ) لِحَدِيْثِ أَبِي إِسْحَقَ قَالَ: أَوْصَى الْحَارِثُ أَنْ يُصَ )
ذَا 􀑧 بْنُ يَزِيدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أَدْخَلَهُ الْقَبْرَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ الْقَبْرِ وَقَالَ: هَ
مِنْ السُّنَّةِ. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَرِجَالُ إِسْنَادِهِ رِجَالُ الصَّحِيْحِ).
Menilik hadits Abu Ishaq, katanya: Al-Harits berpesan supaya ia
dishalatkan oleh 'Abdullah bin Yazid. Lalu 'Abdullah menshalatkannya
kemudian memasukkan janazahnya ke dalam kubur dari arah ke dua
kakinyaseraya berkata: "Inilah dari pada Sunnah". (HR. Abu Dawud dan
sanadnya shahih).
انَ إِذَا 􀑧 الَ: آَ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يّ صَ 􀑧 ن النَّبِ 􀑧 رَ عَ 􀑧 نِ عُمَ 􀑧 دِيْثِ ابْ 􀑧 42 ) لِحَ )
ولِ 􀑧 ةِ رَسُ 􀑧 ى مِلَّ 􀑧 هِ وَعَلَ 􀑧 هِ وَبِاللَّ 􀑧 مِ اللَّ 􀑧 الَ: "بِسْ 􀑧 رهِ قَ 􀑧 ي قَبْ 􀑧 تُ فِ 􀑧 عَ الْمَيِّ 􀑧 وُضِ
اللَّهِ".(رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلاَّ النَّسَائِي).
Menurut hadits Ibnu 'Umar Nabi saw. Ibnu 'Umar berkata: " Adalah
Rasulullah bila mayat telah diletakkan dalam kubur, beliau membaca:
"Bismilla-hi wa 'ala- millati Rasu-lilla-h" (HR. Lima Ahli Hadits kecuali
an-Nasa'i).
ي - 􀑧 دَّمِ فِ 􀑧 43 ) لِمَا أَخْرَجَهُ سَعِيْدٌ فِي سُنَنِهِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ نَحْوَ حَدِيْثِهِ الْمُتَقَ )
دَ 􀑧 ا ءِ. وَعِنْ 􀑧 ذَا بِالنِّسَ 􀑧 نَعُ هَ 􀑧 ا يُصْ 􀑧 وْبَ فَإِنَّمَ 􀑧 -41 وَزَادَ ثُمَّ قَالَ: انْشِطُوْا الثَّ
دَ 􀑧 نُ يَزِي 􀑧 هِ بْ 􀑧 دُ اللَّ 􀑧 هُ عَبْ 􀑧 ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ بِلَفْظِ: فَمَدُّوْا عَلَى قَبْرِهِ ثَوْبًا فَجَذَبَ
وَقَالَ: إنَّمَا هُوَ رَجُلٌ.
Menilik hadits Sai'id dalam sunannya, dari Abu Ishak sebagaimana yang
tersebut pada nomor 41 di atas dengan tambahan: kemudian berkata:
"Gunakanlah kain itu, karena yang demikian itu dikerjakan pada wanita".
Dan hadits Ibnu Abi Syaibah dengan perkataan: "Maka mereka
membentangkan kain di atas kuburnya, lalu Abdullah bin Yazid
menariknya dengan berkata: " Dia seorang pria".
لَّ مَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولِ اللَّ 􀑧 44 ) لِحَدِيْثِ أَنَسٍ قَالَ: شَهِدْتُ بِنْتَ رَسُ )
يْكُمْ 􀑧 لْ فِ 􀑧 ا لَ: هَ 􀑧 دْمَعَانِ فَقَ 􀑧 تُدْفَنُ وهو جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ، فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَ
111
ي 􀑧 انْزِلْ فِ 􀑧 الَ: فَ 􀑧 ا. فَقَ 􀑧 ةَ: أَنَ 􀑧 و طَلْحَ 􀑧 الَ أَبُ 􀑧 ةَ فَقَ 􀑧 ارِفْ اللَّيْلَ 􀑧 مْ يُقَ 􀑧 دٍ لَ 􀑧 ن أح 􀑧 م
قَبْرِهَا. فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ الْبُخَارِيُّ).
Mengingat hadits Anas, katanya: Aku melihat anak perempuan
Rasulullah saw. ketika dikubur dan ketika beliau di sisi kuburan itu*)
maka aku melihat ke dua mata beliau berlinang-linang, maka sabdanya:
"Adalah di antaramu orang yang tidak bercampur tadi malam?" Mka
jawab Abu Thalhah: "Saya!" Kemudian beliau bersabda: "Turunlah ke
kuburnya! Lalu ia turun ke dalam kuburnya. (HR. Bukhari dan Ahmad).
*) Sebab duduk di atas kubur mayat itu dilarang oleh Nabi saw.
45 ) تَوَقَّفَ مَجْلِسُ التَّرْجِيْحِ فِيْهِ. )
Dalam hal "meletakkan mayat menghadap qiblat dalam kubur", Majlis
Tarjih "tawaqquf", belum mentarjihkan dalilnya.
.- 46 ) لِحَدِيْثِ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ المتقدم في - 32 )
Mengingat hadits 'Uqbah bin 'Amir, yang tersebut pada nomor 32 di atas.
ي 􀑧 ا بَعَثَنِ 􀑧 ى مَ 􀑧 كَ عَلَ 􀑧 ا لَ: أَبْعَثُ 􀑧 يٍّ قَ 􀑧 نْ عَلِ 􀑧 47 ) لِحَدِيْثِ أَبِي الْهَيَّاجِ اْلأَسَدِيِّ عَ )
رًا 􀑧 رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْ
هَ). 􀑧􀑧 نُ مَاجَ 􀑧􀑧 ارِيُّ وَ ابْ 􀑧􀑧 ةُ إِلاَّ الْبُخَ 􀑧􀑧 وَّيْتَهُ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَ 􀑧􀑧 رِفًا إِلاَّ سَ 􀑧􀑧 مُشْ
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 ي صَ 􀑧 ر النب 􀑧 ه رأى قب 􀑧 ار أن 􀑧 فيان التم 􀑧 دِيْثِ س 􀑧 وَلِحَ
مُسَنَّمًا. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ). وَلِحَدِيْثِ صالح بن أبي صالح قال: رأيتُ
قبر رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شبرا أو نحو شبرٍ. (رَوَاهُ أَبُوْ
دَاوُدَ في المراسل).
Menilik hadits Abu Hayyaj Asadi dari 'Ali ra, katanya: "Aku mengutus
kamu, sebagaimana Rasulullah saw. mengutus aku. Jangan kamu
membiarkan arca kecuali harus kamu singkirkan dan kuburan yang
112
ditinggikan melainkan kamu ratakanlah".(HR. Jama'ah kecuali Bukhari
dan Ibnu Majah).
Dan menilik hadits Sufyan Tammar bahwa ia melihat kubur Rasulullah
saw. beronggok. (HR. Bukhari).
Lagi menilik hadits Shalih bin Abi Shalih, katanya:" Aku melihat kubur
Rasulullah saw. sejengkal atau sekedar sejengkal tingginya".(HR. Abu
Dawud dalam kitabnya Marasil).
رُ 􀑧 48 ) لِحَدِيْثِ جَابِرٍ: نَهَى النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْ )
وْ دَاوُدَ 􀑧 لِ مٌ و أَبُ 􀑧 دُ وَ مُسْ 􀑧 هِ. (رَوَاهُ أَحْمَ 􀑧 ى عَلَيْ 􀑧 هِ وَأَنْ يُبْنَ 􀑧 دَ عَلَيْ 􀑧 وَأَنْ يُقْعَ
والَّنَسَائِي).
Menilik hadits Jabir, bahwa Nabi saw, melarang orang menembok
kuburan dan duduk di atas kuburan serta melarang mendirikan bangunan
di atasnya.(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa'i).
ونٍ 􀑧 نُ مَظْعُ 􀑧 انُ بْ 􀑧 اتَ عُثْمَ 􀑧 ا مَ 􀑧 الَ:لَمَّ 􀑧 هِ قَ 􀑧 دِ اللَّ 􀑧 نِ عَبْ 􀑧 بِ بْ 􀑧 دِيْثِ الْمُطَّلِ 􀑧 49 ) لِحَ )
لاً أَنْ 􀑧 لَّمَ رَجُ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يُّ صَ 􀑧 أَمَرَ النَّبِ 􀑧 دُفِ نَ، فَ 􀑧 هِ فَ 􀑧 خرَجَ بِجَنَازَتِ
هِ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَسُ
أَنِّي 􀑧 ي آَ 􀑧 ذِي أَخْب رَنِ 􀑧 الَ الَّ 􀑧 بُ: قَ 􀑧 الَ الْمُطَّلِ 􀑧 هِ. قَ 􀑧 نْ ذِرَاعَيْ 􀑧 وَسَلَّمَ وَحَسَرَ عَ
ينَ 􀑧 لَّمَ حِ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولِ اللَّ 􀑧 يْ رَسُ 􀑧 اضِ ذِرَاعَ 􀑧 ى بَيَ 􀑧 أَنْظُرُ إِلَ
ي 􀑧 رَ أَخِ 􀑧 حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ: أَُعَلَّمُ بِهَا قَبْ
وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ).
Karena hadits Muthalib bin 'Abdullah, katanya bahwa ketika 'Utsman bin
Madh'un wafat, janazahnya dibawa keluar dan dukubur, lalu Nabi saw
perintahkan kepada seorang laki-laki supaya mangambil batu, tetapi tidak
kuat mengangkatnya, lalu Rasulullah mendekatinya dan menyingsingkan
ke dua lengannya. Berkata Muthalib: Berkata seseorang yang
mengabarkan kepadaku seolah-olah aku melihat ke dua tangan Rasulullah
saw yang putih waktu disingsingkannya. Kemudian beliau saw
113
mengangkat batu itu dan meletakkan di arah kepalanya, dengan sabdanya:
"Ku memberi tanda kubur saudaraku ini dan aku akan mengubur ahliku
yang meninggal di situ juga. (HR. Abu Dawud).
رَةَ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 نْ أَبِ 􀑧 حَّحَهُ عَ 􀑧 50 ) لِحَدِيْثِ لِمَا رَوَى ابْنُ مَاجَهَ وَ أَبُوْ دَاوُدَ وَصَ )
ازَةٍ 􀑧 ى جِنَ 􀑧 لَّى عَلَ 􀑧 لَّمَ صَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 رَضِيَ اللَّهُ عَنْه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّ
ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلاَثًا.
Menilik hadits Ibnu Majah dan Abu Dawud serta dishahihkannya, dari
Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw. menshalatkan janazah, lalu datang
pada kubur si mayat, maka menaburkan tanah atasnya dari arah kepalanya
tiga kali
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولِ اللَّ 􀑧 عَ رَسُ 􀑧 ا مَ 􀑧 ا لَ:خَرَجْنَ 􀑧 ازِبٍ قَ 􀑧 51 ) لِحَدِيْثِ الْبَرَاءِ بْنِ عَ )
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمْ يُلْحَدْ
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 لَّمَ صَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 سَ رَسُ 􀑧 فَجَلَ
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَجَلَسْتُ مَعَهُ. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ).
Menurut hadits Bara' bin 'Azib bahwa kami keluar bersama-sama
Rasulullah saw. mengantarkan janazah seorang sahabat Anshar, maka
sampailah kami ke kubur, padahal belum digali, maka duduklah
Rasulullah saw. menghadap qiblat dan akupun duduk juga.*) (HR. Abu
Dawud).
*) Duduklah tidak di atas kubur mayat tetapi di atas tanah kosong yang
belum digunakan mengubur.
هِ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 ا لَ: قَ 􀑧 رَةَ قَ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 52 ) لِمَا رُوِيَ عَنْ أَبِ )
دِهِ 􀑧 وَسَلَّمَ لأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُآُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتَحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْ
ارِيُّ 􀑧 ةُ إِلاَّ الْبُخَ 􀑧 رٍ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَ 􀑧 ى قَبْ 􀑧 سَ عَلَ 􀑧 نْ أَنْ يَجْلِ 􀑧 هُ مِ 􀑧 رٌ لَ 􀑧 خَيْ
.- وَالتِّرْمِذِي). وَلِمَا تَقَدَّمَ في - 48
114
Menilik hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Sungguh
seorang dari padamu duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya
sampai tembus ke kulitnya, lebih baik dari pada duduk duduk di atas
kuburan". (HR. Jama'ah selain Bukhari dan Tirmidzi).
Lagi mengingat hadits yang tersebut pada nomor 48 di atas.
هِ 􀑧 53 ) لِمَا رُوِيَ عَنْ بَشِيرِ ابْنِ الْخَصَاصِيَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ )
احِبَ 􀑧 ا صَ 􀑧 الَ يَ 􀑧 ورِ فَقَ 􀑧 يْنَ الْقُبُ 􀑧 يْنِ بَ 􀑧 ي نَعْلَ 􀑧 ي فِ 􀑧 لاً يَمْشِ 􀑧 لَّمَ رَأَى رَجُ 􀑧 وَسَ
وْ دَاوُدَ 􀑧 نَّفِهِ، وَ أَبُ 􀑧 يْ مُصَ 􀑧 يْبَةَ فِ 􀑧 يْ شَ 􀑧 نُ أَبِ 􀑧 هُ ابْ 􀑧 ا. (أَخْرَجَ 􀑧 السَّبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِهِمَ
اآِمُ 􀑧 ذِيُّ وَالْحَ 􀑧 ةُ إِلاَّ التِّرْمِ 􀑧 انِيْدِهِمَا وَاْلأَرْبَعَ 􀑧 يْ مَسَ 􀑧 دُ فِ 􀑧 يْ وَ أَحْمَ 􀑧 الطَيَالِسِ
وَقَالَ: صَحِيْحُ اْلإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ).
Mengingat riwayat dari Basyir bin Khashashiyah, bahwa Rasulullah saw.
melihat seorang lelaki berjalan dengan terumpah di atas kubur, maka
sabda Beliau: "Hai orang berterumpah, lepaskanlah terumpahmu!".1)
(Hadits ini diriwatkan oleh Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Abu
Dawud ath-Thayalisi dan Ahmad dalam musnadnya masing-masing, juga
diriwayatkan oleh Empat Ahli Hadits*) kecuali Tirmidzi; begitu juga oleh
Hakim dengan katanya bahwa hadits itu sanadnya shahih, hanya Bukhari-
Muslim tidak meriwayatkannya.
1) Ada penjelasan di belakang.
*) 1. Abu Dawud 2. Nasa'i 3. Tirmidzi 4. Ibnu Majah.
لَّمَ إِذَا 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يُّ صَ 􀑧 انَ النَّبِ 􀑧 الَ: آَ 􀑧 انَ قَ 􀑧 نْ عُثْمَ 􀑧 ا رُوِيَ عَ 􀑧 54 ) لِمَ )
هُ 􀑧 لُوا لَ 􀑧 ي كُمْ وَسَ 􀑧 تَغْفِرُوا لأَخِ 􀑧 ا لَ: اسْ 􀑧 هِ فَقَ 􀑧 فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْ
التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ).
Menurut hadits Utsman, bahwa Rasulullah saw. bila selesai dari
mengubur mayat, berdiri di sisinya seraya bersabda: "Mintakanlah ampun
bagi saudaramu dan mohonkanlah ketetapan baginya, karena sekarang ia
sedang disoal (ditanya)!". (HR. Abu Dawud).
115
هِ 􀑧 ا إِلَيْ 􀑧 هِ وَإِنَّ 􀑧 ا لِلَّ 􀑧 الُوا إِنَّ 􀑧 يبَةٌ قَ 􀑧 ابَتْهُمْ مُصِ 􀑧 ذِينَ إِذَا أَصَ 􀑧 الَى : الَّ 􀑧 هِ تَعَ 􀑧 55 ) لِقَوْلِ )
مِعْتُ 􀑧 تْ: سَ 􀑧 ا قَالَ 􀑧 لَمَةَ أَنَّه 􀑧 دِيْثِ أُمِّ سَ 􀑧 رة : 156 ). وَلِحَ 􀑧 ونَ (البق 􀑧 رَاجِعُ
يبَةٌ 􀑧 يبُهُ مُصِ 􀑧 دٍ تُصِ 􀑧 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْ
يبَتِي 􀑧 ي مُصِ 􀑧 ي فِ 􀑧 مَّ أْ جِرْنِ 􀑧 ونَ اللَّهُ 􀑧 هِ رَاجِعُ 􀑧 ا إِ لَيْ 􀑧 هِ وَإِنَّ 􀑧 ا لِلَّ 􀑧 ولُ: "إِنَّ 􀑧 فَيَقُ
رًا 􀑧 هُ خَيْ 􀑧 فَ لَ 􀑧 يبَتِهِ وَخَلَ 􀑧 ي مُصِ 􀑧 هِ فِ 􀑧 وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا"، إِلاَّ آجَرَهُ ب
مِنْهَا. الْحَدِيْثَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ وَ ابْنُ مَاجَهَ).
Menilik firman Allah Ta'ala: "Bilamana mereka mendapat malapetaka,
berkatalah: " Inna- lilla-hi wa inna- ilaihi ra-ji'u-n", (Sungguh kami
kepunyaan Allah dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya)". (QS. Al-
Baqarah: 156).
Lagi menilik hadits Ummi Salamah, bahwa ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda: "Kalau seorang hamba terkena malapetaka lalu berdo'a: "Innalilla-
hi wa inna- ilaihi ra-ji'u-n. Alla-humma ajirni- fi- mushi-batiwakhluf
li- khairan minha", tentulah Allah memberikan pahala dan ganti
kebaikan kepadanya ….. seterusnya hadits. (HR. Ahmad, Muslim dan
Ibnu Majah).
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يِّ صَ 􀑧 دَ النَّبِ 􀑧 ا عِنْ 􀑧 56 ) لِحَدِيْثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: آُنَّ )
وْ تِ، 􀑧 ي الْمَ 􀑧 ا أَوْ فِ 􀑧 بِيا لَهَ 􀑧 رُهُ أَنَّ صَ 􀑧 دْعُوهُ وَتُخْبِ 􀑧 هِ تَ 􀑧 دَى بَنَاتِ 􀑧 فَأَرْسَلَتْ إِحْ
ى 􀑧 ا أَعْطَ 􀑧 هُ مَ 􀑧 ذَ وَلَ 􀑧 ا أَخَ 􀑧 هِ مَ 􀑧 ا أَنَّ لِلَّ 􀑧 ا فَأَخْبِرْهَ 􀑧 عْ إِلَيْهَ 􀑧 فَقَالَ الرَّسُولُ: ارْجِ
دِيْث . (رَوَاهُ 􀑧 بْ. الْحَ 􀑧 ا وَلْتَحْتَسِ 􀑧  مى، فَمُرْهَ 􀑧 لٍ مُسَ 􀑧 دَهُ بِأَجَ 􀑧 وَآُلُّ شَيْءٍ عِنْ
هُ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يَّ صَ 􀑧 أَحْمَدُ وَ الْبُخَارِيُّ و مُسْلِمٌ). وَلِحَدِيْثِ أَنَسٍ قَالَ: إِنَّ النَّبِ
بِرِي. 􀑧 هَ وَاصْ 􀑧 ي اللَّ 􀑧 الَ: اتَّقِ 􀑧 رٍ فَقَ 􀑧 دَ قَبْ 􀑧 ي عِنْ 􀑧 امْرَأَةٍ تَبْكِ 􀑧 رَّ بِ 􀑧 لَّمَ مَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 عَلَيْ
الْحَدِيْثَ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ).
Menurut hadits Usamah bin Zaid, katanya: "Kami sedang dihadapan Nabi
saw. maka seorang anak perempuan beliau memanggilnya dan
mengabarkannya bahwa seorang anaknya dalam sakaratul maut, maka
sabda Nabi saw.: "Kembalilah padanya dan beritahukanlah adalah haknya
116
Allah untuk mengambil dan memberi. Segala sesuatu itu ada batas
ketentuannya. Suruhlah ia mengharapkan pahala Tuhan ….. seterusnya
hadits. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan menilik hadits Anas, bahwa Nabi saw, lewat dekat seorang wanita
yang menangis di kuburan, maka sabdanya: " Berbaktilah kamu kepada
Allah dan sabarlah! ….. seterusnya hadits. (HR. Jama'ah Ahli Hadits).
الَ: 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يَّ صَ 􀑧 عَرِيَّ أَنَّ النَّبِ 􀑧 كٍ الْأَشْ 􀑧 ي مَالِ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 57 ) لِحَ )
ابِ 􀑧 ي الأَحْسَ 􀑧 أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُآُونَهُنَّ، الْفَخْرُ فِ
ةُ 􀑧 ا لَ: النَّائِحَ 􀑧 ةُ. وَقَ 􀑧 النُّجُومِ وَالنِّيَاحَ 􀑧 وَالطَّعْنُ فِي الأَنْسَابِ وَاْلاِسْتِسْقَاءُ بِ
رَانٍ 􀑧 نْ قَطِ 􀑧 رْبَالٌ مِ 􀑧 ا سِ 􀑧 ةِ وَعَلَيْهَ 􀑧 وْمَ الْقِيَامَ 􀑧 امُ يَ 􀑧 ا تُقَ 􀑧 إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَ
وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ مُسْلِمٌ).
Menilik hadits Abu Malik Asy'ari,, bahwa Nabi saw. bersabda: "Di
tengah-tengah ummatku ada empat hal dari jahiliyah yang belum kereka
tinggalkan: 1. Membanggakan kedudukan 2. Mencela keturunan 3. Minta
hujan pada bintang 4. meratapi mayat". Dan bersabda: "wanita yang
meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan di
hari qiyamat dengan pakaian dari pada getah dan baju dari pada koreng".
(HR. Ahmad dan Muslim).
نْ 􀑧 58 ) لِحَدِيْثِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَ )
ي 􀑧 ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ. وَلِحَدِيْثِ أَبِ
نْ 􀑧 رِيءٌ مِمَّ 􀑧 بُرْدَةَ أّنَّ أَبَا مُوسَى قَالَ حِيْنَ أَفَاقَ مِنْ غَشْيَةِ وَجَعِهِ: أَنَا بَ
لَّى 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 لَّ مَ، إِنَّ رَسُ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّ
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Menurut hadits Ibnu mas'ud, bahwa Nabi saw. bersabda: "Bukan golongan
kami orang yang menampar pipi dan merobek-robek pakaian serta
berteriak-teriak cara jahiliyah".
Dan hadits Abu Bardah, bahwa Abu Musa berkata ketika ia siuman dari
pingsannya: "Aku cuci tangan dari mereka sebagaimana halnya Rasulullah
117
saw. cuci tangan; yaitu Rasulullah saw. cuci tangan dari perempuan yang
meratapi, mencukur rambutnya dan merobek-robek pakaian( pada waktu
kematian)". (HR. Bukhari dan Muslim).
وا 􀑧 ي وَجَعَلُ 􀑧 تُ أَبْكِ 􀑧 دٍ فَجَعَلْ 􀑧 وْمَ أُحُ 􀑧 ي يَ 􀑧 يبَ أَبِ 􀑧 الَ: أُصِ 􀑧 ابِرِ قَ 􀑧 دِيْثِ جَ 􀑧 59 ) لِحَ )
تْ 􀑧 انِي، فَجَعَلَ 􀑧 لَّمَ لاَ يَنْهَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 وْنَنِي وَرَسُ 􀑧 يَنْهَ
ا 􀑧 عَمَّتِي تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَبْكِينَ أَوْ لاَ تَبْكِينَ مَ
زَالَتْ الْمَلائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
Menilik hadits Jabir, katanya: "Bapakku gugur pada hari perang Uhud,
maka aku menangisinya; lalu mereka mencegah aku, padahal Rasulullah
saw. tidak mencegah. Begitu juga bibiku menangisi juga, maka sabda
Nabi saw.: "Baik pun 'kau tangisi ataupun tidak, Malaikat selalu
menaunginya dengan sayapnya, hingga kamu mengangkatnya".
(Muttafaqun 'Alaih atau diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
الَ 􀑧 لَ قَ 􀑧 ينَ قُتِ 􀑧 رٍ حِ 􀑧 يُ جَعْفَ 􀑧 اءَ نَعْ 􀑧 ا جَ 􀑧 ا لَ: لَمَّ 􀑧 60 ) لِحَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَ )
ا 􀑧 النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَ
يُشْغِلُهُمْ. (رَوَاهُ الْخَمْسَةُ).
Menurut hadits Abdullah bin Ja'far, bahwa ketika datang khabar
terbunuhnya Ja'far, bersabdalah Nabi saw.: "Buatkanlah makanan bagi
kerabat Ja'far, karena mereka sedang dalam kesusahan". (HR. Lima Ahli
Hadits).
لِ 􀑧 ى أَهْ 􀑧 اعَ إِلَ 􀑧 دُّ الا جْتِمَ 􀑧 ا نَعُ 􀑧 61 ) لِحَدِيْثِ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ: آُنَّ )
الْمَيِّتِ وَصُنْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ).
Menilik hadits Jarir bin Abdullah Bajali, katanya: "Kami menganggap
bahwa berkumpul di rumah keluarga yang kematian dan mengadakan
jamuan sesudah mayat dikubur itu termasuk ratapan (yang dilarang)".
(HR. Ahmad).
118
هِ 􀑧 رَ أُمِّ 􀑧 لَّمَ قَبْ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 62 ) لِحَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ صَ )
مْ 􀑧 ا فَلَ 􀑧 تَغْفِرَ لَهَ 􀑧 فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْ
ورَ 􀑧 زُورُوا الْقُبُ 􀑧 ي . فَ 􀑧 أُذِنَ لِ 􀑧 ا فَ 􀑧 ي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَ 􀑧 تَأْذَنْتُهُ فِ 􀑧 يُؤْذَنْ لِي وَاسْ
ا لَ: 􀑧 هِ قَ 􀑧 نْ أَبِي 􀑧 فَإِنَّهَا تُذَآِّرُ الْمَوْتَ. (رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ). وَلِحَدِيْثِ بُرَيْدَةَ عَ
ارَةِ 􀑧 نْ زِيَ 􀑧 تُكُمْ عَ 􀑧 تُ نَهَيْ 􀑧 دْ آُنْ 􀑧 لَّ مَ: قَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
ذَآِّرُ 􀑧 ا تُ 􀑧 ا فَإِنَّهَ 􀑧 هِ، فَزُورُوهَ 􀑧 رِ أُمِّ 􀑧 ارَةِ قَبْ 􀑧 دٍ لِزِيَ 􀑧 دْ أُذِنَ لِمُحَمَّ 􀑧 ورِ فَقَ 􀑧 الْقُبُ
انَ 􀑧 نُ حِبَّ 􀑧 ائِيُّ وَابْ 􀑧 ذِي والَّنَسَ 􀑧 وْ دَاوُدَ و التِّرْمِ 􀑧 لِمٌ و أَبُ 􀑧 اْلآخِرَةَ. (رَوَاهُ مُسْ
وَالْحَاآِمُ).
Menurut hadits Abu Hurairah, katanya: "Nabi saw. berziarah ke kubur
ibunya lalu menangis dan menyebabkan orang-orang yang ada di
sekelilingnya ikut menangis. Maka sabdanya: "Aku memohon idzin
kepada Tuhanku agar aku diperkenankan memohon ampun bagi ibuku,
maka tidak diidzinkan. Lalu aku mohon idzin untuk berziarah ke
kuburnya, maka diidzinkannya. Oleh karena itu ziarahlah ke kubur, sebab
hal itu dapat mengingatkan mati". (HR. Jama'ah Ahli Hadits).
Dan menilik hadits Buraidah bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Dahulu
aku pernah melarang ziarah kubur, maka telah didzinkan bagi Muhammad
berziarah kubur bundanya. Maka berziarahlah kubur, sebab hal itu
mengingatkan akhirat". (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban
dan Hakim).
إِنْ 􀑧 رُّكَ فَ 􀑧 كَ وَ لاَ يَضُ 􀑧 ا لاَ يَنْفَعُ 􀑧 هِ مَ 􀑧 نْ دُونِ اللَّ 􀑧 63 ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: "وَلاَ تَدْعُ مِ )
ذِينَ 􀑧􀑧 ه:"وَالَّ 􀑧􀑧 ونس: 106 ) وقول 􀑧􀑧 الِمِي نَ".(ي 􀑧􀑧 نَ الظَّ 􀑧􀑧 كَ إِذًا مِ 􀑧􀑧 تَ فَإِنَّ 􀑧􀑧 فَعَلْ
ى ". 􀑧 هِ زُلْفَ 􀑧 ى اللَّ 􀑧 ا إِلَ 􀑧 دُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَ 􀑧 ا نَعْبُ 􀑧 اءَ مَ 􀑧 هِ أَوْلِيَ 􀑧 نْ دُونِ 􀑧 ذُوا مِ 􀑧 اتَّخَ
.( (الزمر: 3
Karena firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah memohon kepada selain
Allah, yang tiada dapat memanfa'ati dan membahayakan kamu; maka
apabila kamu mengerjakan juga, niscayalah kamu tergolong orang-orang
yang menganiaya (dhalim) ". (QS Yunus:106)
119
Dan mereka yang mengambil pelindung (penguasa) selain Allah (berkata):
"Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka memperdekatkan
kami kepada Allah, dengan sedekat-dekatnya". (QS. az-Zumar: 3).
.
رَةَ 􀑧 ى الْمَقْبَ 􀑧 لَّمَ أَتَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 يَّ صَ 􀑧 رَةَ أَنَّ النَّبِ 􀑧 ي هُرَيْ 􀑧 دِيْثِ أَبِ 􀑧 64 ) لِحَ )
مْ 􀑧􀑧 اءَ اللهُ بِكُ 􀑧􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧􀑧 ؤْمِنِينَ وَإِنَّ 􀑧􀑧 وْمٍ مُ 􀑧􀑧 يْكُمْ دَارَ قَ 􀑧􀑧 لامُ عَلَ 􀑧􀑧 ال: "السَّ 􀑧􀑧 فَق
دِيْثِ 􀑧 ن حَ 􀑧 دَ مْ 􀑧 ائِي). وَلِأَحْمَ 􀑧 لِمٌ والَّنَسَ 􀑧 دُ وَ مُسْ 􀑧 ونَ". (رَوَاهُ أَحْمَ 􀑧 لاحِقُ
عَائِشَةَ مِثْلُهُ وَزَادَ: "اللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلاَتَفْتِنَّا بَعْدَهُم".
Mengingat hadits Abu Hurairah bahwa Nabi saw. datang ke kuburan,
maka beliau ucapkan: " Assala-mu 'alaikum da-ra qaumin mukmini-na wa
inna- insya- Alla-hu bikum la-hiqu-n.". (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa'i).
Dan hadits 'Aisyah ra. sebagaimana itu, dengan tambahan: " Alla-humma
la- tahrimna- ajrahum wala- taftinna- ba'dahum ". (HR. Ahmad).
تَقْبِلَ 􀑧 لَّ مَ مُسْ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 65 ) لِحَدِيْثِ الْبَرَاءِ أَنَّهُ جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّ )
الْقِبْلَةِ لَمَّا خَرَجَ مِنَ الْمَقْبَرَةِ. ((رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ).
Menilik hadits Bara' bahwasanya Rasulullah saw. duduk menghadap
Qiblat ketika pergi berziarah kubur. (HR. Abu Dawud).
66 ) لِحَدِيْثِ بُرَيْدَةَ قَالَ: آَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا )
دِّيَارِ 􀑧 لَ ال 􀑧 يْكُمْ أَهْ 􀑧 لا مُ عَلَ 􀑧 و لُ: "السَّ 􀑧 ائِلُهُمْ يَقُ 􀑧 خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَ
ا 􀑧 هَ لَنَ 􀑧 أَلُ اللَّ 􀑧 ونَ أَسْ 􀑧 هُ لَ لاَحِقُ 􀑧 اءَ اللَّ 􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧 لِمِينَ وَإِنَّ 􀑧 مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْ
نْ 􀑧 وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ". (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ وَابْنُ مَاجَهَ). ولِحَدِيْثِ مُسْلِمٍ عَ
انَ 􀑧 ا آَ 􀑧 لَّمَ آُلَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ: آَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ
لِ 􀑧 رِ اللَّيْ 􀑧 نْ آخِ 􀑧 رُجُ مِ 􀑧 لَّمَ يَخْ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَ
إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ: السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاآُمْ مَا تُوعَدُونَ
عِ 􀑧 لِ بَقِي 􀑧 رْ لأَهْ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ. اللَّهُ
لَّ مَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 هِ صَ 􀑧 ولَ اللَّ 􀑧 ا، أَنَّ رَسُ 􀑧 ا أَيْضً 􀑧 هُ عَنْهَ 􀑧 دِ". وَلَ 􀑧 الْغَرْقَ
120
لاَثَ 􀑧 هِ ثَ 􀑧 عَ يَدَيْ 􀑧 امَ وَرَفَ 􀑧 الَ الْقِيَ 􀑧 مْ وَأَطَ 􀑧 تَغْفِرُ لَهُ 􀑧 عِ يَسْ 􀑧 ى الْبَقِيْ 􀑧 يْلاً إَلَ 􀑧 خَرَجَ لَ
مَرَّاتٍ. مُخْتَصَرًا.
Mengingat hadits Buraidah, katanya : " adalah Rasulullah saw. mengajar
mereka bilamana mereka pergi ke kuburan, agar supaya membaca"
Assala-mu 'alaikum ahlad diya-ri minal Mukmini-na wal Muslimi-n, wa
inna- insya-Alla-hu lala-hiqu-n. As alulla-ha lana- wa lakumul 'a-fiyah".
(HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah).
Dan menilik hadits 'Aisyah ra, juga bahwasanya Rasulullah saw pada tiap
maalam gilirannya, pergi ke Baqi' pada akhir malam, dengan ucapannya: "
Assala-mu 'alaikum da-ra qaumin mukmini-n wa ata-kum ma-tu-'adu-na
ghadan muaj jalu-n, wa inna- insya-Alla-hu bikum la-hiqu-n. Alla-hum
maghafir liahli Baqi-'il Gharqad." (HR. Muslim).
Dan hadits lainnya dari 'Aisyah r.a. juga, bahwa Rasulullah saw. pergi
pada waktu malam ke Baqi', beliau lama berdo'a, memohon ampun bagi
mereka, dengan mengangkat ke dua tangannya tiga kali. (Hadits
diringkaskan dan diriwayatkan oleh Muslim).
نَ زَوَّارَاتِ 􀑧 لَّ مَ لَعَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 67 ) لِحَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ صَ )
الْقُبُوْرِ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ، بِمَا تَقْتَضِيْهِ الصِّيْغَةُ مِنَ الْمُبَالَغَةِ).
Menurut hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. melaknati
(mengutuk) perempuan-perempuan yang selalu ziarah kubur. (HR.
Ahmad, dengan mengingat kalimat zawwarat, dalam shighah mubalaghah,
yakni ahli ziarah atau selalu berziarah kubur).
121
PENJELASAN
MEMBUKA ALAS KAKI DI KUBURAN
Menjelaskan tanfidz kami akan keputusan Majlis Tarjih dalam Muktamar
ke 27 di Malang, tentang: "Membuka terumpah dalam kuburan" yang sudah kami
muat dalam Suara Muhammadiyah no. 7 tahun 1938 muka 181-183; bahwa
membuka alas kaki, terumpah, sepatu, sandal dsb, itu kalau sudah berjalan di
antara sela kuburan-kuburan; tetapi di jalanan dalam kuburan tidak mengapa
belum dibuka.
Sebagai contoh digambarkan di bawah ini:
B B
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
B
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ A
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
▄ ▄ ▄
A B
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
B A B
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄ ▄
A: Jalanan dalam kuburan
yang belum diperintah
membuka alas kaki.
B: Sela-sela kuburan yang
diperintahkan membuka
alas kaki.

▄ : Kuburan-kuburan
Dengan penjelasan tersebut, maka penanya-penanya akan mendapat
keterangan yang cukup. Kemudian supaya dipenuhi sebagaimana mestinya.
Hoofdbestuur(Pminana Pusat)
MUHAMMADIYAH
(Nukilan Suara Muhammadiyah no.5-6 th.1358/1959).
Lebih jelas periksalah kitab Beberapa Masalah pada nomor 14 di belakang!
122
CATATAN
ARTI DO'A, UCAPAN DAN BACAAN
Yang tercakup dalan kitab janazah ini
Talqin kepada orang yang akan meninggal
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ La- ila-ha illa- lla-h
Tidak ada Tuhan melainkan Allah
Do'a dalam menshalatkan janazah
Allahummaghfirlahu- warhamhu- wa'afi-
hi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahuwa
wassi' madkhalahu- waghsilhu
bima-in wa tsaljin, wa naqqihi- minal
khatha-ya- kama- yunaqqats tsaubul
abyadlu minad danas, wa abdilhu daran
khairan min da-rihi- wa ahlan
khairan min ahlihi- wa zaujan khairan
min zaujihi- wa qihi- fitnatal qabri
wa'adza-bah.
Atau
Alla-hummaghfir lihayyina- wa
mayyitina- wa sya-hidina- wa ghaibina-
wa shaghi-rina- wa kabi-rina wa
dzakarina- wa untsa-na- Alla-humma
man ahyaitahu- minna- fa ahyihi- 'alal
Isla-m, wa man tawaffaitahu- minna- fa
tawaffahu- 'alal i-ma-n
هِ 􀑧􀑧 هُ وَعَافِ 􀑧􀑧 هُ وَارْحَمْ 􀑧􀑧 رْ لَ 􀑧􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧􀑧 اللَّهُ
عْ 􀑧􀑧 هُ وَوَسِّ 􀑧􀑧 رِمْ نُزُلَ 􀑧􀑧 هُ وَأَآْ 􀑧􀑧 فُ عَنْ 􀑧􀑧 وَاعْ
ن 􀑧 هِ مِ 􀑧 جٍ وَنَقِّ 􀑧 مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِمَاءٍ وَثَلْ
أَبْيَضُ 􀑧 وْبُ الْ 􀑧 ى الثَّ 􀑧 ا يُنَقَّ 􀑧 ا آَمَ 􀑧 الْخَطَايَ
نْ 􀑧 رًا مِ 􀑧 هُ دَارًا خَيْ 􀑧 دَّنَسِ وَأَبْدِلْ 􀑧 نْ ال 􀑧 مِ
ا 􀑧 هِ وَزَوْجً 􀑧 نْ أَهْلِ 􀑧 رًا مِ 􀑧 لاً خَيْ 􀑧 دَارِهِ وَأَهْ
رِ 􀑧 ةَ الْقَبْ 􀑧 هِ فِتْنَ 􀑧 هِ وَقِ 􀑧 نْ زَوْجِ 􀑧 رًا مِ 􀑧 خَيْ
وَعَذَابَهُ.
أَوْ
اهِدِنَا 􀑧 ا وَشَ 􀑧 ا وَمَيِّتِنَ 􀑧 رْ لِحَيِّنَ 􀑧 مَّ اغْفِ 􀑧 اللَّهُ
ا 􀑧 ا وَذَآَرِنَ 􀑧 غِيرِنَا وَآَبِيرِنَ 􀑧 ا وَصَ 􀑧 وَغَائِبِنَ
هِ 􀑧 ا فَأَحْيِ 􀑧 هُ مِنَّ 􀑧 نْ أَحْيَيْتَ 􀑧 مَّ مَ 􀑧 وَأُنْثَانَا، اللَّهُ
هُ 􀑧 ا فَتَوَفَّ 􀑧 هُ مِنَّ 􀑧 عَلَى الْإِسْلامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَ
عَلَى اْلإِيمَانِ
Ya Allah, berilah ampunan, rahmat dan 'afiyat kepadanya. Muliakanlah tempat
turunnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah dengan airdan salju,
bersihkanlah dari segala kesalahan, sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari
kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, keluarga
123
yang lebih baik daripada keluarganya dan jodoh yang lebih baik dari pada
jodohnya. Jauhkanlah daripadanya fitnah kubur dan siksaannya.
(atau)
Ya Allah, berilah maghfirah (ampunan) kepada orang-orang kita yang hidup dan
yang mati, yang menyaksikan (hadir) dan yang tidak, yang tua dan yang muda,
yang pria dan yang wanita.
Ya Allah, kepada orang yang 'Kau hidupkan daripada kami, maka hidupkanlah di
atas Islam dan kepada orang yang 'Kau matikan daripada kami, maka matikanlah
di atas Iman.
Do'a dalam menshalatkan
janazah anak-anak
: Alla-hummaj 'alhu lana- salafan wa
farathan wa ajran.
لَفًا وَ 􀑧􀑧 ا سَ 􀑧􀑧 هُ لَنَ 􀑧􀑧 مَّ اجْعَلْ 􀑧􀑧 اللَّهُ
فَرَطًا وَأَجْرًا
Ya Allah, jadikanlah ia pendahulu (penjemput) dan pelebihan (tabungan) serta
upah (pahala) bagi kami.
Tambahan do'a dalam
menshalatkan janazah
Alla-humma la- tahrimna- ajrahuwa
la- tadlil lana- ba'dahu-".
رَهُ وَلاَ 􀑧 ا أَجْ 􀑧 مَّ لاَ تَحْرِمْنَ 􀑧 اللَّهُ
تَضِلَّنَا بَعْدَهُ
Ya Allah, janganlah Engakau menjauhkan kami dari pahalanya dan janganlah
Engkau menyesatkan kami sesudahnya.
Ucapan di waktu mengangkat dan
meletakkan janazak
124
Bismilla-hi wa 'ala- millati Rasulilla-
h
بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ
Dengan nama Allah dan atas (mengikuti) peri-laku Rasulullah
Ucapan di waktu mendapat musibah
Inna- lilla-hi wa inna- ilaihi ra-ji'u-n.
Alla-humma ajirni- fi- mushi-batiwakhluf
li- khairan minha
مَّ 􀑧 و نَ اللَّهُ 􀑧 هِ رَاجِعُ 􀑧 ا إِ لَيْ 􀑧 هِ وَإِنَّ 􀑧 ا لِلَّ 􀑧 إِنَّ
ي 􀑧 فْ لِ 􀑧 يبَتِي وَاخْلُ 􀑧 ي مُصِ 􀑧 ي فِ 􀑧 أْجِرْنِ
خَيْرًا مِنْهَا
Sungguh kita ini kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ya Allah,
berilah kepadaku pahala dalam mushibahku dan gantilahkanlah mushibah itu
dengan kebaikan bagiku.
Do'a di waktu datang ke kuburan
Assala-mu 'alaikum da-ra qaumin
mukmini-na wa inna- insya- Alla-hu
bikum la-hiqu-n. Alla-humma latahrimna-
ajrahum wala- taftinnaba'dahum
ؤْمِنِينَ 􀑧􀑧 وْمٍ مُ 􀑧􀑧 يْكُمْ دَارَ قَ 􀑧􀑧 لامُ عَلَ 􀑧􀑧 السَّ
ونَ" 􀑧􀑧 مْ لا حِقُ 􀑧􀑧 اءَ اللهُ بِكُ 􀑧􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧􀑧 وَإِنَّ
ا 􀑧 رَهُمْ وَلاَتَفْتِنَّ 􀑧 ا أَجْ 􀑧 مَّ لاَتَحْرِمْنَ 􀑧 "اللَّهُ
بَعْدَهُم
Semoga selamat sejahtera bagimu, wahai perumahan orang-orang Mukmin. Dan
insya Allah, kami akan menyusul kamu sekalian. Ya Allah, janganlah Engkau
menjauhkan kami dari pahala mereka dan janganlah Engkau timbulkan fitnah
kepada kamim sepeninggal mereka.
(atau)
Assala-mu 'alaikum ahlad diya-ri
minal Mukmini-na wal Muslimi-n,
نْ 􀑧􀑧 دِّيَارِ مِ 􀑧􀑧 لَ ال 􀑧􀑧 يْكُمْ أَهْ 􀑧􀑧 لامُ عَلَ 􀑧􀑧 السَّ
اءَ 􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧 الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّ
125
wa inna- insya-Alla-hu lala-hiqu-n.
As alulla-ha lana- wa lakumul 'afiyah.
مْ 􀑧 ا وَلَكُ 􀑧 هَ لَنَ 􀑧 أَلُ اللَّ 􀑧 ونَ أَسْ 􀑧 هُ لَلاَحِقُ 􀑧 اللَّ
الْعَافِيَةَ
Semoga selamat sejahtera bagimu penghuni perumahan dari orang-orang Mukmin
dan orang-orang Muslim. Dan kami pun akan menyusu, isya Allah. Kami
memohon kepada Allah 'afiyah (kebaikan) bagi kami dan bagi kamu.
atau
Assala-mu 'alaikum da-ra qaumin
mukmini-n wa ata-kum ma-tu-'aduna
ghadan muaj jalu-n, wa innainsya-
Alla-hu bikum la-hiqu-n. Allahum
maghafir liahli ….
ؤْمِنِينَ 􀑧􀑧 وْمٍ مُ 􀑧􀑧 يْكُمْ دَارَ قَ 􀑧􀑧 لامُ عَلَ 􀑧􀑧 السَّ
ونَ 􀑧 دًا مُؤَجَّلُ 􀑧 دُونَ غَ 􀑧 ا تُوعَ 􀑧 وَأَتَاآُمْ مَ
ونَ. 􀑧 مْ لاَحِقُ 􀑧 هُ بِكُ 􀑧 اءَ اللَّ 􀑧 ا إِنْ شَ 􀑧 وَإِنَّ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَهْلِ ....
Semoga selamat sejahtera kepadamu perumahan kaum Mukminin. Dan semoga
kamu segera memperoleh apa yang telah dijanjikan kepadamu. Dan insya Allah,
kami akan menyusul kamu sekalian. Ya Allah, berilah ampunan kepada penghuni
kuburan (makam) … (sebutkan namanya).
Mendo'akan mayat
.
Alla-hummagh fir li ….. warfa'
darajatahu- fil mahdiyyi-n, wafsah
lahu- fi- qabrihi- wa nawwir lahu- fi-hi,
wakhluf hu fi- 'aqibihi-
يْ 􀑧 هُ فِ 􀑧 عْ دَرَجَتَ 􀑧 ِ ... وَارْفَ 􀑧 اللَّهُمَّ اغْفِرْ ل
رِهِ، 􀑧􀑧 يْ قَبْ 􀑧􀑧 هُ فِ 􀑧􀑧 حْ لَ 􀑧􀑧 دِيِّيْنَ، وَافْسَ 􀑧􀑧 الْمَهْ
وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ.
Ya Allah berilah ampunan kepada … (sebutkan namanya) dan angkatlah
derajatnya dalam golongan orang yang lebih shalih(mendapat petunjuk)
lapangkanlah dalam kuburnyadan berilah penerangan di dalamnya serta berilah
gantinya pada sesudahnya.
126
Ucapan kepada yang dilayati
(Keluarga mayat)
Lilla-hi ma-akhadza wa lahu-maa'tha-
wa kulla syaiin 'indahu- bi
ajalim musamma-
لُّ 􀑧 ى وَآُ 􀑧 ا أَعْطَ 􀑧 هُ مَ 􀑧 ذَ وَلَ 􀑧 ا أَخَ 􀑧 لِلهِ مَ
شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَ  مى
Adalah hak Allah untuk mengambil dan memberi, segala sesuatu itu ada batasnya.
127
آتاب الوقف
KITAB WAKAF
مُقَدِّمَةٌ
PENDAHULUAN
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah, Maha Penyayang Maha Pengasih
مْ 􀑧 رَ لَعَلَّكُ 􀑧 وا الْخَيْ 􀑧 مْ وَافْعَلُ 􀑧 دُوا رَبَّكُ 􀑧 جُدُوا وَاعْبُ 􀑧 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ارْآَعُوا وَاسْ
( تُفْلِحُونَ. (الحج: 77
Hai orang-orang yang beriman, ruku` dan sujudlah kamu, serta sembahlah
Tuhanmu dan perbuatlah kebaikan, supaya kamu berbahagia. (al-Hajj: 77)
ةً 􀑧 اةً طَيِّبَ 􀑧 هُ حَيَ 􀑧 ؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّ 􀑧 وَ مُ 􀑧 ى وَهُ 􀑧 رٍ أَوْ أُنْثَ 􀑧 نْ ذَآَ 􀑧 الِحًا مِ 􀑧 لَ صَ 􀑧 نْ عَمِ 􀑧 مَ
( وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا آَانُوا يَعْمَلُونَ. (النحل: 97
Barangsiapa berbuat kebaikan, pria atau wanita dalam hal dia beriman, niscaya
akan Aku beri kehidupan yang baik dan niscaya akan Aku beri pahala yang lebih
bagus dari apa yang telah mereka amalkan. (an-Nahl: 97)
هِ 􀑧 عُ بِ 􀑧 مٍ يُنْتَفَ 􀑧 إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ).
Apabila anak Adam mati, putuslah 'amalnya, kecuali dari tiga: 1. Sedekah jariyah
(yang langsung faedahnya), 2. 'Ilmu yang diambil manfaatnya dan 3. Anak shalih
yang mendo'akan orang tuanya. (HR. Muslim dari Abu Huarairah).
128
آِتَابُ الْوَقْفِ
ي 􀑧 عَ فِ 􀑧 ةِ أَوْ اسْ 􀑧 الِحِ الْعاَمَ 􀑧 يْ الْمَصَ 􀑧 الَى فِ 􀑧 ا للهِ تَعَ 􀑧 كَ وَقْفً 􀑧 بَعْضِ مَالِ 􀑧 دَّقْ بِ 􀑧 تَصَ
ذِيْ 􀑧 رُ الَّ 􀑧 كَ اْلأَجْ 􀑧 تْ لَ 􀑧 كَ للهِ( 2) يَثْبُ 􀑧 ا نِيَّتَ 􀑧 هُ( 1) مُخْلِصً 􀑧 الٍ تَقِفُ 􀑧 ى مَ 􀑧 وْلِ عَلَ 􀑧 الْحُصُ
لاَ 􀑧 هِ( 4) فَ 􀑧 اعُ بِ 􀑧 هُ اْلاِنْتِفَ 􀑧 نْ لَ 􀑧 قُّ مَ 􀑧 كَ إِلاَّ حَ 􀑧 لاَيَنْقَطِعُ( 3) فَإِذَا وَقَفْتََ شَيْئًا فَلَيْسَ لَ
كَ أَنْ 􀑧 دُوْ دٍ( 6) وَلَ 􀑧 فٍ مَحْ 􀑧 كَ بِوَقْ 􀑧 دْ وَقْفَ 􀑧 وْرَ ثُ( 5) وَلاَتُقَيِّ 􀑧 بُ وَلاَيُ 􀑧 اعُ وَلاَيُوْهَ 􀑧 يُبَ
هِ 􀑧􀑧 رَى فِيْ 􀑧􀑧 ثُ تَ 􀑧􀑧 ا حَيْ 􀑧􀑧 جِدٍ أَوْ غَيْرِهَ 􀑧􀑧 وْمٍ أَوْ مَسْ 􀑧􀑧 خْصٍ أَوْ قَ 􀑧􀑧 هُ لِشَ 􀑧􀑧 تُخَصِّصَ
ةُ( 8) وَإِذَا 􀑧 هُ الْفِتْنَ 􀑧 افُ مِنْ 􀑧 ا تُخَ 􀑧 يَّةِ اللهِ أَوْ مَ 􀑧 الْمِصْلَحَةَ( 7) وَلاَيَكُنْ وَقْفُكَ لِمَعْصِ
وًا 􀑧 اظِرًا أَوْ عُضْ 􀑧 تَ نَ 􀑧 ثِ( 9) وَإِنْ آُنْ 􀑧 ى الثُّلُ 􀑧 زِدْ عَلَ 􀑧 لاَ تَ 􀑧 كَ فَ 􀑧 وَصَّيْتَ بِوَقْفِ مَالِ
فِ 􀑧 دِ الْوَاقِ 􀑧 ى قَصْ 􀑧 ا عَلَ 􀑧 يَ بِهَ 􀑧 كَ أَنْ تَعْتَنِ 􀑧 افِ فَعَلَيْ 􀑧 ةِ اْلأَوْقَ 􀑧 اءِ لَجْنَ 􀑧 نْ أَعْضَ 􀑧 مِ
ى 􀑧 ا( 10 ) مَتَ 􀑧 تَدِرَّ مَنَافِعَهَ 􀑧 رِ اللهِ وَأَنْ تَسْ 􀑧 الاً لأَوَامِ 􀑧 وَتَتَصَرَّفَ عَلَى وَجْهِهَا اِمْتِثَ
ا 􀑧 هُ أَوْمَ 􀑧 ا يُمَاثِلُ 􀑧 هِ فِيْمَ 􀑧 رُّفُ بِ 􀑧 كَ التَّصَ 􀑧 لاَكٍ فَلَ 􀑧 وِ هَ 􀑧 هِ لِنَحْ 􀑧 وْفِ بِ 􀑧 عُ الْمَوْقُ 􀑧 دِمَ نَفْ 􀑧 عَ
وْفِ 􀑧 تِدَامَةً لِلْوُقُ 􀑧 هِ اِسْ 􀑧 رَ بِثَمَنِ 􀑧 يْئٍ آخَ 􀑧 رَاءُ شَ 􀑧 هُ أَوْ شِ 􀑧 عِ. أَوْ بَيْعُ 􀑧 يْ النَّفْ 􀑧 ابِهُهُ فِ 􀑧 يَشَ
ا 􀑧 رَّفْ فِيْهَ 􀑧 فِ فَتَصَ 􀑧 الَ الْوَقْ 􀑧 بْتَ مَ 􀑧 افِ أَوْ أَصَ 􀑧 وْدًا لِلأَوْقَ 􀑧 لَّمْتَ نُقُ 􀑧 11 ) وَإِذَا تَسَ )
يْ 􀑧 كَ فِ 􀑧 ا( 12 )، وَلَ 􀑧 زًا مَلْعُوْنً 􀑧 بِكُلِّ رِعَايَتِكَ فِي الصَّدَقَةِ الْجَارِيَةِ آَيْلاَ تَكُوْنُ آَنْ
.( حِفْظِهَا أَنْ تَأْخُذَ الْمُؤْنَةَ مِنْ مَحْصُوْلاَتِهَا أَوْ مِنْ التَّبَرُّعَاتِ( 13
KITAB WAKAF
Wakafkanlah sebagaian barang milikmu yang beguna bagi umum, atau
berusahalah engkau mengadakan barang yang akan engkau wakafkan(1) dengan
ikhlas niatmu karena Allah(2), dengan demikian akan tetaplah pahala yang tidak
akan putus bagimu(3).
Kalau engkau telah mewakafkan, maka tidak berhak lagi engkau atas
barang itu, kecuali sebagai orang lain yang hanya berhak menggunakannya
saja(4), selanjutnya barang itu tidak boleh dijual, diberikan dan tidak boleh
diwariskan(5).
Maka janganlah engkau memberi batas waktu akan waqafmu itu(6) dan
boleh engkau menentukan waqaf kepada seseorang atau golongan atau masjid dan
sebagainya mengingat maslahat-maslahatnya(7), begitu juga jangan mewakqafkan
barang yang semata-mata menjadi larangan Allah atau yang menimbulkan
129
fitnah(8). Jangan berwashiyat mewaqafkan barang lebih dari seprtiga dari pada
harta kekayaanmu(9).
Kalau engkau menjadi anggota badan atau penguasa waqaf (nadlir),
wajiblah engkau pelihara sesuai dengan maksud orang yang berwaqaf, serta
mempergunakan sebagaimana mestinya, dengan kepada Allah dan berusaha
memperbanyak faedah dari barang waqaf itu(10).
Di mana perlu, kalau barang waqaf itu sudah lapuk atau rusak bolehlah
engkau pergunakan untk lainnya yang serupa atau engkau jual dan engkau belikan
barang lain untuk meneruskan waqafnya(11).
Kalau engkau menerima uang untuk waqaf atau mendapati barang waqaf
yang tidak tertentu, yang berwaqaf(waqifnya) tidak menentukan, hendaklah
engkau pergunakan sebagai 'amal jariyah yang sebaik-baiknya, jangan sampai
benda-benda waqaf itu tertimbun menjadi kanaz(timbunan) yang terkutuk(12).
Kalau perlu, perongkosan dalam mengurus dan menjaga barang-barang
waqaf itu diambilkan dari hasil yang didapat dari waqaf itu, atau diikhtiarkan
sumber bantuan lainnya(13).
.
130
اْلأَدِلَّةُ
Alasan (Dalil)
هُ 􀑧 يَ اللَّ 􀑧 رُ رَضِ 􀑧 ابَ عُمَ 􀑧 ا لَ: أَصَ 􀑧 ا قَ 􀑧 1) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهمَ )
بْتُ 􀑧 ا لَ: أَصَ 􀑧 لَّمَ فَقَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 عَنْه أَرْضًا بِخَيْبَرَ. فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّ
أَرْضًا بِخَيْبَرَ مَا لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ هو أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ. فَمَاَ تَأْمُرُنِي
ا 􀑧 دَّقَ بِهَ 􀑧 ا لَ: فَتَصَ 􀑧 ا. قَ 􀑧 دَّقْتَ بِهَ 􀑧 لَهَا وَتَصَ 􀑧 بِهِ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْ
بُ. 􀑧 وَرَّثُ وَ لاَ يُوهَ 􀑧 لُهَا وَ لاَ يُ 􀑧 اعُ أَصْ 􀑧 ه، لاَ يُبَ 􀑧 هُ عَنْ 􀑧 يَ اللَّ 􀑧 رُ رَضِ 􀑧 عُمَ
بِيلِ 􀑧 ي سَ 􀑧 ابِ وَفِ 􀑧 يْ الرِّقَ 􀑧 ى وَ فِ 􀑧 يْ الْقُرْبَ 􀑧 رَاءِ وَ فِ 􀑧 يْ الْفُقَ 􀑧 رُ فِ 􀑧 فَتَصَدَّقَ عُمَ
نْ 􀑧 ى مَ 􀑧 احَ عَلَ 􀑧 يْ فِ. وَلاَ جُنَ 􀑧 ةٍ: وَالضَّ 􀑧 ي رِوَايَ 􀑧 بِي لِ. زَادَ فِ 􀑧 نِ السَّ 􀑧 اللَّهِ وَابْ
ا لاً. 􀑧 لٍ مَ 􀑧 رَ مُتَأَثِّ 􀑧 دِيقًا غَيْ 􀑧 مَ صَ 􀑧 الْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِ 􀑧 ا بِ 􀑧 لَ مِنْهَ 􀑧 وَلِيَهَا أَنْ يَأْآُ
ى 􀑧 نْ يَحْيَ 􀑧 (أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ). الْمُتَأَثِّلُ: الَّذِي يَدَّخِرُ الْمَالَ وَيَقْتَنِيْهِ. وَعَ
بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: الحَدِيْثَ.
Menurut hadits Ibnu 'Umar yang berkata bahwa Sahabat 'Umar r.a
memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu menghadap Nabi saw, seraya
berkata: "Aku telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar yang belum
pernah kudapati seindah itu, maka apa yang akan engkau perintahkan
kepadaku?". Sabda Rasulullah saw.: "Jika suka, engkau tahan pokoknya
dan engkau gunakan untuk sedekah(jadikanlah waqaf)". Kata Ibnu 'Umar
(:"Kemudian sahabat 'Umar mensedekahkannya, tidak dijual pokoknya,
tidak diwarisi dan tidak pula diberikan kepada orang lain"). Berkata Ibnu
'Umar: "Maka 'Umar mensedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum
keluarga, budak belian, pada jalan Allah dan ibnussabil (musafir yang
kehabisan bekal)". - Ditambah pada riwayat lain dan kepada tamu". – Dan
tidak mengapa bagi orang yang menguasai tanah waqaf itu akan makan
dari pada hasilnya dengan sepantasnya atau memberi makan pada teman,
dengan tidak bermaksud pengumpulan dan penabungan kekayaan. (HR.
Lima Ahli Hadits). Ada hadits seperti itu juga yang diriwayatkan oleh
Yahya bin Sa'id.
131
هِ 􀑧 2) لِحَدِيْثِ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْ )
ارِيُّ و 􀑧 دِيْثَ. (رَوَاهُ الْبُخَ 􀑧 يَّاتِ. الحَ 􀑧 الُ بِالنِّ 􀑧 ا اْلأَعْمَ 􀑧 الَ: إَنَّمَ 􀑧 لَّمَ قَ 􀑧 وَسَ
هُ 􀑧 ينَ لَ 􀑧 هَ مُخْلِصِ 􀑧 دُوا اللَّ 􀑧 رُوا إِ لاَّ لِيَعْبُ 􀑧 ا أُمِ 􀑧 الَى : وَمَ 􀑧 هِ تَعَ 􀑧 لِمٌ). وَلِقَوْلِ 􀑧 مُسْ
.( الدِّينَ. الآية. (البّيِّنَة: 5
Menilik hadits dari sahabat 'Umar bin Khathab, bahwasanya Nabi saw.
bersabda: "Sesungguhnya segala 'amal itu dengan niat dan bagi tiap orang
apa yang diniatkan ….. "seterusnya hadits. (HR. Bukhari dan Muslim).
Juga mengingat firman Allah Ta'ala: "Mereka tidak diperintah melainkan
supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan niat kepada-Nya,
menjalankan agama dengan lurus ..…. " seterusnya ayat. (QS. Al-
Bayyinah:5).
.
لَّمَ 􀑧 هِ وَسَ 􀑧 هُ عَلَيْ 􀑧 لَّى اللَّ 􀑧 3) لِحَدِيْثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَ )
ةٍ أَوْ 􀑧 دَقَةٍ جَارِيَ 􀑧 لا ثٍ: صَ 􀑧 نْ ثَ 􀑧 هُ إِ لاَّ مِ 􀑧 قََالَ: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُ
عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).
Menilik hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi saw. bersabda: " Apabila
anak Adam meninggal dunia, maka putuslah 'amalnya, kecuali dari tiga
perkara: 1. Sedekah jariyah (yang langsung faedahnya), 2. 'Ilmu yang
diambil manfaatnya dan 3. Anak shalih yang mendo'akan orang tuanya
"seterusnya hadits. (HR. Muslim).
- 4) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ في الرقم - 1 )
Mengingat hadits Ibnu 'Umar yang tersebut dalam nomor 1 di atas.
- 5) لِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ في الرقم - 1 )
Mengingat hadits Ibnu 'Umar yang tersebut dalam nomor 1 di atas.
6) لِمَا يُفْهَمُ مِنَ الْحَدِيْثِ 1 و 3، مِنْ غَيْرِ تَحْدِيْدِ الْمُدَّةِ. )
132
Menilik pengertian dari hadits nomor 1 dan nomor 3 di atas, yang tidak
membatasi waktu.
يْ 􀑧 رَاءِ وَ فِ 􀑧 يْ الْفُقَ 􀑧 رُ فِ 􀑧 دَّقَ عُمَ 􀑧 هُ: فَتَصَ 􀑧 دِيْثِ - 1- قَوْلُ 􀑧 وْمِ الْحَ 􀑧 رًا لِعُمُ 􀑧 7) نَظْ )
دِيْثَ. 􀑧 بِي لِ. الحَ 􀑧 نِ السَّ 􀑧 هِ وَابْ 􀑧 بِيلِ اللَّ 􀑧 ي سَ 􀑧 ابِ وَفِ 􀑧 يْ الرِّقَ 􀑧 ى وَ فِ 􀑧 الْقُرْبَ
ولِلإِجْمَاعِ مِنْ أَنَّ شَرْطَ الْوَاقِفِ آَنَصِّ الشَّارِعِ مِا لَمْ يُخَالِفْ مَا جَاءَ
بِهِ الشَّرْعُ.
Menilik pada umumnya hadits nomor 1 yang berbunyi: "Maka 'Umar
mensedekahkan kepada orang fakir, kaum keluarga, budak belian, pada
jalan Allah dan ibnussabil …." seterusnya hadits. Dan karena ijma' Ahli
Fiqh bahwa syarat orang yang waqaf itu setingkat dengan nash Syar'I,
yakni selagi tidak menyalahi syara'.
مِ 􀑧 ى الإِثْ 􀑧 اوَنُوا عَلَ 􀑧 وَى وَ لاَ تَعَ 􀑧 رِّ وَالتَّقْ 􀑧 ى الْبِ 􀑧 اوَنُوا عَلَ 􀑧 الَى : وَتَعَ 􀑧 8) لِقَوْلِهِ تَعَ )
دَّمٌ 􀑧 دِ مُقَ 􀑧 ةِ. وَدَرْءُ الْمَفَاسِ 􀑧 وَالْعُدْوَانِ.(المائدة: 2) وللقاعدة: سَ دا لِلذَّرِيْعَ
عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ.
Mengingat firman Allah Ta'ala: "Bertolong-menolonglah kamu untuk
perbuatan yang baik dan takwa kepada Allah. Dan janganlah kamu
bertolong-menolong kepada perbuatan dosa dan permusuhan". (QS. al-
Maidah: 3).
Dan mengingat kaidah Ushul Fiqh: "Mencegah terjadinya ma'shiyat dan
menghindarkan kerusakan harus didahulukan daripada mencapai
kemaslahatan".
9) لِحَدِيْثِ سَعْد بْنِ وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا )
ا لَ: 􀑧 الِي ؟ قَ 􀑧 يْ مَ 􀑧 دَّقُ بِثُلُثَ 􀑧 دَةٌ أَفَأَتَصَ 􀑧 ي وَاحِ 􀑧 ةٌ لِ 􀑧 ذُو مَالٍ وَلاَ يَرِثُنِي إِلاَّ ابْنَ
الَ: 􀑧 هِ؟ قَ 􀑧 دَّقُ بِثُلُثِ 􀑧 تُ: أَفَأَتَصَ 􀑧 الَ: لاَ. قُلْ 􀑧 طْرِهِ؟ قَ 􀑧 دَّقُ بِشَ 􀑧 تُ: أَفَأَتَصَ 􀑧 لاَ. قُلْ
ةً 􀑧 ذَرَهُمْ عَالَ 􀑧 نْ أَنْ تَ 􀑧 رٌ مِ 􀑧 اءَ خَيْ 􀑧 كَ أَغْنِيَ 􀑧 ذَرَ وَرَثَتَ 􀑧 كَ أَنْ تَ 􀑧 رٌ إِنَّ 􀑧 ثُ آَثِي 􀑧 الثُّلُ
يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
133
Menilik hadits Sa'ad bin abi waqash r.a, bahwa ia menanyakan: "Hai
Rasulullah, aku seorang yang mempunyai harta benda, warisku hanya
seorang anak perempuan, bolehkah aku sedekahkan dua-pertiga harta
bendaku?". Nabi saw. menjawab: "Jangan!. Aku bertanya pula: "
Bolehkah aku sedekahkan separuh dari harta bendaku?". Nabi saw.
menjawab: "Jangan!. Aku bertanya lagi: ". Bolehkah aku sedekahkan
sepertiganya?". Jawab Nabi saw.: "Sepertiga itu sudah banyak;
sesungguhnya jika engkau tinggalkan ahli warismu menjadi orang
berkecukupan itu lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka menjadi
orang miskin yang meminta-minta kepada orang". (HR. Bukhari dan
Muslim).
ون: 􀑧 ونَ. (المؤمن 􀑧 دِهِمْ رَاعُ 􀑧 اتِهِمْ وَعَهْ 􀑧 مْ لأَمَانَ 􀑧 ذِينَ هُ 􀑧 الَى: وَالَّ 􀑧 هِ تَعَ 􀑧 10 ) لِقَوْلِ )
ئُوْلُ 􀑧 مْ رَاعٍ وَمَسْ 􀑧 ا لَ: آُلُّكُ 􀑧 8). وَلِحَدِيْثِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهمَا قَ
عَنْ رَاعِيَّتِهِ. (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ).
Mengingat firman Allah Ta'ala: "Dan mereka yang memelihara amanatamanat
(yang dipikulnya) dan janjinya. ( QS. al-Mu'minun: 8).
Dan mengingat hadits Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Masing-masing dari kamu adalah penggembala dan akan disoal tentang
gembalaannya(dimintai pertanggung jawabannaya)". (HR. Bukhari dan
Muslim).
11 ) حِفْظًا لِلْمَصْلَحَةِ. )
Guna menjaga kemaslahatan.
بِيلِ 􀑧 ي سَ 􀑧 12 ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِ )
.( اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. (التوبة: 34
Karena menilik firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang menimbun
emas dan perak(harta benda) sedang mereka tidak pergunakannya pada
134
jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka itu, dengan siksa yang
pedih. (QS. At-Taubah: 34).
ا أَنْ 􀑧 نْ وَلِيَهَ 􀑧 ى مَ 􀑧 احَ عَلَ 􀑧 هُ: وَلاَ جُنَ 􀑧 رَّقْمِ - 1- قَوْلُ 􀑧 ي ال 􀑧 13 ) لِلْحَدِيْثِ الْمُتَقَدَّمِ ف )
يَأْآُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ. الْحَدِيْث.
Menilik hadits yang tersebut pada nomor 1 di atas ialah sabda Nabi saw.:
"Tidak mengapa bagi orang yang menguasai tanah waqaf itu akan makan
daripada hasilnya dengan sepantasnya." ….. seterusnya hadits.
آتاب المسائل الخمس
KITAB MASALAH LIMA
الدين
دين 􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧 دين {أى ال 􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧􀑧 1. ال
د 􀑧 ه محم 􀑧 اء ب 􀑧 ذى ج 􀑧 لامي }ال 􀑧 الإس
ا 􀑧􀑧 و م 􀑧􀑧 لم ه 􀑧􀑧 ه وس 􀑧􀑧 لى الله علي 􀑧􀑧 ص
اءت 􀑧 ا ج 􀑧 أنزله الله فى القرآن وم
AGAMA
1. Agama ialah agama Islam Allah
yang dibawa oleh Nabi Muhammad
SAW ialah apa yang diturunkan
135
ر 􀑧 به السنة الصحيحة من الأوام
لاح 􀑧 ادات لص 􀑧 والنواهى والإرش
العباد دنياهم وأخراهم.
ى 􀑧 رعه الله عل 􀑧 ا ش 􀑧 و م 􀑧 دين ه 􀑧 2. ال
ر 􀑧􀑧􀑧 ن الأوام 􀑧􀑧􀑧 ه م 􀑧􀑧􀑧 ان أنبيائ 􀑧􀑧􀑧 لس
لاح 􀑧 ادات لص 􀑧 والنواهى والإرش
العباد دنياهم وأخراهم.
Allah di dalam Quran dan yang
tersebut dalam sunnah yang shahih,
berupa perintah-perintah dan
larangan-larangan serta petunjuk
untuk kebaikan manusia di Dunia
dan Akherat.
2. Agama ialah apa yang disyariatkan
Allah dengan perantara Nabi-Nabi-
Nya, berupa perintah-perintah dan
larangan-larangan serta petunjukpetunjuk
untuk kebaikan manusia di
Dunia dan Akherat.
الدنيا
ه 􀑧􀑧 ى قول 􀑧􀑧 دني ا" ف 􀑧􀑧 أمر ال 􀑧􀑧 راد "ب 􀑧􀑧 الم
و 􀑧 اآم . ه 􀑧 أمر دني 􀑧 م ب 􀑧 صلعم: أنتم أعل
ا 􀑧􀑧 ث لأجله 􀑧􀑧 م يبع 􀑧􀑧 ى ل 􀑧􀑧 ور الت 􀑧􀑧 الأم
الأنبياء
DUNIA
Yang dimaksud "urusan dunia" dalam
sabda Rasulullah SAW.: "Kamu lebih
mengerti urusan duniamu" ialah
segala perkara yang tidak menjadi
tugas diutusnya para Nabi (yaitu
perkara-perkara/pekerjaanpekerjaan/
urusan-urusan yang
diserahkan sepenuhnya kepada
kebijaksanaan manusia).
العبادة
ال 􀑧 ى الله بامتث 􀑧 العبادة هى التقرب ال
ل 􀑧 ه والعم 􀑧 اب نواهي 􀑧 ره واجتن 􀑧 أوام
ة 􀑧􀑧 ى عام 􀑧􀑧 ارع وه 􀑧􀑧 ه الش 􀑧􀑧 ا اذن ب 􀑧􀑧 بم
ه 􀑧 ل أذن ب 􀑧 ل عم 􀑧 ة آ 􀑧 ة فالعام 􀑧 وخاص
دده 􀑧􀑧􀑧 ا ح 􀑧􀑧􀑧 ة م 􀑧􀑧􀑧 ارع و الخاص 􀑧􀑧􀑧 الش
ات و 􀑧 ات وهيئ 􀑧 ا بجزئي 􀑧 ارع فيه 􀑧 الش
'IBADAH
'Ibadah ialah bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah,
dengan jalan menta'ati segala
perintah-perintah-Nya, menjauhi
larangan-larangan-Nya dan
meng'amalkan segala yang diidzinkan
136
آيفيات مخصوصة Allah.
'Ibadah itu ada yang umum dan ada
yang khusus:
a. Yang umum ialah segala 'amalan
yang diidzinkan Allah.
b. Yang khusus ialah apa yang telah
ditetapkan Allah akan perincianperinciannya,
tingkah dan caracaranya
yang tertentu.
سبيل الله
سبيل الله هو الطريق الموصل إلى
ل أذن 􀑧 ل عم 􀑧 ن آ 􀑧 اه الله م 􀑧 ا يرض 􀑧 م
الله به لإعلاء آلمته وتنفيذ أحكامه
SABILILLAH
Sabilillah ialah jalan yang
menyampaikan kepada keridlaan
Allah, berupa segala 'amalanyang
didzinkan Allah untuk memuliakan
kalimat (agama)-Nya dan
melaksanakan hukum-hukum-Nya
القياس
اس 􀑧 ئلة القي 􀑧 ول مس 􀑧 1. بعد البحث ح
ا 􀑧 تم ع فيه 􀑧 ات يس 􀑧 لاث جلس 􀑧 ى ث 􀑧 ف
ى 􀑧 رين ف 􀑧 وث المعتم 􀑧 المعتمر لبح
ين 􀑧􀑧 اورة ب 􀑧􀑧 لاث دورات ومح 􀑧􀑧 ث
الفريقين فى دورة واحدة.
اب 􀑧􀑧 ير المناقش 􀑧􀑧 ع س 􀑧􀑧 د تتب 􀑧􀑧 2. وبع
اقها 􀑧 ى س 􀑧 ة الت 􀑧 اء الأدل 􀑧 واستقص
رار 􀑧 الفريقان ومع العلم أن أي ق
يتخذ إنما هو ترجيح بين الآراء
ال أي 􀑧􀑧􀑧 ة دون إبط 􀑧􀑧􀑧 المعروض
رأي مخالف.
QIYAS
1. Setelah persoalan qiyas dibicarakan
dalam waktu tiga kali sidang,
dengan mengadakan tiga kali
pemandangan umum dan satu kali
tanya-jawab antara kedua belah
pihak;
2. Setelah mengikuti dengan teliti akan
jalannya pembicaraan dan alasanalasan
yang dikemukakan oleh
137
قرر المعتمر:
ريع 􀑧􀑧􀑧􀑧 ى التش 􀑧􀑧􀑧􀑧 ل ف 􀑧􀑧􀑧􀑧 أ. أن الأص
و 􀑧 لاق ه 􀑧 ى الإط 􀑧 لامى عل 􀑧 الإس
ديث 􀑧􀑧􀑧􀑧 ريم والح 􀑧􀑧􀑧􀑧 رآن الك 􀑧􀑧􀑧􀑧 الق
الشريف.
د 􀑧 روف عن 􀑧 تدعت الظ 􀑧 ى اس 􀑧 ب . ومت
ت 􀑧 ت و دع 􀑧 ور وقع 􀑧 ة أم 􀑧 مواجه
ت 􀑧 ا وليس 􀑧 ل به 􀑧 ى العم 􀑧 الحاجة إل
ادات 􀑧􀑧􀑧 ور العب 􀑧􀑧􀑧 ن أم 􀑧􀑧􀑧 ى م 􀑧􀑧􀑧 ه
ا 􀑧 ى حكمه 􀑧 رد ف 􀑧 م ي 􀑧 ة ول 􀑧 المحض
رآن أو 􀑧􀑧 ن الق 􀑧􀑧 ريح م 􀑧􀑧 ص ص 􀑧􀑧 ن
ول 􀑧􀑧 حيحة. فالوص 􀑧􀑧 نة الص 􀑧􀑧 الس
ق 􀑧 ن طري 􀑧 ا ع 􀑧 ة حكمه 􀑧 إلى معرف
ن 􀑧􀑧􀑧 تنباط م 􀑧􀑧􀑧 اد والاس 􀑧􀑧􀑧 الاجته
اس 􀑧 ى أس 􀑧 النصوص الواردة عل
ه 􀑧 رى علي 􀑧 ا ج 􀑧 ل آم 􀑧 اوى العل 􀑧 تس
لف 􀑧􀑧 اء الس 􀑧􀑧 د علم 􀑧􀑧 ل عن 􀑧􀑧 العم
والخلف
kedua belah pihak, dan dengan
MENGINSYAFI bahwa tiap-tiap
keputusan yang diambil olehnya itu
hanya sekedar mentarjihkan diantara
pendapat-pendapat yang ada, tidak
berarti menyalahkan pendapat yang
lain.
Memutuskan:
a. Bahwa DASAR muthlaq untuk
berhukum dalam agama Islam
adalah Al-Quran dan Al-Hadits.
b. Bahwa di mana perlu dalam
menghadapi soal-soal yang telah
terjadi dan sangat dihajatkan untuk
diamalkannya, mengnai hal-hal yang
tak bersangkutan dengan 'ibadah
mahdlah padahal untuk alasan
atasnya tiada terdapat nash sharih di
dalam Al-Quran atau Sunnah
Shahihah, maka dipergunakan
alasan dengan jalan Ijtihad dan
Istinbath daripada Nash-nash yang
ada, melalui persamaan 'illat;
sebagaimana telah dilakukan oleh
'ulama-'ulama Salaf dan Khalaf.
138
{آتاب مسائل شتى}
KITAB BEBERAPA MASALAH
1) حكم من آمن بنبوة احد بعد نبينا محمد صلعم )
1. Hukum orang yang mengimankan kanabian
seseorang sesudah N. Muhammad saw.
ا 􀑧 د أب 􀑧 ان محم 􀑧 ا آ 􀑧 الى : م 􀑧 ول الله تع 􀑧 ه بق 􀑧 من آمن بنبوة محمد صلعم ذآر ل
ه 􀑧 وله : ان 􀑧 وال رس 􀑧 ين ، وأق 􀑧 اتم النبي 􀑧 ول الله وخ 􀑧 ن رس 􀑧 احد من رجالكم ولك
139
ي 􀑧 ين لا نب 􀑧 اتم النبي 􀑧 ا خ 􀑧 سيكون في أمتي آذابون آلهم يزعم أنه نبي، وأن
ى 􀑧 ن قبل 􀑧 اء م 􀑧 ل الأنبي 􀑧 ي ومث 􀑧 ان، ومثل 􀑧 ن ثوب 􀑧 ه ع 􀑧 ن مردوي 􀑧 دى (رواه اب 􀑧 بع
ن 􀑧 ة م 􀑧 ن ز اوي 􀑧 ة م 􀑧 ع لبن 􀑧 ه الا موض 􀑧 نه واجمل 􀑧 ا فاحس 􀑧 ي بنيان 􀑧 ل بن 􀑧 ل رج 􀑧 آمث
عت 􀑧 لا وض 􀑧 ون : ه 􀑧 ه ويقول 􀑧 ون ل 􀑧 ه ويجعل 􀑧 ون ب 􀑧 اس يطوف 􀑧 زواياه فجعل الن
حيحه 􀑧 هذه اللينة ؟ قال : فاخا البنة وانا خاتم النبيين (رواه مسلم في ص
ى 􀑧 ريح عل 􀑧 عن ابي هريرة وغيرهما من الاحاديث المصرحة بالنص الص
ا 􀑧 ذب به 􀑧 ن آ 􀑧 أنه لا نبي بعده). فان لم يقبلها ولم يصدقها فهو مكذب، وم
فقد آفر.
Barang siapa mengimankan kenabian seseorang sesudah Nabi Muhammad SAW,
maka harus diperingatkan dengan firman Allah “Muhammad itu bukannya bapak
seseorang dari padamu, tetapi ia Pesuruh Allah dan penutup sekalian Nabi”; dan
sabda Rasulnya: “Dalam ummatku akan ada pendusta-pendusta, semua mengaku
dirinya Nabi, padahal aku ini penutup sekalian Nabi, yang tidak ada Nabi selain
Nabi sesudahku”. (Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaihi dari Tsauban).
Begitu juga sabda Nabi : “Perumpamaanku dan sekalian Nabi sebelumku adalah
ibarat seorang yang mendirikan gedung. Maka diperbaguskan dan perindahkan
bangunan itu kecuali satu bata (yang belum dipasang) pada salah satu penjurupenjurunya,
maka orang-orang mengelilinginya dengan heran dan katanya :
“Mengapakah bata ini tidak dipasang?”. Sabda Rasulullah : “Aku inilah bata itu,
dan aku inilah penutup sekalian Nabi”. (hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah);dan banyak lagi hadits yang
menerangkan dengan jelas bahwa tak ada Nabi sesudah Nabi Muhammad SAW.
Jikalau orang tidak menerima dan tidak mempercayai ayat dan hadits tersebut
maka ia mendustakannya, maka barang siapa mendustakannya maka kafirlah ia.
2) حكم الصورة )
2. HUKUM GAMBAR
الصورة حكمها يدور على علتها وهي ثلاثة اقسام : قسم للعبادة فحكمه
حرام بالنص, وقسم للتعليم فحكمه جائز, وقسم للزينة وهي قسمان : قسم
140
لا يخاف معه الفتنة ان آانت معصية فمكروه. وانكانت شرآا فحرام:
آصورة الانبياء والصالحين. وبما ان المجلس يرى ان صورة الاستاذ
العالم آياهى احمد دحلان مؤسس الجمعيةالمحمدية, يخاف منها الفتنة,
قرر مجلس الترجيح بحرمة اتخاذها زينة.
Gambar itu hukumnya berkisar kepada “illatnya (sebabnya) ialah ada 3 macam :
a. Untuk disembah hukumnya haram, berdasarkan nash
b. Untuk sarana pengajaran, hukumnya mubah
c. Untuk perhiasan ada dua macam :
c.a. Tidak khawatir mendatangkan fitnah, hukumnya mubah.
c.b. Mendatangkan fitnah ada 2 macam :
c.b.1. Jika fitnah itu kepada ma’shiyat, hukumnya makruh
c.b.2. Jika fitnah itu pada musyrik, hukumnya haram seperti gambargambar
Nabi dan orang-orang shaleh
Dan oleh karena gambar Kiyai Haji Ahmad Dahlan pendiri persyarikatan
Muhammadiyah itu dikhawatirkan mendatangkan fitnah kemusyrikan, maka
Majelis Tarjih memutuskan, bahwa gambar beliau itu haram dipasang untuk
perhiasan. ∗)
3) مسألة ايقاد النار لكشافة الجمعية المحمدية (حزب الوطن). )
3. HAL API UNGGUN KEPANDUAAN HIZBUL WATHAN
MUHAMMADIYAH
أ. إيقاد النار للانتفاع بها مباح.
ب. تعظيم النار شرك
∗Putusan ini telah dicabut oleh putusan Mu'tamar Tarjih Sidoarjo seperti termaktub no. V
di belakang.
141
ج. إيقاد النار بكيفية مخصوصة حرام
د. حضور الكشافة حزب الوطن حفلة إيقاد النار من آشافة اخرى
جائز, اذا آانت هناك منفعة والا فلا. والامر في ذلك مفوض الى
ادارة المرآز أو الفروع.
a. Menyalakan api untuk kemanfaatan itu mubah
b. Menghormati api itu syirik
c. Menyalakan api dengan upacara yang tertentu, haram.
d. H.W. boleh mendatangi undangan kampvuur (api unggun) dari golongan
kepanduan lain, asal kiranya ada manfaatnya. Kalau tidak, tidak boleh.
Adapun yang mempertimbangkan hal ini (ada manfaat atau tidaknya) ialah
Pimpinan Pusat atau Pimpinan cabang Muhammadiyah .
4) حكم الة اللهو )
4. HUKUM ALATUL MALAHI
الة اللهو. يراد بها الالة المضروبة وحكمها يدور مع علتها, وهي علي
ثلاثة اقسام : قسم يجلب الفضيلة آما يضرب لتشجيع الجنود عند
الحرب فحكمه سنة, وقسم يضرب للغو فقط (لايجلب شيئا من الفضيلة
ولا الرذيلة) فحكمه مكروه لقوله ضلى الله عليه وسلم من حسن اسلام
المرء ما لا يعنيه (رواه الترمذىّ عن ابي هريرة)و و قسم مجلب
المعصية فحكمه حرام.
Alatul Malahi yang di maksud adalah alat bunyi-bunyian (musik) dan hukumnya
berkisar kepada illatnya (sebabnya) dan ia ada 3 macam :
a Menarik kepada keutamaan seperti menarik kepada keberanian di medan
peperangan, hukumnya sunat.
b Untuk main-main belaka (tak mendatangkan apa-apa) hukumnya makruh,
menilik hadits :”Termasuk kesempurnaan seseorang ialah meninggalkan
barang yang tak berarti”. (hadits ini di riwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu
Hurairah).
142
c Menarik kepada ma’siyat hukumnya haram
5) حد عورة الرجل وحكم سروال الكشافة (حزب الوطن) )
الذي لم يستر الرآبة.
5. BATAS ‘AURAT LELAKI DAN HUKUM CELANA H.W
YANG TIDAK MENUTUPI LUTUT
أ. عورة الرجل ما بين السرة والرآبة. لما روي عن ايوب : ان رسول
الله صلعم قال : عورة الرجل ما بين سرته ورآبته (رواه الدارقطني
والبيهقي). وعن ابي سعيد مرفوعا : عورة الرجل مابين سرته
ورآبته (رواه الخارث بن اسامة والحاآم).
ب.الفخذ من العورة: لحديث ابن عباس وجرهد ومحمد بن جحش عن
النبي صلعم : الفخذ عورة (رواه البخارى).
ج. اما آشف النبي صلعم فخذه, آما ورد في حديث عائشة رض ان
رسول الله صلعم آان جالسا آبشفا عن فخذه فاستأن ابو بكر فأذن
له وهو على حاله ثم استأذن عمر فأذن له وهو على حاله ثم
استأذن عثمان فارخىعليه ثيابه فلما قامو قلت : يا رسول الله !
بستأذن ابوبكر وعمر فاذنت لهما وانت على حالك, فلمّا استأذن
عثمان ارخيت عليك ثيابك ؟ فقال : يا عائشة, الا استحى من رجل
والله ان الملائكة لتستحى منه فدليل على جوازه للحاجة.
د. وان يستر العورة سراويل الكشافة (حزب الوطن) آلها رعاية
للاتحاد
a Aurat lelaki ialah antara pusat dan lutut. Menilik dari hadits dari Ayyub,
bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Aurat orang lelaki itu antara pusat dan
lutut”. (Diriwayatkan oleh Daraquthni dan Baihaqi). Dan dari Hadiets dari
Sa’id yang marfu’ (terang dari Rasulullah SAW) bersabda : “Aurat orang
lelaki itu antara pusat dan lututnya”. (Diriwayatkan oleh Harist bin Usamah
dari Hakim)
143
b Paha itu termasuk ‘aurat. Mengingat hadits dari Ibnu ‘Abbas, Jurhud dan
Muhammad bin Jahys, dari Nabi Saw.bersabda :”Paha itu ‘aurat”.
(Diriwayatkan oleh Bukhari).
c Adapun perbuatan Nabi Muhammad saw membuka pahanya sebagaimana
yang tersebut dalam hadits dari ‘Aisyah r.a bahwa Rasulullah saw duduk
tersingkap pahanya, lalu Abu Bakar minta izin masuk dan diidjinkan oleh
Rasulullah, sedang beliau masih dalam keadaan itu ; lalu Umar minta idjin
masuk dan diizinkan oleh Rasulullah sedangkan beliau masih dalam keadaan
itu; kemudian Utsman minta idzin masuk, lalu beliau menutup pahanya
dengan kainnya. Maka setelah mereka pergi, aku (‘Aisyah) menanyakan ;”Ya
Rasulullah, Abu Bakar dan Umar minta Idzin masuk dan mereka kau idzinkan
padahal engkau dalam keadaan paha tersingkap, tetapi ketika Utsman minta
masuk, engkau menutupkan kainmu?” Maka jawab Rasulullah saw.:”Hai
“Aisyah, apakah aku tidak malu kepada seorang lelaki yang demi Allah,
sungguh Malaikat malu kepadanya?1” Adalah yang demikian itu
menunjukkan dibolehkannya membuka paha karena ada hajat atau keperluan.
d Untuk menjaga keseragaman dalam kalangan kita maka hendaknya celana
pandu Hizbul Wathan menutupi ‘aurat.
6) حكم وقف المسجد المخصوص للنساء ومنعهن الرجال أن )
يصلوا فيه
6. Hukum Mewaqafkan Masjid Di Khususkan Untuk Wanita
Dan Hukum Mereka Menghalang-Halangi Kaum Lelaki Sembahyang
Di Dalamnya.
أ. صح وقف المسجد المخصوص للنساء لأنه صدقة جارية.
ب.وينبغي ان لا يسمى هذا الوقف مسجدا بل مصلى. لانه لوسمي
مسجدا يطل تحصيصه لحديث : ما بال اقوام يشترطون شروطا
ليست في آتاب الله؟ من اشترط شرآا ليس من آتاب الله فهو باطل
وان آان مائة شرط, آتاب الله احق وشرط الله اوثق. (رواه
البخارى).
144
ج. ولهنّ ان يمنعن الرجال ان يصلوا فيه نظرا للمصلحة العامة
والنظام الاسامي وللرجال ان لايصلوا فيه.
a. Waqaf itu shah, sebab termasuk amal jariyah
b. Waqaf itu jangan dinamakan masjid tetapi hendaklah dinamakan “Mushalla”.
Sebab kalau dinamakan masjid, hilanglah kekhususannya, karena ada hadits :
“Mengapa beberapa kaum sama mensyaratkan beberapa syarat yang tida ada
dalam Kitab Allah? Barang siapa yang mensyaratkan syarat yang tidak ada
dalam Kitab Allah, maka syarat itu batal, walaupun seratus syarat. Kitab Allah
lebih hak dan syarat Allah itu lebih kuat”. (Diriwayatkan oleh Bukhari)
c. Mengingat kemaslahatan umum dan adab Islam, maka sebaiknya wanita
menghalang-halangi pria sembahyang di situ, dan bagi pria sudah sewajarnya
tidak akan bersembahyang didalamnya.
7) مسألة سفر المرأة. )
7. MASALAH WANITA BEPERGIAN
لا يحل لامرأة ان تسافر مسيرة يوم فصاعداالا مع ذى محرم بها او
زوجاه والا لحاجة شرعية مع الامن.
أ. اى يحل لها ان تسافر مسيرة يوم فصاعدا مع ذى محرم بها.
ب.وآذالك مع زوجها. لحديث رواه مسلم ان النبي صلعم قال : لا يحل
لامرأة تسافر مسيرة يوم الا مع ذلى محرم بها. ولحديث ابى سعيد
ان النبي صلعم نهى ان تسافر المرأة مسيرى يومين او ليلتين الا
ومعها زوجها او ذو محرم (متفق عليه).
ج. ويحل لها ايضا ان تسافر وحدها مسيرة يوم فصاعدا ان آان لحاجة
شرعية مع الامن. لحديث عدى بن حاتم قال : بينا انا عند النبي
صلعم اذ اتى رجل فشكا اليه الفاقة ثم اتاه اخر فشكا قطع السبيل.
فقال : ياعدىّ هل رأيت الحيرة ؟ قلت : لم ارها وقد انبئتُ عنها,
قال : قال فان طال بك حياة لترين الظعينة ترحل من الحيرة حتى
تطوف بالكعبة لا تخاف الا الله. قال عدى : فرأيت الظعينة ترتحل
من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف الا الله. (رواه البخارى).
145
د. المحرم بها هو ما قال فيه تعالى : ولا تنكحوا ما نكح اباؤآم آم
النساء الا ما قد سلف انه آان فاحشة ومقتا وساءسبيلا. حرمت
عليكم امها تكم وبناتكم واخواتكم وعماتكم وخالاتكم وبنات الاخ
وبنات الاخت وامهاتكم اللاتي ارضعنكم واخواتكم من الرضاعة
وامهات نسائكم وربائبكم اللاتى في حجورآم من نسائكم اللاتى
دخلتم بهن فان لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم وخلائل ابنائكم
الذين من اصلابكم وان تجعلوا بين الاختين الا ما قد سلف, ان الله
(23- آان غفورارحيما (النساء الاية 22
Tiada halal bagi wanita bepergian perjalanan sehari atau lebih, kecuali beserta
mahramnya atau suaminya; dan kecuali untuk keperluan yang diidzinkan Syara’
serta aman. Maka :
a. Wanita boleh bepergian perjalanan sehari atai lebih kalau disertai mahramnya.
b. Begitu juga kalau beserta suaminya. Menilik hadits yang diriwayatkan oleh
Muslim bahwa Nabi saw, bersabda: “Tidak halal bagi wanita bepergian
selama perjalanan sehari, kecuali dengan mahramnya.” Dan menilik hadits
Abu Sa’id bahwa Nabi saw melarang wanita bepergian selama perjalanan dua
malam, kecuali beserta suaminya atau mahramnya. (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
c. Demikian pula wanita boleh bepergia seorang diri dalam perjalanan sehari
atau lebih kalau untuk keperluan yang diidzinkan Syara’ dan dalam keadaan
aman. Karena mengingat hadits “Adi bin Hatim yang berkata : Waktu aku
dihadapan Nabi saw, tiba-tiba ada seorang lelaki dating mengadukan kepada
beliau tentang kemiskinan, kemudian datanglah seorang lagi yang
mengadukan tentang gangguan jalan (tidak ada keamanan); maka sabda beliau
saw : “Sudah pernah lihatkah kamu desa Hirah, hai “Adi?” jawabku:”Belum,
tetapi sudah pernah dengar beritanya”. Sambung beliau::Kalau kiranya
panjang umurmu tentulah kamu akan mengalami zaman seorang wanita
bepergian dari desa Hirah itu sampai berthawaf (mengelilingi) Ka’bah, dengan
tiada yang ditakuti melainkan Allah”. Kata “Adi:”Dikemudian hari aku
146
melihat wanita bepergian dari desa Hirah itu sehingga berthawaf di Ka’bah,
tiada yang ditakuti melaikan Allah”. (Diriwayatkan oleh Bukhari).
d. Adapun yang disebur mahram yaitu yang difirmankan Allah SWT.:”Janganlah
kamu kawini wanita yang telah dikawini oleh Bapakmu, kecuali yang telah
terlanjur kamu lakukan pada masa lampau; sebab yang sedemikian itu
terkutuk dan jalan yang jahat. Kamu di haramkan menikahi: Ibumu,
saudaramu perempuan, bibimu(1), mamakmu(2), anak dari saudara lelaki,
anak dari saudara perempuan, Ibu yang menyusuimu, saudaramu sesusuan,
Ibu isterimu, anak isterimu (anak tiri) yang sudah kamu kumpuli Ibunya, -
maka jikalau belum kamu kumpuli, tidak mengapa kamu menikahi anaknya
itu-, juga isteri anak-anakmu sendiri (menantumu). Dan janganlah kamu
mengumpulkan (bermadu) dua isteri bersaudara kakak beradik, kecuali yang
telah terlanjur kamu lakukan pada masa yang lampau. Sungguh Allah itu
Maha Mengampuni dan Maha Mengasihani. (Al- Quran surat An-Nisa ayat
22-23).
8). مسألة مظاهر العائشيات. )
8. ARAK-ARAKAN (PAWAI) ‘AISYAH
ليس لمظاهرة النساءنصيب الا في العيدين الضحى و الفطر. لما رواه
الطبراني في الكبير عن ابن عمر عن رسول الله صلعم قال : ليس
للنساء نصيب في الخروج الا مضطرة (ليس لها خادم) الا في العيدين
الاضحى والفطر
Tiada di bolehkan wanita berpawai (arak-arakan) kecuali pada hari Raya
yakni:Qurban dan Fitrah. Karena mengingat hadits yang diriwatkan Thabarani
dalam kitab Al-Kabir dari Ibnu “Umar,: bahwa Rasulullah saw bersabda :”Bagi
wanita tiada ada hak untuk keluar, kecuali terpaksa (tidak mempunyai Khadam),
dan kecuali pada hari raya Adlha dan Fitrah.
9). مسألة تعليم الرجل المرأة وعكسه )
9. Guru Pria Mengajar Wanita Dan Sebaliknya
147
تعليم الرجل المرأة جائز. لما رواه البخارى عن ابى سعيد الخدري قال
: قالت النسائ للنبي صلعم غلبنا عليك الرجال فاجعل لنا يوما من
نفسك فوعظهن وامرهن. وآان فيما قال لهن : ما منكن امراة تقدم
ثلاثة من ولدها الا آان لها حجاب من النار. فقالت : واثنين : وقال :
واثنين. وفي رواية عن ابي سعيد ايضا قال : جاءت امرأة الى رسول
الله صلعم فقالت : يا رسول الله ذهب الرجال بحديثك فاجعل لنا من
نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله, فقال صلعم : اجتمعن في
يوم آذا في مكان آذا. فاجتكعن فاتاهن رسول الله صلعم فعلمهن مما
علمه الله.
Pria mengajar wanita itu boleh menilik hadits yang diriwayatkan oleh
Bukhari dari Abu Sa’id Khudri yang mengatakan bahwa kaum wanita
menyampaikan kepada Nabi saw. “Kaum pria telah mengalahkan kami
memperoleh waktumu, maka tentukanlah bagi kami (wanita) untuk menghadap
engkau “. Maka beliau saw menjanjikan kepada mereka suatu hari untuk menemui
mereka. Lalu beliau menasehati dan mengajari mereka. Antara lain yang di
sabdakan:”Seorang wanita dari kamu yang kematian 3 orang anak, tentu
merupakan dinding baginya dari neraka”. Mereka bertanya:”Kalau dua?”. Jawab
beliau:”Duapun juga!”. Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id juga, bahwa ada
seorang wanita datang kepada Rasulullah saw seraya katanya:”Wahai Rasulullah,
kaum pria sering datang mendapat tutur kata engkau, maka tentukanlah hari bagi
kami (wanita) untuk mengahadap di mana engkau dapat mengajar kami tentang
apa yang telah Allah mengajarkan kepada engkau”. Maka jawab beliau:
“Berkumpullah pada hari anu, ditempat anu.”Kemudian kaum wanita itu
berkumpul dan ditangi oleh Rasulullah saw. Untuk diajarinya tentang apa yang
telah diajarkan Allah kepadanya.
تعليم المرأة الرجل جائز, لعدم ورود النهي عن ذلك. ويقيد ذالك
الجواز بالامن. مثل عض البصر وعدم الخلوة.
148
Wanita mengajar priapun boleh, karena tidak ada larangan yang mencegah
hal itu; yang sudah tentu saja disyaratkan adanya keamanan, seperti memejamkan
mata hati dan tidak berkhalwat (menyendiri, berduaan).
10 ) حكم لبس الذهب والفضة للرجل )
10. Hukum Pria Memakai Emas Dan Perak
لبس الذهب والفضة للرجل حرام. لحديث ان النبي صلعم قال : احل
الذهب والحرير للاناث من امتي وحرم على ذآورها. (رواه احمد
والترمذي والنسائي).
Orang lelaki memakai emas dan perak itu haram hukumnya. Menilik hadits Nabi
saw.:”Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum wanita dari umatku dan diharamkan
kepada kaum prianya”.(Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasai).
اتخاذ لناء الفضة للاآل والشرب حرام لقول النبي صلعم : ان الذي
يأآل او يشرب في اناء الذهب والفضة انما يجرجر في بطنه نار جهنم
(رواه مسلم).
Menggunakan perak untuk tempat makanan dan minuman, haram. Mengingat
sabda Nabi saw,:”Sungguh orang yang makan dan minum dengan tempat yang
dibuat dari emas dan perak, adalah sesungguhnya dalam perut orang itu api neraka
yang bersuar mendidih menggelegak” )Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim).
اتخاذ الخاتم من الفضة مباح لماروي عن انس بن مالك رض قال :
آتب النبي صلعم آتابا فقيل له : انهم لا يقرؤون آتابا الا مختوما فاتخذ
خاتما من ورق و نقش فيه (محمد رسول الله)) وقاللناس : اني اتخذت
خاتما من ورق ونفشت فيه (محمد رسول الله) فلا ينقش احد على
نقشه. وفي رواية : ان رسول الله صلعم لبس خاتم فضة في يمينه
وآان فضة حبشيا وآان فضه وآان يجعل فضة حبشيا مما يلي آفه
(اخرجه الخمسة).
Mempergunakan perak untuk cincin, mubah. Sebab ada hadits dari Anas bahwa
Nabi saw menulis surat, maka beliau diberitahu bahwa mereka itu tidak suka
membaca surat melainkan yang dicap. Maka beliau membuat cincin dari perak
149
dan diukirnya. “Muhammad Rasulullah”. Dan bersabda kepada orang banyak
:”Sesungguhnya kami membuat cincin dari perak yang kami ukir “Muhammad
Rasulullah”, maka janganlah ada seseorang yang mengukir seperti ukiran itu.”Dan
ada lain riwayat, bahwa Rasulullah saw memakai cincin perak pada tangan
kanannya, yang mana permata cincinnya itu dari Habsyi. Permata itu dihadapkan
beliau kearah telapak tangannya. (Hadits ini diriwayatkan oleh lima ahli Hadits).
اما اتخاذ الزينة (الحلية) دزن الخاتم من الفضة فداخل فيما سكت عنه
الشارع ومعفوّ حكمه.
Mempergunakan perak untuk perhiasan selain cincin itu termasuk barang
yang didiamkan oleh Syara’ dan hukumnya ma’fu (boleh)
11 ) مسألة الحساب والرؤية. )
11. Masalah Hisab Dan Ru’yah
الصوم والفطر بالرؤية ولا مانع بالحساب. لحديث : صوموا لرؤيته
وافطروا لرؤيته وان غبي عليكم فاآملوا عدة شعبان ثلاثين. (رواه
البخاري). وقوله تعالى : هوالذى جعل الشمس ضياء والقمر نورا
.( وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب. (يونس : 5
Berpuasa dan Id Fitrah itu dengan ru’yah dan tidak berhalangan dengan hisab.
Menilik hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah saw bersabda:
”Berpuasalah karena melihat tanggal dan berbukalah karena melihatnya. Maka
bilamana tidak terlihat olehmu, maka sempurnakan bilangan bulan sya’ban tiga
puluh hari. “Dialah yang membuat matahari bersinar dan bulan bercahaya serta
menentukan gugus manazil-manazilnya agar kamu sekalian mengerti bilangan
tahun dan hisab.” (Al-Quran surat Yunus ayat 5).
اذا اثبت الحسابعدم وجود الهلال او وجوده مع عدم امكان الرؤية,
ورأى المرء اياه في الليلة نفسها, فايهما المعتبر ؟ قرر مجلس
الترجيح أنّ المعتبر هو الرؤية
150
لما روي عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله
عليه وسلم : صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فإن غبى عليكم فأآملوا
عدة شعبان ثلاثين. ( رواه البخارى ومسلم ).
Apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak (tanggal) atau sudah
wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataan ada orang yang melihat pada
malam itu juga; manakah yang mu’tabar. Majlis Tarjih memutuskan bahwa
ru’yahlah yang mu’tabar. Menilik hadits dari Abu Hurairah r.a. yang berkata
bahwa Rasulullah bersabda:”Berpuasalah karena kamu melihat tanggal dan
berbukalah (berlebaranlah) karena kamu melihat tanggal. Bila kamu tertutup oleh
mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban 30 hari.”(Diriwayatkan
oleh Bukhari dan Muslim).
12 ) حكم اللوترية أو اليانصيب )
12. HUKUM LOTERY
إن لليانصيب ( اللوترية) ثلاثة وجوه : 1- شراءه. 2- طلب محصوله.
-3 إنشاءه. وهو بوجوهه الثلاثة من الأمور المشتبهات. فالنظر فيه
إلى مضرته ومفسدته وإلى منفعته ومصلحته. فبعد البحث والمناقشة
تبين أن الأول ضرره أآثر من نفعه. فقرر حرمته، وأن الثانى والثالث
مفوضان إلى اللجان ( لجنة الترجيه).
Bahwasanya lotery itu ada tiga jurusan: 1. membeli, 2. meminta keuntungan
dan 3. mengadakannya. Lotery itu dengan tiga jurusannya termasuk perkara
“musytabihat”, maka cara membicarakannya ialah dengan melihat manfaat dan
madlaratnya itu.
Maka setelah dibicarakan, teranglah bahwa yang pertama itu madlaratnya
lebih besar dari manfaatnya, maka haramlah hukumnya. Adapun kedua dan ketiga
diserahkan kepada Lajnah Tarjih pada masing-masing Cabang Muhammadiyah).
13. MASALAH SUNTIKAN PADA MAYAT
Belum dapat diputuskan, meskipun telah ditambah sidang luar biasa untuk
membicarakan masalah tersebut, dengan demikian (ditunda)
14. MEMBUKA TERUMPAH DALAM KUBURAN
151
(Penjelasan yang tersebut pada halaman 255 dan 262) beralasan dengan
hadits:
عن بشير بن الخصاصية أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى رجلا
يمشى فى نعلين بين القبور فقال ياصاحب السبتيتين القهماز ( أخرجه
ابن ابى شيبة فى مصنفه وأبو دادود الطيالسى وأحمد فى مسنديهما
والأربعة إلا الترميذى والحاآم وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه).
Dari Basyir bin Khashashiyhah, bahwa Rasulullah melihat seorang lelaki
berjalan dengan terumpah dikuburan maka bersabda:”Hai yang berterumpah,
bukalah terumpahmu!” (Hadits ini diberitakan Ibnu Abi Syaibah dalam mu
shanafnya, dan oleh Abu Dawud Thayalisi serta Ahmad dalam Masnadnya
masing-masing, juga oleh Imam Empat!) kecuali Tirmidzi pun Alhakim dengan
berkata bahwa hadits itu sanadnya shahih.
Hadits ini oleh Imam Syaukani dalam kitab Nailul-Authar dikatakan: ”Hadits
Basyir tidak disebut-sebut oleh Abu Dawud dan Mundziri, dan orang-orang yang
diambil sanadnya kuat, kecuali Khalid bin Numair yang diragukan karena sering
keliru.”
Menurut penyelidikan keliruan itu adalah dari pihak Imam Syaukani, Karena
sanad hadits bukan dari “Khalid bin Numair” sebagai kata beliau, akan tetapi
adalah dari “bin Sumair” atau seperti keterangan Abu Syaibah “Khalid bin
Syumair” dengan huruf Syin. (Tahdzibut-Tahdzib II : 97)
Begitu pula tentang tarjih pada rawinya “Basyir bin Nahik”, yang mana oleh
Imam hakim dikatakan:”Hadits itu setelah diselidiki dengan seksamanya,
nyatakanlah bahwa tarjih tadi tiada bersandar sesuatu, sedangkan banyak sekali
yang mentashhihnya seperti keterangan berikut:
Sesungguhnya Basyir bin Nahik termasuk daripada Tabi’in yang ternama dan
laki-laki yang dipercaya oleh Imam Enam, dipercaya oleh Ibnu Sa’ad, Ahmad.
‘Ijli dan Ibnu Hibban; kecuali Abu Hatim mengatakan bahwa haditsnya itu tidak
terpakai untuk hujjah (lihat kitab Mizan I”tidal juz I hal 154, Tahdzibu-Tahdzib
juz I halaman 470, Hadyus-Sari juz II halaman 199 dan Qanunul-Maudlu’at wadl-
Dlu’afa oleh Muhammad Thahri bin “Ali Hindi, halaman 244. Sedang hadits
tersebut telah dishahkan juga oleh Imam Dzahabi dalam Talhi-shill Mustadrak
152
dan Ibnu Qudamah menukilnya dalam kitab Mughni dari Ahmad, dengan berkata
bahwa Sanad hadits itu baik.
Dari itu teranglah bahwa hadits tersebut adalah shahih, maka oleh karenanya,
tetaplah keputusan Majlis Tarjih dalam Mu’tamar Seperempat Abad di Jakarta
dan Mu’tamar ke 26 yogyakarta ialah :
ولا تمشوا بين القبور بسبتيتين.
“Jangan berjalan diatara kuburan dengan alas kaki”
15. Koreksi Putusan-Putusan Yang Lalu
Usul-usul yang sudah diakui keshahihhannya oleh sidang ialah :
a Tambahan bacaan dalam i’tidal (menyambung halaman 89 dalil nomor 15
dan halaman 106) dengan bacaan yang ada dalam hadits berikut:
ا 􀑧 لء م 􀑧 لء الأرض وم 􀑧 موت وم 􀑧 لء الس 􀑧 د م 􀑧 ك الحم 􀑧 ا ل 􀑧 م ربن 􀑧 ( الله
ى 􀑧 لم 184 ). وف 􀑧 ة مس 􀑧 ض رواي 􀑧 ى بع 􀑧 ا ف 􀑧 د ) ( آم 􀑧 يء بع 􀑧 ن ش 􀑧 شئت م
ا 􀑧 ال : آن 􀑧 ه ق 􀑧 ي الله عن 􀑧 ع رض 􀑧 ن راف 􀑧 ة ب 􀑧 ن فاع 􀑧 ارى ع 􀑧 حيح البخ 􀑧 ص
ن 􀑧 ه م 􀑧 نصلى يوما وراء النبي صلى الله عليه وسلم فلما رفع رأس
ن وراءه: (( 􀑧 ل م 􀑧 ال رج 􀑧 ده) فق 􀑧 ن حم 􀑧 مع الله لم 􀑧 ال: ( س 􀑧 ة ق 􀑧 رالرآع
ال : 􀑧 ربنا ولك الحمد حمدا آثيرا طيبا مبارآا فيه)). فلما انصرف ق
ين 􀑧 عة وثلاث 􀑧 ت بض 􀑧 د رأي 􀑧 ال لق 􀑧 ول الله . ق 􀑧 من الماآلم؟ قال: أنا يارس
ملكا يبتدرونها أيهما يكتبها أول.
“ Ya Tuhanku, segala puji itu bagi Tuhan yang memenuhi segala langit,
yang memenuhi bumi dan yang memenuhi segala sesuatu yang Tuhan
hendakkan.”(sebagaimana tersebut dalam hadits Muslim halaman 184).
Dan tersebut dalam Shahih Bukhari dari Rifa’ah bin Rafi’ berkata:”Adalah
kita shalat pada suatu hari di belakang Rasulullah, maka ketika beliau
mengangkat kepalanya dan ruku’ membaca;”Sami’alla-hu liman
hamidah.” (Muda-mudahan Tuhan Allah mendengarkan orang yang
memujiNya). Maka membaca orang itu dari belakang:”Rabbana –
walakalhamd, hamdan katsi-ran thayyiban muba-rakanfi-h”.(Ya Tuhanku,
bagi Tuhan segala puji yang banyak, yang baik dan yang memberkati).
153
Maka ketika sudah selesai, Nabi bertanya:”Siapa kah yang membaca tadi?
orang itu manyahut: Saya !”maka Nabi bersabda aku telah melihat lebih
dari 30 malaikat memburunya, siapakah dari mereka yang menulisnya
lebih dahulu,”
b Bacaan tasyahud dari riwayat Ibnu “Abbas, yang berawalan Attahiyyatush
shalawa-tuth thayyibah-tu lilla-h,” dan selanjutnya.
16. Bepergian (Safar) Wanita
Setelah rapat mendengarkan hujjah masing-masing pihak yang membolehkan
wanita bepergian asal dengan aman, dan yang tak membolehkannya kecuali
dengan mahram, ternyata kuat dua-duanya, maka rapat berpendapat bahwa hal
ini maukuf, artinya Majlis belum dapat memutuskan diantara kedua itu.
17. Mengadakan Sandiwara
Mengingat perundingan tentang hal ini tidak ada penyelesaiannya dan
menghargai pendirian masing-masing baik yang membolehkannya ataupun
yang mengaharamkan, maka dengan pemungutan suara (stem) mufakat
memutuskan:”Terserah pada masing-masing Lajnah Tarjih.
18. Kedudukan Mushalla Aisyah
Tentang utama atau tidaknya wanita bershalat diluar rumahnya.
a Utama manakah seorang wanita shalat sendirian dirumahnya atau shalat
sendirian di Mushalla ‘Aisyiyah ?
Putusan : Utama di rumah, dengan alasan :
لما روي عن أم سلمة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله
عليه وسلم قال: خير مساجد النساء قعر بيوتهن. ( رواه أحمد
والطبرانى فى الكبير وفى إسنادها ابن لهيعة رواه بن خزيمة فى
صحيحه والحاآم من طريق دراج ابى السمح عن السائب مولى
أم سلمة عنها وقال ابن خزيمة: لاأعرف مولى أم سلمة بعدالة
ولاجرح وقال الحاآم: صحيح الإسناد.
154
Karena hadits yang diriwayatkan dari Ummi Salamah, dari Rasulullah
yang telah bersabda: “Sebaik-baiknya tempat sujud bagi wanita ialah bilik
rumahnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabarani dalam kitab Al-kabir,
dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhai’ah juga diriwayatkan oleh Ibnu
Khuzaimah, dalam kitab shahihnya dan Alhakim dari Duraj Abi Samhi
dari Saib budak Ummi Salamah. Dan Ibnu Khuzaimah berkata: “aku telah
kenal kepada Saib itu apakah dia lurus atau tidaknya (adil atau tercelanya).
Tetapi Alhakim berkata bahwa sanadnya shahih.
b Utama manakah seorang wanita bershalat sendirian dirumahnya atau
berjamaahdi mushalla?
Putusan : Oleh sebab perihal kautamaannya itu tiada mendapat titik
kemufakatan, maka akhirnya diambil keputusan sebagai berikut dengan
pemungutan suara:
لاتمنعوا النساء مصلاهن مع العلم أن الجماعة أفضل.
“Janganlah kamu melarang wanita pergi kemushalla setelah diketahui
bahwa shalat berjama’ah itu lebih utama.”
لاتمنعوا إماء الله مساجد الله ( متفق عليه).
Dengan mengingat hadits-hadits “Janganlah kamu melarang hamba-hamba
Allah dalam masjid-masjid.” (Muttafaq ‘alaih)
صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفد بسبع وعشرين درجة . (
رواه البخارى عن ابن عمر رضي الله عنه ).
Shalat berjama’ah lebih utama dari shalat sendirian dengan lipat 27
derajat. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Umar r.a.
19. Bank Muhammadiyah
a Riba yang dilarang menuru Syara’ ialah dalam tukar-menukar mas dengan
mas, perak dengan perak dan makanan dengan makanan(qut)lebih
melebihi,menilik hadits:
لحديث أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله
عليه وسلم: الذهب بالذهب وزنا بوزن مثلا بمثل والفضة
155
بالفضة وزنا بوزن مثلا بمثل فمن زاد أو ستزاد فهو ربا. ( رواه
.( مسلم ص 632
Karena hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah berkata:”Jual beli mas
dengan mas itu mesti seimbang dan sepadan, pun jual beli perak mestilah
seimbang dan sepadan: siapa yang menambah atau meminta tambah itu
riba (rente). (Diriwayatkan oleh Muslim halaman 632).
وعن عبادة بن الصامت قال: قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير
بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل سواء بسواء يدا
بيد فإذا اختلف هذه الأصناف فبيعوا آيف شئتم يدا بيد ( رواه
.( مسلم ص. 63
Dan dari ‘Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah bersabda:”Jual beli mas
dengan mas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, benih dengan
benih, kurma dengan kurma, garam dengan garam, mestilah sepadan serta
tunai (kontan) kecuali kalau berlainan macam-macamnya yang tersebut itu
maka juallah sekehendakmu asal tunai.” (Diriwayatkan oleh Muslim
halaman 631).
b Pinjam–meminjam dengan melebihi itu haram jika pakai aqad (perjanjian);
jika tidak pakai aqad itu boleh, karena hadits:
لحديث أبى هريرة قال: آان لرجل على النبي صلى الله عليه
وسلم سن من الإبل فجاء يتقاضاه. فقال: أعطوه فطلبوا سنا فلم
يجدوا إلا سنا فوقها، فقال: أعطوه فقال: أو فيتنى أو فاك الله
فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن خيرآم أحسنكم قضاء. (
.( نيل الأوطار ص. 249
Karena hadits dari Abu Hurairah, bahwa adalah seorang lelaki yang telah
menghutangi seekor anak unta kepada Nabi dan datang menagih, maka
sabdanya kepada sahabat, “Bayarlah maka dicari nya anak unta yang
sama, tetapi tidak ada, kecuali yang lebih besar. Maka sabda
Nabi:”Bayarkanlah !” maka orang itu menerima seraya katanya:”Engkau
telah memenuhi saya. Mudah-mudahan Tuhan Allah memenuhi engkau.
156
(Sah dan terimakasih).” Lalu beliau bersabda;”Sesungguhnya yang paling
baik dari kamu sekalian ialah yang paling bagus membayar hutangnya.”
(Tersebut dalam Nailul-Authar hal:249).
وعن جابر قال: أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وآان لى عليه
دين فقضانى وزادنى. ( متفق عليه).
Dan karena hadits dari Jabir; berkata:”Saya telah datang kepada junjungan
Nabi saw yang mana beliau ada mempunyai hutang kepada saya; maka
beliau telah membayar hutangnya kepada saya dan memberi tambahan.”
(Bukhari Muslim).
c Sesudah melihat, bahwa riba Nasiah dan riba Fadhel yang diharamkan,
maka majlis melihat peraturan Bank Muhammadiyah, sebagaimana yang
direncanakan oleh Cabang Jakarta itu, apabila kalimat “serta mengambil
sedikit kelebihan dari pembayarannya”, itu dihilangkan, maka majlis
memutuskan bahwa Bank Muhammadiyah menurut rencana dari Jakarta
yang telah diperiksa itu tidak ada halangan dari Agama.∗
20 ) إتحاد الستر فى الإجنماعات المحمدية. )
20. Tabir Dalam Sidang
بناء على أن غض البصر مأمور فى قوله تعالى: قل للمؤمنين يغضوا
من أبصارهم ويخفظوا فروجهم – الأية. وقل للمؤمنيات يغضضن من
.(31- أبصارهن ويحفظن فروجهن – الأية. ( النور: 30
فقد فقد قرر المجلس على إتحاذ الستر ونحوه فى اجتماعات الجمعية
المحمدية التى يحضرها الرجال والنساء سدا لحدوث النظر المحرم.
Menggunakan tabir dalam rapat-rapat Muhammadiyah. Oleh karena ketentuan
menahan penglihatan itu diperintahkan, sebagaiman firman Allah: “Katakanlah
kepada orang-orang mukmin (pria) supaya memejamkan penglihatannya dan
menjaga farjinya ….” Seterusnya ayat. “Dan katakanlah kepada orang-orang
∗Bacalah Putusan Mu'tamar Tarjih Sidoarjo.
157
mukminat (wanita) supaya memejamkan penglihatannya dan menjaga
farjinya…..”seterusnya ayat. (Quran surat An-nur ayat 30-31).
Maka Majlis Tarjih telah memutuskan untuk memasang tabir atau sesamanya
didalam rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan Persyarikatan Muhammadiyah,
yang dihadiri oleh pria dan wanita guna mencegah terjadinya yang
dilarang(diharamkan)
21 ) أصول الفقه )
21. Usul Fiqih
1. الموقوف المجرد لايحتج به
2. الموقوف الذي فى حكم المرفوع يحج به
3. الموقوف يكون فى حكم المرفوع إذا آان فيه قرينة يفهم منها رفعه
إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم آقول أم عطية: آنا نؤمر أن
يخرج فى العيد الحيض. ( الحديث ونحوه).
4. مرسل التابعي المجرد لايحتاج به
5. مرسل التابعى يحتج به إذا آانت ثم قرينة تدل على إتصاله.
6. مرسل الصحابتى يحتج به إذا آانت ثم قرينة تدل إتصال.
7. الأحاديث الضعيفة يعضد بعضها بعضا لايحتاج بها إلا مع آثرة
طرقها وفيها قرينة تدل على ثبوت اصلها ولم تعارض القرآن
والحديث الصحيح.
8. الجرح مقدم على التعديل بعد البيان الشافى المعتبر شرعا.
9. تقبل ممن اشتهر بالتدليس روايته إذا صرح بما ظاهره الإتصال
وآان تدليسه غير قادج فى عدالته.
10 . حمل الصحابى اللفظ المشترك على أحد معنييه واجب القبول.
11 . حمل الصحابى الظاهر على غيره العمل بالظاهر
1. Hadits mauquf belaka tak dapat dibuat hujjah
2. Hadits mauquf yang termasuk marfu’dapat dibuat hujjah
3. Hadits mauquf termasuk hukum marfu’, apabila terdapat qarinah yang bisa
dipahami kemarfuannya kepada Rasulullah saw. Seperti kata Ummi
158
‘Athiyah:” Kita diperintahkan supaya mengajak keluar dalam hari Raya orangorang
yang haidl….” Dan seterusnya bunyi hadits itu dan sebagainya.
4. Mursal Tabi’i melulu tak dapat dibuat hujjah
5. Mursal Tabi’i dapat dibuat hujjah, apabila hadits itu besertakan qarinah yang
menunjukkan bersambungnya.
6. Mursal Shahabi dapat dibuat hujjah, apabila padanya terdapat qarinah yang
menunjukkan bersambungnya.
7. Hadits-hadits dlaif yang menguatkan satu pada lainnya tak dapat dibuat hujjah,
kecuali apabila banyak jalannya dan terdapat padanya qarinah yang
menunjukkan ketetapan asalnya, dan tak bertentangan qarinah yang
menunjukkan ketetapan asalnya dan tak bertentangan dengan Al-Qur’an dan
Hadits Shahih
8. Jarh (cela) itu didahulukan daripada ta’dil sesudah keterangan yang jelas dan
sah menurut anggapan Syara’.
9. Riwayat orang yang telah terkenal suka melakukan tadlis dapat diterima bila ia
menerangkan bahwa apa yang ia riwayatkan itu bersanad-sambung, sedang
tadlisnya itu tidak sampai tercela keadilannya.
10. Faham Shahabi akan perkataan musytarak pada salah satu artinya wajib
diterima.
11. Penafsiran Shahabi atas arti kata-lahir kepada lainnya maka arti-lahir itulah
yang diamalkan.
159
مقررات مؤتمر سيدؤرجا
KEPUTUSAN TARJIH SIDOARJO
1. MASALAH BANK
Mu’tamar Majlis Tarjih Muhammadiyah setelah mempelajari :
1. Uraian tentang masalah Bank dalam segala seginya yang disampaikan oleh
Nandang Komar, Direktur Bank Negara Indonesia Unit I Cabang Surabaya
2. Pembahasan dari para Mu’tamirin.
Dengan bertawakal kepada Allah SWT
Menyadari :
1. Bahwa Bank dalam sistim ekonomi-pertukaran adalah mempunyai fungsi vital bagi perekonomian pada masa
sekarang.
2. Bahwa Bank dalam wujudnya sekarang bukan merupakan lembaga yang
lahir dari cita-cita social ekonomi Islam.
3. Bunga adalah sendi dari sistim perbankan yang berlaku selama ini.
160
4. Bahwa Ummat Islam sebagai Ummat pada dewasa ini tidak dapat
melepaskan diri tidak dapat melepaskan diri daripada pengaruh perbankan
yang langsung atau tidak langsung menguasai perekonomian Ummat
Islam.
Mengingat :
1. Bahwa nash-nash Quran dan Sunnah dengan jelas mengharamkan riba.
2. Bahwa fungsi bunga Bank dalam perekonomian Modern sekarang ini
bukan hanya menjadi sumber penghasilan bagi Bank, melainkan juga
berfungsi sebagai alat politik perekonomian Negara untuk kesejahteraan
Ummat (stabilitas ekonomi).
3. Bahwa adanya Undang-undang yang mengatur besar kecilnya bunga
adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya penghisapan pihak yang
kuat terhadap pihak yang lemah disamping untuk melindungi langsungnya
kehidupan Bank itu sendiri.
4. Bahwa hingga saat ini belum ada konsepsi sistim perekonomian yang
disusun dan dilaksanakan sesuai dengan qa’idah Islam.
Menimbang:
1. Bahwa nash-nash Quran dan Sunnah tentang haramnya riba mengesankan
adanya “Illah terjadinya pengisapan oleh pihak yang kuat terhadap pihak
yang lemah.
2. Bahwa perbankan adalah suatu sistem lembaga perekonomian yang belum
pernah dialami Ummat Islam pada masa Rasulullah s.a.w.
3. Bahwa hasil keuntungan Bank-Bank milik Negara pada akhirnya akan
kembali untuk kemaslahatan Ummat.
4. Bahwa termasuk atau tidaknya bunga Bank ke dalam pengertian riba
Syari’i dirasa belum mencapai bentuk yang meyakinkan.
Memutuskan :
1. Riba hukumnya haram, dengan nash sharih Quran dan Sunnah.
161
2. Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan Bank tanpa riba hukumnya
halal.
3. Bunga yang diberikan Bank-bank milik Negara kepada para nasabahnya
atau sebaliknya yang selama ini berlaku, termasuk perkara “Musytabihat”.
4. Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan
terwujudnya konsepsi sistim perekonomian khususnya lembaga perbankan
yang sesuai dengan qa’idah Islam.
PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH
Penjelasan ini mengarah kepada ungkapan mengapa keputusan tentang
masalah perbankan tersebut terjurus kepada sifat-sifat :
a. Perkhususan Bank Kredit, b. Penyebutan Bank Negara, c. Penggunaan kata
Musytabihat.
Mengapa Bank Kredit
Meskipun judul pembahasan sebagaimana yang dicantumkan sebagai acara
adalah soal perbankan, namun sejak pertama telah terkesan – setelah dikemukakan
segala penerangan dan penjelasan mengenai perbankan – bahwa ditengah-tengah
segala fungsi perbankan yang bermacam-macam, Bank Perkreditan khususnyalah
yang dirasa dapat disangkut pautkan dengan sesuatu hukum agama, yakni
permasalahan RIBA.
Demikianlah yang telah menjadi pengertian umum dalam Mu’tamar.
Mengapa Bank Negara
Pengkhususan Bank Negara sebagai landasan pembicaraan timbul ditengahtengah
pembahasan oleh Panitia Perumus. Jalan pembahasannya sebagai berikut :
- Pada pembahasan oleh para anggota Panitya, pembicaraan jelas menjurus
untuk membebaskan sifat rente-bunga dalam macam-macam bentuknya
sebagaiman berlaku pada Bank Kredit dewasa ini, dari persamaan dengan sifat
Riba yang diharamkam oleh Agama, disebabkan adanya kecendrungan
162
pendapat, bahwa riba yang diharamkan oleh Agama ialah sifat pembungaan
yang selalu disertai unsure penyalahgunaan kesempatan dan penindasan,
sedang yang berlaku dewasa ini sama sekali tak menimbulkan rasa penindasan
atau kekecewaan oleh siapapun yang bersangkutan.
- Salah seorang anggota Panitya yang hadir mengungkapkan praktek yang
berlaku pada salah satu Bank di Indonesia demikian : seorang akan menitipkan
sejumlah uang pada Bank tersebut untuk memperoleh bunga tiap bulannya
sebanyak10%-suatu pembungaan yang tidak kecil.- Kemudian Bank itu pada
gilirannya memberikan pinjaman kepada pedagang dengan menarik bunga 15
%.
- Gambaran dalam keadaan ekonomi seperti di Indonesia dewasa ini, besar
sekali adanya kemungkinan si pedagang meminjamkan lagi uang pinjaman itu
kepada pihak keempat untuk mendapatkan bunga lagi. Walaupun dalam
panitya tidak dibicarakan lagi tentang siapa yang rugi atau menderita atau
ditindas dalam praktek serupa diatas, namun reaksi para hadirin adalah negatif
terhadap cara yang demikian.
- Namun begitu panitya berpendapat bahwa hal itu hanya mungkin berlaku pada
Bank Swasta. Maka oleh karean itu ditentukan Bank Negara.
Bank Negara
Bank Negara dianggap badan yang mencakup hampir semua kebaikan dalam
alam perekonomian modern dan dipandang memiliki norma yang menguntungkan
masyarakat dibidang kemakmuran. Bunga yang dipungut dalam sistem
perkreditannya adalah sangat rendah sehingga sama sekali tidak ada pihak yang
dikecewakan.
Tetapi bunga atau riba tetaplah merupakan kelebihan jumlah pengembalian
hutang atau titipan. Dan itulah riba konvensional. Mengapa dalam membicarakan
hal yang dimaksud tidak disinggung-singgung segala riwayat hadits tentang riba,
misalnya :
163
ذَّهَبِ 􀑧 ذَّهَبُ بِال 􀑧 لعم ال 􀑧 هِ ص 􀑧 ولُ اللَّ 􀑧 الَ رَسُ 􀑧 ال : قَ 􀑧 رَةَ ر .ض. ق 􀑧 لحديث أَبِي هُرَيْ
نْ زَادَ أَوْ 􀑧 وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْلًا بِمِثْلٍ فَمَ
{ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا {رواه مسلم ص. 622
Karena hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Jual beli mas
dengan mas itu mesti seimbang dan sepadan, pun jual beli perak dengan perak
mestilah seimbang dan sepadan; siapa yang menambah atau minta tambah itu riba.
(Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim halaman 632).
Kata orang: Itu riba fadl
Katakanlah itu riba fadl, tetapi hendaklah kita akui bahwa itu riba. Salah
seorang anggota panitia mengungkapkan, bahwa sepanjang yang ia ketahui
melalui bacaan menunjukkan, bahwa lembaga-lembaga di Negeri Islam: RPA,
Pakistan dan Saudi Arabia dalam rangka mempersolkan bunga Bank yang lazim
berlaku diseluruh dunia tidak menyangkal bahwa bunga serupa itu adalah riba,
sambil mengatakan bahwa sangat perlu Ummat Islam membuat suatu konsep
perbankan yang dapat mencerminkan penghapusan sifat-sifat riba.
Belum mencapai bentuk yang meyakinkan.
Walaupun diakui bahwa perbungaan yang seminimal-minimalnya pun tidak
mudah dilepaskan dari pengertian riba, tetapi terang diinsyafi bahwa segi positif
dari pada Bank pengkreditan sangat besar bagi dunia perekonomian.
Apakah yang demikian itulah benar-benar Riba Syari’i yang diancam
pelakunya dalam Al-Quran?
Pengertian yang kita dapati belum demikian meyakinkan.
Apakah itu Musytabihat
Kata-kata “Musytabihat dalam pengertian Bahasa ialah perkara yang tidak
jelas. Adapun menurut pengertian Syara’ ialah sebagaimana yang tersimpul
didalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir yang
kesimpulannya sebagai berikut :
164
Bahwasanya yang halal itu sudah jelas, demikian pula yang haram yaitu yang
telah dijelaskan oleh Quran atau Hadits dengan nash-nash sharihnya. Misalnya
daging onta adalah halal dimakan, daging khinzir adalah haram dan lain-lain
selain yang telah ditentukan hukumnya dengan jelas itu, terdapat beberapa hal
yang hukumnya tidak jelas bagi seseorang atau beberapa orang, apakah itu halal
atau haram, sehingga dari mereka timbul rasa ragu-ragu dan tidak dapat
menentukan salah satu diantara dua macam hukum itu. Perkara yang masih
meragukan karena tidak jelasnya inilah yang disebut Musytabuhat.
Dalam hal ini suatu perkara yang semula dihukumkan Musytabihat bagi
seseorang atau beberapa orang, kemudian ia dapat menjadi tidak Musytabihat lagi
bagi mereka, yaitu apabila setelah dikaji dan diselidiki dengan seksama dengan
melalaui prosedure-prosedure tertentu dan yang berlaku, kemudian atas ijtihad
mereka telah dapat menentukan salah satu diantara dua hukum yang semula
diragukan itu.
Terhadap hal-hal yang masih Musytabihat atau yang masih diragukan
hukumnya, oleh Nabi saw telah dianjurkan agar kita sekalian berlaku hati-hati
dengan menghindari atau menjauhinya demi untuk menjaga kemurnian jiwa
dalam pengabdian kita kepada Allah SWT kecuali apabila ada sesuatu
kepentingan masyarakat atau kepentingan pribadi yang sesuai dengan maksudmaksud
daripada tujuan agama Islam pada umumnya, maka tidak ada halangan
perkara Musytabihat tersebut kita kerjakan sekedar sesuai dengan kepentingankepentingan
itu. Walla-hu-a’lamu bishshawa-b.
II. MASALAH KELUARGA BERENCANA
Mu’tamar Majlis Tarjih Muhammadiyah setelah mempelajari :
1. Prasaran tentang keluarga berencana dikemukakan oleh sdr, Dr. H.
Kusnadi dan H. Djarnawi Hadikusuma.
2. Pembahasan-pembahasan daripada Mu’tamirin.
Berdasarkan pada
165
1. Firman Allah :
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ
وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ
{ يَكْفُرُونَ {النحل أية 72
“Dan Allah telah menjadikan bagimu beberapa jodoh dari kamu dan telah
menjadikan bagimu anak-anak dan cucu-cucu dari perjodohanmu serta
memberikan kamu rezeki yang baik-baik. Apakah mereka percaya
(menggunakan) kepada barang-barang yang batal sedang dengan
kenikmatan Allah mereka sama inkar?” (Al-Qur’an surat An-Nahl ayat
72).
2. Sabda Rasulullah :
الحديث عن أنس: تزوجوا الولود الودود إنى مكاثرآم الأنبياء
يوم القيامة {رواه أحمد وصححه إبن حبان، وله شاهد عند أبي
داودوالنسائى، وإبن حبان أيضا من حديث معقل بن يسار}
Dari Anas r.a Nabi bersabda: “Berkawinlah kamu kepada wanita yang
berbakat banyak anak yang penyayang; sesungguhnya aku merasa bangga
akan banyaknya jumlahmu terhadap para Nabi kelak di hari Qiyamat.
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Habban. Dan
kesaksian hadits ini ada pada Abu Dawud. Nasai dan Ibnu Hibban juga
dari Ma’qil bin Yasar).
الحديث: إنك أن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة
يتكففون الناس {متفق عليه}
Dan hadits bahwasannya lebih baik kamu tinggalkan ahli warismu dalam
keadaan kaya, daripada kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan
kaya, daripada kamu tinggalkan mereka yang menjadi beban yang mintaminta
kepada orang banyak. (Muttafaq ‘alaih atau diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim).
166
الحديث: عن أبي هريرةقال: قال رسول الله صلعم: المؤمن
القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف {أخرجه مسلم}
Hadist dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “
Orang Mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih disayang oleh Allah,
daripada orang Mu’min yang lemah. (Diriwayatkan oleh Mukmin).
Berkesimpulan :
1. Bahwa menurut ajaran Islam, maksud perkawinan itu antara lain untuk
memperoleh keturunan.
2. Bahwa Islam mengajarkan untuk memperbanyak keturunan.
3. Bahwa Islam menganjurkan agar kehidupan anak keturunan jangan sampai
terlantar sehingga menjadi beban tanggungan orang lain.
Memutuskan :
1. Mencegah kehamilan adalah berlawanan dengan ajaran agama Islam.
Demikian pula keluarga berencana yang dilaksanakan dengan cegahan
kehamilan.
2. Dalam keadaan darurat dibolehkan sekedar perlu dengan syarat
persetujuan suami-istri dan tidak mendatangkan mudlarat jasmani dan
rohani.
PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH
1. Ayat Qur’an dan Hadits-hadits yang disebut dalam konsideran: mengjadi
pengantar konsideran berikutnya.
2. Keseimbangan antara maksud perkawinan untuk memperoleh keturunan,
anjuran untuk memperbanyak keturunan, berusaha agar anak keturunan
kita jangan menjadi beban orang lain dan berusaha agar ummat Islam
merupakan ummat yang kuat, menjadi kebulatan pandangan dalam
perumusan keputusan Keluarga Berencana.
167
3. Anjuran memperbanyak keturunan sebagaimana disebutkan dalam hadits :
“Berkawinlah kamu kepada wanita yang berbakat banyak anak…….
Seterusnya hadits dari Anas tersebut di atas”, diartikan merupakan anjuran
untuk ummat Islam sebagai ummat, bukan sebagai individu. Hingga
setiap individu masih dapat mempertimbangkan situasinya, apakah
padanya ada kemampuan untuk melaksanakan anjuran tersebut, ataukah
tidak.
4. Pencegahan kehamilan yang dianggap berlawanan dengan ajaran Islam
ialah ; sikap dan tindakan dalam perkawinan yang dijiwai oleh niyat segan
mempunyai keturunan, atau dengan cara merusak/merobah organisme
yang bersangkutan, seperti: memotong, mengikat dan lain-lain.
5. Penjarakan kehamilan dapat dibenarkan sebagai kondisi dlarurat atas dasar
kesehatan dan pendidikan dengan persetujuan suami-isteri dengan
pertimbangan dokter ahli dan ahli agama.
6. Yang dimaksud dalam kriteria darurat ialah :
d. Mengkhawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu karena
mengadung atau melahirkan, bila hal itu diketahui dengan pengalaman
atau keterangan dokter yang dapat dipercaya seseuai dengan ajaran
ayat/firman Allah :
{ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ {البقرة أية 195
1. Janganlah kamu menjerumuskan dirimu dalam kerusakan (Al-
Qur’an surat Baqarah ayat 195).
{ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ آَانَ بِكُمْ رَحِيمًا {النساء: 29
2. Dan janganlah kamu bunuh diri-dirimu, sesungguhnya Allah itu
kasih saying kepada kamu. (Al-Qur’an surat Nisa’ayat 22).
e. Mengkhawatirkan keselamatan agama, akibat faktor-faktor kesempitan
penghidupan, seperti kekhawatiran akan terseret menerima hal-hal
yang haram atau menjalankan/melanggar larangan karena terdorong
oleh kepentingan anak-anak, sejalan dengan firman Allah saw dan
hadits Nabi:
168
{ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ {البقرة: 185
1. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki
kesulitan bagimu. (Al-Qur’an surat Baqarah ayat 185).
{ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ {المائدة: 6
2. Tidaklah Allah menghendaki membuat kesusahan atas kamu
sekalian. (Al-Quran surat Maidah ayat 6).
آاد الفقر أن يكون آفرا {رواه أبو نعيم فى الحلية عن أنس}
3. Kafakiran itu mendekati kekafiran. (Diriwayatkan oleh Abu Na’im
dalam kitab Hilyah dari Anas).
f. Mengkhawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak
kelahiran terlalu rapat.
الحديث: الضرر ولا ضرار {رواه أحمد وإبن ماجه عن إبن
عباس، ورواه إبن ماجه عن عبادة}
Jangan bahayakan (dirimu) dan jangan membahayakan (orang lain).
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas
oleh Ibnu Majah dari ‘Ubbadah).
7. Pertimbangan dlarurat bersifat individu dan tidak dibenarkan keluarnya
Undang-Undang, sebab akan bersifat memaksa. Oleh karenanya,
persutujuan bulat antara suami-isteri benar-benar diperlukan.
III. MASALAH LOTTO, NALO DAN
SESAMANYA
Mu’tamar Majlis Tarjih Muhammadiyah setelah mempelajari, membahas dan
mendalami persoalan Lotto dan Nalo dari segala seginya, mengambil keputusan :
1. Lotto dan Nalo pada hakekatnya dan sifatnya sama dengan taruhan dan
perjudian dengan unsure-unsur :
a. Pihak yang menerima hadiah sebagai pemenang.
b. Pihak yang tidak mendapat hadiah sebagai yang kalah.
169
2. Olah karena Lotto dan Nalo adalah salah satu jenis dari taruhan dan perjudian,
maka berlaku nash sharih dalam-Al-Qur’an surat Baqarah ayat 183, 219 dan
surat Al-Maidah ayat 90 dan 91.
3. Mu’tamar mengakui bahwa bagian hasil Lotto dan Nalo yang diambil oleh
pihak penyelenggara mengandung manfaat bagi masyarakat sepanjang bagian
hasil itu betul-betul dipergunakan bagi pembangunan.
4. Bahwa madlarat dan akibat jelek yang ditimbulkan oleh tersebar luasnya
taruhan dalam perjudian dalam masyarakat, jauh lebih besar daripada manfaat
yang diperoleh dari penggunaan hasilnya.
Memutuskan
Bahwa Lotto dan Nalo adalah termasuk perjudian. Oleh karena itu
hukumnya HARAM.
PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH
Lotto itu singkatan dari lotere totalisator dan Nalo singkatan dari Nasional
Lotre.
Dengan semikian maka lotere biasa termasuk didalamnya walaupun kita
ketahui bersama, bahwa cara dan tekniknya kadang-kadang terdapat perbedaanperbedaan
untuk lebih menarik dan sebagainya.
Dalam putusan Lotto dan Nalo termasuk MAISIR, perjudian karena
persamaannya, sama-sama mengandung madlarat dan manfaat, rugi untung, kalah
menang (lihat konsideran nomer 2). Sebab itu HARAM-lah hukumnya,
disebabkan madlarat (jauh) lebih besar dari manfa’atnya, sebagaimana tersebut
dalam ayat suci Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 219, dan surat Al-Maidah ayat 90
dan 91.
Oleh karenanya kita wajib menghindarinya dan mengingatkan jangan sampai
Lotto dan Nalo diadakan, dijual, dibeli dan sebagainya, malah jika berkuasa:
melarang.
170
Tetapi jika tak/kurang kemampuan bagi kita untuk membendungnya dan tetap
pula Lotto dan nalo yang haram itu diadakan oleh selain kita, maka tetap pula kita
harus menghindarinya dan berikhitiar untuk mengikis/mengurangi madlaratnya,
jangan sampai lebih banyak menimpa kepada khalayak ramai , dengan :
1. Terus-menerus memperingatkan jangan sampai orang mengadakan, menjual
dan membelinya, serta memberitahukannya melalui iklan dan lain-lainnya.
2. Terus-menerus memperingatkan agar segi manfaatnya yang sedikit itu tidak
diselewengkan (lihat konsideran nomer 3.
3. Terus-menerus berikrar terutama kepada yang berwajib supaya mengambil
perhatian penuh agar hal tersebut mulai sedikit berkurang/hilang/hapus.
IV. MASALAH HIJAB
Setelah meninjau kembali keputusan Mu’tamar majlis Tarjih Muhammadiyah
mengenai hukumnya “sitr” (tabir) dalam rapat-rapat Muhammadiyah yang
dihadiri pria dan wanita, sebagaimana yang telah dimuat dalam kitab “Beberapa
Masalah” (cetakan tahun 1964 bab 20 atau muka 300 di atas).
Berdasarkan firman Allah dalam Qur’an surat Nur ayat 30 dan 31 yang
memberi pengertian bahwa pandang-memandang antara pria dan wanita lain
(yang bukan muhrim atau bukan suami-isteri) tanpa hajat Syar’i, begitu pula
pergaulan bebas antara pria dan wanita, dilarang oleh Islam.
Memutuskan
Tetap adanya hijab dalam rapat rapat persyarikatan muhammadiyah yang
dihadiri oleh pria dan wanita.
Adapun cara pelaksanaannya diserahkan kepada yang bersangkutan dengan
mengingat/memperhatikan kondisi, waktu dan tempat.
Keputusan ini mengganti Majlis Tarjih Muhammadiyah yang sebelumnya.
PENJELASAN DARI MAJLIS TARJIH
171
1. Hijab dimaksudkan: yang dapat menutup.menjaga pandangan antara pria dan
wanita lain (yang bukan muhrim datau bukan suami-isteri).
Hijab :
a. Boleh berujud tabir, apabila masih/tetap dikhawatirkan saling tidak dapat
menjaga diri masing-masing dari pandang memandang yang
haram/terlarang.
b. Boleh tidak berujud tabir, apabila telah terjamin tidak akan ada
pandang-memandang yang dikhawatirkan tersebut.
Jadi tidak diharuskan menghilangkan tabir dan tidak pula diharuskan
memakai tabir.
Hijab yang mana dari keduanya yang dijalankan/dipilih adalah
menurut keyakinan/pendapat Muhammadiyah setempat.
2. Pengertian bahwa pandang memandang antara pria dan wanita lain (yang
bukan muhrim atau bukan suami-isteri) tanpa hajar Syar’i begitu pula
pergaulan bebas antara pria dan wanita dilarang oleh Islam”, perlu kiranya
dijelas-jelaskan kepada keluarga Muhammadiyah, besar kecil, tua muda, pria
dan wanita dalam pertemuan-pertemuan, rapat-rapat , sidang-sidang dan
pengajian-pengajian serta dianjurkan/dididikkan dalam sekolah-sekolah
(menurut keadaan dan tingkatan-tingkatannya), bahwa kita sekalian harus
menjaga/mengikis percampuran, pergaulan, perhubungan bebas antara wanita
dan pria, putera dan puteri yang sekiranya akan mengakibatkan dan
memudahkan pandang-mamandang yang tidak diharapkan oleh agama.
Dengan demikian kita dapat memberikan tuntunan, bimbingan dan
didikan baik kepada mereka dan dapat memberikan saluran yang baik untuk
hidup, bekerja dan beramal dalam masyarakat yang kita bina bersama-sama
dalam menuju masyarakat Islam yang sebenar-sebenarnya.
3. Dalam rapat-rapat persyarikatan Muhammadiyah yang dihadiri oleh pria dan
wanita, berarti bahwa yang pokok/terutama ialah rapat-rapat, sidang-sidang,
pertemuan-pertemuan, termasuk pengajian-pengajian dan kursus-kursus yang
diadakan oleh Muhammadiyah. Syukur selain Muhammadiyah mau mengikuti
jejak yang baik itu.
172
4. Diserahkan kepada yang bersangkuatan, berarti terserah kepada kita
(Muhammadiyah), menurut situasi dan kondisi setempat, bagaimana
keyakinan/pendapat dari panitia/penyelenggara, terutama Muhammadiyah
setempat. Lebih baik lagi, jika Majlis/Lajnah Tarjih setempat yang
menentukan dan memberikan petunjuknya.
V. MASALAH PEMASANGAN GAMBAR K.H.A DAHLAN
Setelah meninjau kembali keputusan Mu’tamar Majlis Tarjih mengenai
masalah hukum gambar, sebagaimana yang telah dimuat dalam Kitab “Beberapa
Masalah” cetakan tahun 1964 bab 2 (muka 281 di atas).
Memutuskan :
Mencabut keputusan hukum gambar seperti yang dimuat dalam Kitab
“Beberapa masalah” cetakan tahun 1964 bab 2, termuat dalam buku himpunan
Putusan Majlis Tarjih muka 281) pada bagian yang berbunyi: “ Dan oleh karena
gambar almarhum K.H.A. Dahlan itu dirasa mengkhawatirkan akan
mendatangkan memusrikan maka Majlis tarjih memutuskan : gambar beliau itu
haram dipasang untuk perhiasan”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar